Share

Bab 1781

Author: Imgnmln
last update publish date: 2026-04-12 22:18:54

Di luar kamar, sosok berjubah hitam berdiri diam. Aura kelam mengalir dari tubuhnya seperti kabut pekat.

Di balik jubah itu, wajah Kaidar terlihat pucat. Matanya menyipit, menatap pintu di depannya.

Krek…

Pintu terbuka perlahan.

Tatapannya langsung tertuju pada meja. Ginseng Panax itu benar-benar tergeletak begitu saja.

Suara serak muncul dari dalam dirinya. “Bocah ini terlalu arogan.”

Namun Kaidar tidak bergerak. Jantungnya justru berdetak lebih cepat. Ia sudah terlalu lama berhadapan dengan N
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1789

    Kuro menatap Nathan dengan sedikit keterkejutan yang tidak sempat ia sembunyikan. Alisnya berkerut tipis saat menyadari lawannya masih mampu berdiri tegak di bawah tekanan kekuatan hukum.Sesuatu yang seharusnya sudah cukup untuk melumpuhkan kebanyakan kultivator. Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, tiba-tiba dari belakangnya terdengar jeritan menyayat.“Aaaargh!”Suara penuh penderitaan yang langsung membuatnya menoleh. Pemandangan yang terlihat seketika membuat ekspresinya membeku.Beberapa orang kepercayaannya sudah terkapar di tanah, tubuh mereka dipenuhi luka akibat energi pedang yang barusan dilepaskan Nathan. Bahkan salah satu di antaranya terbelah dua secara mengerikan.Darah dan potongan tubuhnya tersebar di lantai, menciptakan aroma darah yang menusuk hidung dan suasana yang langsung berubah mencekam, Sementara yang lain menggeliat kesakitan, mereka menatap Kuro dengan mata penuh ketakutan dan keputusasaan.Orang-orang yang sebelumnya memilih mengkhianati Ordo Abyssa

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1788

    Begitu tiba di halaman, Nathan dan Kuro langsung berdiri berhadapan, jarak di antara mereka tidak terlalu jauh. Namun tekanan yang tercipta sudah cukup membuat udara di sekitar terasa menegang.Tanpa banyak bicara, Kuro perlahan mengangkat tangannya, dan dalam sekejap—BAANG!Ledakan aura yang luar biasa langsung meletus dari tubuhnya, menyebar ke segala arah. Seperti gelombang tsunami yang tak terlihat, menghantam ruang dengan kekuatan brutal yang membuat angin kencang berputar liar, tanah bergetar hebat.Bahkan struktur bangunan di sekitar mulai berguncang, retakan menjalar di permukaan batu seperti jaring laba-laba. Seolah seluruh Sektor Bayangan itu berada di ambang kehancuran.Merasakan tekanan mengerikan tersebut, orang-orang di sekitar tanpa sadar mundur dan menjauh.Tidak ada satu pun yang berani mendekat, mereka hanya bisa menonton dari kejauhan dengan napas tertahan.Menyadari bahwa pertempuran ini sudah berada di tingkat yang sama sekali berbeda dari pertarungan biasa.Natha

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1787

    Nathan hanya tersenyum tipis. “Masih banyak hal yang tidak kau ketahui.”Kalimat itu belum sepenuhnya selesai terucap ketika tekanan mengerikan mulai memancar dari tubuhnya. Energi yang padat dan tajam menyebar ke seluruh aula seperti gelombang tak kasatmata yang membuat udara terasa berat.Namun Kuro hanya mendengus dingin, lalu dalam satu tarikan napas, aura miliknya meledak keluar dengan jauh lebih brutal, langsung menekan balik tekanan Nathan tanpa memberi ruang sedikit pun.“Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya dengan nada meremehkan, “Kekuatanmu saat ini tidak cukup untuk menjadi lawanku. Jangan lupa, ini adalah wilayahku, dan aku tidak keberatan membiarkanmu pergi jika kau cukup pintar untuk tidak ikut campur.”Ia melangkah satu langkah ke depan, sorot matanya dingin namun stabil. “Kau ingin menyelamatkan kekasihmu, atau pergi ke Benua Monarch, aku bisa tetap membantumu. Tapi jika kau bersikeras mencampuri urusan Ordo Abyssal, maka jangan salahkan aku jika semuanya berakhir bu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1786

    “Tuan Nathan, entah apa yang membawamu ke Ordo Abyssal malam-malam begini?” ucapnya dengan nada yang sama sopannya seperti sebelumnya, seolah tidak ada yang salah.Nathan hanya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mendengus pelan, senyum tipis terangkat di sudut bibirnya, namun tidak ada kehangatan di sana, hanya sindiran dingin. “Kuro, kau masih saja berpura-pura bekerja sama denganku, memancingku masuk ke sini, lalu mencoba menjebakku. Sebenarnya apa yang kau incar?”Kuro tidak langsung menjawab, ia justru menghela napas pelan dan menatap Nathan dengan ekspresi seolah tersinggung, “Tuan Nathan, kau salah paham. Aku benar-benar ingin bekerja sama denganmu, dan semua yang kukatakan padamu adalah kebenaran.""Bukankah aku yang memberitahumu tentang Ginseng Panax puluhan ribu tahun itu? Dan tentang tempat pulihnya energi spiritual, juga dariku, bukan? Lalu kenapa kau justru meragukan ketulusanku?”Nada suaranya halus, penuh kontrol, bahkan dibalut emosi yang seolah tulus, namun ju

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1785

    “Kurang ajar—”BANG!Belum sempat orang itu menyelesaikan kalimatnya.Aura Nathan meledak, tekanan menghantam seluruh ruangan.CRACK!Dalam satu gerakan, tinju melesat. Tubuh orang itu langsung hancur di tempat. Darah dan daging terpental, menyisakan kehampaan yang mencekam.Hening~.Semua orang membeku, tidak ada yang berani bergerak. Bahkan napas pun terasa tertahan.Nathan berdiri di tengah aula, ekspresinya tetap datar. “Panggil Kuro, kalau tidak…”Ia melirik sisa-sisa darah di lantai. “Kalian akan berakhir sama.”Beberapa orang langsung mundur, wajah mereka pucat. Tidak ada lagi keberanian yang terpancar dari mereka.“Baik, kami akan memanggilnya.”Mereka berbalik dan berlari secepat mungkin. Langkah kaki mereka bergema di aula yang kini dipenuhi aura kematian.Sementara itu, anggota lain hanya berdiri kaku. Tidak ada yang berani berbicara. Mereka akhirnya menyadari satu hal, pria di depan mereka bukan sekadar ancaman. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan.***Di dalam r

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1784

    Di belakang, Raze melangkah maju sambil mendengus. “Tidak dengar apa yang dia katakan?!”Whoosh!Beberapa anggota Keluarga Mordren langsung bergerak, mengepung para petinggi itu. Aura mereka menekan dari segala arah, situasi langsung berubah.Para petinggi Ordo Abyssal itu saling berpandangan. Wajah mereka yang tadi dingin kini mulai menunjukkan kegelisahan. Mereka bisa mengkhianati sekte, tapi menghadapi kematian langsung adalah hal yang berbeda.“Baik,” salah satu dari mereka akhirnya berkata. “Kami akan menyampaikan pesanmu.”Mereka perlahan mundur, langkah demi langkah terasa berat dan mencekam.Begitu jarak aman tercapai—Whoosh!Mereka berbalik dan masuk kembali ke dalam Sektor Bayangan.Hening~Barnet tiba-tiba berlutut.Brak!“Terima kasih, Tuan Nathan…” suaranya serak. “Tolong… selamatkan Ordo Abyssal. Banyak dari mereka dipaksa tunduk.”Nathan menatapnya sejenak, lalu menghela napas pendek. “Tanpa kau minta pun, aku akan melakukannya.”Tatapannya mengeras.Baginya, ini bukan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1384

    Namun, saat mereka menunduk, napas mereka tercekat.Di tengah-tengah kawah yang menghitam, sesosok tubuh terbaring.. Tubuhnya hangus dan berlumuran darah, dagingnya robek di banyak tempat, memperlihatkan serpihan tulang putih yang mencuat seperti cabang-cabang pohon mati. Ia lebih mirip sisa-sisa k

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1308

    Di medan pertempuran, Nathan menatap kehancuran di sekelilingnya. Gerbang sekte telah menjadi sejarah, bangunannya bergetar hebat. Dia tidak bisa melanjutkan pertarungan di sini. Ini adalah rumah Sheerena, hasil kerja kerasnya.Tanpa ragu, Nathan melesat ke udara, berubah menjadi seberkas cahaya ke

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1368

    Chelsea meliriknya. "Jangan berpikir terlalu indah. Kekuatan monster ini sangat luar biasa, ia bisa menghentikan kapal sebesar ini hanya dengan arusnya. Tentakel-tentakelnya sangat lengket dan berbahaya. Sebagian besar orang disini bahkan tidak akan bisa menyentuhnya."Peringatan Chelsea justru sem

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1354

    Di medan pertempuran, Malvin menatap Nathan dengan amarah yang membara. Ia tidak menyangka kemampuan pedang pemuda ini begitu luar biasa. Ia menunjuk ke udara, dan sebuah cahaya merobek ruang kosong, membentuk sebilah pedang cahaya yang cemerlang di tangannya."Pedang Cakrawala!" Malvin meraung.Pe

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status