LOGINEsok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.
Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.
‘Ini … ini di mana?’
Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─
Deg!
Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.
Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!
“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.
Tiba-tiba kilasan bayangan pergumulan liar yang dilakukannya semalam menghantam kepalanya.
“Ah, Hugo … ah!”
“Lebih cepat, Hugo …. Ah … ah … jangan berhenti … lagi … ah ….”
“Kamu hebat, Hugo … Aku suka … ah ….”
Spontan Reina membungkam mulutnya sendiri, tidak percaya jika dirinya akan mengerang dan mendesah dengan suara menggelikan seperti itu. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga!
Tidak heran jika suaranya hilang dan tenggorokannya sakit sekarang. Sepanjang malam ia tidak berhenti mengerang manja di bahwa kungkungan dan hujaman pria itu, mendesahkan nama asing sosok itu dari bibirnya.
Wajah Reina memerah seketika saat mengingat momen “pusaka besar” yang mencoba menerobos miliknya.
“Astaga!” Reina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menghentikan pikiran liarnya itu.
‘Reina Wynn, otakmu sudah menyeberang ke mana?!’ hardik gadis itu kepada dirinya sendiri.
Ia meremas rambutnya dengan frustrasi. ‘Haish! Ini gara-gara kamu ikut saran gila Cinthia, sih?!’
Namun, Reina tahu jika ia tidak dapat menyalahkan sahabatnya sepenuhnya. Emosinya semalam terlalu meledak, ditambah lagi ia juga terlalu mabuk sehingga tidak dapat berpikir jernih dan akhirnya mengambil tindakan paling impulsif di dalam hidupnya.
Meskipun kesal dengan ketidakwarasannya ini, tetapi Reina tidak dapat menyangkal betapa dirinya menikmati permainan panasnya dengan pria bernama Hugo itu.
Pria itu begitu lihai memimpin permainan liar mereka, mendominasi tubuhnya hingga membuat Reina terus meminta pria itu agar tidak berhenti menghujamnya.
Akibatnya, sekujur tubuhnya saat ini terasa luluh lantak. Membangkitkan tubuhnya untuk duduk saja, Reina merasa seperti wanita jompo.
Entah berapa kali mereka telah melakukan pelepasan semalam. Ia tidak ingat dan tidak mau mengingatnya!
‘Ke mana si tarzan sialan itu?’ geram Reina sembari memegang pinggangnya yang terasa sakit seperti dihantam truk tronton.
Hugo tidak terlihat di mana pun hingga suara gemericik air di balik pintu kaca memberikan jawaban yang ia inginkan.
Hugo sedang mandi.
Reina menelan salivanya dengan kasar, lalu terbesit keputusannya untuk segera pergi dari kamar itu sebelum pria itu keluar.
Meskipun semalam ia memang berniat menggoda pria itu agar menjadi kekasihnya, tetapi semua terjadi di luar kesadarannya dan didorong oleh rasa sakit hatinya.
Dan, sekarang … ia sangat sadar. Mana mungkin ia punya muka untuk bertemu dengan pria itu!
Apa yang harus ia katakan jika pria itu mempertanyakan tujuannya menggodanya? Dan lagi, pria itu pasti akan mencemooh dan merendahkannya karena begitu mudah menyerahkan tubuhnya seperti wanita jalang.
Suara aliran air dari balik pintu kaca mendadak lenyap. Reina segera tersadar dan bergegas turun dari ranjang. Namun, gerakannya terhenti sejenak karena area intimnya terasa berdenyut.
“Ah, sial … kenapa sakit sekali?” desis Reina, meringis.
Reina menggigit bibirnya erat-erat. Ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan rasa sakitnya lebih lama lagi.
Dengan cepat Reina memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Untunglah pakaiannya masih utuh, Meskipun salah satu sepatu hak tingginya tidak ditemukan, ia tidak lagi peduli dan berjalan keluar tanpa alas kaki.
Pintu kamar mandi dibuka tepat saat Reina berhasil menyelinap keluar. Hugo melangkah dengan handuk melilit pinggangnya. Tetesan air di ujung rambutnya menetes hingga ke tulang selangkanya yang perlahan menyusuri otot-otot sixpack-nya.
Gerakan tangan Hugo yang sedang mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil seketika terhenti saat matanya menangkap udara kosong di atas ranjang panasnya semalam.
Sorot matanya berkilat tajam. ‘Gadis liar itu … kabur?’
Hugo menyibakkan selimut di atas ranjang, berharap ada pesan yang ditinggalkan perempuan yang telah merengut benihnya semalam. Namun, tidak ada satu pun yang tertinggal selain bercak darah yang tampak seperti kelopak bunga yang tercerai berai.
Hugo terdiam sesaat. ‘Jadi … dia masih perawan?’
Salah satu alis tebalnya terangkat tajam. Kerutan muncul di dahinya ketika ingatan tentang perjuangannya menembus dinding keperawanan gadis itu melintas kembali.
Dalam rengkuhannya, gadis itu menggeliat resah dan kesakitan, tetapi suara manjanya yang terus memintanya untuk tidak berhenti membuat semangat Hugo terus terbakar dan memasukkan miliknya semakin dalam.
Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil. Ada rasa puas dan kebanggaan yang sulit ia jelaskan.
Namun, kekesalannya muncul saat menyadari bahwa dirinya baru saja dicampakkan oleh wanita yang tidak ia ketahui namanya itu.
‘Apa rusa kecil itu pikir … aku akan memburunya kalau dia kabur seperti ini?’
Hugo mendengus, tidak berminat sedikit pun untuk mengikuti alur permainan tarik ulur yang biasa para kaum hawa lakukan untuk menarik perhatiannya.
Ia pun menyentakkan selimut di tangannya, tetapi manik mata hitamnya tiba-tiba menangkap kilauan kecil yang terselip di bawah bantal.
Hugo mengangkat bantal itu dan menemukan kilauan yang berasal dari sebuah kalung rantai halus yang tertinggal di sana.
Hugo meraih kalung tersebut, mengangkatnya di udara. Perlahan netra hitamnya menyipit tajam dan bergerak turun, menatap liontin berbentuk mahkota yang terbuat dari titanium yang terlihat kusam.
Namun, dari detailnya saja jelas liontin itu bukanlah barang murahan. Di bagian belakang liontin mahkota itu terukir satu kata.
Reina.
Napas Hugo sempat tertahan. Tanpa membuang waktu, ia meraih ponselnya di atas nakas dengan satu tangan menggenggam erat kalung tersebut. Jemarinya bergerak cepat, menekan salah satu nomor kontak di dalam gawainya.
Setelah panggilan tersambung, suara tegasnya mendadak berubah dingin dan tak terbantahkan. “Segera lacak wanita yang keluar dari suite-ku pagi ini. Serahkan semua informasinya dalam waktu tiga puluh menit!”
Hugo menghentikan langkahnya seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Reina dengan tatapan tak percaya. Tawa rendahnya pun pecah dan menggema di dalam kamar itu.“Housekeeping?” ulangnya, seakan kata itu adalah lelucon paling konyol yang pernah didengarnya.Reina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kamu masih ingat kan kalau aku memang mengajukan lamaran itu?”Hugo mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk malas. "Tapi, apa otakmu tidak bermasalah? Kamu lebih memilih menjadi housekeeping daripada menjadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini, hm?”Reina berdecih pelan di dalam hati, ‘Justru karena otakku masih waras, makanya aku memilih ini. Memangnya kamu pikir bisa membodohiku?’ batinnya.Namun, detik berikutnya, Reina memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, “Aku bukan lulusan sarjana dan juga tidak punya pengalaman menjadi seorang asisten. Bagaimana kalau nanti aku malah mempermalukanmu dan mengacaukan pekerjaanmu?”Hugo te
“Kalau aku tidak mau mematuhi semua aturan ini, apa yang akan kamu lakukan?” desis Reina dengan tatapan tajam yang berkilat penuh perlawanan.Hugo tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merunduk, memperkikis jarak hingga Reina bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di permukaan kulit wajahnya. Seringai berbahaya kembali muncul di bibir pria itu.“Sederhana saja,” bisik Hugo dengan suara bariton yang rendah dan mengintimidasi. “Kembalikan setiap sen yang sudah aku keluarkan untukmu. Tunai. Sekarang juga. Dan pastinya ….”Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Jemarinya bergerak menyusuri rahang gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, tetapi bagi Reina, sentuhan itu terasa duri yang menusuknya perlahan-lahan, menciptakan rasa takut yang menyiksa.“… kamu harus bersiap mencari rumah sakit yang bersedia menampung adikmu,” lanjut pria itu dengan suara tenang, tetapi penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan.Ucapannya jelas menyiratkan bahwa Axel tidak akan bisa mendapatkan pera
“Percuma saja kamu bersembunyi di balik tanganmu. Memangnya bisa mengubah fakta kalau kamu sangat menikmati permainan panas kita tadi, Gadis Nakal?”Sindiran pedas yang meluncur dari bibir Hugo lamgsung mengalihkan pikiran Reina. Perlahan gadis itu menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Panas di pipinya kini merambat hingga ke telinganya saat melihat senyum mengejek di wajah Hugo.Namun, Reina tidak membalas. Ia tidak ingin menambah kepuasan pria itu dalam mencemoohnya. Ia pun menyambar dokumen di atas seprai dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.“Dokumen apa ini?” gumam Reina saat matanya mulai menyapu deretan tulisan yang tercetak di atas lembaran dokumen yang ada di tangannya.Hugo tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan mendekati Reina dan mengunci gadis itu dengan menumpukan satu tangannya pada kepala ranjang, tepat di samping bahu gadis itu.“Ini adalah rincian aturan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku,” tera
Satu jam kemudian, ranjang king size di dalam suite mewah itu tampak berantakan seperti habis diterpa badai hebat. Selimut sutra yang semula licin dan rapi kini teronggok tak berdaya di lantai marmer, berserakan di antara helai-helai pakaian yang dilemparkan secara serampangan.Tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Reina menggeliat kecil di atas seprai yang kusut. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh sendi tubuhnya terasa kaku. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah pergumulan panas yang menguras seluruh tenaga dan emosinya.Di sudut ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi berhenti seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam.Manik mata hazel Reina terpaku pada siluet Hugo yang terpatri di balik kaca buram kamar mandi. “Dia benar-benar iblis,” geramnya pelan, disertai suara lenguhan kecil yang menahan perih.Sembari meregangkan punggungnya yang terasa pegal, ia menatap nanar jejak-jejak kemerahan yang menghiasi kulit putihnya.Bayangan ingatan saat Hugo menorehkan ta
"Aku tidak pernah bilang tidak suka," bisik Hugo. Suaranya kini terdengar diselimuti gairah yang terasa berbahaya.Embusan napasnya yang panas terasa membakar tengkuk leher Reina. Gadis itu memejamkan matanya dengan erat, berusaha menekan gejolak liar yang mulai membuncah di dalam dadanya. "Tapi, aku penasaran … apa kamu selalu mempraktikkannya dengan semua laki-laki yang kamu temui, Reina Wynn?” desis pria itu. Nada mencemoohnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga diri Reina.Bola mata hazel gadis itu telah membelalak besar, mendelik Hugo dengan tajam dan penuh amarah. Namun, pria itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.Sebaliknya, Hugo justru mengulas senyuman puas seolah sengaja memancing sisi emosional yang berusaha Reina sembunyikan di balik kepolosan yang ia tunjukkan.“Cukup, Hugo Veldric! Berhenti menghinaku!” hardik Reina dengan penuh emosi.Amarah yang sedari tadi terpendam akhirnya meledak tanpa bisa gadis itu hentikan. Ia tidak lagi peduli apabila uca
“Masuk,” titah Hugo seraya membuka lebar pintu kamar hotel setelah menempelkan sidik jarinya pada panel pemindai di samping pintu.Namun, Reina masih berdiri di depan kamar itu. Kakinya seakan terpaku di atas karpet mewah koridor hotel, enggan melangkah masuk ke dalam ruangan yang pernah menjadi saksi bisu pergumulan panasnya bersama pria itu dua hari lalu.Menyadari gadis itu tidak beranjak dari tempatnya, Hugo memutar tubuhnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis itu dengan sorot mata penuh intimidasi.“Kenapa diam? Kamu tiba-tiba lupa cara berjalan, atau sedang menunggu aku menggendongmu masuk?" sindir Hugo sembari menyandarkan punggungnya pada daun pintu.Reina mencebikkan bibirnya dengan jengah. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, ia pun memaksakan kakinya untuk melangkah masuk.Melihat kepatuhan penuh keterpaksaan itu, Hugo mendengus dingin, lalu menutup pintu kamar dan berjalan melewati gadis itu.“Aku tahu kamar ini membangkitkan kenangan malam pa







