LOGINNamun nasib Kuro jauh lebih mengenaskan.Pedang Aruna memiliki roh pedang sendiri. Saat Kuro mencoba menahan dengan akar-akar dari Akar Kehancuran, tanaman merambat itu justru dipotong habis satu per satu.Srak! Srak! Srak!Tak ada yang mampu menahan lajunya.BANG!!Kilatan pedang menyambar dalam sekejap.Sesaat kemudian, lengan kanan Kuro terputus dan terlempar ke tanah. Darah menyembur deras, sementara aura yang sebelumnya bergelora langsung merosot tajam.Kuro menatap bahu kosongnya dengan mata membelalak. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.Teknik transformasinya buyar. Tubuhnya kembali ke bentuk semula, lalu ia jatuh setengah berlutut di tanah dengan napas kacau.“Mengapa... bisa seperti ini...”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.Dia adalah petarung tingkat Puncak Villain, berada di markasnya sendiri, menguasai Resonansi Dunia, bahkan sudah memakai teknik pamungkasnya.Namun hasil akhirnya tetap kalah telak.Kuro mengangkat kepala perlahan dan menatap Nathan seolah melihat
Nathan menyipitkan mata menatap badai raksasa di depannya. Batu, kayu, puing bangunan, bahkan tanah di sekitar medan tempur ikut terangkat lalu hancur berkeping-keping saat tersedot ke dalam pusaran.Bonang dan yang lain berubah pucat. Mereka segera mundur menjauh.Namun saat Bonang hendak menyingkir, ia melihat Seraphyne yang berdiri di ambang pintu aula, perlahan ikut terseret oleh daya hisap tornado. Tubuh wanita itu sudah lemah, tak lagi memiliki tenaga untuk bertahan.Tanpa berpikir panjang, Bonang melompat.Brak!Ia menerjang arus angin yang brutal, memeluk tubuh Seraphyne erat, lalu memaksakan diri melangkah mundur. Setiap langkah terasa seperti menabrak gunung. Kaki tuanya bergetar, napasnya tersengal, tetapi kedua lengannya tak pernah melepas wanita itu.Angin meraung liar, jubahnya berkibar keras, namun Bonang tetap menggertakkan gigi dan terus bergerak.Di dalam pelukan itu, Seraphyne menatap pria tua berwajah buruk rupa yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan dirin
SWOOSH!Pedang Aruna menukik turun seperti kilat emas dan menebas lurus sulur akar pengikat itu.Dalam sekejap, lilitan tanaman putus berhamburan.Nathan jatuh ringan ke tanah, berlutut satu kaki, lalu langsung mengulurkan tangan dan menangkap gagang pedangnya dengan mantap. Ia berdiri perlahan, mata dinginnya menatap lurus ke arah Kuro.Kuro menyipi, ia baru sadar akar yang mengikat Nathan tadi dipotong dengan kecepatan yang nyaris tak tertangkap mata telanjang. Mendadak ia meraung marah dan menghentakkan kaki ke tanah.BAAANG!Retakan menjalar ke segala arah.Dari celah tanah, ratusan akar baru menerobos keluar seperti lautan ular hijau. Akar-akar itu lebih tebal, lebih cepat, dan dipenuhi duri tajam. Dalam sekejap Nathan dikepung dari segala sisi.Masing-masing akar membawa tenaga brutal yang cukup untuk menghancurkan batu besar, apalagi tubuh manusia. Udara langsung dipenuhi suara siulan tajam.Wussh! Wussh! Wussh!Nathan tidak mundur. Ia mengangkat Pedang Aruna, napasnya ditarik
Lebih dari itu, para anggota Ordo Abyssal di sekitar mulai memandangnya dengan sorot aneh. Ada keraguan, ketidakpuasan dan rasa goyah.Kuro tahu, hari ini apa pun yang terjadi, Nathan harus dikalahkan.Kalau tidak, otoritas yang baru ia rebut akan runtuh sebelum sempat kokoh.“Tidak heran…” ucapnya perlahan, suara penuh niat membunuh. “Tubuh Vajra Naga Emas memang keras kepala. Tubuhmu kuat, sangat kuat.”Ia mengangkat kepala. “Tapi meski kau kultivator sejati, aku tetap akan menguliti tubuhmu, mencabut taiju milkmu, lalu membuatmu merangkak di hadapanku.”Begitu kalimat itu jatuh, cahaya hijau tiba-tiba muncul di atas kepala Kuro.Kilau aneh yang berpendar dan berputar seperti lingkaran energi misterius.Nathan mengernyit.Orang-orang di sekitar ikut kebingungan, tak memahami apa yang sedang terjadi.Bonang bahkan spontan berseru, “Sialan, apa maksud anak ini? Kenapa dia seperti sedang mengejek—”Namun kalimat itu langsung terhenti saat ia tanpa sadar melihat Seraphyne berdiri di amb
Tubuh Nathan terdorong mundur beberapa langkah, kakinya menggesek tanah, meninggalkan jejak retakan di permukaan batu. Sementara tekanan dari serangan itu menjalar ke seluruh tubuhnya.Di sisi lain, Kuro mendarat dengan ringan dan tenang. Ia lalu menatap Nathan dengan senyum tipis yang penuh ejekan.“Nathan!”Seru Raze dan Bonang hampir bersamaan saat melihat Nathan terdorong mundur oleh pukulan tadi.Keduanya segera berlari mendekat, namun Nathan hanya mengibaskan tangan dengan santai, memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak mengalami luka serius.“Tuan Nathan, perlu aku gunakan Rantai Basilisk untuk menjerat bajingan itu?” tanya Raze dengan sorot mata tajam.Nathan menggeleng pelan. “Tidak perlu, pertarungan ini biar kuselesaikan sendiri.”Jawaban itu membuat Kuro menyipitkan mata. Tatapannya langsung berubah dingin. “Nathan, kau benar-benar gila.”Ia merasa dihina.Lawannya bukan hanya menolak bantuan, tetapi juga menyimpan Pedang Aruna seolah dirinya tidak layak dipak
Kuro menatap Nathan dengan sedikit keterkejutan yang tidak sempat ia sembunyikan. Alisnya berkerut tipis saat menyadari lawannya masih mampu berdiri tegak di bawah tekanan kekuatan hukum.Sesuatu yang seharusnya sudah cukup untuk melumpuhkan kebanyakan kultivator. Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, tiba-tiba dari belakangnya terdengar jeritan menyayat.“Aaaargh!”Suara penuh penderitaan yang langsung membuatnya menoleh. Pemandangan yang terlihat seketika membuat ekspresinya membeku.Beberapa orang kepercayaannya sudah terkapar di tanah, tubuh mereka dipenuhi luka akibat energi pedang yang barusan dilepaskan Nathan. Bahkan salah satu di antaranya terbelah dua secara mengerikan.Darah dan potongan tubuhnya tersebar di lantai, menciptakan aroma darah yang menusuk hidung dan suasana yang langsung berubah mencekam, Sementara yang lain menggeliat kesakitan, mereka menatap Kuro dengan mata penuh ketakutan dan keputusasaan.Orang-orang yang sebelumnya memilih mengkhianati Ordo Abyssa
Gelombang tekanan psikis yang penuh kebencian dan kelaparan menyapu temoat itu, membuat banyak kultivator junior jatuh berlutut, memegangi kepala mereka. Beberapa yang paling penakut berbalik dan lari tunggang langgang, tidak peduli lagi pada tontonan itu.Darah Asura itu berdiri setinggi tiga mete
“Jangan khawatir, yang pasti mati adalah kau…”Suara Nathan tidak keras, namun dalam keheningan yang mencekam itu, setiap katanya terdengar seperti vonis hakim. Tidak ada amarah yang meluap-luap dalam nadanya, hanya kepastian yang dingin dan absolut. Ia berdiri tegak, posturnya rileks, namun aurany
“Tidak… Tidak mungkin! Kak Nathan tidak mungkin mati!”Sheena terisak, kedua tangannya gemetar saat ia mengguncang tubuh Nathan yang terbaring kaku. “Kak Nathan, bangun… Bangun, kumohon…”Namun sepasang mata itu tetap tertutup. Tubuh Nathan tidak menunjukkan sedikit pun tanda kehidupan.Di belakang
Zephir segera berdiri menahan. "Beverly, jangan... bahkan Nathan pun tak mampu mengalahkan Lucas. Kalau kamu pergi, kamu hanya akan menyusulnya.""Kalau aku tidak bisa membalas dendamnya, maka aku akan mati bersamanya.""Aku tidak akan membiarkannya sendirian di bawah sana!"Tekad itu tak tergoyahk







