MasukKaryo terpana menatap keindahan tubuh istrinya. Meski telah melahirkan, tubuh Ratih tetap kencang dan menarik—payudaranya masih tegak dengan puncak kecoklatan yang mengeras, perutnya rata dengan sedikit bekas kehamilan yang justru menambah pesona alaminya, pinggulnya melengkung indah membentuk tubuh subur yang sempurna.
"Sliramu ayu tenan, Dik," (Kamu cantik sekali, Dik) ucap Karyo tulus, matanya tak lepas dari tubuh istrinya. "Ora ono wong wedok sing iso ngalahke kaendahanmu." (Tidak ada perempuan yang bisa mengalahkan keindahanmu.)
Ratih tersenyum malu, tangannya refleks menutupi bagian tubuhnya yang paling pribadi. "Mas ora perlu ngomong ngono. Aku ngerti nek nang Jakarta akeh wedok sing luwih ayu teko aku." (Mas tidak perlu bicara begitu. Aku tahu kalau di Jakarta banyak perempuan yang lebih cantik dari aku.)
Karyo menggeleng tegas, tangannya menyingkirkan tangan Ratih yang menutupi tub
Maya terjaga lama setelah menyusui Karya. Bayangan Karyo yang melintas di benaknya tadi membuatnya gelisah. Dia menatap langit-langit kamar, mendengarkan napas teratur Irwan yang sudah kembali terlelap di sampingnya. Perasaan bersalah menggerogoti hatinya, tapi sensasi hangat di antara kakinya tak bisa dibantah.Enam minggu telah berlalu sejak kelahiran Karya. Tubuhnya mulai pulih, meski belum sepenuhnya kembali seperti semula. Cermin masih memantulkan perut yang sedikit menggelambir dan payudara yang lebih besar dari biasanya. Tapi yang paling mengejutkan Maya bukanlah perubahan fisiknya, melainkan perubahan dalam dirinya.Dokter kandungannya sudah memberi lampu hijau saat kontrol minggu lalu. "Jahitan episiotomi udah sembuh sempurna, Maya. Aktivitas intim udah boleh dilakukan, tapi pelan-pelan dulu ya," begitu kata dokter dengan senyum penuh pengertian.Maya belum memberitahu Irwan. Entah kenapa, ada keraguan yang aneh. Se
Keheningan nyaman melingkupi mereka, berbeda dari ketegangan beberapa menit lalu. Ratih menyandarkan kepalanya di dada Karyo, mendengarkan detak jantungnya yang kini berdetak teratur."Urusan... obat kuwi, sampeyan kudu janji ora bakal ngombe tanpa aku nang cedhakmu," bisik Ratih. "Aku wedi, Mas. Aku wedi sampeyan kesurupan maneh." (Urusan... obat itu, kamu harus janji tidak akan minum tanpa aku di dekatmu. Aku takut, Mas. Aku takut kamu kesurupan lagi.)"Aku janji," Karyo mengangguk. "Tak takerne sak kuat-kuatku. Nek wis ora tahan, kowe kudu siap nulungi aku." (Aku janji. Aku akan tahan sekuat-kuatku. Kalau sudah tidak tahan, kamu harus siap tolong aku)"Iyo, Mas." Ratih mengangguk lemah, mengantuk setelah kelelahan fisik yang intens. "Kanggo Dani...""Kanggo Dani," ulang Karyo, mencium puncak kepala Ratih.Dalam keheningan yang menyelimuti kamar tamu itu, keduanya berbaring bersisian, memikirkan masa
Air mata mulai mengalir di pipinya. Jari-jarinya mencengkeram ujung daster tidurnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih."Aku ngerti... aku wis ngerti sampeyan kudu... nglakoni karo Bu Maya ning ngarep Pak Irwan," Ratih terisak pelan, suaranya tersendat-sendat. "Aku wis nerima kuwi... wis ikhlas... mergo butuh kanggo masa depane Dani... tapi iki... iki..." (Aku mengerti... aku sudah mengerti kamu harus... melakukan dengan Bu Maya di depan Pak Irwan. Aku sudah menerima itu... sudah ikhlas... karena butuh untuk masa depan Dani... tapi ini... ini...)Ratih menggelengkan kepalanya kuat-kuat, rambut panjangnya yang terurai berayun liar. Matanya sekarang memancarkan campuran rasa jijik dan pengkhianatan."Aku dudu barang, Mas! Aku dudu boneka!" suaranya mendadak meninggi, sebelum dia cepat-cepat menutup mulutnya sendiri, teringat Dani masih tidur di sampingnya. "Aku bojone sampeyan. Aku ibune anake sampeyan. Dudu... dudu...
"Gusti Allah..." Ratih akhirnya berbisik, suaranya serak dan lelah. "Iki mau... koyo ora sampeyan biasane." (Tadi... seperti bukan kamu yang biasanya.)Karyo menatap langit-langit kamar, dadanya masih naik turun cepat. "Opo maksudmu?" tanyanya, meski ia tahu persis apa yang dimaksud istrinya.Dengan usaha yang terlihat menyakitkan, Ratih membalikkan tubuhnya, meringis sedikit merasakan sensitivitas yang masih tersisa. "Aku nganti... pira mau? Lima kali? Enem?" Matanya menyipit curiga. "Sampeyan ngombe jamu, to?" (Aku sampai... berapa tadi? Lima kali? Enam? Kamu minum jamu, kan?)Karyo terdiam sejenak. "Ora," jawabnya jujur."Mboten ngapusi kulo, nggih?" (Tidak membohongi saya, kan?) tanya Ratih lagi, kali ini dengan bahasa Jawa yang lebih halus."Ora, Tih." Karyo menggeleng. "Pancen... Aku butuh ngrasakne iki. Ngrasakne nek aku isih... biso." (Memang... Aku butuh merasakan ini. Merasakan kalau aku masih
Ratih tersentak saat jari-jari Karyo menemukan kelembabannya, memainkan dengan ketepatan yang membuatnya terkesiap. "Mas—ahh!""Ssst!" Kini gantian Karyo yang memperingatkan, matanya melirik ke arah Dani yang masih tertidur. "Ora nganti Dani tangi." (Jangan sampai Dani bangun.)Tubuh Ratih melengkung saat jemari Karyo mempermainkannya, menggodanya dengan ritme yang semakin cepat hingga napasnya terputus-putus. Ratih mencengkeram seprai, matanya terpejam rapat, bibirnya digigit kuat-kuat menahan suara."Mas... Mas... aku—" bisik Ratih terputus-putus sebelum tubuhnya menegang. Gelombang pertama menghantamnya, membuatnya gemetar dan menahan jeritan dengan menggigit bantal.Karyo tersenyum puas, matanya berkilat dalam keremangan. Tanpa jeda, tanpa memberi Ratih waktu pulih, ia melanjutkan permainannya, kini menambah intensitas dan kecepatan."Isih pingin?" (Masih ingin?) tantang Karyo dengan sua
Kata-kata Ratih menghantam Karyo seperti air dingin yang menyadarkan. Dia menatap Dani, putranya yang polos, yang tidak tahu bahwa masa depannya kini bergantung pada kepatuhan ayahnya sebagai pemuas nafsu orang lain. Pipinya terasa panas, airmata yang mendesak keluar ditahannya mati-matian.Berapa harga seorang ayah? Berapa harga sebuah beasiswa? Berapa harga harga diri?"Kabeh lamunanku... racun," (Semua lamunanku... racun,) bisik Karyo, mengakui kebenaran pahit itu akhirnya.Matanya bergerak dari Dani ke Ratih, melihat istrinya dalam cahaya baru. Di tengah kehancurannya, di antara serpihan mimpi-mimpinya yang berhamburan, Ratih masih berdiri tegak—menawarkan kekuatan yang tak pernah ia sadari sebelumnya."Tapi kowe..." (Tapi kamu...) Suara Karyo tercekat, tertahan oleh gumpalan emosi di kerongkongannya. "Kowe isih nyoto, Tih. Kowe dudu lamunan." (Kamu masih nyata, Tih. Kamu bukan lamunan.)Karyo







