LOGIN“Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.
Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.
“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”
Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.
“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”
Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”
Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum yang menantang. “Tapi, kalau tidak ….”
Tatapan hazel gadis itu berkilat nakal. “kamu harus menjadi kekasihku. Bagaimana?”
Baru saja pria itu hendak menjawab, Reina malah menyelanya, “Oke. Ayo kita mulai!”
Tanpa aba-aba, tangan Reina telah menyusuri dada bidang pria itu. Meski masih terhalang oleh kemeja yang basah, kain tipis itu justru membuat kontur otot di baliknya semakin terasa jelas di bawah jemarinya. Padat, kokoh dan … hangat.
‘Wah! Apa otot laki-laki biasanya memang sekeren ini?’ batin Reina sambil menahan diri agar tidak mengeluarkan decakan kagum.
Karena perbedaan tinggi mereka, Reina harus mendongak untuk melihat ekspresi pria yang kini menaunginya. Tubuh tegap itu memancarkan aura maskulin yang mendominasi, membuat udara di sekitarnya terasa panas.
Pria bermata gelap bak elang malam itu memiliki kharisma berbahaya yang mampu membuat nyali siapa pun menciut saat bersitatap langsung dengannya. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Reina yang terhanyut dalam euforia alkohol yang diminumnya tadi.
Tidak ada sedikit pun rasa takut yang gadis itu tunjukkan. Anehnya, sensasi memabukkan yang ia rasakan saat ini malah membuatnya semakin … bergairah dan ingin terus berada di dekatnya.
Melihat ekspresi datar pria itu, Reina pun mendengus kasar. “Apa kamu terlahir dari batu, huh?” gerutunya, kesal karena sentuhannya tidak berhasil membuat pria itu bereaksi.
Pria itu tersenyum remeh. Padahal jelas ia berusaha mati-matian menahan sensasi panas yang semakin membakar akal sehatnya. Ingin ia mendorong gadis itu menjauh, tetapi sentuhan gadis itu benar-benar sulit ditolak. Apalagi … ia merasa kegigihan gadis itu terlihat sangat menarik di matanya.
Pertahanan pria itu tidak membuat Reina kehilangan akal. Tangannya yang semula hanya menyentuh dada bidangnya kini bergerak lebih jauh ke bawah, meluncur cepat hingga ke area intim pria itu, membuat napas sang pemilik tubuh atletis itu tertahan sepersekian detik.
Reina merasakan otot-otot di balik celana bahan itu menegang kuat, jauh lebih keras dari sebelumnya. Melihat raut wajah yang terlihat mati-matian menahan gejolak hasrat liarnya, gadis itu pun tersenyum nakal. “Tuan, jangan bilang Anda mulai … terangsang?”
Meskipun pria itu tidak menjawab, tetapi napas beratnya telah menjawab semuanya. Reina merasa puas, tetapi ia tidak segera menghentikan permainannya. Dilingkarkannya lengannya kembali ke leher si pria sebelum bibirnya menangkup milik pria itu dan menciumnya dengan berani.
Setelah terdiam selama tiga detik, bibir pria itu akhirnya merespon cumbuannya. Tangan sang pria menarik pinggang rampingnya, memangkas jarak mereka sehingga cumbuan mereka terasa semakin panas dan menuntut.
Sosok dingin yang mati-matian digodanya sejak tadi akhirnya luluh juga. Puas karena sudah sukses memenangkan taruhannya, Reina menarik diri dari ciuman itu.
Namun—
Belum sempat mengambil satu langkah pun, pergelangan tangan Reina tiba-tiba ditangkap dengan kuat. Tubuhnya ditarik keras hingga punggungnya menghantam dinding di belakangnya.
“Akh!” Reina meringis. Matanya terpejam sejenak, menahan sakit.
Saat membuka mata, ia menyadari tubuhnya kembali terkurung di bawah naungan pria itu. Hawa panas dari tubuhnya membungkusnya rapat, menutup semua celah untuk kabur.
“Kamu mau ke mana, Gadis Nakal?” Suara desisan rendah yang disertai desahan panas dari pria itu tiba-tiba menggema di telinganya. “Apa kamu tidak pernah diajarkan untuk memadamkan api setelah menyalakannya?”
Pandangan Reina semakin kabur, tetapi gadis itu tahu maksudnya. Sebelum ia sempat menolak, pria itu tiba-tiba saja mengangkat tubuh Reina di atas pundaknya, membawanya keluar dari lift yang telah tiba di lantai yang dituju pria itu sebelumnya.
“Turunkan aku! Apa yang mau kamu lakukan?” teriak gadis itu dengan histeris. Karena rontaannya, salah satu sepatu heel-nya terjatuh di koridor.
Namun, pria itu tetap terus berjalan dengan langkah lebar dan cepat, memasuki salah satu kamar hotel dengan hanya menempelkan sidik jarinya saja pada panel pintu masuk.
Klik!
Pintu terbuka. Reina pun diturunkan dari bahunya. Rasa pusing menderanya, tetapi sebelum ia sempat menstabilkan peredaran darahnya, pria itu telah mendorongnya hingga punggungnya kembali menghantam pintu yang baru saja tertutup.
“Tuan─!”
Suara Reina dibungkam dengan cepat. Bibirnya dilumat dengan rakus oleh pria itu, membuat napas Reina tertahan.
“Hmph!” Reina mengayunkan tangannya ke dada pria itu, mencoba mendorong tubuh besar itu menjauh. Namun, usahanya sia-sia, pria itu tak bergerak sedikit pun.
Ciuman pria itu semakin dalam dan menuntut, membuat pikiran Reina terasa semakin kacau. Efek alkohol yang masih mengaburkan kepalanya berpadu dengan serangan ciuman agresif pria itu meruntuhkan dinding pertahanannya.
Gadis itu akhirnya membalas ciumannya, melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu, menyerahkan tubuhnya mengikuti arah langkah pria asing itu. Tanpa memutuskan ciuman, mereka bergerak menjauh dari pintu dan memasuki area kamar yang temaram.
Dalam sekejap, tubuh Reina terhempas lembut di atas ranjang besar, di bawah kungkungan pria itu. Ciuman mereka terputus sesaat untuk meraup udara.
Mata sang pria kini berkilat penuh hasrat, menatap tajam ke mata Reina yang telah diselimuti gelora yang sama.
“Apa kamu tahu apa akibatnya menggodaku, Gadis Nakal?” desis pria itu dengan nada berbahaya dan mendominasi. “Apa kamu tidak takut─”
Ucapan pria itu mendadak terhenti oleh acungan telunjuk yang diletakkan gadis itu di depan bibirnya. Sambil mengulas senyuman nakal yang manja, gadis itu membalas, “Kalau begitu … hukum saja gadis kecilmu ini, Tuan.”
Tanpa ragu, Reina menarik kerah kemeja pria itu dengan kasar. Suara robekan pelan terdengar ketika beberapa kancing terlepas dan berjatuhan ke lantai.
Tantangan gadis itu kembali menyulut api gairah di tubuh pria itu. Perlahan ia menurunkan wajahnya mendekati telinga Reina, napasnya terasa panas dan berat.
“Panggil aku …,” bisik pria itu, suaranya penuh ancaman manis, “Hugo, Gadis Nakal.”
Reina tidak sempat menjawab karena bibirnya telah kembali dibungkam oleh pria yang ingin dipanggil Hugo itu. Kini, ia membiarkan tubuhnya berada di bawah kendali pria itu sepenuhnya.
Hugo menghentikan langkahnya seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Reina dengan tatapan tak percaya. Tawa rendahnya pun pecah dan menggema di dalam kamar itu.“Housekeeping?” ulangnya, seakan kata itu adalah lelucon paling konyol yang pernah didengarnya.Reina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kamu masih ingat kan kalau aku memang mengajukan lamaran itu?”Hugo mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk malas. "Tapi, apa otakmu tidak bermasalah? Kamu lebih memilih menjadi housekeeping daripada menjadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini, hm?”Reina berdecih pelan di dalam hati, ‘Justru karena otakku masih waras, makanya aku memilih ini. Memangnya kamu pikir bisa membodohiku?’ batinnya.Namun, detik berikutnya, Reina memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, “Aku bukan lulusan sarjana dan juga tidak punya pengalaman menjadi seorang asisten. Bagaimana kalau nanti aku malah mempermalukanmu dan mengacaukan pekerjaanmu?”Hugo te
“Kalau aku tidak mau mematuhi semua aturan ini, apa yang akan kamu lakukan?” desis Reina dengan tatapan tajam yang berkilat penuh perlawanan.Hugo tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merunduk, memperkikis jarak hingga Reina bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di permukaan kulit wajahnya. Seringai berbahaya kembali muncul di bibir pria itu.“Sederhana saja,” bisik Hugo dengan suara bariton yang rendah dan mengintimidasi. “Kembalikan setiap sen yang sudah aku keluarkan untukmu. Tunai. Sekarang juga. Dan pastinya ….”Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Jemarinya bergerak menyusuri rahang gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, tetapi bagi Reina, sentuhan itu terasa duri yang menusuknya perlahan-lahan, menciptakan rasa takut yang menyiksa.“… kamu harus bersiap mencari rumah sakit yang bersedia menampung adikmu,” lanjut pria itu dengan suara tenang, tetapi penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan.Ucapannya jelas menyiratkan bahwa Axel tidak akan bisa mendapatkan pera
“Percuma saja kamu bersembunyi di balik tanganmu. Memangnya bisa mengubah fakta kalau kamu sangat menikmati permainan panas kita tadi, Gadis Nakal?”Sindiran pedas yang meluncur dari bibir Hugo lamgsung mengalihkan pikiran Reina. Perlahan gadis itu menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Panas di pipinya kini merambat hingga ke telinganya saat melihat senyum mengejek di wajah Hugo.Namun, Reina tidak membalas. Ia tidak ingin menambah kepuasan pria itu dalam mencemoohnya. Ia pun menyambar dokumen di atas seprai dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.“Dokumen apa ini?” gumam Reina saat matanya mulai menyapu deretan tulisan yang tercetak di atas lembaran dokumen yang ada di tangannya.Hugo tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan mendekati Reina dan mengunci gadis itu dengan menumpukan satu tangannya pada kepala ranjang, tepat di samping bahu gadis itu.“Ini adalah rincian aturan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku,” tera
Satu jam kemudian, ranjang king size di dalam suite mewah itu tampak berantakan seperti habis diterpa badai hebat. Selimut sutra yang semula licin dan rapi kini teronggok tak berdaya di lantai marmer, berserakan di antara helai-helai pakaian yang dilemparkan secara serampangan.Tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Reina menggeliat kecil di atas seprai yang kusut. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh sendi tubuhnya terasa kaku. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah pergumulan panas yang menguras seluruh tenaga dan emosinya.Di sudut ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi berhenti seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam.Manik mata hazel Reina terpaku pada siluet Hugo yang terpatri di balik kaca buram kamar mandi. “Dia benar-benar iblis,” geramnya pelan, disertai suara lenguhan kecil yang menahan perih.Sembari meregangkan punggungnya yang terasa pegal, ia menatap nanar jejak-jejak kemerahan yang menghiasi kulit putihnya.Bayangan ingatan saat Hugo menorehkan ta
"Aku tidak pernah bilang tidak suka," bisik Hugo. Suaranya kini terdengar diselimuti gairah yang terasa berbahaya.Embusan napasnya yang panas terasa membakar tengkuk leher Reina. Gadis itu memejamkan matanya dengan erat, berusaha menekan gejolak liar yang mulai membuncah di dalam dadanya. "Tapi, aku penasaran … apa kamu selalu mempraktikkannya dengan semua laki-laki yang kamu temui, Reina Wynn?” desis pria itu. Nada mencemoohnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga diri Reina.Bola mata hazel gadis itu telah membelalak besar, mendelik Hugo dengan tajam dan penuh amarah. Namun, pria itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.Sebaliknya, Hugo justru mengulas senyuman puas seolah sengaja memancing sisi emosional yang berusaha Reina sembunyikan di balik kepolosan yang ia tunjukkan.“Cukup, Hugo Veldric! Berhenti menghinaku!” hardik Reina dengan penuh emosi.Amarah yang sedari tadi terpendam akhirnya meledak tanpa bisa gadis itu hentikan. Ia tidak lagi peduli apabila uca
“Masuk,” titah Hugo seraya membuka lebar pintu kamar hotel setelah menempelkan sidik jarinya pada panel pemindai di samping pintu.Namun, Reina masih berdiri di depan kamar itu. Kakinya seakan terpaku di atas karpet mewah koridor hotel, enggan melangkah masuk ke dalam ruangan yang pernah menjadi saksi bisu pergumulan panasnya bersama pria itu dua hari lalu.Menyadari gadis itu tidak beranjak dari tempatnya, Hugo memutar tubuhnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis itu dengan sorot mata penuh intimidasi.“Kenapa diam? Kamu tiba-tiba lupa cara berjalan, atau sedang menunggu aku menggendongmu masuk?" sindir Hugo sembari menyandarkan punggungnya pada daun pintu.Reina mencebikkan bibirnya dengan jengah. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, ia pun memaksakan kakinya untuk melangkah masuk.Melihat kepatuhan penuh keterpaksaan itu, Hugo mendengus dingin, lalu menutup pintu kamar dan berjalan melewati gadis itu.“Aku tahu kamar ini membangkitkan kenangan malam pa







