LOGINCahaya pagi merayap masuk melalui jendela kecil kamar tamu. Karyo menatap botol kaca berisi jamu yang kemarin ia ambil dari lemarinya. Cairan pekat kemerahan itu berkilau tertimpa sinar matahari, seperti racun yang menggoda. Tangannya gemetar saat membuka tutupnya, bau tajam dan menyengat langsung menyerang hidungnya.
"Jamu siap," kata Karyo pelan, mengambil sendok teh dari dalam saku. "Sak sendok thok." (Cuma satu sendok saja.)
Ratih duduk di tepi ranjang, tangannya meremas seprai dengan gugup. "Sampeyan yakin iki waktune pas?" (Kamu yakin ini waktunya tepat?) tanyanya, suara hampir berbisik. "Pak Irwan karo Bu Maya wis mangkat kerja tenan?" (Pak Irwan dan Bu Maya sudah berangkat kerja benar?)
"Wis, aku weruh mobil loro-lorone metu gerbang," Karyo menjawab sambil menuang cairan kental itu ke sendok. "Dani yo wis diantar nang playgroup." (Sudah, aku lihat kedua mobil keluar gerbang. Dani juga sudah diantar ke playgroup.)
Ketika Irwan pulang malam itu, dia menemukan Maya duduk melamun di beranda belakang, wajahnya basah oleh air mata yang tak lagi dia coba sembunyikan."Sayang? Kenapa?" Irwan berlutut di depannya, wajahnya penuh kekhawatiran.Maya menatapnya lama, menimbang-nimbang apa yang harus dikatakan. Akhirnya, dia memutuskan untuk jujur."Aku... aku mendengar mereka, Wan," bisiknya. "Pak Karyo dan Ratih. Di kamar mereka."Irwan terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Apa mereka... terlalu berisik? Mengganggu istirahatmu?"Maya menggeleng pelan. "Bukan itu masalahnya.""Lalu?""Aku..." Maya menelan ludah, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga ingin, Wan. Tapi... aku masih takut."Irwan menggenggam kedua tangan istrinya, matanya menatap lembut. Ini bukan reaksi yang Maya perkirakan—tidak ada kemarahan, tidak ada kecemburuan."Apa kamu..." Irwan memil
Beberapa hari berikutnya, Maya kembali mendengar suara-suara itu.Kali ini berbeda. Dosis jamu yang Karyo konsumsi tampaknya sudah jauh lebih tepat. Dari balik dinding, desahan Ratih terdengar murni kenikmatan, bukan lagi jeritan kesakitan bercampur nikmat seperti sebelumnya."Ahhh... Mas... enak..." Suara Ratih mengalun, lembut namun penuh gairah. "Di situ... ya... terus..."Maya berdiri mematung di koridor, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang membesar. Seharusnya dia beranjak pergi, kembali ke kamarnya di lantai atas. Tapi kakinya seperti terpaku, telinganya menangkap setiap detail."Mas... Mas Karyo... aduh!" Ratih meracau di balik pintu. Derit ranjang semakin cepat dan berirama. "Ahhhh! Lagi... lagi..."Tubuh Maya bereaksi tanpa bisa ditahan. Kehangatan menjalar dari dadanya, turun ke perut, lalu semakin ke bawah. Tangannya bergerak naik, tanpa sadar meremas payudaranya sendiri yang sensiti
Seiring Maya yang semakin sering beristirahat di rumah—dokter menyarankan mengurangi aktivitas di trimester ketiga—dia mulai menyadari suara-suara aneh dari kamar tamu. Pertama kali dia mendengarnya, itu hanyalah suara samar—derit ranjang dan bisikan rendah yang hampir tak terdengar.Maya sedang berbaring di kamarnya, mencoba tidur siang untuk mengurangi lelah, ketika suara pertama tertangkap telinganya. Awalnya dia mengira itu hanya suara angin atau jendela yang tidak tertutup rapat. Tapi kemudian, suara itu muncul lagi—erangan tertahan yang sangat familiar.Maya baru saja kembali dari kontrol kandungan sendirian—Irwan ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal. Rumah tampak sepi saat dia membuka pintu depan, pukul 11 siang. Biasanya Ratih menyambutnya dengan teh hangat, tapi hari ini tidak ada tanda-tanda aktivitas."Ratih?" Maya memanggil pelan sambil melepas sepatunya.
"Tehnya enak sekali," Maya mengalihkan pembicaraan, memberikan jalan keluar bagi Ratih. "Bisa ajari aku cara membuatnya? Mungkin berguna kalau mualnya datang lagi."Ratih menoleh, tampak lega dengan perubahan topik. "Tentu saja, Bu. Sebenarnya simpel saja. Jahe segar diiris tipis, direbus sebentar, tambah madu dan lemon. Kalau Bu Maya mau, saya bisa siapkan dalam termos kecil setiap pagi.""Boleh," Maya mengangguk, tersenyum tipis. "Terima kasih, Ratih."Omelet sayur mengepul di piring putih polos, warna kuning keemasannya kontras dengan potongan hijau sayuran yang menyembul di sana-sini. Ratih menyeka setetes keringat di dahinya dengan bahu sebelum mengangkat piring dengan kedua tangan. Langkahnya pelan dan hati-hati, matanya fokus pada makanan yang masih panas itu."Silakan, Bu," ucap Ratih, tubuhnya sedikit membungkuk saat menyajikan omelet di hadapan Maya.Dalam gerakan itu, lengan bajunya bergeser
Dua hari berlalu sejak percobaan jamu pertama. Ratih masih dalam proses pemulihan, bekas-bekas di tubuhnya perlahan memudar meski beberapa masih terlihat jelas—terutama di leher dan pergelangan tangannya. Untuk menyembunyikannya, Ratih terpaksa mengenakan pakaian berlengan panjang meski udara cukup panas.Pagi itu, Ratih sedang menyiapkan sarapan di dapur. Tangan-tangannya bergerak efisien memotong buah dan sayur, meski kadang masih terlihat sedikit kaku. Karyo sudah berangkat lebih awal untuk memeriksa kebocoran di atap gudang, meninggalkan Ratih sendiri dengan tugas-tugas dapur.Suara langkah pelan mengejutkan Ratih. Dia menoleh dan melihat Maya berdiri di ambang pintu dapur, satu tangan menopang punggung bawahnya. Kandungannya kini sudah hampir delapan bulan, membuat tubuhnya yang biasanya langsing terlihat jauh lebih berat dan tidak seimbang."Pagi, Bu," sapa Ratih sopan, berusaha bersikap normal meski jantungnya b
Satu jam kemudian, Karyo terbangun dengan kepala berdenyut. Mulutnya kering seperti kertas pasir, dan setiap otot di tubuhnya menjerit protes. Dia mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih tercerai-berai.Hal pertama yang dia lihat adalah Ratih, masih belum sadarkan diri di sampingnya. Tubuh telanjang istrinya dipenuhi bekas-bekas kemerahan—di leher, dada, perut, bahkan pergelangan tangannya menunjukkan bekas cengkeraman yang terlalu kuat. Jejak biru mulai terbentuk di beberapa tempat, tanda kekerasan yang tidak disengaja."Ratih?" Karyo memanggilnya pelan, menyentuh pipinya dengan lembut. Tapi Ratih tidak bergerak, hanya napasnya yang teratur menandakan dia masih hidup.Perlahan, ingatan akan apa yang terjadi merayap kembali ke kesadarannya. Jamu. Gairah yang tak terkendali. Ratih yang memohon untuk berhenti. Tapi dia tidak berhenti..."Gusti Allah..." Karyo berbisik, horror men







