Se connecterDi lorong, Seraphyne sudah menunggu dengan gelisah. Begitu melihat Nathan keluar, ia segera mendekat. “Tuan Nathan, bagaimana keadaan Guru Bonang?”Nathan menghela napas panjang, sengaja memasang wajah berat. “Aduh...”Ia menunduk seolah sedang memikirkan cara menyampaikan kabar buruk. “Luka dalamnya cukup parah. Organ-organ vitalnya terkena hantaman keras.” Ia berhenti sesaat, membuat suasana makin tegang. “Sepertinya... sepertinya...”Seraphyne langsung pucat. “Tuan Nathan, tolong selamatkan dia!” katanya panik. “Dia terluka karena menyelamatkanku. Kalau kau bisa menyembuhkannya, aku bersedia melakukan apa saja.”Sambil berkata begitu, ia bahkan hendak berlutut.Nathan cepat-cepat menahan tubuhnya. “Nona Seraphyne, tak perlu seperti itu.” Ia menatap sekeliling, lalu merendahkan suara. “Bukan berarti tak bisa disembuhkan. Hanya saja… kau harus sedikit berkorban.”Seraphyne terdiam. “Pengorbanan apa?”Nathan pura-pura ragu, lalu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinganya.Begitu s
Nathan berjalan mendekat, melihat sekilas kondisi Bonang, lalu sudut bibirnya terangkat samar.Ia paham persis.Orang tua ini... sedang berpura-pura.“Tuan Nathan!” Seraphyne menoleh panik. “Cepat periksa Guru Bonang! Cepat selamatkan dia!”Namun sebelum itu, ia melirik mayat Kuro yang tergeletak tak jauh dari sana. Kebencian di matanya kembali menyala. Seraphyne berlari mengambil sebilah pisau dari tanah, lalu menerjang mayat itu.Jleb! Jleb! Jleb!Pisau itu menghujani tubuh Kuro tanpa ampun. Darah memercik ke mana-mana. Daging robek, tulang retak. Mayat itu nyaris berubah jadi cacahan daging. Semua luka, hinaan, dan penderitaan yang ia pendam selama ini dilampiaskan dalam setiap tusukan.Setelah napasnya habis dan tangannya lemas, Seraphyne baru berhenti. Ia kembali berlari ke sisi Bonang.Nathan lalu berjongkok, memegang pergelangan tangan Bonang seolah memeriksa denyut nadinya. Dengan aliran tenaga tipis yang hanya bisa dirasakan keduanya, ia menyentil meridian pria tua itu.Bonan
Ucapan Kuro membuat Bonang seketika terdiam. Wajah Seraphyne memerah karena malu dan marah bercampur jadi satu. Dengan mata berkaca-kaca, ia memaki pria yang mencekiknya itu.“Kuro, dasar brengsek! Kalau memang punya nyali, bunuh saja aku! Bunuh!”Lalu ia menoleh ke arah Nathan dan berteriak sekuat tenaga. “Tuan Nathan, jangan pedulikan aku! Bunuh dia... bunuh dia—!”Kuro langsung mengerahkan tekanan pada cekikannya. Leher Seraphyne menegang dan suaranya mendadak terputus.Nathan berdiri tenang sambil menggenggam Pedang Aruna. Sorot matanya dingin, sama sekali tidak terguncang.“Nathan, minggir sekarang.” Kuro mundur perlahan sambil menyeret Seraphyne. “Kalau kau membiarkanku pergi, aku tidak akan membunuhnya.”Nathan justru mencibir. “Kau bunuh dia atau tidak, memangnya apa urusannya denganku?” suaranya datar dan menghina. “Dia anggota Ordo Abyssal. Kami baru saling kenal sebentar, bahkan belum pantas disebut teman. Kenapa aku harus melepasmu hanya karena dirinya?”Jawaban itu membua
Namun nasib Kuro jauh lebih mengenaskan.Pedang Aruna memiliki roh pedang sendiri. Saat Kuro mencoba menahan dengan akar-akar dari Akar Kehancuran, tanaman merambat itu justru dipotong habis satu per satu.Srak! Srak! Srak!Tak ada yang mampu menahan lajunya.BANG!!Kilatan pedang menyambar dalam sekejap.Sesaat kemudian, lengan kanan Kuro terputus dan terlempar ke tanah. Darah menyembur deras, sementara aura yang sebelumnya bergelora langsung merosot tajam.Kuro menatap bahu kosongnya dengan mata membelalak. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.Teknik transformasinya buyar. Tubuhnya kembali ke bentuk semula, lalu ia jatuh setengah berlutut di tanah dengan napas kacau.“Mengapa... bisa seperti ini...”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.Dia adalah petarung tingkat Puncak Villain, berada di markasnya sendiri, menguasai Resonansi Dunia, bahkan sudah memakai teknik pamungkasnya.Namun hasil akhirnya tetap kalah telak.Kuro mengangkat kepala perlahan dan menatap Nathan seolah melihat
Nathan menyipitkan mata menatap badai raksasa di depannya. Batu, kayu, puing bangunan, bahkan tanah di sekitar medan tempur ikut terangkat lalu hancur berkeping-keping saat tersedot ke dalam pusaran.Bonang dan yang lain berubah pucat. Mereka segera mundur menjauh.Namun saat Bonang hendak menyingkir, ia melihat Seraphyne yang berdiri di ambang pintu aula, perlahan ikut terseret oleh daya hisap tornado. Tubuh wanita itu sudah lemah, tak lagi memiliki tenaga untuk bertahan.Tanpa berpikir panjang, Bonang melompat.Brak!Ia menerjang arus angin yang brutal, memeluk tubuh Seraphyne erat, lalu memaksakan diri melangkah mundur. Setiap langkah terasa seperti menabrak gunung. Kaki tuanya bergetar, napasnya tersengal, tetapi kedua lengannya tak pernah melepas wanita itu.Angin meraung liar, jubahnya berkibar keras, namun Bonang tetap menggertakkan gigi dan terus bergerak.Di dalam pelukan itu, Seraphyne menatap pria tua berwajah buruk rupa yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan dirin
SWOOSH!Pedang Aruna menukik turun seperti kilat emas dan menebas lurus sulur akar pengikat itu.Dalam sekejap, lilitan tanaman putus berhamburan.Nathan jatuh ringan ke tanah, berlutut satu kaki, lalu langsung mengulurkan tangan dan menangkap gagang pedangnya dengan mantap. Ia berdiri perlahan, mata dinginnya menatap lurus ke arah Kuro.Kuro menyipi, ia baru sadar akar yang mengikat Nathan tadi dipotong dengan kecepatan yang nyaris tak tertangkap mata telanjang. Mendadak ia meraung marah dan menghentakkan kaki ke tanah.BAAANG!Retakan menjalar ke segala arah.Dari celah tanah, ratusan akar baru menerobos keluar seperti lautan ular hijau. Akar-akar itu lebih tebal, lebih cepat, dan dipenuhi duri tajam. Dalam sekejap Nathan dikepung dari segala sisi.Masing-masing akar membawa tenaga brutal yang cukup untuk menghancurkan batu besar, apalagi tubuh manusia. Udara langsung dipenuhi suara siulan tajam.Wussh! Wussh! Wussh!Nathan tidak mundur. Ia mengangkat Pedang Aruna, napasnya ditarik
“Dua puluh tahun.”Nathan menatap wajah itu lebih dekat, merasa tidak masuk akal. “Penampilannya tidak berubah sama sekali.”“Putriku meninggal pada usia dua puluh empat,” jelas Eldric. “Tubuhnya berhenti di usia itu. Dan untuk kita para kultivator, puluhan tahun tidak berarti apa-apa. Bisa hidup r
Seiji menyipitkan mata. “Kau pikir mainan semacam itu bisa membalikkan nasibmu?”Katana di tangannya kembali menari. Kali ini, ratusan tebasan energi membanjiri ruang di hadapan Nathan, seperti badai kematian.Namun Nathan tidak mundur. Ia menggenggam Pedang Aruna dengan kedua tangan dan mengayunka
Melihat itu, wajah Nathan langsung berseri. “Guru Bonang, bagaimana keadaanmu?”Namun jawaban yang keluar justru membuatnya terpaku.“Halus… lembut… putih…”Nathan terdiam.Beberapa detik kemudian, barulah ia memahami maksud gumaman itu. Orang tua ini sudah berada di ambang kematian, namun pikirann
Debu di kawah perlahan mengendap.Nathan bangkit berdiri. Tubuhnya penuh retakan tanah dan bekas hantaman, namun wajahnya justru menunjukkan ekspresi puas. “Hari ini,” katanya pelan sambil menatap Veyron, “Aku akan memakaimu untuk mengasah tubuh fisikku.”Begitu kata terakhir jatuh, Nathan melesat.







