LOGIN“Kenapa diam saja? Apa kau berniat ingin melamar pekerjaan?” tanya salah satu petinggi perusahaan yang duduk tepat di samping CEO. Direktur Utama, Indra.
Thana masih terdiam, dia awalnya menatap Sergio dengan tatapan tak percaya sebelum akhirnya memutus tatapan mereka dan menarik napasnya dalam-dalam. Ya tuhan, keadaan macam apa ini? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Semakin Thana memperhatikan, pria ini, yang ternyata namanya adalah Sergio, semakin ia terlihat seperti duplicat dari Elio dan Enzo. Bentuk wajahnya, alisnya, tatapan matanya, membuat Thana kesulitan untuk bisa fokus. “M-maaf Pak s-saya akan memulai perkenalannya,” ujar Thana sekuat mungkin. Dia berusaha menghindari tatapan Sergio yang sangat menjurus ke arahnya. Entahlah apa pria itu mengingatnya atau tidak tetapi Thana ingat jelas dengan wajahnya itu karena di pagi harinya, Thana sendirilah yang bangun duluan dan kabur. Thana tidak bisa berhenti disini. Perusahaan Andreson adalah harapannya satu-satunya agar bisa mendapatkan penghasilan yang layak karena dia sudah berhutang budi dan materi yang tidak ternilai dengan Bu Wati selama 7 tahun ini. Namun kenapa tuhan harus mempertemukannya disaat saat genting seperti ini? “Baik silahkan, jangan mmebuang waktu lagi,” ujar Indra. Memang yang banyak mewawancarai adalah direktur utama, sementara CEO hanya mengamati dan bertanya lebih lanjut jika perlu. Thana menarik napasnya dalam-dalam sembari meremas jarinya sendiri. Jantungnya sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Sedetik kemudian, Thana tersenyum dengan profesional dan menganggap dia tidak kenal pria didepannya ini, yang masih menatapnya intens. “Baik, selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya–“ “Berhenti!” Thana membeku lagi ini karena yang berbicara bukanlah Direktur Utamanya lagi melainkan Sergio Andreson. Ah, habislah Thana kali ini. “A-apa ada kesalahan, Pak?” cicit Thana, semua petinggi perusahaan yang ada disana juga ikut menatap Sergio dengan kebingungan. “Kamu, ikut ke ruangan saya. Sekarang!” ujar Sergio dengan nada ketusnya dan tatapan yang tidak dapat dijelaskan. Apa ini? Apa ketakutannya benar? Sergio ternyata mengenalinya? “T-tapi Pak Sergio wawancara bagaimana?” tanya Indra dengan sopan. Sergio langsung berdiri. “Kalian lanjutkan saja wawancaranya, bawa list hasil teratas paling lambat besok pagi ke ruangan saya,” titahnya. Sementara itu, Sergio berjalan terlebih dahulu ke pintu keluar dan petinggi perusahaan itu langsung menyuruh Thana untuk mengikut pria itu. Thana mengekor di belakang Sergio, dengan keadaan heelsnya yang patah dan dia terus berjalan berjinjit untuk menyamai heels yang dikaki kirinya. Ah, benar-benar kesialan yang berlipat ganda untuk hari ini. Sekarang apa yang akan terjadi? Bisa-bisa Thana langsung didepak pergi bahkan sebelum bisa bekerja disini. Ting! Lift terbuka dan Thana dengan gesit langsung masuk dan berdiri dibelakang pria itu. Aroma semerbak mint bercampur lavender menguar didalam lift itu dan saat Thana memberanikan diri mendongak dia baru menyadari seberapa tinggi pria ini. Wanita cantik dengan ikatan ponny tail itu menelan ludahnya susah payah. Keadaan di lift sangat canggung, dan Thana bahkan tidak tahu kenapa wawancaranya dihentikan dan langsung diajak ke ruangannya. Ting! Lift terbuka, dan Sergio langsung berjalan keluar dengan penuh wibawa. “Selamat pagi Pak Sergio!” seluruh pegawai di lantai 10 itu kompak menunduk dan menyapa pria ini, tetapi tidak ada balasan satupun, bahkan sekedar senyuman. Thana tersenyum kikuk ketika banyak pegawai wanita menatapnya dengan tatapa tajam dan bertanya-tanya. “A-apa itu pacar baru Pak Sergio?” “Siapa wanita itu?” “Itu wanita pertama yang pernah dia bawa masuk ke ruangannya.” Thana mendengar semua bisik-bisik itu dengan jelas dan itu membuatnya semakin ketakutan. Sepertinya memang benar, Sergio mengingat kejadian 7 tahun lalu itu dan sekarang ingin membuat perhitungan dengannya. Ck, pasti pria ini mengira Thana sengaja menguntitnya sampai ke perusahaanya. Tidak, sebelum pria itu menendangnya keluar, Thana harus lebih dulu menjelaskan semuanya. Ya, demi kelangsungan hidupnya, perusahaan ini adalah opsi terbaiknya. Tidak boleh kehilangan begitu saja. Sergio membuka pintu ruangan CEO, dan Thana kembali mengekor. Sesampainya disana, Sergio dengan santainya melepas jasnya dan menyampirkannya dikursi kebesarannya. Thana terpaku, melihat bentuk otot dada pria itu yang tercetak jelas dari kemeja putihnya. Buru-buru Thana mengalihkan pandangannya. Kemudian Sergio duduk di kursinya dengan penuh wibawa. Thana, kau pasti bisa menghadapi ini. “Sebelum saya berbicara, apa ada yang ingin kamu sampaikan terlebih dahulu?” tanya Sergio. Tidak salah lagi. Ini pasti kode agar Thana yang menjelaskan terlebih dahulu. Ini berarti Sergio memberinya kesempatan bukan? Thana menunduk hormat. “P-pak Sergio….saya benar-benar tidak ada maksud lain untuk datang kesini selain untuk bekerja, saya mohon anda jangan salah paham,” cicit Thana. Pria itu terkekeh, membuat Thana semakin terindimidasi. “Kamu pikir saya akan percaya?” Sial! Bagaimana ini? “P-pak Sergio, ini bukan seperti apa yang anda pikirkan. Mengenai kejadian tujuh ta–” “Jangan berbelit-belit, katakan saja apa kau mata mata dari Perusahaan Neondra atau bukan?” potong Sergio langsung. Thana terdiam. Belum bisa menganalisis keadaan. Apa maksudnya mata-mata? Sergio kemudian menyodorkan sebuah file yang berisi biodata Thana dengan sangat detail. “Kamu adalah mantan manager utama bagain design di Perusahaan Neondra, lalu setelah 5 tahun bekerja disana kau datang melamar kesini?” tanya Sergio, tatapannya sangat menjurus. J-jadi pria ini menghentikan wawancaranya dan mengajaknya berbicara secara pribadi karena mengira dia mata-mata? Ah, hampir saja Thana celaka. Untung dia belum mengatakan semuanya. Sergio bangkit dari kursinya, dan berjalan mendekat ke arah Thana membuat wanita itu perlahan memundurkan langkahnya. Hingga keduanya hanya berjarak beberapa senti dan Sergio benar-benar menatap wajahnya intens, “Kamu tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini, Thana Anabella.” Deg! Napas pria itu serasa berhembus tepat di ceruk lehernya. “M-maksud anda?” Pria itu menyeringai dengan menyeramkan. “Entah kau mata-mata atau bukan, tetapi kau sudah masuk ke area milikku, dan setelah kau masuk, jangan harap bisa keluar dengan mudah.”Pintu besar dari Mansion Andreson itu terbuka sangat lebar ketika Thana dan kedua putranya datang. Semenjak kejadian tragis itu, ini baru pertamakalinya mereka bertemu secara langsung karena Elio dan Enzo butuh waktu lama untuk sembuh setelah kejadian itu.“Sayang kenapa diam saja ayo masuk,” ajak Thana ketika si kembar itu malah berhenti diambang pintu.Tetapi keduanya tidak menjawab terlihat terpana melihat pintu besar yang menjulang tinggi itu. Belum selesai keterkejutan keduanya melihat taman luas yang mereka lewati sebelum sampai di sebuah istana ini.Bahkan Elio dan Enzo sempat mengira mereka sedang melewati semacam taman kota yang luas tetapi ternyata seluruh taman yang panjang itu mengarah kearah mansion mewah ini yang memang lebih mirip seperti istana.“Elio…Enzo, ayo masuk sayang,” ajak Thana lagi memecah lamunan keduanya. Si kembar itu sontak saling tatap kemudian berbalik menatap kedua orang tuanya.“Mom, ini rumah siapa?” tanya Elio dengan polosnya. Enzo juga sama dengan
Cup!Sergio mencium tangan Thana dengan sangat lembut saat keduanya menuju ke mansion utama Andreson.Untuk pertama kalinya, Sergio memakai supir pribadi. Dia duduk di kursi kemudi dengan Thana disampingnya lalu kedua putranya dibelakang dengan wajah yang sangat sumringah.Setelah semua huru hara kemarin, ini pertamakalinya Thana datang ke mansion Andreson sebagai ibu dari anak-anak Sergio. Walau belum sah menikah tetapi statusnya bahkan lebih dari itu mengingat pewaris adalah sesuatu yang sangat penting sejak dulu bagi Keluarga Andreson.Kini Thana sudah bisa memberikannya. Tidak peduli bagaimana kejadiannya tetapi hasil dari tes DNA memang benar, 100% darah daging Sergio.“Mom, kita mau ke rumah baru kita ya?” tanya Elio dengan wajah yang berbinar.Sergio menoleh lalu mengusap pelan kepala anak itu. “Kita mau ketemu kakek, nenek, sama kakek buyut kalian,” jawab Sergio.Wajah mereka benar-benar terlihat syok. Elio menghitung dengan jarinya. “Pertama ada papa, terus sekarang ada kakek
“Selamat pagi semuanya. Saya Sergio Andreson.” Ratusan kamera dan dan kiblatan cahaya menerangi wajah Sergio dan juga Thana.Semua mata mengarah ke arah dua orang yang menjadi pusat perhatian itu. Setelah hampir 3 bulan bersembunyi dengan berbagai macam rumor tidak benar mengelilingi hubungan Thana dengan pewaris utama Keluarga Andreson itu akhirnya kini mereka buka suara.Di tengah aula yang luas itu pasangan paling fenomenal seantero negeri itu tengah melakukan konferensi pers untuk menklarifikasi semuanya sekaligus mengatakan yang sebenarntya.Para wartawan sudah siap untuk menanyakan semua pertanyaan yang paling ingin diketahyi jawabannya oleh masyarakat. Mengenai banyak sekali hal. Termasuk kenapa keduanya menghilang dari publik setelah mengumumkan hubungannya, siapa kedua anak kembar itu, semuanya berkaitan dengan Sergio dan Thana.Tetapi masalah Zea dan semua hal memalukan yang terjadi selama di mansion Andreson itu sudah ditutup rapat-rapat dan tidak ada satupun yang tersebar
1 bulan kemudian.Kamar itu masih menyimpan jejak pertarungan panjang Sergio dan Thana melawan kekacauan di luar sana—dindingnya tenang, lampu temaram, udara hangat, dan suara napas mereka yang masih belum stabil. Thana berdiri di dekat pintu ketika Sergio menutupnya pelan, tatapannya gelap namun penuh rasa tak terucapkan. Ada sesuatu yang berubah malam ini; bukan lagi dua orang yang saling melukai karena kesalahpahaman, tetapi dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan.“Sergio…” suara Thana pecah sedikit, bukan karena lemah, tapi karena menahan sisa emosi yang belum sempat ia lepaskan.Sergio tak menjawab. Ia hanya melangkah ke arahnya dengan langkah perlahan namun pasti, seperti predator yang akhirnya menemukan rumahnya. Saat ia berhenti tepat di depan Thana, jarak mereka hanya sehelai napas.“Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi,” bisiknya, suaranya rendah dan dalam, menggetarkan udara.Thana menatap matanya tanpa mundur sedikit pun. “Aku tidak butuh dilindungi. Aku hanya—”Belum se
Ruang utama keluarga Anderson malam itu dingin seperti balok es. Tidak ada satupun yang bernapas lega setelah skandal Zea terbongkar. Sergio berdiri tegak di depan semua anggota keluarga, rahangnya keras, matanya gelap seperti badai. Di sisi lain, Zea diseret keluar oleh dua bodyguard keluarga Anderson—namun sebelum pintu tertutup, dia sempat menoleh, senyumnya bukan senyum manusia normal.“Kau pikir kau menang, Sergio?” serunya. “Kau pikir menyelamatkan Thana membuatmu jadi pahlawan?”Layla, ibu Sergio, menegang. Abraham—kakek Sergio—mengetuk tongkatnya keras ke lantai. “Cukup. Ambil wanita itu.”Tapi Zea tidak berhenti. “Sergio,” katanya dengan tawa serak yang menusuk telinga, “kau tidak tahu ya? Calon istrimu itu juga menyembunyikan anak dari kita semua.”Semua orang di ruangan membeku.Brian, ayah Sergio, menatap Thana tajam. “Apa maksudnya?”Thana pucat seketika, tubuhnya menegang. “Z-Zea bicara apa? Itu—”Zea menyeringai puas melihat wajah Thana berubah drastis. “Kau sembunyikan
Saat Sergio sampai di mansionnya ada mobil Zea terparkir disana membuat firasatnya semakin buruk.Keadaan cukup riuh ketika mereka berdua sampai. Ada Zea yang sudah menangis dan berdrama di ruangan tamu itu.Ada mama dan papa Zea dan juga seluruh keluarga inti Andreson yang berkumpul disana dengan wajah yang begitu panik.Sergio segera mendekat dan ingin tahu ada masalah apa sebenarnya disini hingga keadaan menjadi seheboh ini.“Gio akhirnya kau datang,” ujar Indah mama Zea terlihat tersenyum dengan licik saat melihat Sergiod datang bersaam dengan Thana pula.Semuanya benar-benar terlihat tegang membuat Sergio dan Thana juga sama. Namun Zea langsung menghampiri Segrio dan memeluk pria itu sambil menangis. “Gio kamu harus bertanggung jawab,” lirih wanita itu dan Sergio langsung menepis tubuhnya dengan kasar.“GIO!” bentak Abraham membuat semuanya benar-benar tertekan. “APA KAU TAHU APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?” teriaknya dengan wajah memerahnya menahan amarah.Sergio menegpalkan tangann







