INICIAR SESIÓNDarius langsung menyipitkan mata. "Orang ini sudah kutangkap. Atas dasar apa kalian ingin membawanya?""Tidak perlu alasan." Suara Rael terdengar dingin. "Aku hanya tidak akan membiarkanmu membawanya pergi."Ucapan itu langsung membakar amarah Darius. "Jadi kau berniat merebutnya dariku secara paksa?" Tatapannya berubah tajam. "Rael, jangan terlalu percaya diri. Dengan kemampuanmu, kau sama sekali bukan lawanku."Rael justru tersenyum tipis penuh sindiran. "Berhenti membual." Tatapannya menyapu tubuh Darius yang penuh luka. "Dalam kondisimu sekarang, aku bisa mengalahkanmu hanya dengan satu tangan."Dia mendengus pelan sebelum melanjutkan, "Selama ini kau selalu menyebut dirimu jenius nomor satu di klan tersembunyi. Nyatanya, seorang Sovereign tingkat menengah saja mampu membuatmu berada dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Masih berani menyombongkan diri?"Ucapan Rael benar-benar menusuk harga diri Darius.Aura yang menyelimuti tubuhnya kembali meledak. Dia menatap Rael dengan soro
Tanpa ragu, Nathan mengerahkan seluruh energi spiritual yang tersisa di dalam dantiannya. Dia tahu, setelah serangan ini, apa pun hasilnya, dirinya takkan lagi memiliki kekuatan untuk bertarung.Nathan menghembuskan napas panjang sebelum mengeluarkan raungan rendah. Cahaya Pedang Aruna langsung melonjak tajam. Sesaat kemudian, seberkas cahaya pedang berwarna emas melesat ke langit dan berubah menjadi bilah raksasa yang membelah angkasa.BAAANG!Pedang emas itu mengayun turun dengan kekuatan yang menghancurkan.Pada saat yang sama, bola cahaya di tangan Darius meluncur lurus menyambutnya.DUAARRR!Kedua kekuatan bertabrakan dengan ledakan yang mengguncang bumi.Gelombang kejut yang dihasilkan menyapu ke segala arah bagaikan badai penghancur. Para murid Ordo Tempest di sekitar arena langsung memucat sambil mati-matian menahan tekanan yang menerpa tubuh mereka.Bahkan Rael dan Velisa yang berada cukup jauh tetap terkena dampaknya. Tubuh mereka berdua terguncang hebat hingga hampir terjat
"Nak, rasa penasaranku terhadapmu semakin besar." Darius melangkah perlahan mendekati Nathan. "Kau adalah orang pertama yang mampu memaksaku sampai ke keadaan seperti ini, padahal kau hanya seorang Sovereign tingkat menengah."Aura mengerikan memancar dari tubuh Darius, menyelimuti Nathan sepenuhnya hingga membuatnya tak mampu menggerakkan tubuh."Kak, Darius akan membawa orang itu pergi. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Velisa dengan wajah cemas.Rael menatap Nathan sejenak sebelum mengambil keputusan. "Kita turun tangan. Aku akan menahan Darius sebentar. Kau manfaatkan kesempatan itu untuk membawa anak itu pergi." Tatapannya berubah serius. "Kita tidak boleh membiarkan kultivator jahat itu jatuh ke tangan Ordo Tempest. Kalau mereka berhasil memperoleh teknik kultivasinya, aku khawatir bahkan seluruh Sektor Bayangan tidak akan lagi hidup dengan tenang."Velisa hendak mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya terhenti di tenggorokan. Matanya membelalak.Nathan, yang beberapa saat lal
"Aku sudah lama mendengar bahwa Ordo Tempest diam-diam melanggar aturan dan menggunakan teknologi genetika." Rael menatap lengan Darius yang telah sembuh sambil mengernyit. "Sekarang sepertinya rumor itu memang benar.""Kak, kita harus segera melaporkan masalah ini kepada Guru!" Wajah Velisa dipenuhi kekhawatiran. "Guru pernah mengatakan bahwa siapa pun yang melanggar hukum alam pasti akan mendatangkan bencana. Jika ini terus dibiarkan, mungkin seluruh dunia bela diri akan ikut terkena dampaknya."Rael mengangguk pelan, tetapi pandangannya tidak pernah lepas dari sosok Darius.Saat itu, amarah Darius telah mencapai puncaknya. Kedua tangannya berubah menyerupai cakar elang, memancarkan kilau perak yang menyilaukan, sementara aura tajam yang mengelilinginya terus meningkat."Aku akan membuatmu membayar harga atas semua ini." Begitu suara Darius menghilang, sosoknya lenyap dari pandangan Nathan.Nathan langsung mengernyit dan mengayunkan Pedang Aruna ke depan.KLANG!Bilah Pedang Aruna m
Di sisi lain, Nathan tampak sedikit berantakan. Walaupun telah mengandalkan Teknik Bilah Naga untuk menghadang serangan lawannya, beberapa tendangan Darius tetap berhasil mengenainya."Menarik..." Darius menyipitkan mata. "Seorang Sovereign ternyata mampu menahan seranganku.""Teknik pedang apa yang barusan kau gunakan? Bagaimana mungkin kau bisa menciptakan lima salinan dirimu sekaligus?""Yang lebih aneh lagi, itu jelas bukan ilusi. Masing-masing sosok memiliki kekuatan tempur yang nyata." Tatapan Darius semakin dipenuhi rasa penasaran. "Sepertinya kau menyimpan jauh lebih banyak rahasia daripada yang kubayangkan."Senyum tipis kembali terukir di wajahnya. "Aku jadi semakin ingin membawamu kembali ke Ordo Tempest."Kini tujuannya bukan sekadar menangkap Nathan. Dia ingin menguak seluruh rahasia yang tersembunyi di balik pemuda itu.Nathan membalas tatapan Darius dengan sorot mata tajam. Dia tahu, jika ingin membalikkan keadaan, dirinya harus mengeluarkan kartu truf yang selama ini m
"Guru pernah berkata kalau kedudukan kita sebenarnya setara dengan para praktisi dari Sektor Bayangan. Hanya saja, pada akhirnya kita akan menempuh jalan yang berbeda sebelum kembali menuju tujuan yang sama, yaitu menapaki jalan kultivasi."Velisa memandang Rael dengan raut bingung."Hei, kenyataannya tidak sesederhana itu." Rael menghela napas panjang. "Kalau memang semudah itu, Guru tidak akan terus memikirkannya setiap hari."Di tengah percakapan mereka, rentetan ledakan yang memekakkan telinga akhirnya mereda. Asap tebal yang menyelimuti medan pertempuran juga perlahan mulai menghilang.Darius berdiri sambil menatap Nathan dengan sorot mata dingin.Di sisi lain, Nathan tampak sedikit berantakan. Walaupun telah mengandalkan Teknik Bilah Naga untuk menghadang serangan lawannya, beberapa tendangan Darius tetap berhasil mengenainya."Menarik..." Darius menyipitkan mata. "Seorang Sovereign ternyata mampu menahan seranganku.""Teknik pedang apa yang barusan kau gunakan? Bagaimana mungki
Nathan seketika merasakan seolah-olah seluruh gunung itu sendiri yang runtuh menimpa bahunya. Sebuah tekanan yang luar biasa berat menekannya ke bawah, berusaha membuatnya bertekuk lutut. Tubuhnya mulai bergetar hebat di bawah beban yang tak terlihat itu.Di bawah tekanan aura Arlot yang seberat gu
"Mengapa kau tidak menghancurkan Martial Shrine? Kau tahu di dalamnya penuh dengan kultivator hitam, bukan? Sancho adalah salah satunya! Sebagai bagian dari penegak hukum dunia bela diri, bukankah sudah menjadi tugasmu untuk menghilangkan bencana bagi masyarakat? Bukankah sudah seharusnya kau yang
Sancho tercengang. Mulutnya ternganga. Dia mengira akan melihat Nathan yang terlempar lagi. Dia sama sekali tidak menyangka, yang akan terkapar di tanah justru adalah Malvin, dengan sebuah lubang menganga di dadanya.Malvin bangkit dengan susah payah, menatap lubang berdarah di dadanya dengan tidak
"Tidak perlu dilihat," potong Ryujin, suaranya datar. "Aku bisa menyetujui pelatihan yang akan diselenggarakan oleh keluarga Zellon."Wajah Jazer seketika cerah. "Kalau begitu, terima kasih banyak, Tuan Ryujin.""Namun," lanjut Ryujin. "Aku punya satu syarat."Senyum di wajah Jazer membeku. "Silahk







