Masuk“Ups!”
Reina spontan menutup mulutnya dengan satu tangan. Mata hazelnya membesar, memandangi whiskey yang kini mengalir turun di kemeja mahal pria itu.
Tatapan tajam pria itu menghujamnya, tetapi gadis itu tidak tampak tertekan—lebih tepatnya, ia sama sekali tidak peduli.
Sebelum pria itu sempat meluapkan amarahnya, Reina sudah menyela dengan wajah polos penuh rasa bersalah. “Maaf … aku tidak sengaja, Tuan,” cicitnya lirih.
Pria itu melongo tak percaya, sementara Reina diam-diam tersenyum smirk. Semua orang yang melihat pasti tahu gadis itu sengaja menyiram whiskey ke tubuhnya.
Namun, Reina lagi-lagi tidak peduli. Alkohol membuat batasan-batasannya kabur dan keberaniannya berlipat. Ia melangkah mendekat hingga hampir tidak ada ruang tersisa di antara mereka.
“Sini kubersihkan,” ujar Reina, langsung meraih sapu tangan dari saku jas pria itu tanpa izin.
Pria itu pun tidak dapat menoleransi lagi perbuatan Reina. Tangannya bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Reina dan dalam sekejap gerakan usapan tangan gadis itu terhenti.
“Cukup,” desis pria itu dengan tajam.
Reina pun mendongak. Mata hazelnya mengerjap polos.
“Apa Anda sadar dengan Anda lakukan sekarang, Nona?” Suara datar nan dingin pria itu membuat Reina mengerutkan keningnya.
Tatapan Reina pun turun pada kemeja pria itu yang kini dipenuhi noda yang merata ke segala arah karena usapannya yang tidak beraturan tadi. Namun, gadis itu malah tertawa kecil.
“Maaf, aku malah buat bajumu makin kotor,” selorohnya, tanpa sedikit pun rasa menyesal.
Rahang pria itu telah mengeras. Ia pun menyentakkan tangan Reina dengan kasar, berniat pergi daripada meladeni gadis mabuk itu.
Akan tetapi, Reina bergegas menghalanginya, menahan lengan kokohnya. “Hei, tunggu dulu. Aku sudah merusak bajumu. Apa kamu tidak mau aku menggantinya?”
Pria itu menatap tangan kecil yang berani menyentuhnya, lalu pandangannya beralih ke wajah Reina yang terlihat seperti tomat merah yang ranum.
Sebelum pria itu sempat berbicara, suara Reina yang mendayu manja telah menyela lebih dulu, “Tapi, berikan dulu nomor teleponmu. Bagaimana?”
Alkohol yang menghangatkan kepalanya membuat fokus Reina agak goyah, tetapi bukan berarti ia tidak tahu apa yang ia lakukan.
Tindakan Reina menyiramkan whiskey kepada pria itu memang disengaja. Ia ingin menarik perhatian pria itu dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan nomor kontaknya. Dengan begitu, ia bisa menjalin hubungan lebih dekat dengannya.
Ya, Reina ingin menggodanya!
Seperti yang disarankan Cinthia tadi, ia ingin menjadikan pria itu sebagai kekasihnya untuk membalas rasa sakit hati dan pengkhianatan yang diterimanya hari ini.
Dengan menggoda paman Kelvin—adik Rebecca yang berkuasa dan memiliki pengaruh lebih besar daripada keluarga Rowen—Reina ingin membuktikan kepada Kelvin dan ibunya bahwa ia mampu menggaet pria yang jauh di atas kelas mereka.
Bukankah ini balas dendam yang sempurna?
Akan tetapi, semua angan Reina sirna dalam sekejap.
Alih-alih memenuhi tawaran Reina, pria itu malah menepis kasar tangannya, membuat gadis itu terhuyung setengah langkah sebelum berhasil menyeimbangkan diri.
“Berhenti mendekatiku,” Pria itu menatap Reina dengan sorot mata penuh peringatan dan menegaskan, “Aku tidak tertarik dengan gadis kecil.”
Tanpa menunggu tanggapan Reina, pria itu langsung berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat.
‘Dia bilang apa? Gadis kecil katanya?’ Reina mendengus di dalam hati. Harga dirinya terasa ditantang. ‘Biar kuperlihatkan seperti apa kehebatan seorang gadis kecil padamu, Paman!’
Dengan kepala yang terasa ringan, Reina mengikutinya dengan langkah sempoyongan, berjalan hingga keluar dari aula.
Namun, langkah pria itu terlalu cepat. Reina nyaris kehilangan jejaknya. Namun, sudut bibirnya terangkat puas saat melihat sosok targetnya berbelok masuk ke dalam lift.
Reina mempercepat langkahnya dengan susah payah. “Tunggu!” serunya, menahan pintu lift yang hampir tertutup.
Gerakan tangan pria itu yang tengah melonggarkan dasi di lehernya mendadak terhenti. Manik mata gelap pria itu langsung menyoroti Reina dengan tajam dan penuh intimidasi.
“Turun,” titah pria itu dengan dingin.
Alih-alih menurut, Reina malah menyeringai angkuh dan menantang. Ia langsung melengos masuk, lalu menekan tombol pada panel lift sehingga pintu tertutup sempurna di belakangnya.
Pria itu terperangah selama tiga detik sebelum akhirnya ia berhasil menguasai rasa kagetnya. “Katakan … Apa yang kamu inginkan sebenarnya?” desisnya dengan napas yang terlihat memburu.
Bukan udara di dalam lift ataupun keberadaan gadis itu yang membuatnya tertekan, tetapi sesuatu di dalam dirinya tengah bergejolak dan membakar sekujur tubuhnya.
Sejak beberapa menit terakhir, ada sensasi panas yang menyebar dari dalam tubuhnya, merambat hingga ke tengkuk dan membuat pikirannya sulit untuk dikendalikan. Pria itu menyadari kondisinya.
Ada seseorang yang ingin menjebaknya dengan mencampur minumannya dengan zat sejenis afrodisiak. Meski ia tidak tahu siapa pelakunya, tetapi gadis di hadapannya ini telah menjadi tersangka utamanya saat ini.
Tiba-tiba pria itu menjatuhkan jas di tangannya, lalu bergerak maju. Jarinya menekan tombol lift lantai teratas sehingga lift pun bergerak naik.
Reina terkejut. Tubuhnya spontan bergerak mundur hingga punggungnya menempel pada dinding lift yang dingin. Napasnya tercekat ketika kedua tangan pria itu terangkat dan bertumpu pada dinding di sisi kepalanya, memerangkapnya seperti seekor rusa kecil yang tersudutkan.
Namun, gadis itu tidak merasa takut sedikit pun. Ia malah tersenyum puas dan berkata dengan nada mengejek, “Kenapa? Sekarang kamu baru merasa gadis kecil ini menarik, huh?”
Pupil mata pria itu menyempit seperti binatang buas yang menahan diri agar tidak kehilangan kendali. Napasnya terasa semakin berat. Jarak mereka terlalu dekat; Reina bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh pria itu.
Namun, sebelum ia mampu mencerna kondisi pria itu, suara serak yang rendah telah memenuhi telinganya, “Katakan … siapa … yang … sudah … menyuruhmu?”
Pria itu sengaja menekankan satu per satu kata untuk menunjukkan ketegasannya. Akan tetapi, Reina hanya memiringkan kepalanya, menatap pria itu dengan binar mata polos yang seakan ingin menguji kesabarannya.
“Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”Ucapan Reina sek
Seringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?Akan tetapi,
“Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.Sejak awal mengirim
Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya
Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.‘Ini … ini di mana?’Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─Deg!Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.Tiba-tiba kilasan bayangan perg
“Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum y







