Compartilhar

Kencan Buta Di Bioskop
Kencan Buta Di Bioskop
Autor: Anya

Bab 1

Autor: Anya
Namaku Selina, berusia 25 tahun, bekerja sebagai staf administrasi di sebuah pabrik elektronik.

Aku dibesarkan dengan didikan keluarga yang sangat ketat. Sejak kecil, aku selalu menjaga jarak dengan laki-laki.

Namun, setiap kali melihat pasangan lain bermesraan, aku tak bisa menahan rasa penasaran dan keinginan dalam diriku.

Entah mengapa, pengalaman yang belum pernah kurasakan itu terasa sangat menarik bagiku.

Keluargaku menjodohkan seorang pria padaku. Ayah dan ibu bilang diriku sudah cukup umur untuk menikah, jadi aku harus kooperatif dan berkencan baik-baik dengannya.

Pria itu tiga tahun lebih tua dariku dan berpenampilan cukup rapi.

Pada pertemuan pertama, dia langsung mengajakku bertemu di bioskop.

Saat adegan pasangan di layar lebar sedang berpelukan dan berciuman, dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku yang ada di atas lutut.

Aku tersentak, merasa agak bingung harus berbuat apa.

Mungkin karena melihatku tidak menolak, lengan satunya merangkul bahuku dari belakang dan menarikku untuk bersandar di bahunya.

Saat dia merangkulku, aku bisa merasakan kekuatan otot leher dan lengannya. Aroma hormon yang kuat itu membuatku merasa terbuai.

“Suka denganku?”

Tanyanya sambil mendekat ke telingaku.

Seketika, tubuhku menciut, rasanya seperti ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh.

Daun telingaku sangat sensitif.

Napas pria itu yang berhembus di sana terasa seolah sedang menjilati telingaku dengan dalam.

Pikiran itu membuat tubuhku bereaksi dan aku tanpa sadar merapatkan kedua kaki.

Detik berikutnya, kedua kakiku dipaksa terbuka lebar.

Jangan-jangan, kami akan melakukannya di sini secepat ini….

Tiba-tiba, seember popcorn dijejalkan di antara kedua pahaku.

“Jepit ini.”

Ucap pasangan kencanku itu, memutuskan imajinasi liarku.

“Biar aku lebih gampang untuk ambil dan menyuapimu.”

Usai bicara, dia kembali fokus menatap layar lebar.

Aku pun mencoba menenangkan pikiran dan lanjut menonton dengan wajah memerah.

Di layar, pasangan dewasa itu sudah berciuman dengan sangat panas. Meski masih di dalam mobil, tangan si pria sudah masuk ke dalam baju si wanita.

Meski terhalang baju, terlihat si pria melepas bra si wanita dan membelai buah dadanya dengan penuh gairah.

Aku menatap adegan itu dengan agak iri melihat betapa si wanita menikmatinya.

“Mau makan?”

Sebuah popcorn disodorkan ke depan mulutku.

Dengan malu-malu, aku menyadari bahwa dia benar-benar tahu cara menggoda wanita.

Baru pertemuan pertama, perkembangannya sudah sejauh ini.

Aku merasa gugup, tapi entah kenapa ada rasa senang yang muncul.

Aku membuka mulut sedikit, mencoba bersikap anggun untuk menerima popcorn itu.

Saat menggigitnya, bibirku tak sengaja menyentuh jarinya. Aku merasakan tekstur kulitnya yang kasar dan kapalan.

Kalau tak salah ingat, dia itu seorang montir mobil.

Dengan wajah memerah, aku berniat menarik diri dan meminta maaf,

Namun tak disangka, pria itu tak melepaskan popcornnya dan malah memasukkan jarinya lebih dalam ke mulutku.

Lalu, dia melepaskannya begitu saja hingga popcorn itu bergulir di atas lidahku.

Aku membelalakkan mata menatapnya, seperti kelinci kecil yang ketakutan.

Tatapan pria itu sangat dalam dan jakunnya terlihat bergerak naik turun.

“Manis, nggak?”

Aku reflek menjawab, “Manis.”

Aku lupa kalau jarinya masih ada di dalam mulutku. Begitu aku bicara, lidah dan rongga mulutku bergerak bersamaan membungkus jarinya.

Seketika, napas pria itu memberat. Rangkulannya di bahuku semakin kencang dan jarinya mulai bergerak-gerak di dalam mulutku.

Dengan mesra, dia menelusuri bentuk gigiku, menjepit ujung lidahku, lalu meniru gerakan keluar masuk seperti posisi itu.

Aku terkejut dengan tindakannya, tapi jantungku berdegup kencang.

Menahan rasa senang yang meluap, aku menjilat jarinya dengan lidahku.

Seketika, ekspresi wajah pria itu berubah menjadi sangat berbahaya.

Dia mendekatiku dan berbisik, “Kamu agresif sekali, ini membuatku… ingin melakukan hal yang lain. Kamu nggak akan menolak, ‘kan?”

Wajahku memerah, tapi aku tak membantah. Aku menelan popcorn di mulutku.

Dia menarik tangannya, menekan kepalaku dan menunduk untuk menciumku. Mulutnya yang agak kasar karena janggut tipis menutup bibirku dengan kuat.

Hanya dalam beberapa detik, dia sudah berhasil menerobos masuk.

Aku dicium sampai kehabisan napas dan pangkal lidahku terasa pegal.

Tepat saat itu, aku merasakan sebuah tangan yang panas menyelinap masuk ke balik bajuku dan mulai menjelajah lebih jauh.

Seketika, serangkaian sensasi nikmat yang asing membuat pikiranku kosong. Ternyata, inilah perasaan yang selama ini selalu kunantikan.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 7

    Seketika, rasa nikmat yang memenuhi diriku seolah langsung menyetrum hingga ke ubun-ubun.Kepalaku terasa kesemutan karena sangking nikmatnya, aku bahkan merasa ingin berteriak sepuasnya tanpa memedulikan apapun.Untungnya, aku masih ingat kalau ini sedang di bioskop.Aku terpaksa menggigit bahu Liaron sambil mengerang lirih berkali-kali.Liaron memelukku dengan erat, gerakan pinggulnya seperti mesin yang tak mau berhenti.Aku dibuat terombang-ambing hingga hampir kehilangan kesadaran karena tak sanggup menahan sensasinya.“Bertemu denganmu benar-benar seperti menemukan harta karun.”Bisik Liaron sambil menggigit telingaku. Melihatku yang secara reflek mencoba menghindar, dia pelan, lalu mengejar dan menjilati daun telingaku.Sepertinya dia memang suka melihatku kehilangan kendali karena godaannya.Aku pun benar-benar tak bisa menahan diri. Aku mencengkeram lengannya, berkali-kali mencium bibirnya dan membelit lidahnya untuk berciuman dengan panas.Aku sudah lupa kalau kami sedang di b

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 6

    Liaron sama sekali tak berniat menyuruhku naik ke mobilnya.Begitu lampu hijau menyala, dia langsung mengemudi mobilnya pergi sambil menyeringai nakal.Aku menatap lampu belakang mobilnya dengan perasaan jengkel, lalu menyeret langkahku langkah demi langkah hingga akhirnya sampai di bioskop.Liaron sudah mengambil tiket. Begitu melihatku datang, dia langsung merangkul pinggangku dan menuntunku masuk.Dia mengecup pipiku.“Kamu cantik sekali hari ini.”Hatiku berbunga-bunga, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.Namun tak disangka, Liaron sengaja mempercepat langkahnya, memaksaku untuk melangkah lebih lebar agar bisa mengejarnya.Baru berjalan dua langkah, aku merasa mainan di bawah sana hampir merosot keluar.Wajahku pucat karena ketakutan.Liaron malah tertawa tertahan.Baru saat itulah, aku sadar kalau dia sengaja!Dengan kesal, aku mencubit lengannya, barulah dia berhenti menjahiliku.Namun tetap saja, saat akhirnya duduk di kursi bioskop, aku sudah merasa sangat kewalahan.

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 5

    “Sekarang pakai roknya. Aku sudah beli tiket bioskop jam delapan, bioskopnya dekat rumahmu, jalan kaki hanya lima belas menit.”“Kamu jalan sendiri ke sana, nggak boleh keluarin mainan itu. Bawa remotenya, berikan padaku begitu sampai di bioskop.”Setelah memberikan perintah itu, Liaron langsung menutup teleponnya.Aku malah larut dalam rasa gairah yang luar biasa.Begitu mainan itu dimasukkan, rasanya sangat penuh.Aku ingin melakukan sesuatu untuk meredakan sekaligus menikmati sensasinya.Setelah memakai g-string itu, mainannya semakin terhimpit ke dalam. Tak hanya mencegahnya terjatuh, tapi juga membuatnya masuk semakin dalam….Sekarang, aku harus berjalan ke bioskop dengan kondisi seperti ini….Aku tidak berani membayangkan betapa merangsangnya hal itu nanti.Apalagi Liaron menyuruhku menyerahkan remotenya padanya. Nanti di dalam bioskop….Pipiku terasa panas membara dan rasa geli menjalar di sekujur tubuhku.Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh.Mengingat ini adalah kencan pe

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 4

    Setelah kejadian liar itu, aku menjadi semakin tak sabar menantikan pertemuan kami berikutnya.Dua hari setelah aku pulang, Liaron bilang dia membelikan dua hadiah untukku.Aku terkejut sekaligus senang, tak bisa menahan diri untuk menebak-nebak apa isinya?Sore itu sepulang kerja, aku membawa dua paket kiriman ke rumah.Saat paket pertama dibuka, seketika wajahku langsung memerah.Di saat yang sama, pesan dari Liaron masuk.[Bagaimana? Sudah dibuka hadiahnya? Suka nggak?][Baru buka satu.]Begitu membalas pesannya, detik berikutnya Liaron langsung melakukan panggilan video.Di layar, dia tampak belum bercukur dan hanya mengenakan kaus dalam. Sepertinya dia baru saja selesai memperbaiki mobil, wajahnya kusam, tubuhnya dekil dan berkeringat, tapi malah terlihat semakin maskulin dan gagah.Dia memberikan senyuman nakal ke arahku.“Bagaimana modelnya? Bagus, ‘kan?”Wajahku semakin memerah, “Kok kamu beli ini?”Meski mulutku berkata begitu, mataku tak bisa berhenti melirik ke arah kotak ha

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 3

    Saat beberapa pria di baris depan menoleh, aku dan Liaron terdiam kaku sambil menatap layar lebar, berpura-pura seolah sedang serius menonton film.Aku hanya berharap mereka segera membuang muka, tapi tak disangka, Liaron malah mulai menggerakkan jarinya perlahan di dalam sana.Aku mengerang tertahan, hampir saja kelepasan mendesah keras.Untungnya, pria-pria itu hanya melihat sekeliling sebentar, lalu akhirnya kembali menghadap ke depan.“Sayangku yang nakal, hampir saja kamu ketahuan mencapai klimaks di bioskop.”Bisik Liaron tepat di telingaku. Dia menjilat daun telingaku sambil merendahkan suaranya.Ulahnya membuat wajahku memerah dan seluruh tubuhku terasa panas membara. Tubuhku masih terbuai dalam sisa-sisa rasa nikmat tadi.“Kakimu masih menjepit? Sebegitu nggak relanya kalau tanganku keluar? Sini, biar kubantu lagi.”Mendengar itu, aku buru-buru membuka kedua kakiku.Liaron terkekeh sambil menarik tangannya keluar, lalu menggoyang-goyangkannya di depan mataku.Tangan kasarnya i

  • Kencan Buta Di Bioskop   Bab 2

    Nama pasangan kencanku, Liaron.Dalam hati, aku berpikir dia benar-benar liar sesuai namanya.Di dalam bioskop, dia menekanku di kursi sambil menciumku, sementara tangan besarnya masuk ke balik bajuku, membelai pinggangku.Ciumannya begitu kuat, hingga aku merasa sulit bernapas.Dengan wajah memerah, aku melirik keadaan sekitar melalui sudut mataku.Untungnya, kami duduk di pojokan, jadi belum ada yang menyadari ada sepasang pria dan wanita yang sedang berbuat nekat di dalam bioskop.“Fokuslah.”Tiba-tiba, tangannya menyelinap masuk ke dalam braku, meremas buah dadaku dan mencubit bagian puncaknya.Karena tak siap, aku spontan memekik, “Ah….”Namun, mengingat kami sedang di tempat umum, aku segera membungkam mulutku sendiri karena takut.“Suaramu merdu sekali… jauh lebih merdu daripada desahan pemeran utama di film ini.”Aku merasa malu dipuji begitu, tapi di saat yang sama, hatiku merasa senang.Permainan tangannya sangat lihai, apalagi jari-jarinya yang memiliki kapalan kasar.Sentuh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status