MasukLebih dari itu, para anggota Ordo Abyssal di sekitar mulai memandangnya dengan sorot aneh. Ada keraguan, ketidakpuasan dan rasa goyah.Kuro tahu, hari ini apa pun yang terjadi, Nathan harus dikalahkan.Kalau tidak, otoritas yang baru ia rebut akan runtuh sebelum sempat kokoh.“Tidak heran…” ucapnya perlahan, suara penuh niat membunuh. “Tubuh Vajra Naga Emas memang keras kepala. Tubuhmu kuat, sangat kuat.”Ia mengangkat kepala. “Tapi meski kau kultivator sejati, aku tetap akan menguliti tubuhmu, mencabut taiju milkmu, lalu membuatmu merangkak di hadapanku.”Begitu kalimat itu jatuh, cahaya hijau tiba-tiba muncul di atas kepala Kuro.Kilau aneh yang berpendar dan berputar seperti lingkaran energi misterius.Nathan mengernyit.Orang-orang di sekitar ikut kebingungan, tak memahami apa yang sedang terjadi.Bonang bahkan spontan berseru, “Sialan, apa maksud anak ini? Kenapa dia seperti sedang mengejek—”Namun kalimat itu langsung terhenti saat ia tanpa sadar melihat Seraphyne berdiri di amb
Tubuh Nathan terdorong mundur beberapa langkah, kakinya menggesek tanah, meninggalkan jejak retakan di permukaan batu. Sementara tekanan dari serangan itu menjalar ke seluruh tubuhnya.Di sisi lain, Kuro mendarat dengan ringan dan tenang. Ia lalu menatap Nathan dengan senyum tipis yang penuh ejekan.“Nathan!”Seru Raze dan Bonang hampir bersamaan saat melihat Nathan terdorong mundur oleh pukulan tadi.Keduanya segera berlari mendekat, namun Nathan hanya mengibaskan tangan dengan santai, memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak mengalami luka serius.“Tuan Nathan, perlu aku gunakan Rantai Basilisk untuk menjerat bajingan itu?” tanya Raze dengan sorot mata tajam.Nathan menggeleng pelan. “Tidak perlu, pertarungan ini biar kuselesaikan sendiri.”Jawaban itu membuat Kuro menyipitkan mata. Tatapannya langsung berubah dingin. “Nathan, kau benar-benar gila.”Ia merasa dihina.Lawannya bukan hanya menolak bantuan, tetapi juga menyimpan Pedang Aruna seolah dirinya tidak layak dipak
Kuro menatap Nathan dengan sedikit keterkejutan yang tidak sempat ia sembunyikan. Alisnya berkerut tipis saat menyadari lawannya masih mampu berdiri tegak di bawah tekanan kekuatan hukum.Sesuatu yang seharusnya sudah cukup untuk melumpuhkan kebanyakan kultivator. Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, tiba-tiba dari belakangnya terdengar jeritan menyayat.“Aaaargh!”Suara penuh penderitaan yang langsung membuatnya menoleh. Pemandangan yang terlihat seketika membuat ekspresinya membeku.Beberapa orang kepercayaannya sudah terkapar di tanah, tubuh mereka dipenuhi luka akibat energi pedang yang barusan dilepaskan Nathan. Bahkan salah satu di antaranya terbelah dua secara mengerikan.Darah dan potongan tubuhnya tersebar di lantai, menciptakan aroma darah yang menusuk hidung dan suasana yang langsung berubah mencekam, Sementara yang lain menggeliat kesakitan, mereka menatap Kuro dengan mata penuh ketakutan dan keputusasaan.Orang-orang yang sebelumnya memilih mengkhianati Ordo Abyssa
Begitu tiba di halaman, Nathan dan Kuro langsung berdiri berhadapan, jarak di antara mereka tidak terlalu jauh. Namun tekanan yang tercipta sudah cukup membuat udara di sekitar terasa menegang.Tanpa banyak bicara, Kuro perlahan mengangkat tangannya, dan dalam sekejap—BAANG!Ledakan aura yang luar biasa langsung meletus dari tubuhnya, menyebar ke segala arah. Seperti gelombang tsunami yang tak terlihat, menghantam ruang dengan kekuatan brutal yang membuat angin kencang berputar liar, tanah bergetar hebat.Bahkan struktur bangunan di sekitar mulai berguncang, retakan menjalar di permukaan batu seperti jaring laba-laba. Seolah seluruh Sektor Bayangan itu berada di ambang kehancuran.Merasakan tekanan mengerikan tersebut, orang-orang di sekitar tanpa sadar mundur dan menjauh.Tidak ada satu pun yang berani mendekat, mereka hanya bisa menonton dari kejauhan dengan napas tertahan.Menyadari bahwa pertempuran ini sudah berada di tingkat yang sama sekali berbeda dari pertarungan biasa.Natha
Nathan hanya tersenyum tipis. “Masih banyak hal yang tidak kau ketahui.”Kalimat itu belum sepenuhnya selesai terucap ketika tekanan mengerikan mulai memancar dari tubuhnya. Energi yang padat dan tajam menyebar ke seluruh aula seperti gelombang tak kasatmata yang membuat udara terasa berat.Namun Kuro hanya mendengus dingin, lalu dalam satu tarikan napas, aura miliknya meledak keluar dengan jauh lebih brutal, langsung menekan balik tekanan Nathan tanpa memberi ruang sedikit pun.“Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya dengan nada meremehkan, “Kekuatanmu saat ini tidak cukup untuk menjadi lawanku. Jangan lupa, ini adalah wilayahku, dan aku tidak keberatan membiarkanmu pergi jika kau cukup pintar untuk tidak ikut campur.”Ia melangkah satu langkah ke depan, sorot matanya dingin namun stabil. “Kau ingin menyelamatkan kekasihmu, atau pergi ke Benua Monarch, aku bisa tetap membantumu. Tapi jika kau bersikeras mencampuri urusan Ordo Abyssal, maka jangan salahkan aku jika semuanya berakhir bu
“Tuan Nathan, entah apa yang membawamu ke Ordo Abyssal malam-malam begini?” ucapnya dengan nada yang sama sopannya seperti sebelumnya, seolah tidak ada yang salah.Nathan hanya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mendengus pelan, senyum tipis terangkat di sudut bibirnya, namun tidak ada kehangatan di sana, hanya sindiran dingin. “Kuro, kau masih saja berpura-pura bekerja sama denganku, memancingku masuk ke sini, lalu mencoba menjebakku. Sebenarnya apa yang kau incar?”Kuro tidak langsung menjawab, ia justru menghela napas pelan dan menatap Nathan dengan ekspresi seolah tersinggung, “Tuan Nathan, kau salah paham. Aku benar-benar ingin bekerja sama denganmu, dan semua yang kukatakan padamu adalah kebenaran.""Bukankah aku yang memberitahumu tentang Ginseng Panax puluhan ribu tahun itu? Dan tentang tempat pulihnya energi spiritual, juga dariku, bukan? Lalu kenapa kau justru meragukan ketulusanku?”Nada suaranya halus, penuh kontrol, bahkan dibalut emosi yang seolah tulus, namun ju
Herold merasakan dingin menembus tulang punggungnya. Peluh dingin menetes di keningnya, sebuah keputusan terberat dalam hidupnya mulai terpampang.“Kau punya tiga detik,” geram Viqi, lalu mulai menghitung dengan suara yang tenang namun mematikan. “Tiga .… Dua .…”Darahnya berdesir, dan dunia terasa
Kraaaak!Kraak!Suara retakan halus menggema di seantero lembah.Batu-batu yang menyelimuti tubuh Darwin mulai pecah, retak satu per satu, lalu hancur menjadi debu. Tubuh raksasa itu kini tampak rapuh, terbungkuk lemah di atas tanah yang retak-retak. Luka parah mencabik sebagian tubuhnya, dan wajah
Kabut malam menyelimuti Kota Moniyan seperti tirai kelabu yang menggantung di langit. Lampu-lampu jalanan berkedip pelan, menerangi siluet bangunan-bangunan tinggi yang berdiri bisu di tengah keheningan yang mencekam. Angin berhembus dingin, menyelusup masuk ke dalam lorong-lorong kota yang sunyi.
Mereka tiba di sebuah tempat sunyi, di mana bau tanah tercampur dengan aroma kematian. Tanah di situ pernah menjadi kuburan rahasia, berisi mayat dan tengkorak dari korban kekejaman mereka.Dengan tenang, Nathan mengangkat tangannya. Dua bajak laut seketika tersedot ke arahnya seperti diseret oleh







