Compartilhar

Bab 2

Autor: Anya
Nama pasangan kencanku, Liaron.

Dalam hati, aku berpikir dia benar-benar liar sesuai namanya.

Di dalam bioskop, dia menekanku di kursi sambil menciumku, sementara tangan besarnya masuk ke balik bajuku, membelai pinggangku.

Ciumannya begitu kuat, hingga aku merasa sulit bernapas.

Dengan wajah memerah, aku melirik keadaan sekitar melalui sudut mataku.

Untungnya, kami duduk di pojokan, jadi belum ada yang menyadari ada sepasang pria dan wanita yang sedang berbuat nekat di dalam bioskop.

“Fokuslah.”

Tiba-tiba, tangannya menyelinap masuk ke dalam braku, meremas buah dadaku dan mencubit bagian puncaknya.

Karena tak siap, aku spontan memekik, “Ah….”

Namun, mengingat kami sedang di tempat umum, aku segera membungkam mulutku sendiri karena takut.

“Suaramu merdu sekali… jauh lebih merdu daripada desahan pemeran utama di film ini.”

Aku merasa malu dipuji begitu, tapi di saat yang sama, hatiku merasa senang.

Permainan tangannya sangat lihai, apalagi jari-jarinya yang memiliki kapalan kasar.

Sentuhan itu memberikan stimulasi yang berlipat ganda.

Aku tak pernah membayangkan suatu hati nanti, diriku benar-benar akan melakukan hal seperti ini dengan seorang pria di bioskop.

Aku mendongakkan leherku sekuat tenaga, membiarkannya melakukan apa pun yang dia mau padaku.

Liaron menyadari perubaan pada tubuhku setiap kali dia membelai.

Dia pun mulai sengaja menggunakan bagian kulitnya yang kasar untuk menyentuh titik-titik sensitifku.

Napasku mulai memburu tak terkendali.

“Jangan terlalu bersemangat begini… kita masih di luar. Kamu mau ketahuan?”

Tanya Liaron dengan senyuman nakal.

Aku membuka mata dengan wajah merona dan tatapan yang sayu.

“Siapa suruh… kamu, hm… kamu….”

“Baiklah, kalau begitu aku berhenti saja.”

Ujarnya sambil menarik tangannya keluar dari braku.

Seketika, rasa hampa menyerangku.

Tanpa sadar, aku mencengkeram pergelangan tangannya, menggigit bibir karena merasa terlalu malu untuk memintanya lanjut.

“Dasar lain di mulut, lain di hati,” bisiknya sambil menggigit telingaku.

Aku mengerang pelan, tubuhku terasa semakin lemas.

“Biar kulihat, jangan-jangan kamu sudah basah?”

Mendengar itu, aku tersentak saat menyadari apa yang akan dia lakukan.

Ini di bioskop!

Di baris depan kami ada orang yang duduk.

Aku mulai panik dan ingin menahan tangannya, tapi rasa nikmat itu seketika melumpuhkan tenagaku. Aku terkulai lemas di kursi dengan pikiran yang mulai buntu.

Tangannya turun, menekan area pribadiku dari balik celana.

“Haha, ternyata benar sudah basah.”

Wajahku semakin panas, detak jantungku berdetak kencang.

Dan tangan itu sudah membuka kancing, menurunkan risleting dan dengan lincah menyelinap masuk ke dalam celana dalamku.

Saat dia menyentuhku, kakiku gemetar hebat tanpa bisa ditahan.

Ember popcorn terjatuh dan menghantam lantai.

Suara itu membuat beberapa pria di barisan depan menoleh ke arah kami.

Seketika, seluruh tubuhku membeku.

Yang lebih memalukan lagi, karena rasa kaget itu, tubuhku mendadak mencapai puncak klimaks. Cairan yang hangat membasahi tangannya.

Untungnya, sandaran kursi menghalangi pandangan mereka dari kekacauan yang terjadi di kursi kami.

Liaron tetap tenang, sebaliknya dia malah tersenyum santai.

“Popcornnya jatuh. Maaf ya, jadi mengganggu kalian menonton.”

“Oh, nggak apa-apa.”

Pria-pria di depan pun kembali menghadap ke depan.

Liaron menatapku dan terkekeh, “Kaget, ya? Tubuhmu sangat bersemangat.”

Usai bicara, jarinya sengaja menekan bagian pribadiku yang sudah basah kuyup.

Saat dia menekannya, aku mengerang lirih, tubuhku gemetar dan secara reflek, aku merapatkan kedua kakiku.

“Lepaskan… rasanya aneh….”

Liaron tertawa lagi, “Menjepit tanganku karena nggak mau aku pergi?”

“Dasar nggak jujur. Jadi, sebenarnya kamu mau aku melakukan apa?”

Aku tahu, di mata Liaron saat ini, wajahku pasti sangat merah, tatapanku sayu, benar-benar menunjukkan raut wajah seseorang yang baru saja dimanjakan, tapi masih merasa belum terpuaskan.

“Kok tiba-tiba ada aroma manis, ya?’

Tiba-tiba, terdengar suara heran dari seorang pria di depan.

Seketika, aku merapatkan kaki sekencang mungkin, menangkupkan kedua tangan di atas risleting celana yang terbuka dan tak berani bergerak sedikit pun.

Namun, pria di sampingku malah menunjukkan senyuman penuh makna.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 7

    Seketika, rasa nikmat yang memenuhi diriku seolah langsung menyetrum hingga ke ubun-ubun.Kepalaku terasa kesemutan karena sangking nikmatnya, aku bahkan merasa ingin berteriak sepuasnya tanpa memedulikan apapun.Untungnya, aku masih ingat kalau ini sedang di bioskop.Aku terpaksa menggigit bahu Liaron sambil mengerang lirih berkali-kali.Liaron memelukku dengan erat, gerakan pinggulnya seperti mesin yang tak mau berhenti.Aku dibuat terombang-ambing hingga hampir kehilangan kesadaran karena tak sanggup menahan sensasinya.“Bertemu denganmu benar-benar seperti menemukan harta karun.”Bisik Liaron sambil menggigit telingaku. Melihatku yang secara reflek mencoba menghindar, dia pelan, lalu mengejar dan menjilati daun telingaku.Sepertinya dia memang suka melihatku kehilangan kendali karena godaannya.Aku pun benar-benar tak bisa menahan diri. Aku mencengkeram lengannya, berkali-kali mencium bibirnya dan membelit lidahnya untuk berciuman dengan panas.Aku sudah lupa kalau kami sedang di b

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 6

    Liaron sama sekali tak berniat menyuruhku naik ke mobilnya.Begitu lampu hijau menyala, dia langsung mengemudi mobilnya pergi sambil menyeringai nakal.Aku menatap lampu belakang mobilnya dengan perasaan jengkel, lalu menyeret langkahku langkah demi langkah hingga akhirnya sampai di bioskop.Liaron sudah mengambil tiket. Begitu melihatku datang, dia langsung merangkul pinggangku dan menuntunku masuk.Dia mengecup pipiku.“Kamu cantik sekali hari ini.”Hatiku berbunga-bunga, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.Namun tak disangka, Liaron sengaja mempercepat langkahnya, memaksaku untuk melangkah lebih lebar agar bisa mengejarnya.Baru berjalan dua langkah, aku merasa mainan di bawah sana hampir merosot keluar.Wajahku pucat karena ketakutan.Liaron malah tertawa tertahan.Baru saat itulah, aku sadar kalau dia sengaja!Dengan kesal, aku mencubit lengannya, barulah dia berhenti menjahiliku.Namun tetap saja, saat akhirnya duduk di kursi bioskop, aku sudah merasa sangat kewalahan.

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 5

    “Sekarang pakai roknya. Aku sudah beli tiket bioskop jam delapan, bioskopnya dekat rumahmu, jalan kaki hanya lima belas menit.”“Kamu jalan sendiri ke sana, nggak boleh keluarin mainan itu. Bawa remotenya, berikan padaku begitu sampai di bioskop.”Setelah memberikan perintah itu, Liaron langsung menutup teleponnya.Aku malah larut dalam rasa gairah yang luar biasa.Begitu mainan itu dimasukkan, rasanya sangat penuh.Aku ingin melakukan sesuatu untuk meredakan sekaligus menikmati sensasinya.Setelah memakai g-string itu, mainannya semakin terhimpit ke dalam. Tak hanya mencegahnya terjatuh, tapi juga membuatnya masuk semakin dalam….Sekarang, aku harus berjalan ke bioskop dengan kondisi seperti ini….Aku tidak berani membayangkan betapa merangsangnya hal itu nanti.Apalagi Liaron menyuruhku menyerahkan remotenya padanya. Nanti di dalam bioskop….Pipiku terasa panas membara dan rasa geli menjalar di sekujur tubuhku.Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh.Mengingat ini adalah kencan pe

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 4

    Setelah kejadian liar itu, aku menjadi semakin tak sabar menantikan pertemuan kami berikutnya.Dua hari setelah aku pulang, Liaron bilang dia membelikan dua hadiah untukku.Aku terkejut sekaligus senang, tak bisa menahan diri untuk menebak-nebak apa isinya?Sore itu sepulang kerja, aku membawa dua paket kiriman ke rumah.Saat paket pertama dibuka, seketika wajahku langsung memerah.Di saat yang sama, pesan dari Liaron masuk.[Bagaimana? Sudah dibuka hadiahnya? Suka nggak?][Baru buka satu.]Begitu membalas pesannya, detik berikutnya Liaron langsung melakukan panggilan video.Di layar, dia tampak belum bercukur dan hanya mengenakan kaus dalam. Sepertinya dia baru saja selesai memperbaiki mobil, wajahnya kusam, tubuhnya dekil dan berkeringat, tapi malah terlihat semakin maskulin dan gagah.Dia memberikan senyuman nakal ke arahku.“Bagaimana modelnya? Bagus, ‘kan?”Wajahku semakin memerah, “Kok kamu beli ini?”Meski mulutku berkata begitu, mataku tak bisa berhenti melirik ke arah kotak ha

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 3

    Saat beberapa pria di baris depan menoleh, aku dan Liaron terdiam kaku sambil menatap layar lebar, berpura-pura seolah sedang serius menonton film.Aku hanya berharap mereka segera membuang muka, tapi tak disangka, Liaron malah mulai menggerakkan jarinya perlahan di dalam sana.Aku mengerang tertahan, hampir saja kelepasan mendesah keras.Untungnya, pria-pria itu hanya melihat sekeliling sebentar, lalu akhirnya kembali menghadap ke depan.“Sayangku yang nakal, hampir saja kamu ketahuan mencapai klimaks di bioskop.”Bisik Liaron tepat di telingaku. Dia menjilat daun telingaku sambil merendahkan suaranya.Ulahnya membuat wajahku memerah dan seluruh tubuhku terasa panas membara. Tubuhku masih terbuai dalam sisa-sisa rasa nikmat tadi.“Kakimu masih menjepit? Sebegitu nggak relanya kalau tanganku keluar? Sini, biar kubantu lagi.”Mendengar itu, aku buru-buru membuka kedua kakiku.Liaron terkekeh sambil menarik tangannya keluar, lalu menggoyang-goyangkannya di depan mataku.Tangan kasarnya i

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 2

    Nama pasangan kencanku, Liaron.Dalam hati, aku berpikir dia benar-benar liar sesuai namanya.Di dalam bioskop, dia menekanku di kursi sambil menciumku, sementara tangan besarnya masuk ke balik bajuku, membelai pinggangku.Ciumannya begitu kuat, hingga aku merasa sulit bernapas.Dengan wajah memerah, aku melirik keadaan sekitar melalui sudut mataku.Untungnya, kami duduk di pojokan, jadi belum ada yang menyadari ada sepasang pria dan wanita yang sedang berbuat nekat di dalam bioskop.“Fokuslah.”Tiba-tiba, tangannya menyelinap masuk ke dalam braku, meremas buah dadaku dan mencubit bagian puncaknya.Karena tak siap, aku spontan memekik, “Ah….”Namun, mengingat kami sedang di tempat umum, aku segera membungkam mulutku sendiri karena takut.“Suaramu merdu sekali… jauh lebih merdu daripada desahan pemeran utama di film ini.”Aku merasa malu dipuji begitu, tapi di saat yang sama, hatiku merasa senang.Permainan tangannya sangat lihai, apalagi jari-jarinya yang memiliki kapalan kasar.Sentuh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status