Share

Bab 2

Author: AliceLin
last update Last Updated: 2025-12-31 17:05:50

“Ups!”

Reina spontan menutup mulutnya dengan satu tangan. Mata hazelnya membesar, memandangi whiskey yang kini mengalir turun di kemeja mahal pria itu.

Tatapan tajam pria itu menghujamnya, tetapi gadis itu tidak tampak tertekan—lebih tepatnya, ia sama sekali tidak peduli.

Sebelum pria itu sempat meluapkan amarahnya, Reina sudah menyela dengan wajah polos penuh rasa bersalah. “Maaf … aku tidak sengaja, Tuan,” cicitnya lirih.

Pria itu melongo tak percaya, sementara Reina diam-diam tersenyum smirk. Semua orang yang melihat pasti tahu gadis itu sengaja menyiram whiskey ke tubuhnya.

Namun, Reina lagi-lagi tidak peduli. Alkohol membuat batasan-batasannya kabur dan keberaniannya berlipat. Ia melangkah mendekat hingga hampir tidak ada ruang tersisa di antara mereka.

“Sini kubersihkan,” ujar Reina, langsung meraih sapu tangan dari saku jas pria itu tanpa izin.

Pria itu pun tidak dapat menoleransi lagi perbuatan Reina. Tangannya bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Reina dan dalam sekejap gerakan usapan tangan gadis itu terhenti.

“Cukup,” desis pria itu dengan tajam.

Reina pun mendongak. Mata hazelnya mengerjap polos.

“Apa Anda sadar dengan Anda lakukan sekarang, Nona?” Suara datar nan dingin pria itu membuat Reina mengerutkan keningnya.

Tatapan Reina pun turun pada kemeja pria itu yang kini dipenuhi noda yang merata ke segala arah karena usapannya yang tidak beraturan tadi. Namun, gadis itu malah tertawa kecil.

“Maaf, aku malah buat bajumu makin kotor,” selorohnya, tanpa sedikit pun rasa menyesal.

Rahang pria itu telah mengeras. Ia pun menyentakkan tangan Reina dengan kasar, berniat pergi daripada meladeni gadis mabuk itu.

Akan tetapi, Reina bergegas menghalanginya, menahan lengan kokohnya. “Hei, tunggu dulu. Aku sudah merusak bajumu. Apa kamu tidak mau aku menggantinya?”

Pria itu menatap tangan kecil yang berani menyentuhnya, lalu pandangannya beralih ke wajah Reina yang terlihat seperti tomat merah yang ranum.

Sebelum pria itu sempat berbicara, suara Reina yang mendayu manja telah menyela lebih dulu, “Tapi, berikan dulu nomor teleponmu. Bagaimana?”

Alkohol yang menghangatkan kepalanya membuat fokus Reina agak goyah, tetapi bukan berarti ia tidak tahu apa yang ia lakukan.

Tindakan Reina menyiramkan whiskey kepada pria itu memang disengaja. Ia ingin menarik perhatian pria itu dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan nomor kontaknya. Dengan begitu, ia bisa menjalin hubungan lebih dekat dengannya.

Ya, Reina ingin menggodanya!

Seperti yang disarankan Cinthia tadi, ia ingin menjadikan pria itu sebagai kekasihnya untuk membalas rasa sakit hati dan pengkhianatan yang diterimanya hari ini.

Dengan menggoda paman Kelvin—adik Rebecca yang berkuasa dan memiliki pengaruh lebih besar daripada keluarga Rowen—Reina ingin membuktikan kepada Kelvin dan ibunya bahwa ia mampu menggaet pria yang jauh di atas kelas mereka.

Bukankah ini balas dendam yang sempurna?

Akan tetapi, semua angan Reina sirna dalam sekejap.

Alih-alih memenuhi tawaran Reina, pria itu malah menepis kasar tangannya, membuat gadis itu terhuyung setengah langkah sebelum berhasil menyeimbangkan diri.

“Berhenti mendekatiku,” Pria itu menatap Reina dengan sorot mata penuh peringatan dan menegaskan, “Aku tidak tertarik dengan gadis kecil.”

Tanpa menunggu tanggapan Reina, pria itu langsung berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat.

‘Dia bilang apa? Gadis kecil katanya?’ Reina mendengus di dalam hati. Harga dirinya terasa ditantang. ‘Biar kuperlihatkan seperti apa kehebatan seorang gadis kecil padamu, Paman!’

Dengan kepala yang terasa ringan, Reina mengikutinya dengan langkah sempoyongan, berjalan hingga keluar dari aula.

Namun, langkah pria itu terlalu cepat. Reina nyaris kehilangan jejaknya. Namun, sudut bibirnya terangkat puas saat melihat sosok targetnya berbelok masuk ke dalam lift.

Reina mempercepat langkahnya dengan susah payah. “Tunggu!” serunya, menahan pintu lift yang hampir tertutup.

Gerakan tangan pria itu yang tengah melonggarkan dasi di lehernya mendadak terhenti. Manik mata gelap pria itu langsung menyoroti Reina dengan tajam dan penuh intimidasi.

“Turun,” titah pria itu dengan dingin.

Alih-alih menurut, Reina malah menyeringai angkuh dan menantang. Ia langsung melengos masuk, lalu menekan tombol pada panel lift sehingga pintu tertutup sempurna di belakangnya.

Pria itu terperangah selama tiga detik sebelum akhirnya ia berhasil menguasai rasa kagetnya. “Katakan … Apa yang kamu inginkan sebenarnya?” desisnya dengan napas yang terlihat memburu.

Bukan udara di dalam lift ataupun keberadaan gadis itu yang membuatnya tertekan, tetapi sesuatu di dalam dirinya tengah bergejolak dan membakar sekujur tubuhnya.

Sejak beberapa menit terakhir, ada sensasi panas yang menyebar dari dalam tubuhnya, merambat hingga ke tengkuk dan membuat pikirannya sulit untuk dikendalikan. Pria itu menyadari kondisinya.

Ada seseorang yang ingin menjebaknya dengan mencampur minumannya dengan zat sejenis afrodisiak. Meski ia tidak tahu siapa pelakunya, tetapi gadis di hadapannya ini telah menjadi tersangka utamanya saat ini.

Tiba-tiba pria itu menjatuhkan jas di tangannya, lalu bergerak maju. Jarinya menekan tombol lift lantai teratas sehingga lift pun bergerak naik.

Reina terkejut. Tubuhnya spontan bergerak mundur hingga punggungnya menempel pada dinding lift yang dingin. Napasnya tercekat ketika kedua tangan pria itu terangkat dan bertumpu pada dinding di sisi kepalanya, memerangkapnya seperti seekor rusa kecil yang tersudutkan.

Namun, gadis itu tidak merasa takut sedikit pun. Ia malah tersenyum puas dan berkata dengan nada mengejek, “Kenapa? Sekarang kamu baru merasa gadis kecil ini menarik, huh?”

Pupil mata pria itu menyempit seperti binatang buas yang menahan diri agar tidak kehilangan kendali. Napasnya terasa semakin berat. Jarak mereka terlalu dekat; Reina bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh pria itu.

Namun, sebelum ia mampu mencerna kondisi pria itu, suara serak yang rendah telah memenuhi telinganya, “Katakan … siapa … yang … sudah … menyuruhmu?”

Pria itu sengaja menekankan satu per satu kata untuk menunjukkan ketegasannya. Akan tetapi, Reina hanya memiringkan kepalanya, menatap pria itu dengan binar mata polos yang seakan ingin menguji kesabarannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 41

    Hugo menghentikan langkahnya seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Reina dengan tatapan tak percaya. Tawa rendahnya pun pecah dan menggema di dalam kamar itu.“Housekeeping?” ulangnya, seakan kata itu adalah lelucon paling konyol yang pernah didengarnya.Reina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kamu masih ingat kan kalau aku memang mengajukan lamaran itu?”Hugo mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk malas. "Tapi, apa otakmu tidak bermasalah? Kamu lebih memilih menjadi housekeeping daripada menjadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini, hm?”Reina berdecih pelan di dalam hati, ‘Justru karena otakku masih waras, makanya aku memilih ini. Memangnya kamu pikir bisa membodohiku?’ batinnya.Namun, detik berikutnya, Reina memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, “Aku bukan lulusan sarjana dan juga tidak punya pengalaman menjadi seorang asisten. Bagaimana kalau nanti aku malah mempermalukanmu dan mengacaukan pekerjaanmu?”Hugo te

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 40

    “Kalau aku tidak mau mematuhi semua aturan ini, apa yang akan kamu lakukan?” desis Reina dengan tatapan tajam yang berkilat penuh perlawanan.Hugo tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merunduk, memperkikis jarak hingga Reina bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di permukaan kulit wajahnya. Seringai berbahaya kembali muncul di bibir pria itu.“Sederhana saja,” bisik Hugo dengan suara bariton yang rendah dan mengintimidasi. “Kembalikan setiap sen yang sudah aku keluarkan untukmu. Tunai. Sekarang juga. Dan pastinya ….”Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Jemarinya bergerak menyusuri rahang gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, tetapi bagi Reina, sentuhan itu terasa duri yang menusuknya perlahan-lahan, menciptakan rasa takut yang menyiksa.“… kamu harus bersiap mencari rumah sakit yang bersedia menampung adikmu,” lanjut pria itu dengan suara tenang, tetapi penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan.Ucapannya jelas menyiratkan bahwa Axel tidak akan bisa mendapatkan pera

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 39

    “Percuma saja kamu bersembunyi di balik tanganmu. Memangnya bisa mengubah fakta kalau kamu sangat menikmati permainan panas kita tadi, Gadis Nakal?”Sindiran pedas yang meluncur dari bibir Hugo lamgsung mengalihkan pikiran Reina. Perlahan gadis itu menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Panas di pipinya kini merambat hingga ke telinganya saat melihat senyum mengejek di wajah Hugo.Namun, Reina tidak membalas. Ia tidak ingin menambah kepuasan pria itu dalam mencemoohnya. Ia pun menyambar dokumen di atas seprai dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.“Dokumen apa ini?” gumam Reina saat matanya mulai menyapu deretan tulisan yang tercetak di atas lembaran dokumen yang ada di tangannya.Hugo tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan mendekati Reina dan mengunci gadis itu dengan menumpukan satu tangannya pada kepala ranjang, tepat di samping bahu gadis itu.“Ini adalah rincian aturan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku,” tera

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 38

    Satu jam kemudian, ranjang king size di dalam suite mewah itu tampak berantakan seperti habis diterpa badai hebat. Selimut sutra yang semula licin dan rapi kini teronggok tak berdaya di lantai marmer, berserakan di antara helai-helai pakaian yang dilemparkan secara serampangan.Tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Reina menggeliat kecil di atas seprai yang kusut. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh sendi tubuhnya terasa kaku. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah pergumulan panas yang menguras seluruh tenaga dan emosinya.Di sudut ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi berhenti seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam.Manik mata hazel Reina terpaku pada siluet Hugo yang terpatri di balik kaca buram kamar mandi. “Dia benar-benar iblis,” geramnya pelan, disertai suara lenguhan kecil yang menahan perih.Sembari meregangkan punggungnya yang terasa pegal, ia menatap nanar jejak-jejak kemerahan yang menghiasi kulit putihnya.Bayangan ingatan saat Hugo menorehkan ta

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 37

    "Aku tidak pernah bilang tidak suka," bisik Hugo. Suaranya kini terdengar diselimuti gairah yang terasa berbahaya.Embusan napasnya yang panas terasa membakar tengkuk leher Reina. Gadis itu memejamkan matanya dengan erat, berusaha menekan gejolak liar yang mulai membuncah di dalam dadanya. "Tapi, aku penasaran … apa kamu selalu mempraktikkannya dengan semua laki-laki yang kamu temui, Reina Wynn?” desis pria itu. Nada mencemoohnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga diri Reina.Bola mata hazel gadis itu telah membelalak besar, mendelik Hugo dengan tajam dan penuh amarah. Namun, pria itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.Sebaliknya, Hugo justru mengulas senyuman puas seolah sengaja memancing sisi emosional yang berusaha Reina sembunyikan di balik kepolosan yang ia tunjukkan.“Cukup, Hugo Veldric! Berhenti menghinaku!” hardik Reina dengan penuh emosi.Amarah yang sedari tadi terpendam akhirnya meledak tanpa bisa gadis itu hentikan. Ia tidak lagi peduli apabila uca

  • Kesalahan Satu Malam: Jangan Berhenti, Tuan Veldric!   Bab 36

    “Masuk,” titah Hugo seraya membuka lebar pintu kamar hotel setelah menempelkan sidik jarinya pada panel pemindai di samping pintu.Namun, Reina masih berdiri di depan kamar itu. Kakinya seakan terpaku di atas karpet mewah koridor hotel, enggan melangkah masuk ke dalam ruangan yang pernah menjadi saksi bisu pergumulan panasnya bersama pria itu dua hari lalu.Menyadari gadis itu tidak beranjak dari tempatnya, Hugo memutar tubuhnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis itu dengan sorot mata penuh intimidasi.“Kenapa diam? Kamu tiba-tiba lupa cara berjalan, atau sedang menunggu aku menggendongmu masuk?" sindir Hugo sembari menyandarkan punggungnya pada daun pintu.Reina mencebikkan bibirnya dengan jengah. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, ia pun memaksakan kakinya untuk melangkah masuk.Melihat kepatuhan penuh keterpaksaan itu, Hugo mendengus dingin, lalu menutup pintu kamar dan berjalan melewati gadis itu.“Aku tahu kamar ini membangkitkan kenangan malam pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status