Share

Bab 3

Author: AliceLin
last update Last Updated: 2025-12-31 17:06:09

“Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.

Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.

“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”

Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.

“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”

Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”

Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum yang menantang. “Tapi, kalau tidak ….”

Tatapan hazel gadis itu berkilat nakal. “kamu harus menjadi kekasihku. Bagaimana?”

Baru saja pria itu hendak menjawab, Reina malah menyelanya, “Oke. Ayo kita mulai!”

Tanpa aba-aba, tangan Reina telah menyusuri dada bidang pria itu. Meski masih terhalang oleh kemeja yang basah, kain tipis itu justru membuat kontur otot di baliknya semakin terasa jelas di bawah jemarinya. Padat, kokoh dan … hangat.

‘Wah! Apa otot laki-laki biasanya memang sekeren ini?’ batin Reina sambil menahan diri agar tidak mengeluarkan decakan kagum.

Karena perbedaan tinggi mereka, Reina harus mendongak untuk melihat ekspresi pria yang kini menaunginya. Tubuh tegap itu memancarkan aura maskulin yang mendominasi, membuat udara di sekitarnya terasa panas.

Pria bermata gelap bak elang malam itu memiliki kharisma berbahaya yang mampu membuat nyali siapa pun menciut saat bersitatap langsung dengannya. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Reina yang terhanyut dalam euforia alkohol yang diminumnya tadi.

Tidak ada sedikit pun rasa takut yang gadis itu tunjukkan. Anehnya, sensasi memabukkan yang ia rasakan saat ini malah membuatnya semakin … bergairah dan ingin terus berada di dekatnya.

Melihat ekspresi datar pria itu, Reina pun mendengus kasar. “Apa kamu terlahir dari batu, huh?” gerutunya, kesal karena sentuhannya tidak berhasil membuat pria itu bereaksi.

Pria itu tersenyum remeh. Padahal jelas ia berusaha mati-matian menahan sensasi panas yang semakin membakar akal sehatnya. Ingin ia mendorong gadis itu menjauh, tetapi sentuhan gadis itu benar-benar sulit ditolak. Apalagi … ia merasa kegigihan gadis itu terlihat sangat menarik di matanya.

Pertahanan pria itu tidak membuat Reina kehilangan akal. Tangannya yang semula hanya menyentuh dada bidangnya kini bergerak lebih jauh ke bawah, meluncur cepat hingga ke area intim pria itu, membuat napas sang pemilik tubuh atletis itu tertahan sepersekian detik.

Reina merasakan otot-otot di balik celana bahan itu menegang kuat, jauh lebih keras dari sebelumnya. Melihat raut wajah yang terlihat mati-matian menahan gejolak hasrat liarnya, gadis itu pun tersenyum nakal. “Tuan, jangan bilang Anda mulai … terangsang?”

Meskipun pria itu tidak menjawab, tetapi napas beratnya telah menjawab semuanya. Reina merasa puas, tetapi ia tidak segera menghentikan permainannya. Dilingkarkannya lengannya kembali ke leher si pria sebelum bibirnya menangkup milik pria itu dan menciumnya dengan berani.

Setelah terdiam selama tiga detik, bibir pria itu akhirnya merespon cumbuannya. Tangan sang pria menarik pinggang rampingnya, memangkas jarak mereka sehingga cumbuan mereka terasa semakin panas dan menuntut.

Sosok dingin yang mati-matian digodanya sejak tadi akhirnya luluh juga. Puas karena sudah sukses memenangkan taruhannya, Reina menarik diri dari ciuman itu.

Namun—

Belum sempat mengambil satu langkah pun, pergelangan tangan Reina tiba-tiba ditangkap dengan kuat. Tubuhnya ditarik keras hingga punggungnya menghantam dinding di belakangnya.

“Akh!” Reina meringis. Matanya terpejam sejenak, menahan sakit.

Saat membuka mata, ia menyadari tubuhnya kembali terkurung di bawah naungan pria itu. Hawa panas dari tubuhnya membungkusnya rapat, menutup semua celah untuk kabur.

“Kamu mau ke mana, Gadis Nakal?” Suara desisan rendah yang disertai desahan panas dari pria itu tiba-tiba menggema di telinganya. “Apa kamu tidak pernah diajarkan untuk memadamkan api setelah menyalakannya?”

Pandangan Reina semakin kabur, tetapi gadis itu tahu maksudnya. Sebelum ia sempat menolak, pria itu tiba-tiba saja mengangkat tubuh Reina di atas pundaknya, membawanya keluar dari lift yang telah tiba di lantai yang dituju pria itu sebelumnya.

“Turunkan aku! Apa yang mau kamu lakukan?” teriak gadis itu dengan histeris. Karena rontaannya, salah satu sepatu heel-nya terjatuh di koridor.

Namun, pria itu tetap terus berjalan dengan langkah lebar dan cepat, memasuki salah satu kamar hotel dengan hanya menempelkan sidik jarinya saja pada panel pintu masuk.

Klik!

Pintu terbuka. Reina pun diturunkan dari bahunya. Rasa pusing menderanya, tetapi sebelum ia sempat menstabilkan peredaran darahnya, pria itu telah mendorongnya hingga punggungnya kembali menghantam pintu yang baru saja tertutup.

“Tuan─!”

Suara Reina dibungkam dengan cepat. Bibirnya dilumat dengan rakus oleh pria itu, membuat napas Reina tertahan.

“Hmph!” Reina mengayunkan tangannya ke dada pria itu, mencoba mendorong tubuh besar itu menjauh. Namun, usahanya sia-sia, pria itu tak bergerak sedikit pun.

Ciuman pria itu semakin dalam dan menuntut, membuat pikiran Reina terasa semakin kacau. Efek alkohol yang masih mengaburkan kepalanya berpadu dengan serangan ciuman agresif pria itu meruntuhkan dinding pertahanannya.

Gadis itu akhirnya membalas ciumannya, melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu, menyerahkan tubuhnya mengikuti arah langkah pria asing itu. Tanpa memutuskan ciuman, mereka bergerak menjauh dari pintu dan memasuki area kamar yang temaram.

Dalam sekejap, tubuh Reina terhempas lembut di atas ranjang besar, di bawah kungkungan pria itu. Ciuman mereka terputus sesaat untuk meraup udara.

Mata sang pria kini berkilat penuh hasrat, menatap tajam ke mata Reina yang telah diselimuti gelora yang sama.

“Apa kamu tahu apa akibatnya menggodaku, Gadis Nakal?” desis pria itu dengan nada berbahaya dan mendominasi. “Apa kamu tidak takut─”

Ucapan pria itu  mendadak terhenti oleh acungan telunjuk yang diletakkan gadis itu di depan bibirnya. Sambil mengulas senyuman nakal yang manja, gadis itu membalas, “Kalau begitu … hukum saja gadis kecilmu ini, Tuan.”

Tanpa ragu, Reina menarik kerah kemeja pria itu dengan kasar. Suara robekan pelan terdengar ketika beberapa kancing terlepas dan berjatuhan ke lantai.

Tantangan gadis itu kembali menyulut api gairah di tubuh pria itu. Perlahan ia menurunkan wajahnya mendekati telinga Reina, napasnya terasa panas dan berat.

“Panggil aku …,” bisik pria itu, suaranya penuh ancaman manis, “Hugo, Gadis Nakal.”

Reina tidak sempat menjawab karena bibirnya telah kembali dibungkam oleh pria yang ingin dipanggil Hugo itu. Kini, ia membiarkan tubuhnya berada di bawah kendali pria itu sepenuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 8

    “Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”Ucapan Reina sek

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 7

    Seringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?Akan tetapi,

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 6

    “Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.Sejak awal mengirim

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 5

    Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 4

    Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.‘Ini … ini di mana?’Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─Deg!Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.Tiba-tiba kilasan bayangan perg

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 3

    “Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status