Share

Bab 4

Author: AliceLin
last update Last Updated: 2025-12-31 17:06:29

Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.

Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.

‘Ini … ini di mana?’

Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─

Deg!

Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.

Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!

“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.

Tiba-tiba kilasan bayangan pergumulan liar yang dilakukannya semalam menghantam kepalanya.

“Ah, Hugo … ah!”

“Lebih cepat, Hugo …. Ah … ah … jangan berhenti … lagi … ah ….”

“Kamu hebat, Hugo … Aku suka … ah ….”

Spontan Reina membungkam mulutnya sendiri, tidak percaya jika dirinya akan mengerang dan mendesah dengan suara menggelikan seperti itu. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga!

Tidak heran jika suaranya hilang dan tenggorokannya sakit sekarang. Sepanjang malam ia tidak berhenti mengerang manja di bahwa kungkungan dan hujaman pria itu, mendesahkan nama asing sosok itu dari bibirnya.

Wajah Reina memerah seketika saat mengingat momen “pusaka besar” yang mencoba menerobos miliknya.

“Astaga!” Reina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menghentikan pikiran liarnya itu.

‘Reina Wynn, otakmu sudah menyeberang ke mana?!’ hardik gadis itu kepada dirinya sendiri.

Ia meremas rambutnya dengan frustrasi.  ‘Haish! Ini gara-gara kamu ikut saran gila Cinthia, sih?!’

Namun, Reina tahu jika ia tidak dapat menyalahkan sahabatnya sepenuhnya. Emosinya semalam terlalu meledak, ditambah  lagi ia juga terlalu mabuk sehingga tidak dapat berpikir jernih dan akhirnya mengambil tindakan paling impulsif di dalam hidupnya.

Meskipun kesal dengan ketidakwarasannya ini, tetapi Reina tidak dapat menyangkal betapa dirinya menikmati permainan panasnya dengan pria bernama Hugo itu.

Pria itu begitu lihai memimpin permainan liar mereka, mendominasi tubuhnya hingga membuat Reina terus meminta pria itu agar tidak berhenti menghujamnya.

Akibatnya, sekujur tubuhnya saat ini terasa luluh lantak. Membangkitkan tubuhnya untuk duduk saja, Reina merasa seperti wanita jompo.

Entah berapa kali mereka telah melakukan pelepasan semalam. Ia tidak ingat dan tidak mau mengingatnya!

‘Ke mana si tarzan sialan itu?’ geram Reina sembari memegang pinggangnya yang terasa sakit seperti dihantam truk tronton.

Hugo tidak terlihat di mana pun hingga suara gemericik air di balik pintu kaca memberikan jawaban yang ia inginkan.

Hugo sedang mandi.

Reina menelan salivanya dengan kasar, lalu terbesit keputusannya untuk segera pergi dari kamar itu sebelum pria itu keluar.

Meskipun semalam ia memang berniat menggoda pria itu agar menjadi kekasihnya, tetapi semua terjadi  di luar kesadarannya dan didorong oleh rasa sakit hatinya.

Dan, sekarang … ia sangat sadar. Mana mungkin ia punya muka untuk bertemu dengan pria itu!

Apa yang harus ia katakan jika pria itu mempertanyakan tujuannya menggodanya? Dan lagi, pria itu pasti akan mencemooh dan merendahkannya karena begitu mudah menyerahkan tubuhnya seperti wanita jalang.

Suara aliran air dari balik pintu kaca mendadak lenyap. Reina segera tersadar dan bergegas turun dari ranjang. Namun, gerakannya terhenti sejenak karena area intimnya terasa berdenyut.

“Ah, sial … kenapa sakit sekali?” desis Reina, meringis.

Reina menggigit bibirnya erat-erat. Ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan rasa sakitnya lebih lama lagi.

Dengan cepat Reina memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Untunglah pakaiannya masih utuh, Meskipun salah satu sepatu hak tingginya tidak ditemukan, ia tidak lagi peduli dan berjalan keluar tanpa alas kaki.

Pintu kamar mandi dibuka tepat saat Reina berhasil menyelinap keluar. Hugo melangkah dengan handuk melilit pinggangnya. Tetesan air di ujung rambutnya menetes hingga ke tulang selangkanya yang perlahan menyusuri otot-otot sixpack-nya.

Gerakan tangan Hugo yang sedang mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil seketika terhenti saat matanya menangkap udara kosong di atas ranjang panasnya semalam.

Sorot matanya berkilat tajam. ‘Gadis liar itu … kabur?’

Hugo menyibakkan selimut di atas ranjang, berharap ada pesan yang ditinggalkan perempuan yang telah merengut benihnya semalam. Namun, tidak ada satu pun yang tertinggal selain bercak darah yang tampak seperti kelopak bunga yang tercerai berai.

Hugo terdiam sesaat. ‘Jadi … dia masih perawan?’

Salah satu alis tebalnya terangkat tajam. Kerutan muncul di dahinya ketika ingatan tentang perjuangannya menembus dinding keperawanan gadis itu melintas kembali.

Dalam rengkuhannya, gadis itu menggeliat resah dan kesakitan, tetapi suara manjanya yang terus memintanya untuk tidak berhenti membuat semangat Hugo terus terbakar dan memasukkan miliknya semakin dalam.

Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil. Ada rasa puas dan kebanggaan yang sulit ia jelaskan.

Namun, kekesalannya muncul saat menyadari bahwa dirinya baru saja dicampakkan oleh wanita yang tidak ia ketahui namanya itu.

‘Apa rusa kecil itu pikir … aku akan memburunya kalau dia kabur seperti ini?’

Hugo mendengus, tidak berminat sedikit pun untuk mengikuti alur permainan tarik ulur yang biasa para kaum hawa lakukan untuk menarik perhatiannya.

Ia pun menyentakkan selimut di tangannya, tetapi manik mata hitamnya tiba-tiba menangkap kilauan kecil yang terselip di bawah bantal.

Hugo mengangkat bantal itu dan menemukan kilauan yang berasal dari sebuah kalung rantai halus yang tertinggal di sana.

Hugo meraih kalung tersebut, mengangkatnya di udara. Perlahan netra hitamnya menyipit tajam dan bergerak turun, menatap liontin berbentuk mahkota yang terbuat dari titanium yang terlihat kusam.

Namun, dari detailnya saja jelas liontin itu bukanlah barang murahan. Di bagian belakang liontin mahkota itu terukir satu kata.

Reina.

Napas Hugo sempat tertahan. Tanpa membuang waktu, ia meraih ponselnya di atas nakas dengan satu tangan menggenggam erat kalung tersebut.  Jemarinya bergerak cepat, menekan salah satu nomor kontak di dalam gawainya.

Setelah panggilan tersambung, suara tegasnya mendadak berubah dingin dan tak terbantahkan. “Segera lacak wanita yang keluar dari suite-ku pagi ini. Serahkan semua informasinya dalam waktu tiga puluh menit!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 8

    “Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”Ucapan Reina sek

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 7

    Seringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?Akan tetapi,

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 6

    “Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.Sejak awal mengirim

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 5

    Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 4

    Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.‘Ini … ini di mana?’Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─Deg!Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.Tiba-tiba kilasan bayangan perg

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 3

    “Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status