Share

Bab 6. Kenapa Harus Dia?

Author: minaya
last update Huling Na-update: 2025-09-18 20:41:14

“Kau terlambat 45 detik.”

Thana menghentikan langkahnya ketika melihat sang CEO sudah duduk di kursi pimpinan rapat dengan wajah dinginnya.

Thana melihat jamnya dan tadi bahkan dia belum termasuk terlambat saat sudah masuk karena jam tangannya masih menunjukkan pukul 08.30, dimana itu adalah tepat waktu.

Entah jam model apa yang digunakan pria ini hingga dia sampai menghitung detik dan milidetiknya.

“Mohon maaf Pak Sergio, tetapi di jam saya, saya termasuk datang tepat waktu,” jawab Thana dengan senyuman lalu menarik kursi untuk duduk.

Sementara seluruh pegawai Divisi Kreatif itu menatap Thana dengan ternganga karena sebelumnya tidak ada yang berani membantah CEO ketika dia sudah berbicara.

“Permintaan maafmu untuk datang terlambat saya terima, tetapi apakah etis jika bosmu datang terlebih dahulu? Dan ini hari pertamamu bekerja dan sudah seperti ini,” ujar Sergio seakan sengaja menyulut emosi Thana dan menyulitkannya.

Wanita dengan pakaian blouse berwarna merah dengan rok putih pensil itu tersenyum dengan sangat professional menanggapi Sergio. “Saya hanya akan meminta maaf karena terlambat, tetapi masalah anda datang terlebih dahulu seharusnya bukan bagian dari kesalahan saya,” ujarnya, semakin membuat orang lain disana saling tatap menatap.

Berita ini pasti langsung tersebar seperti api di grup besar untuk pergosipan perusahan sebentar lagi.

“Oke, silahkan mulai rapatnya, kita lihat bagaimana visi misi kerjamu untuk perusahaan Andreson selama 6 bulan kedepan ini,” ujar Sergio, untuk pertama kalinya terlihat mengalah dengan seseorang apalagi ini adalah seorang wanita.

Thana kembali tersenyum dan kali ini sudah membuat Sergio semakin terganggu dengan senyuman manis dan wajah cantiknya yang entah kenapa memberikan getaran yang berbeda baginya.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Wanita itu kemudian berdiri dan memulai presentasinya sendiri dengan bantuan layar lebar yang sangat besar di ruangan rapat itu. Thana memaparkan dengan sangat memukau rencana design, branding, kerjasama dan segala bentuk perlengkapan dari A-Z untuk 6 bulan kedepan ini.

Kemampuannya sudah tidak dapat diragukan lagi. Dia sudah menjadi Kepala Manager Design di Neondra Corp selama beberapa tahun dan bahkan hampir dicalonkan menjadi Dirut, kalau saja orang-orang disana tidak membenci Thana hanya karena dia seorang wanita dan bukan anak kandung Bu Wati.

Tepuk tangan riuh menggema diruangan itu, tetapi Sergio malah terkekeh pelan. Merasa dia tidak punya celah sedikitpun untuk mengkritik wanita ini.

“Itu cukup untuk permulaan, hanya perlu beberapa pertimbangan dari keuangan dan divisi lain terkait,” ucap Sergio, dia memang tidak pernah memberikan pujian secara cuma-cuma. “Kalau semua ini sudah aman, kau bisa handle kerjasama kita dengan Singapur, deadlinenya akhir minggu ini.”

Thana hampir menjatuhkan pointernya ketika mendengar itu. “M-maksud bapak, saya harus membuat proposal baru untuk kerjasama internasional dengan waktu kurang dari 4 hari?” Wajah Thana sudah melongo tak percaya, begitu juga asistennya.

Sergio mengangguk tanpa rasa bersalah. “Ingat, kesetiaanmu bergantung pada proyek ini. Jika kau berhasil meyakinkan mereka posisi manager akan aman untukmu.”

“Pak Sergio tunggu, tapi—“

Sergio sudah bangkit dan menaikkan tangannya tidak ingin menerima tambahan lagi walau tugasnya sangat tidak masuk akal. “Lebih baik kerjakan dari sekarang daripada mengeluh, bukankah kau mantan manager berpengalaman? Buktikan dirimu disini.”

Sergio dengan santainya meninggalkan ruangan rapat dengan keadaan Thana yang begitu syok hingga tidak berdaya.

“Bu Thana….b-bagaimana ini? Apa kita bisa melakukannya?” tanya Asistennya dan seluruh bawahannya terlihat sama terkejutnya.

Thana mengepalkan tangannya. Pria itu benar-benar menyebalkan. Jadi dia ingin menguji Thana seperti ini?

Lihat saja, siapa yang akan menjilat ludahnya sendiri karena Thana pasti akan berusaha mati-matian untuk melakukannya dengan baik.

**

“Kalau begitu kenapa kau terima kalau kau penuh curiga seperti itu dengannya?” Jo, sekretaris pribadi sekaligus teman dekat Sergio hanya menatapnya dengan datar saat mendengar itu.

Dia tentunya ada diruangan rapat pagi tadi, berdiri di pojok dan menyaksikan semuanya. “Sergio Andreson yang kukenal selama ini bisa berubah dengan instan hanya dalam hitungan hari? Apa wanita itu mencuri perhatianmu?”

Sergio yang sedang berpura-pura menyibukkan dirinya untuk membaca file itu menghela napasnya panjang. “Keluar! Kau tidak punya pekerjaan lain?” usirnya.

Namun Jo hanya terkekeh lalu semakin mendekatkan wajahnya kearah Sergio. “Katakan dulu alasan kenapa kau mau menerimanya saat tau dia mantan manager perusahaan pesaing.”

Sergio kali ini terdiam. Dia termenung cukup lama, memikirkan kenapa dia memberikan wanita itu kesempatan.

“Ayolah, tidak mungkin karena kebetulan posisi itu kosong, ada banyak orang kompeten yang bisa mengisi jabatan Manager Kreatif, kenapa harus wanita itu?” tanya Jo, serius.

“Bukankah sudah jelas? Dia adalah biang kerok dari penurunan penjualan perusahaan kita beberapa tahun belakang karena design fenomenal yang dia buat apa perlu kujelaskan? Kau sudah berubah bodoh?” sinis Sergio tetapi Jo malah terkekeh.

“Gio aku sudah mengenalmu puluhan tahun. Ini tidak seperti dirimu samasekali. Oke alasan itu cukup kuat tapi pasti ada sesuatu yang lebih dari itu aku yakin. Coba kau ingat-ingat…..apa saat melihatnya kau merasakan suatu getaran?”

Sergio sontak menatap wajah Jo dengan serius ketika ia mengatakannya. “Apa kau merasa penasaran dan seolah ingin menghabiskan waktu dengannnya?”

Sebelum akhirya kesabarannya habis. “Berapa kakek membayarmu untuk menghasut pikiranku seperti ini? KELUAR!”

“Ck! Oke, aku keluar, tapi coba pikir-pikir dengan seksa-“

“JONATHAN!”

Brak!

Pintu ditutup dan Sergio sontak memijit pelipisnya yang terasa pening itu. SIal sekali Jo benar-benar berhasil mengasutnya kali ini.

Pria tampan dengan peminat hampir setiap wanita di perusahaan itu menyenderkana tubuh kekarnya dikursinya. Dia menatap keindahan kota dari lantai 10. Pandangannya menerawang sangat jauh.

“Kenapa aku menerimanya?” gumamnya pelan.

Sebelum akhirnya, sebuah ingatan ketika dia pertamakali melihat wanita itu berjalan dengan sangat professional bahkan dengan keadaan satu heelsnya patah membuatnya terdiam.

Ya, mungkin sejak itu, matanya sudah tertuju pada wanita itu. “Thana, jika kau memang bukan mata-mata, kay harus bisa meyakinkanku.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   85. Pangeran Kecil

    Pintu besar dari Mansion Andreson itu terbuka sangat lebar ketika Thana dan kedua putranya datang. Semenjak kejadian tragis itu, ini baru pertamakalinya mereka bertemu secara langsung karena Elio dan Enzo butuh waktu lama untuk sembuh setelah kejadian itu.“Sayang kenapa diam saja ayo masuk,” ajak Thana ketika si kembar itu malah berhenti diambang pintu.Tetapi keduanya tidak menjawab terlihat terpana melihat pintu besar yang menjulang tinggi itu. Belum selesai keterkejutan keduanya melihat taman luas yang mereka lewati sebelum sampai di sebuah istana ini.Bahkan Elio dan Enzo sempat mengira mereka sedang melewati semacam taman kota yang luas tetapi ternyata seluruh taman yang panjang itu mengarah kearah mansion mewah ini yang memang lebih mirip seperti istana.“Elio…Enzo, ayo masuk sayang,” ajak Thana lagi memecah lamunan keduanya. Si kembar itu sontak saling tatap kemudian berbalik menatap kedua orang tuanya.“Mom, ini rumah siapa?” tanya Elio dengan polosnya. Enzo juga sama dengan

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   84. Memang Papa Kandung?

    Cup!Sergio mencium tangan Thana dengan sangat lembut saat keduanya menuju ke mansion utama Andreson.Untuk pertama kalinya, Sergio memakai supir pribadi. Dia duduk di kursi kemudi dengan Thana disampingnya lalu kedua putranya dibelakang dengan wajah yang sangat sumringah.Setelah semua huru hara kemarin, ini pertamakalinya Thana datang ke mansion Andreson sebagai ibu dari anak-anak Sergio. Walau belum sah menikah tetapi statusnya bahkan lebih dari itu mengingat pewaris adalah sesuatu yang sangat penting sejak dulu bagi Keluarga Andreson.Kini Thana sudah bisa memberikannya. Tidak peduli bagaimana kejadiannya tetapi hasil dari tes DNA memang benar, 100% darah daging Sergio.“Mom, kita mau ke rumah baru kita ya?” tanya Elio dengan wajah yang berbinar.Sergio menoleh lalu mengusap pelan kepala anak itu. “Kita mau ketemu kakek, nenek, sama kakek buyut kalian,” jawab Sergio.Wajah mereka benar-benar terlihat syok. Elio menghitung dengan jarinya. “Pertama ada papa, terus sekarang ada kakek

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   83. Klarifikasi

    “Selamat pagi semuanya. Saya Sergio Andreson.” Ratusan kamera dan dan kiblatan cahaya menerangi wajah Sergio dan juga Thana.Semua mata mengarah ke arah dua orang yang menjadi pusat perhatian itu. Setelah hampir 3 bulan bersembunyi dengan berbagai macam rumor tidak benar mengelilingi hubungan Thana dengan pewaris utama Keluarga Andreson itu akhirnya kini mereka buka suara.Di tengah aula yang luas itu pasangan paling fenomenal seantero negeri itu tengah melakukan konferensi pers untuk menklarifikasi semuanya sekaligus mengatakan yang sebenarntya.Para wartawan sudah siap untuk menanyakan semua pertanyaan yang paling ingin diketahyi jawabannya oleh masyarakat. Mengenai banyak sekali hal. Termasuk kenapa keduanya menghilang dari publik setelah mengumumkan hubungannya, siapa kedua anak kembar itu, semuanya berkaitan dengan Sergio dan Thana.Tetapi masalah Zea dan semua hal memalukan yang terjadi selama di mansion Andreson itu sudah ditutup rapat-rapat dan tidak ada satupun yang tersebar

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   82. Lembaran Baru

    1 bulan kemudian.Kamar itu masih menyimpan jejak pertarungan panjang Sergio dan Thana melawan kekacauan di luar sana—dindingnya tenang, lampu temaram, udara hangat, dan suara napas mereka yang masih belum stabil. Thana berdiri di dekat pintu ketika Sergio menutupnya pelan, tatapannya gelap namun penuh rasa tak terucapkan. Ada sesuatu yang berubah malam ini; bukan lagi dua orang yang saling melukai karena kesalahpahaman, tetapi dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan.“Sergio…” suara Thana pecah sedikit, bukan karena lemah, tapi karena menahan sisa emosi yang belum sempat ia lepaskan.Sergio tak menjawab. Ia hanya melangkah ke arahnya dengan langkah perlahan namun pasti, seperti predator yang akhirnya menemukan rumahnya. Saat ia berhenti tepat di depan Thana, jarak mereka hanya sehelai napas.“Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi,” bisiknya, suaranya rendah dan dalam, menggetarkan udara.Thana menatap matanya tanpa mundur sedikit pun. “Aku tidak butuh dilindungi. Aku hanya—”Belum se

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   81. Kenyataan Besar Terungkap

    Ruang utama keluarga Anderson malam itu dingin seperti balok es. Tidak ada satupun yang bernapas lega setelah skandal Zea terbongkar. Sergio berdiri tegak di depan semua anggota keluarga, rahangnya keras, matanya gelap seperti badai. Di sisi lain, Zea diseret keluar oleh dua bodyguard keluarga Anderson—namun sebelum pintu tertutup, dia sempat menoleh, senyumnya bukan senyum manusia normal.“Kau pikir kau menang, Sergio?” serunya. “Kau pikir menyelamatkan Thana membuatmu jadi pahlawan?”Layla, ibu Sergio, menegang. Abraham—kakek Sergio—mengetuk tongkatnya keras ke lantai. “Cukup. Ambil wanita itu.”Tapi Zea tidak berhenti. “Sergio,” katanya dengan tawa serak yang menusuk telinga, “kau tidak tahu ya? Calon istrimu itu juga menyembunyikan anak dari kita semua.”Semua orang di ruangan membeku.Brian, ayah Sergio, menatap Thana tajam. “Apa maksudnya?”Thana pucat seketika, tubuhnya menegang. “Z-Zea bicara apa? Itu—”Zea menyeringai puas melihat wajah Thana berubah drastis. “Kau sembunyikan

  • Kembar Rahasia: Bolehkah Kami Memanggilmu Daddy?   80. Kekacauan Besar

    Saat Sergio sampai di mansionnya ada mobil Zea terparkir disana membuat firasatnya semakin buruk.Keadaan cukup riuh ketika mereka berdua sampai. Ada Zea yang sudah menangis dan berdrama di ruangan tamu itu.Ada mama dan papa Zea dan juga seluruh keluarga inti Andreson yang berkumpul disana dengan wajah yang begitu panik.Sergio segera mendekat dan ingin tahu ada masalah apa sebenarnya disini hingga keadaan menjadi seheboh ini.“Gio akhirnya kau datang,” ujar Indah mama Zea terlihat tersenyum dengan licik saat melihat Sergiod datang bersaam dengan Thana pula.Semuanya benar-benar terlihat tegang membuat Sergio dan Thana juga sama. Namun Zea langsung menghampiri Segrio dan memeluk pria itu sambil menangis. “Gio kamu harus bertanggung jawab,” lirih wanita itu dan Sergio langsung menepis tubuhnya dengan kasar.“GIO!” bentak Abraham membuat semuanya benar-benar tertekan. “APA KAU TAHU APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?” teriaknya dengan wajah memerahnya menahan amarah.Sergio menegpalkan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status