LOGIN"Apa yang kau lakukan di sini?" Octavius bertanya sambil bergerak perlahan ke arah samping.Di dekat sana terdapat tombol alarm darurat yang terhubung langsung ke seluruh pasukan pengawal istana. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh tombol itu, suara Nathan kembali terdengar."Tidak ada gunanya," Nathan tetap duduk dengan santai. "Kalau kau menekan alarm itu, yang datang hanya lebih banyak orang untuk mati."Kalimat itu diucapkan dengan nada ringan, tetapi justru membuat punggung Octavius merinding."Aku datang bukan untuk membunuhmu," Nathan meletakkan gelas anggurnya di atas meja. "Aku hanya ingin berbicara."Kemudian ia mengangkat tangannya dan membuat gerakan mempersilakan. "Duduklah."Pemandangan itu terasa sangat aneh. Seolah-olah Nathan adalah tuan rumah sementara Octavius hanyalah tamu yang baru datang berkunjung.Octavius menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menarik kembali tangannya dari tombol alarm. Ia berjalan perlahan lalu duduk di hadapan Nathan dengan kewaspad
“Master,” Aveline menundukkan kepala dengan hormat. “Jumlah pengikutmu di Solara sudah mencapai jutaan orang. Hanya saja para anggota dunia bela diri masih menolak menyembahmu.”Nathan membuka matanya perlahan. Tidak terlihat sedikit pun kekhawatiran di wajahnya, enyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Biarkan saja, aku punya caraku sendiri.”Setelah berkata demikian, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.Langit malam tampak cerah, bulan purnama menggantung tinggi dan memancarkan cahaya perak yang menerangi seluruh kota.Nathan menatap bulan itu beberapa saat sebelum menekuk lututnya.KREEKK—!Tanah di bawah kakinya retak, tubuhnya melesat ke langit seperti meteor yang menembus awan. Dalam beberapa lompatan saja, ia telah melintasi jarak ratusan meter dan bergerak melintasi langit malam seolah sedang berjalan di udara.Aveline yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa berdiri terpaku dengan mata membelalak.Beberapa saat kemudian, Nathan mendarat dengan ringa
Meskipun Nathan telah membuktikan kekuatannya, menerima kenyataan bahwa seorang pria dari Northern menjadi penguasa baru Solara bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dalam semalam. Tak seorang pun ikut mengangkat suara.Seiji yang berdiri sendirian hanya bisa menundukkan kepala dengan ekspresi canggung.Nathan sekadar meliriknya sesaat sebelum mengalihkan pandangannya kepada Valen. “Jika masih ada orang yang tidak puas, suruh mereka datang mencariku kapan saja. Aku masih akan berada di Solara beberapa hari lagi.”Nada suaranya terdengar santai, tetapi tidak seorang pun meragukan keseriusan ucapan tersebut.Setelah berkata demikian, Nathan melompat ringan.WHOOSSSHH!Tubuhnya melesat menuruni gunung bagaikan seekor elang yang membelah langit sebelum akhirnya menghilang dari pandangan semua orang.Barulah setelah sosoknya benar-benar lenyap, Valen mengalihkan pandangannya kepada Seiji dengan sorot mata dingin yang dipenuhi amarah. “Pengkhianat tidak tahu malu!”Suara Valen terdengar ber
Sementara itu, di luar kawah, suasana masih dipenuhi ketegangan. Tak seorang pun berani mendekat. Semua orang hanya menunggu hasil akhir pertarungan tersebut.Karena suara benturan telah lama menghilang. Ledakan energi juga sudah berhenti. Bagi mereka, itu berarti pemenangnya telah ditentukan. Dan hampir seluruh orang yang hadir meyakini bahwa pemenangnya pasti Severian Aurelion.Bagaimanapun juga, ia adalah simbol dunia bela diri Solara. Pilar yang selama puluhan tahun menopang kejayaan negeri itu. Tidak ada yang percaya bahwa seseorang bisa mengalahkannya.Valen menatap ke arah dasar kawah sebelum menghembuskan napas panjang. "Kurasa semuanya sudah berakhir," Ia menggeleng pelan. "Kita bisa mulai mengangkat mayat Nathan sekarang."Beberapa orang di sekitarnya mengangguk setuju.WHOOSSSHH!Namun tepat ketika mereka hendak bergerak, sosok manusia tiba-tiba melayang naik dari dalam kawah. Semua orang langsung membelalakkan mata. Sosok itu mendarat dengan ringan di tepi kawah sebelum mu
"Jika aku berhasil menembus tingkat Puncak Sovereign, kau tidak akan pernah menjadi lawanku."Nada suaranya dipenuhi ketidakrelaan.Ia tahu betul perbedaan antara dirinya dan para roh spiritual yang pernah ditemui Nathan sebelumnya.Solaris maupun Malachar memang pernah mencapai tingkat yang lebih tinggi, tetapi yang tersisa hanyalah roh spiritual yang telah kehilangan sebagian besar kekuatan mereka.Namun dirinya berbeda, jika benar-benar berhasil menembus batas terakhir itu, maka ia akan menjadi Puncak Sovereign yang sesungguhnya. Seseorang yang berdiri di puncak dunia bela diri. Eksistensi yang dipandang sebagai legenda hidup.Namun Nathan hanya menatapnya dengan tenang. Tatapannya tetap datar dan tanpa riak emosi, seolah sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah legenda terbesar Solara. Tidak tampak kekaguman, tidak pula rasa hormat yang berlebihan, apalagi tekanan yang mampu menggoyahkan dirinya sedikit pun."Meski kau berhasil menerobos, hasil akhirnya tetap tidak akan berubah."
SWOOSSHH!Aura pedang putih melesat ke langit. Tekanan yang dihasilkannya bahkan menembus keluar dari kawah hingga dapat dilihat dengan jelas oleh ribuan orang yang menyaksikan dari kejauhan. Langit di atas Gunung Arjana seakan terbelah oleh cahaya putih yang menyilaukan.Tanpa ragu, Severian melangkah maju. Seluruh harapan, seluruh harga dirinya, dan seluruh kekuatan yang masih dimilikinya dituangkan ke dalam satu serangan terakhir.Menang atau kalah, hidup atau mati. Semuanya ditentukan oleh tebasan ini.Namun tepat ketika serangan itu dilepaskan, pedang yang telah mencapai batasnya akhirnya menyerah.KRAKK—!Retakan yang memenuhi bilah pedang langsung menjalar ke seluruh permukaannya. Dalam sekejap, pedang itu pecah menjadi beberapa bagian. Yang tersisa di tangan Severian hanyalah gagangnya.Meski demikian, ia tetap meneruskan serangan itu. Gagang pedang tersebut dilemparkan ke depan dengan seluruh kekuatan yang masih dimilikinya. Bahkan jika peluangnya hanya tersisa setitik, ia te
KREEK!Jeruji besi yang telah diperkuat sihir itu bengkok dan patah seolah-olah terbuat dari adonan. Ia melangkah keluar dari selnya.Sancho menatap dengan ngeri, matanya membelalak. "Kau... bagaimana kau...""Kau ingin bertanya mengapa formasi sihir di sini tidak berguna bagiku?" Hemin tersenyum d
Plung! Plung!Satu per satu, mereka menceburkan diri ke dalam air dan berenang turun, semakin dalam, menuju kegelapan yang menghancurkan.Pada saat yang sama, jauh di bawah mereka, di dalam keheningan Kota Koral.Seluruh kota kuno itu seolah menahan napas saat aura keemasan yang tak berujung meleda
Sementara itu, Zephir, setelah melihat bahwa pria itu adalah Nathan, air matanya langsung mengalir turun karena kegembiraan."Nathan, kau... kau ternyata masih hidup! Bagus sekali!" Zephir melangkah maju dan memeluknya dengan erat."Paman Zephir," kata Nathan, emosinya akhirnya meluap saat ia memba
"Ayah, apa katamu?" tanya Chelsea."Bukan apa-apa," jawab Nalan cepat, menggelengkan kepalanya.Di dalam arena, Nathan perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang tadinya penuh dengan rasa sakit, kini hanya berisi satu hal niat membunuh yang dingin dan memuncak.Keempat Ksatria Dosa tanpa sadar mun







