Home / Romansa / Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy? / Bab 7. Om Tampan Bukan Orang Asing

Share

Bab 7. Om Tampan Bukan Orang Asing

Author: minaya
last update Last Updated: 2025-09-19 20:31:41

“Mommy! Akhirnya pulang, Elio udah capek nungguin mommy dari tadi,” keluh Elio dengan wajah cemberut.

“Mana peluknya?” keluh Thana dengan wajah yang dibuat-buat cemberut juga, hingga membuat Elio dan Enzo terkekeh pelan dan langsung berhambur ke pelukan Thana.

“Enzo gimana? Gak kangen sama mommy?” tanya Thana sembari mencium puncak kepala Elio yang duluan memeluknya, lalu beberapa detik kemudian Enzo menyusul untuk memeluk Thana erat.

Sifat keduanya memang sangat berbeda. Elio cenderung ceria, eskpresif, lebih aktif dan nakal. Sementara itu Enzo lebih tegas, pendiam, dan bijaksana. Sehingga biasanya Thanalah yang sering memberikan sinyal kepada Enzo karena dia memang sedikit pendiam.

“Ada apa sayang nungguin mommy? Tadi macet banget dijalan jadi agak telat deh,” jawab Thana jujur.

“Mom….aku ingin ikut lomba menggambar tetapi Enzo malah tidak mau, sangat menyebalkan.” Elio mendengus menatap Enzo.

Sementara itu Enzo hanya menatap adiknya itu dengan tatapan datar. “Tidak semua orang suka menggambar, Elio, aku lebih suka melakukan hal lain,” jawab Enzo tenang.

Bu Wati datang dari dapur dengan sebuah soup sayur ditangannya. “Apa kalian masih mendebatkan itu? Sudah berapa kali nenek katakan pilih lomba yang kalian sukai apa masalahnya, hm?” Suaranya terdengar dari ruangan makan.

Thana tersenyum dan menatap kedua putranya itu. “Elio….kakakmu tidak suka menggambar kau tau itu, kalau Elio mau ikut nanti mommy daftarkan ke wali kelasnya Elio bagaimana?”

Namun anak laki-laki itu menggeleng. “Kami kan kembar, kemana-mana selalu berdua, masak Elio ikut lomba menggambarnya sendiri? Males banget nanti semuanya nanyain dimana Enzo? Kenapa Enzo gak ikut,” jawab Elio dengan wajah yang sangat lucu karena dia mendumel sendiri.

Thana sudah tidak kuat menahan tawanya saat itu.

“Bilang aja kamu memang memaksaku agar ikut, gak mungkin alasannya sepele kayak gitu,” jawab Enzo dibalas tatapan tajam dan peletan lidah oleh Elio.

“Eh, Eh, siapa yang ajarin kayak gitu? Elio, kalau mau ikut mommy kasi tapi jangan paksa kakak buat ikut ya? Kalau gitu Enzo mau ikut lomba apa kalau bukan menggambar?” tanya Thana pelan.

Namun, tatapan keduanya malah berubah canggung seakan ada yang disembunyikan. “Mau kubongkar rahasiamu hah?” ujar Elio dan Enzo menunduk.

Thana mengernyitkan dahinya. “Sayang….sini ada masalah apa? Ceritain sama mommy, kalau gak mau ikut lomba gak papa gak ada yang maksa kok.”

Namun, Enzo hanya menggeleng. “Aduh! Mommy gak bakal paham,” ujar Elio. Dia berusaha berbisik di telinga Enzo namun bisikannya begitu keras hingga Thana bisa mendengarnya.

“Aku berusaha membantumu Enzo, apa yang kau lakukan? Mau semuanya ketahuan?” bisiknya. Lalu keduanya berlagak tidak terjad apa-apa.

Semua ini sangat sering terjadi karena kedua putranya ini terbilang sangat pintar untuk ukuran anak seusianya. Bahkan Thanapun terkadang ikut berpikir karena ulah keduanya.

“Enzo….lihat mommy, ada apa sayang?”

Elio kembali menyikut lengan Enzo yang masih terdiam. “Mommy…..itu….Enzo ikut seleksi lomba matematika di sekolah tapi lombanya hanya untuk anak kelas 3 keatas,” cicitnya.

Thana langsung memeluknya. “Enzo sedih karena itu? Gak papa kan bisa ikut lomba lain, sekarang Enzo baru kelas 1 belajar dulu nanti kelas 3 bisa ikut olimpiade matematikanya oke?” bujuk Thana.

Enzo dan Elio menggeleng lagi membuat Thana keheranan. “Ck, aku saja yang katakan. Mom jadi Enzo berbohong di kertas soalnya mengatakan dia kelas 3 dan menyamarkan namanya dengan Daniel di kelas 3, pengawas tidak menyadari karena banyak yang ikut dan sialnya lagi Enzo lolos terpilih, sekarang apa yang akan kita lakukan?”

Thana terdiam. Dia menatap putranya tidak percaya. “J-jadi Enzo bisa menjawab soalnya? D-dan berhasil lolos?” tanya Thana dan Enzo mengangguk pelan.

Bagaimana bisa? Di keluarga Thana semuanya mengalir darah seniman bahkan Eliopun sering ikut lomba menggambar dan memang Thana pikir bakat Enzo belum terlihat saja tetapi matematika?

Thana bahkan tidak terlalu paham. Apa jangan-jangan, mirip papanya?

Memikirkan ini membuat Thana teringat suatu hal penting yang ingin dia pastikan sejak tadi pagi. “Sayang mengenai masalah ini mommy yang akan berbicara dengan wali kelas kalian ya, lain kali jangan diulangi lagi, Enzo dan Elio tidak boleh melanggar aturan, oke?”

Keduanya mengangguk patuh. Thana kemudian mengeluarkan ponselnya dan berusaha mencari foto-foto seseorang digoogle.

“Oh ya…kalian masih inget gak Om yang kemarin bantuin kalian beliin mommy tas itu?”

Elio yang sedang merapikan krayon dan pensil warnanya langsung menoleh dan mengangguk semangat. “Kenapa? Mommy bertemu dengan Om Tampan itu?”

Kali ini bukan hanya Elio tetapi Enzo juga terlihat sama penasarannya. Thana terkekeh pelan, “Ah…gak mommy cuma penasaran aja….apa Om ini yang kalian temui di mall waktu itu?” tanya Thana, sembari menunjukka foto Sergio sedang muncul disebuah acara TV karena hanya foto itu yang paling jelas terlihat wajahnya.

“BENER! Ini Om Tampan itu, Wah! Apa dia seorang artis? Mommy mengenalnya?” tanya Elio bersemangat.

Thana menggeleng cepat. “T-tidak mommy hanya takut kalian bertemu pria jahat, kalau memang Om ini tidak papa,” jawabnya berusaha menghentikan interogasinya karena sudah jelas.

Jatuhnya sekarang Sergio sendiri yang membelikannya hadiah tas itu. Ah, apa sebuah kebetulan saja?

“Kenapa kalau bertemu Om itu tidak papa? Katanya mommy gak kenal, gimana sih?” heran Elio.

“Mommy bohong ya?” Enzo menimpali membuat Thana gelagapan. Mulutnya memang terkadang tidak bisa dikontrol.

“M-maksud mommy, Om ini memang benar kenal dengan pemilik toko tas itu dan dia orang yang terkenal jadi kalian tidak bertemu pria jahat, gimana kalau itu penculik? Kalian bisa dalam bahaya. Lain kali jangan keluyuran ya sepulang sekolah dan jangan berbicara dengan pria tidak dikenal, oke?”

“Tapi kalau Om Tampan itu boleh kan Mom?”

Thana memijit pelipisnya. Apa yang harus dia katakan? Bohong jika Thana mengatakan dia tidak terganggu putranya bertemu dengan ayah kandungnya secara kebetulan tetapi jika keterusan Thana takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan dan itu terasa seperti membuka trauma masa lalunya.

“Ya termasuk Om itu, jangan terlalu dengan orang asing,” gumam Thana.

“Tapi Om itu benar-benar malaikat penolong kami waktu itu, dia bukan orang asing lagi Mom.”

“Kan Mommy yang ajarin buat baik sama siapa aja?”

“Oke! Fine, tetapi yang kemarin jangan diulangi lagi ya sayang? Jangan keluar sendiri lagi sekarang ayo kita makan.”

Thana menyerah. Toh itu hanya kebetulan bukan? Mereka tidak akan bertemu lagi dengan Sergio.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   85. Pangeran Kecil

    Pintu besar dari Mansion Andreson itu terbuka sangat lebar ketika Thana dan kedua putranya datang. Semenjak kejadian tragis itu, ini baru pertamakalinya mereka bertemu secara langsung karena Elio dan Enzo butuh waktu lama untuk sembuh setelah kejadian itu.“Sayang kenapa diam saja ayo masuk,” ajak Thana ketika si kembar itu malah berhenti diambang pintu.Tetapi keduanya tidak menjawab terlihat terpana melihat pintu besar yang menjulang tinggi itu. Belum selesai keterkejutan keduanya melihat taman luas yang mereka lewati sebelum sampai di sebuah istana ini.Bahkan Elio dan Enzo sempat mengira mereka sedang melewati semacam taman kota yang luas tetapi ternyata seluruh taman yang panjang itu mengarah kearah mansion mewah ini yang memang lebih mirip seperti istana.“Elio…Enzo, ayo masuk sayang,” ajak Thana lagi memecah lamunan keduanya. Si kembar itu sontak saling tatap kemudian berbalik menatap kedua orang tuanya.“Mom, ini rumah siapa?” tanya Elio dengan polosnya. Enzo juga sama dengan

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   84. Memang Papa Kandung?

    Cup!Sergio mencium tangan Thana dengan sangat lembut saat keduanya menuju ke mansion utama Andreson.Untuk pertama kalinya, Sergio memakai supir pribadi. Dia duduk di kursi kemudi dengan Thana disampingnya lalu kedua putranya dibelakang dengan wajah yang sangat sumringah.Setelah semua huru hara kemarin, ini pertamakalinya Thana datang ke mansion Andreson sebagai ibu dari anak-anak Sergio. Walau belum sah menikah tetapi statusnya bahkan lebih dari itu mengingat pewaris adalah sesuatu yang sangat penting sejak dulu bagi Keluarga Andreson.Kini Thana sudah bisa memberikannya. Tidak peduli bagaimana kejadiannya tetapi hasil dari tes DNA memang benar, 100% darah daging Sergio.“Mom, kita mau ke rumah baru kita ya?” tanya Elio dengan wajah yang berbinar.Sergio menoleh lalu mengusap pelan kepala anak itu. “Kita mau ketemu kakek, nenek, sama kakek buyut kalian,” jawab Sergio.Wajah mereka benar-benar terlihat syok. Elio menghitung dengan jarinya. “Pertama ada papa, terus sekarang ada kakek

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   83. Klarifikasi

    “Selamat pagi semuanya. Saya Sergio Andreson.” Ratusan kamera dan dan kiblatan cahaya menerangi wajah Sergio dan juga Thana.Semua mata mengarah ke arah dua orang yang menjadi pusat perhatian itu. Setelah hampir 3 bulan bersembunyi dengan berbagai macam rumor tidak benar mengelilingi hubungan Thana dengan pewaris utama Keluarga Andreson itu akhirnya kini mereka buka suara.Di tengah aula yang luas itu pasangan paling fenomenal seantero negeri itu tengah melakukan konferensi pers untuk menklarifikasi semuanya sekaligus mengatakan yang sebenarntya.Para wartawan sudah siap untuk menanyakan semua pertanyaan yang paling ingin diketahyi jawabannya oleh masyarakat. Mengenai banyak sekali hal. Termasuk kenapa keduanya menghilang dari publik setelah mengumumkan hubungannya, siapa kedua anak kembar itu, semuanya berkaitan dengan Sergio dan Thana.Tetapi masalah Zea dan semua hal memalukan yang terjadi selama di mansion Andreson itu sudah ditutup rapat-rapat dan tidak ada satupun yang tersebar

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   82. Lembaran Baru

    1 bulan kemudian.Kamar itu masih menyimpan jejak pertarungan panjang Sergio dan Thana melawan kekacauan di luar sana—dindingnya tenang, lampu temaram, udara hangat, dan suara napas mereka yang masih belum stabil. Thana berdiri di dekat pintu ketika Sergio menutupnya pelan, tatapannya gelap namun penuh rasa tak terucapkan. Ada sesuatu yang berubah malam ini; bukan lagi dua orang yang saling melukai karena kesalahpahaman, tetapi dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan.“Sergio…” suara Thana pecah sedikit, bukan karena lemah, tapi karena menahan sisa emosi yang belum sempat ia lepaskan.Sergio tak menjawab. Ia hanya melangkah ke arahnya dengan langkah perlahan namun pasti, seperti predator yang akhirnya menemukan rumahnya. Saat ia berhenti tepat di depan Thana, jarak mereka hanya sehelai napas.“Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi,” bisiknya, suaranya rendah dan dalam, menggetarkan udara.Thana menatap matanya tanpa mundur sedikit pun. “Aku tidak butuh dilindungi. Aku hanya—”Belum se

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   81. Kenyataan Besar Terungkap

    Ruang utama keluarga Anderson malam itu dingin seperti balok es. Tidak ada satupun yang bernapas lega setelah skandal Zea terbongkar. Sergio berdiri tegak di depan semua anggota keluarga, rahangnya keras, matanya gelap seperti badai. Di sisi lain, Zea diseret keluar oleh dua bodyguard keluarga Anderson—namun sebelum pintu tertutup, dia sempat menoleh, senyumnya bukan senyum manusia normal.“Kau pikir kau menang, Sergio?” serunya. “Kau pikir menyelamatkan Thana membuatmu jadi pahlawan?”Layla, ibu Sergio, menegang. Abraham—kakek Sergio—mengetuk tongkatnya keras ke lantai. “Cukup. Ambil wanita itu.”Tapi Zea tidak berhenti. “Sergio,” katanya dengan tawa serak yang menusuk telinga, “kau tidak tahu ya? Calon istrimu itu juga menyembunyikan anak dari kita semua.”Semua orang di ruangan membeku.Brian, ayah Sergio, menatap Thana tajam. “Apa maksudnya?”Thana pucat seketika, tubuhnya menegang. “Z-Zea bicara apa? Itu—”Zea menyeringai puas melihat wajah Thana berubah drastis. “Kau sembunyikan

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   80. Kekacauan Besar

    Saat Sergio sampai di mansionnya ada mobil Zea terparkir disana membuat firasatnya semakin buruk.Keadaan cukup riuh ketika mereka berdua sampai. Ada Zea yang sudah menangis dan berdrama di ruangan tamu itu.Ada mama dan papa Zea dan juga seluruh keluarga inti Andreson yang berkumpul disana dengan wajah yang begitu panik.Sergio segera mendekat dan ingin tahu ada masalah apa sebenarnya disini hingga keadaan menjadi seheboh ini.“Gio akhirnya kau datang,” ujar Indah mama Zea terlihat tersenyum dengan licik saat melihat Sergiod datang bersaam dengan Thana pula.Semuanya benar-benar terlihat tegang membuat Sergio dan Thana juga sama. Namun Zea langsung menghampiri Segrio dan memeluk pria itu sambil menangis. “Gio kamu harus bertanggung jawab,” lirih wanita itu dan Sergio langsung menepis tubuhnya dengan kasar.“GIO!” bentak Abraham membuat semuanya benar-benar tertekan. “APA KAU TAHU APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?” teriaknya dengan wajah memerahnya menahan amarah.Sergio menegpalkan tangann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status