Share

Ah Sena

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-07-29 23:11:29

Dengan senang Elsa menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Sena. Dia mulai melepas pakaiannya sendiri satu per satu hingga tak sehelai benang pun menempel di tubuhnya.

Elsa lalu berbaring di samping Sena, dia menatap Sena dengan sorot mata penuh cinta dan kepasrahan.

​"Sena, aku sudah siap. Lakukan apapun yang kamu mau," bisik Elsa dengan suara serak.

​Sena tidak membuang waktu untuk basa-basi atau melakukan foreplay. Tenaga dalamnya terkuras habis dan luka dalam akibat hantaman energi hit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Dia Kenapa Selalu Di Gubuk Kamu?

    ​Di dalam gubuk, kini hanya tersisa Sena dan Bidan Irma.​Suasana mendadak berganti menjadi canggung, ​Bidan Irma berdiri di dekat meja kayu, jari lentiknya meremas tepi map denah Puskesmas Terpadu yang dibawanya. Pipi ayunya merona merah. Tatapan matanya yang syahdu tertuju lurus pada Sena, mengagumi kepemimpinan dan kebesaran hati pemuda di hadapannya itu.​"Sena..." bisik Bidan Irma dengan suara halus yang agak bergetar. "Dokter Tirta yang lulusan kota dan tadinya begitu sombong... sampai bisa menunduk dan berguru padamu malam ini. Kamu benar-benar luar biasa."​Sena melangkah mendekat. Setiap tapak kakinya membuat jantung Bidan Irma berdegup semakin kencang.​"Ini semua berkat niat baik kita untuk warga, Irma," jawab Sena lembut. Matanya yang tajam menatap wajah Bidan Irma yang tampak agak letih namun tetap memancarkan keindahan alami. "Tapi... sepertinya kamu sendiri yang sedang kurang fit malam ini. Napasmu agak berat dan aura di pelipismu tampak tegang."​Bidan Irma menghela n

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Terima Kasih Sena

    ​"Keputusan sudah bulat!" seru Camat Heru dengan suara beratnya yang lantang, disambut tatapan antusias seluruh warga dan jajaran staf desa yang hadir. "Melihat sendiri keajaiban ilmu pengobatan Sena dan bagaimana ide bijaknya untuk merangkul fasilitas desa, saya selaku Camat menyetujui anggaran perombakan total Klinik Desa!"​Camat Heru berpaling menatap Kepala Desa dan Bidan Irma yang berdiri berdampingan. "Pak Kades, Bidan Irma... persiapkan berkasnya hari ini juga. Kita ubah Klinik Desa yang sederhana itu menjadi Puskesmas Terpadu Desa. Kita bangun fasilitas ruang rawat inap, ruang bersalin yang memadai, laboratorium medis, serta apotek khusus yang menyediakan obat modern sekaligus racikan herbal milik Sena!"​Tepuk tangan riuh dan sorak-sorai bahagia seketika memecah suasana pendopo Balai Desa. Pak Sabar yang baru saja sembuh dari kelumpuhan kakinya tampak menangis haru seraya memeluk istrinya.​Nyonya Widya dan Nyonya Sarah yang berdiri di barisan depan saling melemparkan senyum

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Ide Cemerlang Sena

    Sena mengambil botol kaca berisi minyak herbal racikannya, meneteskannya ke telapak tangan, lalu membalurnya secara merata di sepanjang betis hingga pergelangan kaki Pak Sabar yang membengkak kehitaman. Aroma harum rempah dan kesegaran pegunungan langsung menyeruak di sekitar pendopo Balai Desa, menenangkan warga yang menyimak dengan tegang.​Dr. Tirta memajukan badannya, membetulkan kacamata seraya tersenyum tipis. "Minyak herbal cuma bisa memberikan efek hangat di permukaan kulit, Saudara Sena. Itu tidak akan bisa menembus jaringan mikrovaskular yang sudah nekrosis."​Sena tidak membalas ucapan sang dokter. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada keselamatan Pak Sabar. Dengan gerakan tangan yang begitu tenang dan mantap, Sena mengambil lima bilah jarum perak berukuran khusus dari dalam tas kulitnya.​Srett... Tuk!​Jarum perak pertama menancap presisi di titik Zusanli (di bawah tempurung lutut). Jarum kedua dan ketiga menyusul kilat di titik Sanyinjiao dan Taichong di pergelangan kaki. Ja

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Uji Kekuatan

    Belum sempat Ayu merapikan kancing bajunya, pintu terdorong dari luar. Nyonya Widya melangkah masuk dengan anggun. ​Namun, langkah Nyonya Widya mendadak terhenti. Matanya yang tajam memicing saat mendapati Ayu berdiri sangat dekat di samping Sena.​Tatapan janda kaya itu tertuju pada wajah Ayu. Ada pendar keayuan yang luar biasa terpancar dari kulit gadis desa itu, pipi yang merona, mata yang berbinar jernih, dan aura kesegaran yang sangat khas. Nyonya Widya mengenali pendar energi itu, pendar yang sama yang selalu ia rasakan setiap kali usai menerima sentuhan magic dan terapi Hawa Murni dari Sena.​"Eh... Nyonya Widya?" sapa Ayu gugup, refleks melangkah mundur setengah langkah seraya menundukkan kepala.​Nyonya Widya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna persaingan. Ia berjalan mendekat dengan keanggunan seorang wanita berkelas, membuat lantai kayu gubuk mengeluar bunyi berderit halus.​"Ayu... rupanya kamu ada di sini juga pagi-pagi begini," pukas Nyonya Widya dengan na

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Ayu Cemburu

    Keesokan harinya, berita tentang Sena dan Bidan Irma yang menyelamatkan Pak RW di pos ronda menjadi buah bibir di seluruh penjuru desa. Warga berkumpul di warung-warung kopi, mengagumi kecepatan dan keajaiban racikan serta jarum perak milik Sena.​Namun bagi Ayu, kabar itu justru menghantam hatinya bagai petir di siang bolong. Bukan tentang kehebatan Sena yang ia pikirkan, melainkan fakta bahwa Bidan Irma berada di dalam gubuk kayu Sena pada jam sebelas malam.​Pagi itu, langkah kaki Ayu terasa berat saat mengantar rantang sarapan ke rumah Sena. Wajahnya yang biasanya cerah dan penuh ukiran senyum kini mendung. Matanya sembab, menandakan ada tangis tersembunyi yang ia tahan sejak bangun tidur.​Saat pintu gubuk terbuka, Sena yang sedang menyapu teras langsung menyadari perubahan raut wajah wanita polos itu.​"Ayu?" sapa Sena lembut, menaruh sapunya. "Kok mukanya ditekuk begitu? Ada masalah di toko?"​Ayu tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, meletakkan rantang kayu di atas meja

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sungguh Luar Biasa

    "S-Sena! Bagaimana ini?!" bisik Irma setengah panik seraya terburu-buru mengenakan gaun sutra merah marunnya. Tangannya gemetar hebat saat berusaha mengikat tali gaun di punggungnya. "Kalau ada warga yang tahu aku ada di dalam gubukmu jam sebelas malam tanpa pakaian... hancur namaku sebagai bidan desa!"​Sena tetap bersikap sangat tenang. Tanpa tergesa-gesa, ia turun dari ranjang kayu, merapikan pakaian hitam khasnya, lalu mengusap bahu Irma lembut untuk menenangkan wanita itu.​"Tenang, Irma. Jangan panik," bisik Sena dengan suara rendah yang menghipnotis. "Gunakan pintu belakang kalau kamu ragu. Tapi menurutku, dalam situasi darurat begini, warga tidak akan peduli kamu ada di mana. Mereka butuh pertolongan medis."​Sena berjalan menuju meja herbal, mengambil tas kulit berisi jarum perak dan minyak penenang saraf. Sementara itu, Irma berusaha menguasai diri. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, menarik napas dalam-dalam, lalu memancarkan kembali wibawanya sebagai seorang tenaga me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status