Teilen

Bab 981

last update Veröffentlichungsdatum: 07.03.2025 22:48:45

“Kedatanganku kali ini bukan untuk mengganggumu, melainkan untuk membantumu,” jawab Kaidar sambil tersenyum samar, seakan mencoba menenangkan ketegangan yang mulai terasa.

“Membantuku? Bagaimana caramu?” Nathan mengernyit, waspada.

Baru saja Bachira datang dengan peringatan, dan kehadiran Kaidar terasa terlalu kebetulan.

“Saudara Nathan, aku sudah berjalan jauh. Bukankah lebih baik berbicara di tempat yang nyaman daripada di halaman terbuka?” ujar Kaidar, seraya melangkah masuk bersama rombonga
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2136

    Nathan menatap Tetua Ketiga tanpa sedikit pun rasa iba. "Kalau aku membiarkanmu hidup, lalu bagaimana dengan mereka yang mati tanpa alasan?"Tatapannya beralih sekilas ke deretan jasad yang memenuhi lereng gunung.Kilatan dingin melintas di matanya.GRAAKK—!Nathan menginjak lebih keras.Tetua Ketiga kembali memuntahkan darah segar. Cahaya di matanya perlahan memudar, napasnya terputus, lalu tubuhnya terkulai tanpa kehidupan.Seorang Puncak Sovereign Tingkat Menengah tewas begitu saja di bawah satu injakan Nathan.Melihat para murid Ordo Tempest berusaha melarikan diri, Nathan mengangkat tangannya.Whoossshh!Pedang Aruna langsung muncul di genggamannya, memancarkan cahaya dingin yang menusuk mata.Detik berikutnya, sosok Nathan lenyap bagaikan kilatan petir.Srrt! Srrt! Srrt!Jeritan demi jeritan memecah keheningan pegunungan.Dalam sekejap mata, seluruh murid Ordo Tempest yang mencoba kabur telah roboh satu per satu. Tak seorang pun berhasil menyelamatkan diri dari tebasan Pedang Ar

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2135

    DUAAAAR!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh pegunungan. Debu dan batu beterbangan ke segala arah. Tanah retak, sementara bebatuan di sekitar hancur berkeping-keping akibat benturan dua kekuatan itu.Beberapa saat kemudian, debu mulai menghilang.Pemandangan yang tersisa membuat semua orang terpaku.Artefak petir milik Tetua Ketiga telah hancur berkeping-keping. Yang masih berada di tangannya hanyalah dua batang gagang yang patah.Tetua Ketiga berdiri membeku. Tatapannya kosong saat memandangi sisa senjata spiritualnya yang telah berubah menjadi rongsokan."Cih!" Nathan mendengus dingin. "Dengan kemampuan seperti itu, kau masih punya muka untuk sombong?"Belum sempat Tetua Ketiga tersadar, Nathan sudah melayangkan tendangan keras ke dadanya.DUAAAG!Tubuh Tetua Ketiga langsung terpental puluhan meter. Di tengah lintasan, darah segar menyembur dari mulutnya, membentuk lengkungan merah di udara sebelum tubuhnya menghantam tanah dengan keras.Para murid Ordo Tempest langsung membeku di t

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2134

    Raze menelan ludah. "Tuan Nathan... benar-benar bukan manusia biasa." Ia menggeleng pelan sambil terus menatap sosok Nathan yang melesat di udara. "Dengan kultivasi Sovereign Tingkat Akhir saja, beliau sudah memiliki kekuatan seperti ini."Alric, Aldren, dan Riven hanya bisa terdiam. Kekaguman dalam hati mereka semakin sulit diungkapkan dengan kata-kata.Melihat Nathan benar-benar berani menyerangnya, Tetua Ketiga mendengus keras. "Majulah!"Ia mengangkat kedua tangannya ke udara. Beberapa murid Ordo Tempest segera melemparkan artefak ke arahnya.Whoossshh!Di tengah lintasan, artefak itu membesar berkali-kali lipat sebelum mendarat mantap di telapak tangan Tetua Ketiga. Ia memutar artefak tersebut dengan ringan.BANG! BANG! BANG!Setiap benturan di antara keduanya menghasilkan dentingan yang mengguncang udara. Gelombang suara itu begitu tajam hingga banyak kultivator spontan menutup telinga, sementara wajah mereka berubah pucat.Di sisi lain, Nathan sama sekali tidak berniat menghind

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2133

    Meski Velisa mengerahkan seluruh kemampuannya, gelombang tekanan itu tetap menembus pertahanannya sedikit demi sedikit. Raze dan yang lainnya masih merasakan beban luar biasa di atas bahu mereka, seolah seluruh langit hendak runtuh menimpa tubuh masing-masing."Cih! Kau baru Puncak Sovereign Tingkat Awal, tapi sudah berani menantangku? Apa kau benar-benar tahu batas kemampuanmu?" Tatapan Tetua Ketiga dipenuhi ejekan saat memandang Velisa.Velisa hendak membalas, tetapi Nathan sudah melangkah ke depan. "Kalau dia tidak cukup, bagaimana denganku?"Begitu kalimat itu berakhir, aura yang selama ini ia tekan langsung meledak keluar.Tetua Ketiga tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Bocah, kau hanya Sovereign Tingkat Akhir. Dari mana datangnya keberanian berbicara seperti itu di hadapanku?"Namun, tawanya perlahan menghilang. Ia menyadari tekanan auranya tidak lagi mampu bergerak bebas. Seolah ada tembok tak kasatmata yang menahannya. Sorot matanya berubah tajam. Tanpa ragu, ia kembali meningka

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2132

    Ratusan orang menerjang bersamaan. Para murid Ordo Tempest yang biasanya congkak kini justru pontang-panting melarikan diri sambil berteriak meminta bala bantuan.Melihat pemandangan itu, Raze tertawa puas. "Lihat! Selama kita bersama Tuan Nathan, tidak akan ada lagi yang bisa menginjak-injak kita!"Ucapan itu membuat banyak kultivator di sekitar mengangguk setuju. Nama Nathan sudah lama menggema di dunia kultivasi. Kini, setelah menyaksikan sendiri kekuatannya, rasa hormat mereka semakin bertambah.Nathan tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat tangan memberi isyarat. "Ayo, kita lanjut."Rombongan kembali bergerak mendaki Pegunungan Langit Purba.Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, embusan angin tiba-tiba membawa aroma darah yang begitu pekat hingga menusuk hidung.Tak lama kemudian, pemandangan mengerikan terbentang di depan mereka.Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalur pegunungan. Sebagian besar tubuh mereka telah remuk hingga sulit dikenali, sementara tanah di se

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2131

    "Tenang saja, Tuan Nathan." Raze mengangguk mantap. "Apa pun perintah Anda, kami akan mengikutinya tanpa banyak bertanya."Alric, Aldren, dan Riven turut menganggukkan kepala tanpa ragu.Tak lama kemudian, Nathan memimpin rombongan bergerak menuju Pegunungan Langit Purba.Melihat mereka mulai mendaki, para kultivator yang sebelumnya berkumpul di sekitar kaki gunung ikut berbondong-bondong mengikuti dari belakang. Ledakan energi yang sempat mengguncang kawasan itu membuat semua orang yakin pasti ada harta karun besar yang tersembunyi di dalamnya. Demi kesempatan seperti itu, mempertaruhkan nyawa bukan lagi hal yang aneh.Sedikit demi sedikit, jumlah orang yang mengikuti Nathan bertambah hingga melampaui seratus orang. Arus manusia itu terus bergerak menuju Pegunungan Langit Purba.Sementara itu, beberapa murid Ordo Tempest masih bersantai di kaki gunung. Mereka bersandar di bawah pohon besar sambil mengobrol seolah tidak terjadi apa-apa.Begitu melihat rombongan yang sebelumnya telah m

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1147

    Scholar berdiri tegak, meski wajahnya diliputi kebingungan dan ketegangan. Sinar matanya menajam ketika suara pintu mobil terbuka, diikuti langkah pelan kepala pelayan tua yang sangat dikenalnya.“Ada apa ini? Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi?” teriak Scholar, nadanya tajam, namun mengandung nad

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1178

    “Nyonya Sheerena, aku hanya sedikit membantu. Tak perlu terlalu sungkan.” Nathan tersenyum ringan, nada suaranya tenang seperti biasanya.Namun Sheerena, pemimpin Sekte Bloody, menatapnya dengan tulus. “Tuan Sykes, bantuan kecil Anda telah menyelamatkan kami semua. Kebaikan sebesar ini tak bisa kam

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1198

    Dari kehancuran muncul kelahiran kembali.Cahaya keemasan dari tahap Surga di dalam tubuhnya memancar lebih terang dari sebelumnya. Tubuh Nathan mulai terbentuk kembali, bersinar samar dari dalam kulitnya sendiri, seperti giok murni yang menyala.Kesadarannya menyatu dengan tubuh barunya, dan ia da

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1160

    Sementara itu, di dalam organisasi Martial Shrine.Jauh dari kekacauan Keluarga Winaya, Sancho mengumpulkan beberapa kepala keluarga dari sebuah aliansi bela diri rahasia.Di antara mereka hadir juga Jazer dari Keluarga Zellon, serta beberapa tokoh penting lainnya.Namun malam itu berbeda.Di pojok

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status