Share

BAB 9

Penulis: Little Forest
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-13 11:45:59

Sejak Kate memutuskan untuk menghasilkan uang dengan manjadi simpanan seorang lelaki, dan saat itu kebutulan adalah Matt. Seorang lelaki yang sering datang ke klub tempatnya bekerja part time. Kate menawarkan diri, dan Matt menyambutnya. Hubungan yang Kate kira akan selesai dalam satu malam, namun ternyata berlangsung cukup lama.

Kenyaman yang diberikan oleh Matt, membuai Kate. Terlebih perlakukan Matt dulu padanya, meski dirinya hanya sebagai penghangat ranjang Kate, dia diperlakukan cukup baik. Walaupun Kate sadar, sebaik apapun Matt, orang itu tetaplah pria yang hanya menginginkan tubuhnya. Dan tak lebih dari itu. 

Akan tetapi, jika dibandingkan sikap Matt dulu, jauh lebih baik daripada sikapnya beberapa waktu lalu, yang hampir melecehkannya di kamar mandi. Dan apakah bisa disebut melecehkan jika nyatanya Kate malah terbuai?

Kate sudah melupakan kejadian di toilet tempo hari. Namun lagi-lagi pria itu bersikap kurang ajar padanya. Di tempat umum pula.

Kate memejam erat. "Oke". bisiknya. “Aku akan masuk". Ia mengalah. Tepat saat hidung mereka bersentuhan, Matthew menghentikan aksinya. "Lepaskan kakimu”. Mereka menjadi tontonan publik saat ini, dengan posisi Matthew menghimpit tubuhnya di sisi badan mobil.

Apakah pria ini sengaja mempermalukannya?

Syukulah Matthew segera melepasnya. Dan Kate menepati ucapannya dengan masuk ke kursi penumpang. Matt menyusul dan duduk di depan stir. Mengunci pintu mobilnya segera setelah keduanya duduk bersebelahan.

“Katakan segera apa yang kau inginkan?” Sejak bertemu kembali dengan Matt beberapa waktu lalu, ketenangan Kate terusik. 

"Katakan padaku di mana selama ini kau, Katya?"

Kate menghela panjang. “Aku tidak ke mana-mana”.

"Tidak ke mana-mana katamu? Jelas kau menghilang selama empat tahun".

“Sudah kubilang aku tak kemana-mana. Aku bernapas dan hidup di kota ini”.

“Berhenti berdusta. Aku tidak pernah melihat batang hidungmu sekalipun di sini".

"Rupanya kau lupa Mr. Campbell. Lingkungan kita jelas berbeda. Kau tidak akan pernah melihatku diantara hingar-bingar yang melingkupimu".

"Jadi itu alasanmu pergi? Takut dengan kemewahanku? Bukannya kau menikmatinya?" 

Kate tersenyum miris, seolah menertawakan dirinya sendiri. Ia tak bisa menyangkal kenyataan itu, ia memang rela menjadi simpanan lelaki ini. Semua demi uang, demi kemewahan yang bisa membuatnya lupa sejenak pada pahitnya hidup miskin yang ia jalani.

“Yah, tentu saja,” ucap Kate dengan nada sarkastis, matanya menatap tajam ke arah Matt. “Aku sangat menikmati uang dan segala kemewahan yang kau taburkan, Mr. Campbell. Oh, sungguh, betapa aku sangat menyukai uangmu yang banyak itu.”

Ucapan itu bagai pisau yang menggores egonya, membuat emosi Matt meledak seketika. Rahangnya mengeras, tatapannya berubah gelap. “Kalau begitu…” suaranya meninggi, tercekik amarah. “Kenapa kau pergi? Jika benar kau begitu menyukai uangku, kenapa meninggalkanku?”

Kate menegakkan tubuhnya, senyum sinis masih melekat di bibirnya. “Karena uangmu, tidak lagi cukup untuk membeliku," bisiknya tajam. "Dan bahkan jika kau punya seluruh uang di dunia ini, aku tetap tidak akan kembali padamu," imbuhnya.

Kepalang tanggung, Kate memilih memainkan drama ini sampai akhir. Senyum mirisnya berganti menjadi tatapan penuh tantangan, seolah ia sengaja menyulut bara di dada Matt.

“Lihat dirimu, Matt,” katanya dingin, bibirnya melengkung sinis. “Begitu marah hanya karena aku sudah tak peduli pada uangmu. Bukankah itu yang paling kau banggakan selama ini? Uang. Kekuasaan. Semua yang membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain.”

Sebelah alis Matt naik. “Sadar juga bahwa kau bukan siapa-siapa tanpaku," katanya mengejek.

Kate tertawa pelan, tawanya pahit tapi menusuk. “Memang benar. Tanpamu, aku tidak punya apa-apa… dulu.” Ia menekankan kata terakhir itu, lalu menatapnya dengan mata yang tajam dan penuh kepastian. “Tapi kini, aku lebih memilih tidak punya apa-apa, daripada menjadi budakmu.”

Rahang Matt mengetat, wajahnya mengeras, matanya gelap seperti jurang. Ia tidak terbiasa ditolak, apalagi dengan cara sekejam ini.

Kate menarik napas panjang, ingatan itu menyeruak begitu saja, betapa rendah dirinya dibuat lelaki ini. Matt tidak pernah punya keberanian menatap matanya saat mengusirnya. Ia malah menyuruh orang lain menyampaikan pesan, seakan Kate hanya barang titipan yang bisa dipindahkan sesuka hati. Sungguh, pengecut.

Matt menyinggungkan sebelah bibirnya, senyum dingin yang membuat bulu kuduk Kate meremang. "Dan kini kau akan bilang bahwa kau sudah hebat tanpaku?" Matt tersenyum mengejek. "Kau masih bukan apa-apa Katya".

Kate membalas senyum itu, dengan sangat manis yang dibuat-buat. “Memang aku tidak memiliki apa-apa, Matt. Tapi setidaknya, aku memiliki kebebasan. Sesuatu yang bahkan uangmu tidak bisa beli.”

Rahang Matt semakin mengetat. Lelaki itu siap membalas ucapan Kate, namun dering pomsel menginterupsi.

"Halo?" Kate mengangkat panggilan. Mendengarkan dengan takjim, air mukanya yang dingin berubah khawatir. "Saya benar-benar minta maaf, tolong tunggu sebentar, saya akan segera sampai". Mematikan panggilan, Kate hendak membuka mobil namun Matt mencegahnya.

"Jangan kabur sialan! Kita belum selesai bicara".

Kate tidak memiliki banyak waktu untuk meladani Matt saat ini. Dia tak peduli apakah lelaki itu akan murka, dia harus segera pergi menjemput anaknya.

Matthew memukul stir mobilnya saat Kate berhasil kabur dan menghentikan taxi di depannya. Tak ingin melapaskan wanita itu begitu saja, Matt membuntuti taxi yang ditumpangi Kate. 

Sepuluh menit kemudian, taxi di depannya berhenti di depan sebuah gedung berlantai satu, dengan halaman luas yang memiliki berbagai macam permainan anak. Matt melihat Kate keluar dan berjalan terpogoh-pogoh melintasi halaman lalu berhenti tepat di depan seorang wanita yang menunggunya, juga, dua anak kecil yang memeluknya.

Anak kecil? Matt membelalakkan matanya.

Dan apa panggilan mereka tadi? Mommy? 

Dari sekian banyak kejutan yang pernah diberikan Kate, kemarahannya, kepergiannya, tatapan dinginnya, yang satu ini adalah yang paling mengguncang.

Dan tak lama setelahnya, seorang pria muncul dengan terpogoh mendekati Kate.

Rahang Matt mengeras saat melihat lelaki yang memakai kemeja kotak abu-abu mencium kedua anak Kate, dan tersenyum pada Kate.

"Damn it! Katya, you're mine." Matt tanpa sadar sembari memukul stir mobil. Dan dengan kasar menjalani mobilnya pergi dari tempat itu. hatinya panas membayangkan wanita itu di sentuh oleh lelaki lain.

Terlebih lagi, dia tidak suka dengan pemandangan yang dilihatnya, seoleh mereka merupakan keluarga cemara.

*** 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kembar Dua: Daddy, Berhenti Mengganggu Mommy!   BAB 104

    Melihat Matt hanya diam tanpa balasan, tanpa penegasan membuat perut Kate mencelos. Ia tahu dirinya sedang menaruh harapan pada sesuatu yang rapuh.Kate jelas tahu, pria yang pernah menyewanya dulu tak mungkin memiliki rasa cinta pada seorang wanita. Setidaknya, itu yang selalu ia yakini. Tetapi sejak mereka bertemu kembali, dan Kate merasakan sikap hangat Matt ini, tanpa dia mau bahwa dirinya mulai berharap.Tetapi, apakah harapan itu terlalu berlebihan?Matt memintanya menikah.Mengajaknya hidup bersama.Membangun keluarga.Tetapi saat dirinya bertanya tentang cinta, Matt tak memiliki balasan.Kate tahu cinta bukanlah segalanya. Tetapi pondasi hubungan yang paling kuat adalah cinta.Dan jika ia akan mengambil langkah sebesar itu, ia perlu tahu alasannya. Ia perlu tahu mengapa Matt ingin menikahinya.Dan alasan apa yang paling tepat jika bukan perasaan cinta?“Aku hanya butuh tahu alasanmu,” pikirnya, meski belum sepenuhnya terucap. Menikah bukan keputusan ringan. Itu bukan perkara k

  • Kembar Dua: Daddy, Berhenti Mengganggu Mommy!   BAB 103

    Waktu sudah terlewat satu jam sejak Kate masuk ke dapur, dan dia masih berkutat dengan adonan cookies coklat yang menempel di jari-jarinya. Adonan yang sebentar lagi akan dimasukan ke dalam oven di rumah barunya itu.Cemilan si kembar yang dibelikan Matt masih banyak di tempat penyimpanan, namun jelas Kate batasi konsumsi tak sehat itu. Dan menggantinya dengan cemilan home made buatannya agar lebih sehat.Entah sejak kapan dia begitu betah berada di dapur. Mungkin sejak dia pindah. Sejak melihat dapurnya yang bersih, terang, dan terasa seperti ruang kecil yang menanti untuk diisi dengan aroma manis dan kenangan baru.Kate menyalakan pemanggang itu, menggeser loyang perlahan, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.Tepat saat itu, sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari belakang. Lengan besar berurat itu membungkusnya dalam pelukan hangat yang membuat dunia di sekitarnya berhenti berdenting. Rasa hangat menyelubunginya seketika.Desah napas jatuh pelan di bahunya, hangat, tera

  • Kembar Dua: Daddy, Berhenti Mengganggu Mommy!   BAB 102

    "Jadi, kau menerimanya, Kitty?” Tak ada nada menuduh atau desahan kecewa. Tetapi Kate tetap waswas, ia menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan Alan dari seberang telepon.Pagi itu, setelah kejadian di mobil, Kate menceritakan kepada Alan tentang perkataan Matt, yang terdengar terlalu serius untuk diabaikan. “Emh, apakah kau akan marah kalau aku bilang 'iya'?” tanyanya pelan. Ada rasa takut, bukan pada Alan, tapi pada kemungkinan bahwa jawabannya akan mengubah banyak hal.Beberapa detik sunyi. Hal itu membuat napas Kate terasa berat.“Kau benar-benar sudah yakin, Kitty?” tanya Alan hati-hati.Kate mengembuskan napas pelan. “Alan, aku merasa aman dan nyaman bersamanya," ungkap Kate jujur.“Itu saja tidak cukup,” balas Alan lembut. “Bagaimana dengan latar belakangnya?” Alan jelas tak tahu siapa Matt, dan dari mana asal pria itu.“Dia...” Kate terdiam. Seketika bayangan rumah besar milik ayah Matt muncul di benaknya, halaman luas, bangunan mewah, kehidupan yang sejak kecil jauh dar

  • Kembar Dua: Daddy, Berhenti Mengganggu Mommy!   BAB 101

    Untuk sesaat, Kate lupa cara bernapas. Tempat pulang?Dirinya? Wanita yang selama ini ragu, yang selalu merasa hanya singgah di hidup pria itu, bukan tujuan. Kata-kata itu merayap masuk ke relung hatinya, mengusik tembok yang ia bangun mati-matian.Jangan percaya terlalu cepat, batinnya memperingatkan.Tapi tubuhnya mengkhinatinya, ia gemetar halus di bawah sentuhan Matt.Kate menelan ludah, mencoba menemukan suara. Yang muncul hanya desir lembut di kepalanya, seolah dunia merendah agar ia bisa mendengar isi hatinya sendiri.Kate bisa merasakan napas Matt di bawah hidungnya. Hangat, teratur, dan begitu dekat hingga membuat dadanya terasa penuh. Jarak mereka nyaris tak ada, dan itu membuat kesadarannya bekerja lebih keras daripada emosinya.Napas Matt kini menyapu bibirnya, membuat Kate menahan napas. Sebagian dirinya ingin menjauh demi menjaga batas, sebagian lainnya justru ingin tetap diam dan merasakan kejujuran yang pria itu tunjukkan tanpa kata.“Kate…” suara Matt rendah, nyaris

  • Kembar Dua: Daddy, Berhenti Mengganggu Mommy!   BAB 100

    Matt terdiam untuk beberapa saat. Jika boleh jujur, pertanyaan Kate tentang hubungannya dengan Janice sama sekali tidak membuatnya takut atau tersinggung.Tetapi perubahan mimik wajah Kate, itulah yang membuat dadanya mencengkeras halus, membuatnya sedikit gentar.Wanita itu tidak marah.Tidak cemburu membabi buta.Tetapi sepasang mata itu jelas memancarkan luka dan kecewa. Dan melihat itu jauh lebih menegangkan daripada menghadapi kemarahan apa pun.“Katya,” Matt akhirnya memanggil, suaranya melembut tanpa ia sadari.Kate hendak membuka pintu mobil, tetapi dengan sigap Matt mencegahnya. "Please," mohon Matt. "Aku akan menjelaskannya."Kate menghela napas sanagt panjang. Helaan itu menggambarkan betapa lelahnya dia hari ini. "Aku lelah, Matt.""I know, but please. Beri aku waktu sebentar untuk kita menyelesaikan kesalahpahaman ini.""Aku bahkan melihat kalian berdua berbisik di lorong dengan mata kepalaku sendiri," kata Kate menekan intonasinya yang tajam tetapi tetap pelan. "Tidak a

  • Kembar Dua: Daddy, Berhenti Mengganggu Mommy!   BAB 99

    "Kau tampak melamun, Katya?” Suara Matt memecah keheningan di dalam mobil. Makan malam sudah selesai, tak lama setelah Kate kembali dari toilet. Matt bahkan mempercepat acara itu dan segera membawa mereka pulang.“Aku tak enak badan,” jawab Kate sekenanya. Ia menoleh sebentar ke kursi belakang, kedua anaknya sudah terlelap, kepala mereka bersandar miring.“Kau hanya makan sedikit tadi.” Matt melirik singkat, wajahnya tampak cemas. “Sebaliknya kita mampir dulu ke restoran terdekat. Kau butuh makan.”Kate menggeleng, menatap jendela. “Aku lelah. Begitupun anak-anak. Aku hanya ingin cepat pulang dan merebahkan diri.”Hening, hanya terdengar suara napas masing-masing dan suara halus mesin mobil.Matt melirik Kate sekali lagi, wanita itu masih menatap jendela di sampingnya dengan tatapan menerawang.Matt buka tak menyadari perubahan sikap Kate. Sejak Kate kembali dari toilet, ada sesuatu yang berbeda. Matt mengamati Kate yang tampak murung, menjauh, selalu menghindari kontak mata dengannya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status