MasukAngin malam berhembus pelan, membawa aroma asin laut.“Dengan kondisi seperti ini, bekerja sendiri bukan pilihan terbaik,” lanjutnya. “Aliansi adalah cara paling aman. Jika kita bergerak bersama, tidak akan ada klan atau keluarga yang berani menekan kita.”Dia berhenti sejenak, memberi ruang. “Dan ketika energi spiritual bangkit, kita bisa membagi wilayah. Lebih teratur dan… menguntungkan.”Hening.Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat botol arak yang masih setengah penuh, menggoyangkannya pelan.“Terima kasih atas tawarannya.”Nada suaranya santai. “Tapi aku lebih nyaman bergerak sendiri.”Ia berhenti sejenak. Lalu menambahkan, tanpa mengubah ekspresi. “Jadi, tidak.”Jawaban itu jatuh begitu saja.Tanpa tekanan dan emosi, tapi ucapannya itu terdengar mutlak.Alric mengernyit tipis, ia jelas tidak menyangka penolakan itu datang secepat dan sebersih itu. Namun sebelum dia bisa menyusun kata berikutnya—“Cih!”Riven menyeringai. “Nathan, kau pikir dir
Ia lalu menoleh pada Nathan. “Selamat, Tuan Nathan. Anda berhasil memperoleh Ginseng Panax puluhan ribu tahun. Saya yakin kekuatan Anda sekarang meningkat jauh.”Nathan menjawab datar. “Hanya keberuntungan.”“Haha!”Alric tertawa. “Tuan Nathan terlalu rendah hati. Mendapatkannya dengan kemampuan sendiri jelas bukan keberuntungan.”Setelah itu ia kembali menatap Raze. “Raze, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Bisakah kita bicara sebentar?”“Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan langsung di sini.” Jawaban Raze dingin dan tanpa basa-basi.Alric sedikit canggung. Pandangannya melirik Nathan sekilas, seolah topik yang ingin dibahas tak nyaman diucapkan di hadapannya.Nathan menangkap maksud itu. “Kalian bicara saja, aku akan berkeliling sendiri.”Ia berniat melangkah pergi.Namun Raze langsung menahan lengannya. “Tuan Nathan, Anda tak perlu pergi.”Setelah itu ia memandang Alric dengan wajah datar. “Kalau ada sesuatu, katakan sekarang.”“Kalau tidak, kami pergi.”“Sebentar.” Alric
Begitu melihat Nathan, Draven langsung berlari keluar dari aula utama dengan wajah penuh kelegaan. “Tuan Nathan! Akhirnya Anda datang juga!”Ia hampir menangis saat berbicara. “Tiba-tiba terlalu banyak orang datang ke pulau ini. Saya rasa kekacauan besar akan segera pecah…”Selama beberapa hari terakhir, hidupnya benar-benar tersiksa. Orang-orang yang datang ke pulau sekarang semuanya monster. Satu orang saja terasa cukup untuk merobohkan seluruh istananya.Untungnya, belum ada yang sengaja mencari masalah. Mereka hanya menduduki wilayah masing-masing dan menunggu.Nathan menatapnya heran. “Kau tahu aku akan datang?”Draven mengangguk cepat. “Saya sudah mengirim orang ke Moniyan untuk mengundang Tuan Nathan. Hanya saja saya tak menyangka Anda datang secepat ini.”Nathan menggeleng pelan. “Aku datang dari wilayah lain. Aku sama sekali tidak bertemu utusanmu.”Draven membeku sesaat, ia baru sadar kemungkinan anak buah yang dikirimnya bahkan belum sempat bertemu Nathan.Nathan tak memper
Tak lama kemudian, Kaidar telah tiba di sebuah bukit kecil yang menonjol di tengah Benua Monarch. Tempat itu hanya beberapa ratus meter lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya, sehingga lebih tepat disebut gundukan raksasa daripada gunung.Di balik semak dan bebatuan yang tersembunyi, berdiri sebuah pintu batu tua berukir pola kuno. Daunnya terbuka sedikit, menyisakan celah gelap seperti mulut monster yang menganga.Kaidar melangkah masuk tanpa ragu.Di balik pintu itu terdapat lorong panjang dan gelap gulita. Suasana lembap menusuk tulang, sementara gema langkah kaki memantul di dinding batu.Setelah berjalan dua hingga tiga ratus meter, lorong itu tiba-tiba terbuka menuju aula raksasa.Ruangan itu sangat luas, cukup menampung puluhan ribu orang tanpa terasa sesak. Di tengah aula berdiri bangunan menyerupai altar pemujaan kuno. Pilar-pilar batunya retak, sebagian miring, dan beberapa bagian sudah hancur, seolah pernah dihantam pertempuran besar.“Tuan, jadi ini reruntuhan palsu yan
Selama ini, Ordo Maledicta juga diam-diam mendukung Martial Shrine di balik layar. Semua itu dilakukan demi membuka jalan agar suatu hari mereka bisa berdiri di dunia fana tanpa hambatan. Selain itu, Martial Shrine juga berfungsi sebagai jaringan pengumpul informasi.“Tuan Abyss, apakah jebakan yang kita siapkan di Benua Monarch benar-benar bisa menipu semua orang ini?” Kaidar menatap lautan manusia di hadapannya. Jumlah orang yang datang terlalu banyak, dan banyak di antaranya memiliki aura mengerikan.Ia mulai ragu.Bagaimana jika jebakan itu tidak cukup?Bagaimana jika justru mereka yang terjebak?“Hmm.” Arkhon Abyss di dalam tubuhnya mendengus dingin. “Orang-orang ini kebanyakan hanya berada di ranah Puncak Villain. Tidak ada yang perlu ditakuti. Bahkan jika mereka membawa artefak setingkat Origin, kita tetap tidak perlu cemas.”“Dengan empat Ksatria Abyss di sisimu, apa lagi yang kau takutkan?”Suara itu berubah semakin dingin. “Kau makin lama makin pengecut. Sepertinya Nathan be
Pada saat yang sama, tak jauh dari markas Klan Movi, wilayah Aula Jujutsu juga tengah mengadakan pertemuan penting.Aula Jujutsu dan Klan Movi berada di wilayah rahasia yang sama. Jarak kedua kekuatan itu dekat, sehingga hubungan mereka selama ini cukup baik.Selain itu, tuan muda Aula Jujutsu, Rudeus, adalah teman masa kecil Liana. Kedua pihak bahkan sudah lama berniat menjodohkan mereka.Jika pernikahan itu terjadi, maka dua kekuatan besar tersebut akan terikat menjadi satu aliansi, dan pengaruh mereka di wilayah rahasia akan meningkat pesat. Namun kini keadaan berubah.Pemulihan energi spiritual sudah di ambang pintu.Jika energi spiritual benar-benar bangkit, maka wilayah rahasia yang selama ini seperti sangkar emas tak lagi memiliki arti besar. Banyak keluarga dan klan pasti akan memilih keluar menuju dunia fana.Karena itu, Aula Jujutsu juga segera menggelar rapat untuk membahas soal Benua Monarch.“Pemimpin.” Seorang petinggi maju dan membungkuk hormat. “Perwakilan Klan Movi di
Penjaga yang berjaga di gerbang segera melihat sosok itu. “Ketua, Nathan sudah tiba!”Kaidar berdiri di tengah aula utama, Tongkat Thorn tergenggam. Setengah wajahnya dipenuhi rasa percaya diri. “Bagus,” katanya pelan. “Suruh dia masuk.”Suara roh spiritual di dalam kepalanya kembali berbisik. “Yaki
“Dua puluh tahun.”Nathan menatap wajah itu lebih dekat, merasa tidak masuk akal. “Penampilannya tidak berubah sama sekali.”“Putriku meninggal pada usia dua puluh empat,” jelas Eldric. “Tubuhnya berhenti di usia itu. Dan untuk kita para kultivator, puluhan tahun tidak berarti apa-apa. Bisa hidup r
Seiji menyipitkan mata. “Kau pikir mainan semacam itu bisa membalikkan nasibmu?”Katana di tangannya kembali menari. Kali ini, ratusan tebasan energi membanjiri ruang di hadapan Nathan, seperti badai kematian.Namun Nathan tidak mundur. Ia menggenggam Pedang Aruna dengan kedua tangan dan mengayunka
Melihat itu, wajah Nathan langsung berseri. “Guru Bonang, bagaimana keadaanmu?”Namun jawaban yang keluar justru membuatnya terpaku.“Halus… lembut… putih…”Nathan terdiam.Beberapa detik kemudian, barulah ia memahami maksud gumaman itu. Orang tua ini sudah berada di ambang kematian, namun pikirann







