Share

Bab 512

Author: Waterverri
last update Last Updated: 2026-01-15 04:03:28

Tangisan Karya yang semakin keras tampaknya akhirnya terdengar oleh penghuni kamar. Suara derit ranjang tiba-tiba berhenti. Maya mendengar gerakan terburu-buru dan bisikan panik. Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka lebih lebar dan Ratih muncul dengan wajah memerah dan rambut berantakan, mengenakan daster yang tampak dipakai terburu-buru.

"Ya Allah, Bu Maya," Ratih terlihat kaget, secara refleks merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Maaf saya nggak denger Dek Karya nangis."

Maya berusaha keras menjaga ekspresinya tetap normal, meski jantungnya berdegup kencang. "Nggak tau kenapa dia nangis terus, Rat. Popoknya kering, nyusu juga nggak mau."

Dari celah pintu yang terbuka di belakang Ratih, pandangan Maya tanpa sengaja menangkap pemandangan Karyo yang sedang terburu-buru menarik celananya ke atas. Sekilas, Maya melihat kejantanan Karyo yang belum sepenuhnya tertutup—besar, terlihat keras, dan begitu familiar. Sek

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 512

    Tangisan Karya yang semakin keras tampaknya akhirnya terdengar oleh penghuni kamar. Suara derit ranjang tiba-tiba berhenti. Maya mendengar gerakan terburu-buru dan bisikan panik. Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka lebih lebar dan Ratih muncul dengan wajah memerah dan rambut berantakan, mengenakan daster yang tampak dipakai terburu-buru."Ya Allah, Bu Maya," Ratih terlihat kaget, secara refleks merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Maaf saya nggak denger Dek Karya nangis."Maya berusaha keras menjaga ekspresinya tetap normal, meski jantungnya berdegup kencang. "Nggak tau kenapa dia nangis terus, Rat. Popoknya kering, nyusu juga nggak mau."Dari celah pintu yang terbuka di belakang Ratih, pandangan Maya tanpa sengaja menangkap pemandangan Karyo yang sedang terburu-buru menarik celananya ke atas. Sekilas, Maya melihat kejantanan Karyo yang belum sepenuhnya tertutup—besar, terlihat keras, dan begitu familiar. Sek

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 511

    Maya terbangun dengan sensasi aneh di tubuhnya—campuran kekecewaan dan ketidakpuasan yang tertinggal dari malam sebelumnya. Sudah sembilan minggu berlalu sejak kelahiran Karya, dan meski dokter telah memberikan lampu hijau, keintiman pertama dengan Irwan meninggalkan sesuatu yang terasa menggantung. Bukan karena Irwan tidak berusaha, melainkan karena tubuhnya sendiri, secara mengkhianati, terus membandingkan."Tidak adil," bisiknya pada dirinya sendiri sambil meregangkan tubuh. Karya masih tertidur pulas di box bayinya, memberi Maya waktu singkat untuk dirinya sendiri. Cahaya pagi mengintip dari sela tirai, menandakan hari telah beranjak menuju pukul sembilan.Irwan telah berangkat ke kantornya sejak pukul tujuh, meninggalkan sebuah ciuman di kening dan janji bahwa "malam ini akan lebih baik." Maya tersenyum pahit mengingat janji itu—bukan Irwan yang perlu menjadi lebih baik, tapi tubuhnya sendiri yang terasa seperti pengkh

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 510

    Didorong oleh desahan Maya, Irwan semakin berani. Tangannya kini menjelajahi tubuh istrinya, turun ke perut, pinggul, hingga ke antara pahanya yang kini basah. Maya membuka kakinya lebih lebar, menyambut sentuhan suaminya."Aku mau kamu, Wan," bisiknya di telinga Irwan, tangannya turun untuk meraba ereksi suaminya yang kini mengeras.Irwan menatap Maya dengan campuran kerinduan dan kekhawatiran. "Kamu yakin?"Maya mengangguk, tangannya tidak berhenti membelai. "Ya... tapi pelan-pelan."Irwan memposisikan dirinya di atas Maya, mengusap bagian intimnya yang telah basah dengan ujung penisnya. Maya merintih, menutup mata merasakan sentuhan itu."Masukin," pintanya lembut. "Aku butuh kamu di dalam aku."Dengan sangat perlahan, Irwan mendorong masuk, membuat Maya mengerang panjang. Sensasi hangat dan penuh itu membuat keduanya menahan napas."Sakit?" tanya Irwan khawatir.Maya

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 509

    Maya terjaga lama setelah menyusui Karya. Bayangan Karyo yang melintas di benaknya tadi membuatnya gelisah. Dia menatap langit-langit kamar, mendengarkan napas teratur Irwan yang sudah kembali terlelap di sampingnya. Perasaan bersalah menggerogoti hatinya, tapi sensasi hangat di antara kakinya tak bisa dibantah.Enam minggu telah berlalu sejak kelahiran Karya. Tubuhnya mulai pulih, meski belum sepenuhnya kembali seperti semula. Cermin masih memantulkan perut yang sedikit menggelambir dan payudara yang lebih besar dari biasanya. Tapi yang paling mengejutkan Maya bukanlah perubahan fisiknya, melainkan perubahan dalam dirinya.Dokter kandungannya sudah memberi lampu hijau saat kontrol minggu lalu. "Jahitan episiotomi udah sembuh sempurna, Maya. Aktivitas intim udah boleh dilakukan, tapi pelan-pelan dulu ya," begitu kata dokter dengan senyum penuh pengertian.Maya belum memberitahu Irwan. Entah kenapa, ada keraguan yang aneh. Se

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 508

    Keheningan nyaman melingkupi mereka, berbeda dari ketegangan beberapa menit lalu. Ratih menyandarkan kepalanya di dada Karyo, mendengarkan detak jantungnya yang kini berdetak teratur."Urusan... obat kuwi, sampeyan kudu janji ora bakal ngombe tanpa aku nang cedhakmu," bisik Ratih. "Aku wedi, Mas. Aku wedi sampeyan kesurupan maneh." (Urusan... obat itu, kamu harus janji tidak akan minum tanpa aku di dekatmu. Aku takut, Mas. Aku takut kamu kesurupan lagi.)"Aku janji," Karyo mengangguk. "Tak takerne sak kuat-kuatku. Nek wis ora tahan, kowe kudu siap nulungi aku." (Aku janji. Aku akan tahan sekuat-kuatku. Kalau sudah tidak tahan, kamu harus siap tolong aku)"Iyo, Mas." Ratih mengangguk lemah, mengantuk setelah kelelahan fisik yang intens. "Kanggo Dani...""Kanggo Dani," ulang Karyo, mencium puncak kepala Ratih.Dalam keheningan yang menyelimuti kamar tamu itu, keduanya berbaring bersisian, memikirkan masa

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 507

    Air mata mulai mengalir di pipinya. Jari-jarinya mencengkeram ujung daster tidurnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih."Aku ngerti... aku wis ngerti sampeyan kudu... nglakoni karo Bu Maya ning ngarep Pak Irwan," Ratih terisak pelan, suaranya tersendat-sendat. "Aku wis nerima kuwi... wis ikhlas... mergo butuh kanggo masa depane Dani... tapi iki... iki..." (Aku mengerti... aku sudah mengerti kamu harus... melakukan dengan Bu Maya di depan Pak Irwan. Aku sudah menerima itu... sudah ikhlas... karena butuh untuk masa depan Dani... tapi ini... ini...)Ratih menggelengkan kepalanya kuat-kuat, rambut panjangnya yang terurai berayun liar. Matanya sekarang memancarkan campuran rasa jijik dan pengkhianatan."Aku dudu barang, Mas! Aku dudu boneka!" suaranya mendadak meninggi, sebelum dia cepat-cepat menutup mulutnya sendiri, teringat Dani masih tidur di sampingnya. "Aku bojone sampeyan. Aku ibune anake sampeyan. Dudu... dudu...

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status