FAZER LOGIN
Seketika, rasa nikmat yang memenuhi diriku seolah langsung menyetrum hingga ke ubun-ubun.Kepalaku terasa kesemutan karena sangking nikmatnya, aku bahkan merasa ingin berteriak sepuasnya tanpa memedulikan apapun.Untungnya, aku masih ingat kalau ini sedang di bioskop.Aku terpaksa menggigit bahu Liaron sambil mengerang lirih berkali-kali.Liaron memelukku dengan erat, gerakan pinggulnya seperti mesin yang tak mau berhenti.Aku dibuat terombang-ambing hingga hampir kehilangan kesadaran karena tak sanggup menahan sensasinya.“Bertemu denganmu benar-benar seperti menemukan harta karun.”Bisik Liaron sambil menggigit telingaku. Melihatku yang secara reflek mencoba menghindar, dia pelan, lalu mengejar dan menjilati daun telingaku.Sepertinya dia memang suka melihatku kehilangan kendali karena godaannya.Aku pun benar-benar tak bisa menahan diri. Aku mencengkeram lengannya, berkali-kali mencium bibirnya dan membelit lidahnya untuk berciuman dengan panas.Aku sudah lupa kalau kami sedang di b
Liaron sama sekali tak berniat menyuruhku naik ke mobilnya.Begitu lampu hijau menyala, dia langsung mengemudi mobilnya pergi sambil menyeringai nakal.Aku menatap lampu belakang mobilnya dengan perasaan jengkel, lalu menyeret langkahku langkah demi langkah hingga akhirnya sampai di bioskop.Liaron sudah mengambil tiket. Begitu melihatku datang, dia langsung merangkul pinggangku dan menuntunku masuk.Dia mengecup pipiku.“Kamu cantik sekali hari ini.”Hatiku berbunga-bunga, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.Namun tak disangka, Liaron sengaja mempercepat langkahnya, memaksaku untuk melangkah lebih lebar agar bisa mengejarnya.Baru berjalan dua langkah, aku merasa mainan di bawah sana hampir merosot keluar.Wajahku pucat karena ketakutan.Liaron malah tertawa tertahan.Baru saat itulah, aku sadar kalau dia sengaja!Dengan kesal, aku mencubit lengannya, barulah dia berhenti menjahiliku.Namun tetap saja, saat akhirnya duduk di kursi bioskop, aku sudah merasa sangat kewalahan.
“Sekarang pakai roknya. Aku sudah beli tiket bioskop jam delapan, bioskopnya dekat rumahmu, jalan kaki hanya lima belas menit.”“Kamu jalan sendiri ke sana, nggak boleh keluarin mainan itu. Bawa remotenya, berikan padaku begitu sampai di bioskop.”Setelah memberikan perintah itu, Liaron langsung menutup teleponnya.Aku malah larut dalam rasa gairah yang luar biasa.Begitu mainan itu dimasukkan, rasanya sangat penuh.Aku ingin melakukan sesuatu untuk meredakan sekaligus menikmati sensasinya.Setelah memakai g-string itu, mainannya semakin terhimpit ke dalam. Tak hanya mencegahnya terjatuh, tapi juga membuatnya masuk semakin dalam….Sekarang, aku harus berjalan ke bioskop dengan kondisi seperti ini….Aku tidak berani membayangkan betapa merangsangnya hal itu nanti.Apalagi Liaron menyuruhku menyerahkan remotenya padanya. Nanti di dalam bioskop….Pipiku terasa panas membara dan rasa geli menjalar di sekujur tubuhku.Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh.Mengingat ini adalah kencan pe
Setelah kejadian liar itu, aku menjadi semakin tak sabar menantikan pertemuan kami berikutnya.Dua hari setelah aku pulang, Liaron bilang dia membelikan dua hadiah untukku.Aku terkejut sekaligus senang, tak bisa menahan diri untuk menebak-nebak apa isinya?Sore itu sepulang kerja, aku membawa dua paket kiriman ke rumah.Saat paket pertama dibuka, seketika wajahku langsung memerah.Di saat yang sama, pesan dari Liaron masuk.[Bagaimana? Sudah dibuka hadiahnya? Suka nggak?][Baru buka satu.]Begitu membalas pesannya, detik berikutnya Liaron langsung melakukan panggilan video.Di layar, dia tampak belum bercukur dan hanya mengenakan kaus dalam. Sepertinya dia baru saja selesai memperbaiki mobil, wajahnya kusam, tubuhnya dekil dan berkeringat, tapi malah terlihat semakin maskulin dan gagah.Dia memberikan senyuman nakal ke arahku.“Bagaimana modelnya? Bagus, ‘kan?”Wajahku semakin memerah, “Kok kamu beli ini?”Meski mulutku berkata begitu, mataku tak bisa berhenti melirik ke arah kotak ha
Saat beberapa pria di baris depan menoleh, aku dan Liaron terdiam kaku sambil menatap layar lebar, berpura-pura seolah sedang serius menonton film.Aku hanya berharap mereka segera membuang muka, tapi tak disangka, Liaron malah mulai menggerakkan jarinya perlahan di dalam sana.Aku mengerang tertahan, hampir saja kelepasan mendesah keras.Untungnya, pria-pria itu hanya melihat sekeliling sebentar, lalu akhirnya kembali menghadap ke depan.“Sayangku yang nakal, hampir saja kamu ketahuan mencapai klimaks di bioskop.”Bisik Liaron tepat di telingaku. Dia menjilat daun telingaku sambil merendahkan suaranya.Ulahnya membuat wajahku memerah dan seluruh tubuhku terasa panas membara. Tubuhku masih terbuai dalam sisa-sisa rasa nikmat tadi.“Kakimu masih menjepit? Sebegitu nggak relanya kalau tanganku keluar? Sini, biar kubantu lagi.”Mendengar itu, aku buru-buru membuka kedua kakiku.Liaron terkekeh sambil menarik tangannya keluar, lalu menggoyang-goyangkannya di depan mataku.Tangan kasarnya i
Nama pasangan kencanku, Liaron.Dalam hati, aku berpikir dia benar-benar liar sesuai namanya.Di dalam bioskop, dia menekanku di kursi sambil menciumku, sementara tangan besarnya masuk ke balik bajuku, membelai pinggangku.Ciumannya begitu kuat, hingga aku merasa sulit bernapas.Dengan wajah memerah, aku melirik keadaan sekitar melalui sudut mataku.Untungnya, kami duduk di pojokan, jadi belum ada yang menyadari ada sepasang pria dan wanita yang sedang berbuat nekat di dalam bioskop.“Fokuslah.”Tiba-tiba, tangannya menyelinap masuk ke dalam braku, meremas buah dadaku dan mencubit bagian puncaknya.Karena tak siap, aku spontan memekik, “Ah….”Namun, mengingat kami sedang di tempat umum, aku segera membungkam mulutku sendiri karena takut.“Suaramu merdu sekali… jauh lebih merdu daripada desahan pemeran utama di film ini.”Aku merasa malu dipuji begitu, tapi di saat yang sama, hatiku merasa senang.Permainan tangannya sangat lihai, apalagi jari-jarinya yang memiliki kapalan kasar.Sentuh







