INICIAR SESIÓNKalimat santai itu langsung membuat para pria bertopeng murka.“Sialan!”“Nak, kalau begitu kamu mati bersama gadis itu!”SWOSH!Beberapa sosok langsung menyerbu bersamaan, pedang mereka menebas lurus menuju Nathan. Namun Nathan bahkan tidak bergerak dari tempatnya, ia hanya mengangkat tangan dengan santai.BANG!Beberapa gelombang aura melesat keluar seperti bilah tak kasatmata. Mendadak, tubuh para pria bertopeng itu membeku di tengah langkah. Ekspresi mereka berubah, mata mereka melebar.Beberapa detik kemudian—Srett!Darah muncrat deras dari dada mereka, tubuh satu per satu roboh menghantam tanah.Hening~Hanya suara darah yang menetes perlahan di aspal jalanan.Tubuh Aveline terpaku, napasnya tercekat melihat pemandangan di depan mata. Ia memang mengenal bela diri, tetapi kekuatan Nathan benar-benar berada di level yang sama sekali berbeda. Barusan, pria itu bahkan tidak benar-benar bergerak, namun semua penyerang sudah mati.Tatapan Aveline perlahan berubah, antara rasa a kekag
Sementara itu, di luar kediaman utama, Aveline ternyata sudah kabur sejak beberapa menit lalu. Ia berjalan cepat melewati halaman belakang sambil membawa tas kecil di pundaknya. Karena baru kembali ke Solara, dia jelas tidak berniat menghabiskan waktunya hanya dengan berdiam diri di rumah.“Nona Muda, tolong kembali!”Dua pengawal pribadi terus mengikuti dari belakang dengan ekspresi serba salah.Aveline langsung berbalik tajam. “Kalian berdua menyebalkan sekali!” gerutunya. “Aku cuma mau keluar sebentar. Kenapa terus mengikutiku?”Kedua pengawal itu saling melirik gugup.“Nona Muda,” salah satu dari mereka berkata hati-hati, “Kepala Keluarga sudah memberi perintah. Kalau sampai Anda keluar sendirian, kami tidak bisa mempertanggungjawabkannya.”Aveline mendecakkan lidah keras. “Kalian dengar perintah ayahku, tapi tidak dengar perintahku?!”Ia mengangkat tangan seolah ingin memukul mereka. “Hati-hati, aku juga bisa menghukum kalian!”Namun kedua pengawal itu tetap berdiri di tempat tan
Di luar, langit Novarion mulai berubah gelap sementara lampu kota perlahan menyala satu per satu.Bonang memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil berjalan santai di samping Nathan. “Sekarang mau ke mana?” tanyanya.Nathan meliriknya sekilas. “Bukannya kamu bilang punya teman lama di Solara?”Bonang langsung menyeringai. “Tentu saja. Kali ini aku akan membawamu menemui seseorang yang cukup menarik.”***Pada saat yang sama, di sebuah kompleks vila mewah di pinggiran Novarion, suasana di kediaman Keluarga Ryodan tampak jauh lebih tegang dibanding biasanya.“Ayah, kenapa tiba-tiba menyuruhku pulang? Aku masih baik-baik saja belajar di Northern.” Aveline berdiri di ruang tamu dengan ekspresi kesal, kedua tangannya menyilang di depan dada sementara nada suaranya penuh protes.Alaric yang duduk di sofa hanya menatap putrinya dalam diam beberapa saat sebelum berkata dengan nada serius, “Untuk sementara waktu kamu tidak perlu kembali ke Northern. Jangan pergi sembarangan dan tetap tingga
Raut wajah Seiji memang sempat membeku sesaat, tetapi dia segera memaksakan senyum pahit di wajahnya. “Tuan Nathan,” katanya pelan, “Katakan saja bantuan apa yang Anda butuhkan. Saya hanya berharap setelah semuanya selesai, Anda benar-benar memberikan penawar sepenuhnya kepadaku.”Nathan menatapnya tenang. “Tentu saja, selama kamu patuh, aku tidak akan mengingkari janji.”Nathan kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa sebelum melanjutkan, “Sekarang jelaskan semuanya tentang Keluarga Ryodan. Hari ini aku bertemu seseorang bernama Aveline, dia sepertinya putri penting di keluarga itu, benar?”Seiji tampak sedikit terkejut. “Anda bertemu Aveline?”Nathan mengangguk pelan.Seiji menghela napas sebelum mulai menjelaskan perlahan. “Keluarga Ryodan adalah salah satu keluarga terbesar di Solara,” ucapnya. “Terutama di Novarion, pengaruh mereka hampir mengendalikan seluruh kota. Banyak pejabat bahkan memilih menutup mata demi menjaga hubungan dengan mereka.”Tatapan Seiji terlihat rumit saat me
Nathan langsung menoleh. “Apa?”“Dia Aveline Ryodan,” lanjut pria itu heran. “Masa kamu tidak tahu?”Nathan sempat membeku sesaat, ia benar-benar tidak menyangka gadis yang duduk di sebelahnya sepanjang penerbangan tadi ternyata berasal dari Keluarga Ryodan.“Oh… kami baru kenal di pesawat,” jawab Nathan santai sambil tersenyum tipis.Pria itu mengangguk penuh arti sebelum berbalik pergi. “Nak, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Gunakan baik-baik!”Nathan hanya bisa menghela napas kecil setelah pria itu pergi.Bonang langsung menatapnya sambil tertawa lebar. “Dunia memang sempit,” katanya sambil menggelengkan kepala. “Naik pesawat saja kamu bisa duduk di samping Nona Muda keluarga yang mau kamu habisi.”Nathan tersenyum pahit. “Kalau dia tahu aku datang ke Solara untuk melenyapkan Keluarga Ryodan, mungkin dia tidak akan seramah tadi.”Bonang langsung tertawa semakin keras mendengar itu.Nathan dan Bonang kemudian berdiri di area luar bandara sambil menunggu seseorang datang
Nathan membuka matanya lalu menoleh.Gadis itu sedang memegang botol permen karet dengan ekspresi sedikit canggung. “Maaf mengganggu, bisa bantu membukanya?”Nathan tersenyum tipis sebelum mengambil botol itu dan memutarnya dengan santai.Klik.Tutup botol langsung terbuka.“Terima kasih.” Gadis itu tersenyum manis lalu mengambil satu permen karet sebelum menyerahkannya pada Nathan. “Ini untukmu.”Nathan tidak menolak, ia langsung memasukkan permen itu ke mulutnya sambil kembali menyandarkan tubuhnya. Melihat Nathan tetap tenang setelah itu, tatapan gadis tersebut perlahan berubah. Biasanya pria-pria akan berusaha mencari alasan untuk mengobrol dengannya lebih lama, tetapi Nathan justru terlihat sama sekali tidak tertarik.Hal itu malah membangkitkan rasa penasarannya.“Halo, perkenalkan, aku Aveline,” katanya sambil mengulurkan tangan kecilnya. “Aku berasal dari Solara, tapi sudah lama sekolah di sini. Kamu sendiri dari mana?”“Nathan,” jawab Nathan singkat. “Orang lokal.”Aveline te
Tatapan Ryujin mengeras sedikit. “Dengan begitu, aku bisa memastikan keselamatanmu selama berada di sini. Tapi jika kamu terus menantang orang-orang Northern…” senyumnya menghilang, “Jangan salahkan kami jika kalian tidak pernah bisa meninggalkan tempat ini.”Ekspresi Seiji berubah, wajahnya tampak
Nathan mengangguk pelan. Ia sempat meninjau kondisi kultivasi Kieran dan yang lain, dan hasilnya cukup memuaskan. Laju perkembangan mereka melampaui perkiraan awalnya.Namun, baru saja ia melangkah keluar dari kompleks istana, getaran aneh tiba-tiba muncul di benaknya. Alisnya langsung berkerut.“T
Sosoknya menghilang seketika. Dalam satu tarikan napas, pria itu sudah muncul tepat di depan Nathan, tinjunya melesat lurus ke dada. Nathan tidak sempat menghindar. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan menghantamkan tinju balasan.BANG!Benturan keras mengguncang aula.Tubuh Nathan terdorong mund
Tak seorang pun mampu menangkap bagaimana Dewa Brahm berpindah tempat.Satu detik ia masih berdiri di kejauhan, detik berikutnya, keberadaannya sudah berpindah, seperti ruang yang dilipat paksa. Hampir menyerupai teleportasi.“Ahhh!”Para Ksatria Dosa menjerit serempak. Tatapan mereka berubah buas,







