Share

Ide Cemerlang Sena

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-08-13 19:20:01

Sena mengambil botol kaca berisi minyak herbal racikannya, meneteskannya ke telapak tangan, lalu membalurnya secara merata di sepanjang betis hingga pergelangan kaki Pak Sabar yang membengkak kehitaman. Aroma harum rempah dan kesegaran pegunungan langsung menyeruak di sekitar pendopo Balai Desa, menenangkan warga yang menyimak dengan tegang.

​Dr. Tirta memajukan badannya, membetulkan kacamata seraya tersenyum tipis. "Minyak herbal cuma bisa memberikan efek hangat di permukaan kulit, Saudara Sen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Pembunuhan Berencana

    Sena tidak membuang waktu. Dengan gerakan jemari yang presisi, lima jarum perak menancap di titik-titik meridian vital di dada dan leher Pak Hendra. Pendar hangat Hawa Murni mengalir perlahan, melonggarkan edema laring yang mencekik pernapasan pria tua itu secara cepat. ​"Irma, tahan posisi kepala Pak Hendra! Ayu, cepat seduh racikan Akar Bangle dan Ekstrak Meniran dengan air hangat untuk membilas lambungnya!" perintah Sena sigap. ​Irma dan Ayu bergerak cepat tanpa ragu. Hanya dalam hitungan menit, napas Pak Hendra yang tadi tersengal berat perlahan menjadi teratur dan stabil. Warna kebiruan di bibirnya berganti merona segar. ​Setelah bahaya krisis berlalu, Sena menarik jarum-jarumnya dan menatap tajam ke arah dua botol obat di meja. Ia memandang pria bersetelan jas anak Pak Hendra yang masih mengusap keringat dingin. ​"Reaksi toksin Nitroso-kompleks dari racikan ini terlalu spesifik dan mematikan untuk disebut ketidaksengajaan," pukas Sena dingin. "Siapa yang meresepkan kombi

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Reaksi Ganda

    Dua minggu sejak insiden sabotase malam itu, progres pembangunan Puskesmas Terpadu sudah mencapai tiga puluh persen. Kerangka pondasi ruang rawat inap dan struktur lantai satu mulai berdiri gagah. Namun, karena pengerjaan fasilitas medis lengkap masih membutuhkan waktu dua bulan lagi, Sena dan Dr. Tirta tetap setia mengoperasikan posko pengobatan darurat di gubuk herbal Sena.​Karena nama Sena yang makin harum, posko darurat bertambah ramai setiap paginya. Deretan warga desa antri untuk mendapatkan penanganan medis maupun terapi herbal.​Di dalam ruangan gubuk yang tak seberapa luas itu, riuh suasana tak hanya datang dari para pasien, tetapi juga dari empat wanita cantik yang mendadak berkumpul untuk turun tangan membantu Sena.​"Permisi, Pak... silahkan duduk di sebelah sini dulu untuk pengecekan tekanan darah," ujar Bidan Irma anggun dengan seragam dinasnya. Jarinya yang terampil cekatan memasang tensimeter di lengan pasien. Sesekali matanya melirik ke arah Sena yang sedang memijat

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Dokter Adrian Kagum

    Sebulan telah berlalu, malam itu keheningan menyelimuti area kebun herbal warisan orang tua Sena yang membentang di pinggir hutan desa.​Di jalan setapak menuju kebun, Sena melangkah tenang dengan penerangan senter kecil. Di sampingnya, Dr. Tirta berjalan agak terengah-engah seraya membawa tas medisnya. Dokter muda itu memang sengaja meminta ikut karena penasaran ingin melihat secara langsung varietas tanaman herbal langka yang dirawat oleh Sena.​"Sena, jujur saja saya sangat kagum," ujar Dr. Tirta seraya menyapu keringat di dahinya. "Lahan herbal seluas ini berada di posisi yang sangat strategis. Kandungan mineral tanah pegunungan di sini pasti membuat zat aktif tanaman obatmu punya efikasi ganda dibanding tanaman biasa."​Sena menyunggingkan senyum tipis. "Tanah ini peninggalan almarhum orang tua saya, Dokter. Banyak tanaman herbal berharga di sini yang tidak bisa tumbuh di tempat lain."​Namun, langkah Sena mendadak terhenti saat mereka hampir mencapai gubuk penyimpanan bahan herb

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Dibangun

    ​Tatapan mata Elsa berbinar pasrah. Deru napasnya yang hangat membelai lembut kulit pipi Sena.Tangannya perlahan merayap naik ke dada tegap Sena, menuntut balasan atas kerinduan yang mendalam.​Sena menatap manik mata Elsa yang jernih. Ada gejolak gairah yang sempat memuncak di dalam dadanya, namun Sena menarik napas dalam-dalam, mengendalikan pusaran energi Hawa Murni di dalam tubuhnya agar tetap tenang dan stabil.​Dengan kelembutan yang luar biasa, Sena mengusap pelipis Elsa yang masih merona hangat, lalu mencabut tiga jarum perak dari bahu dan tengkuk Elsa satu per satu dengan presisi sempurna.​"Tidak sekarang, Elsa..." pukas Sena dengan suara rendah yang amat tenang dan penuh pesona.​Elsa sedikit terperanjat, matanya terkedip pelan. "Sena... kenapa?"​Sena tersenyum tipis seraya merapikan kembali selendang gaun Elsa hingga menutup pundak mulusnya. "Tubuhmu baru saja menerima penusukan jarum perak dan penyelarasan energi Hawa Murni. Pembuluh darah dan jalur meridianmu sedang be

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Aku Rindu

    Keesokan harinya, Elsa datang. ​Di tangannya, Elsa memegang sebuah map.​"Sena..." panggil Elsa dengan suara lembut seraya melangkah menuju teras gubuk.​Sena yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan kegiatannya. Matanya menatap Elsa dengan tatapan terkejut.​"Elsa? Katanya kamu sibuk di kota?" tanya Sena seraya menyambutnya.​Elsa menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa lelah, namun matanya memancarkan kepuasan. Ia menyerahkan map tebal itu tepat ke tangan Sena.​"Perjuanganku berhari-hari mengurus dokumen akhirnya selesai, Sena," pukas Elsa, nafasnya terdengar agak berat. "Buka map itu."​Sena membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran sertifikat resmi berstempel basah. Nama yang tertera di sana adalah nama lengkap Sena.​"Semua hakmu sudah kembali, Sena."​Sena menatap lembaran sertifikat itu dengan dada berdesir haru. Tanah orang tuanya yang luas di pinggir desa dan area kebun sawit kini resmi kembali ke tangannya secara sah.​"Elsa... aku tida

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Dia Kenapa Selalu Di Gubuk Kamu?

    ​Di dalam gubuk, kini hanya tersisa Sena dan Bidan Irma.​Suasana mendadak berganti menjadi canggung, ​Bidan Irma berdiri di dekat meja kayu, jari lentiknya meremas tepi map denah Puskesmas Terpadu yang dibawanya. Pipi ayunya merona merah. Tatapan matanya yang syahdu tertuju lurus pada Sena, mengagumi kepemimpinan dan kebesaran hati pemuda di hadapannya itu.​"Sena..." bisik Bidan Irma dengan suara halus yang agak bergetar. "Dokter Tirta yang lulusan kota dan tadinya begitu sombong... sampai bisa menunduk dan berguru padamu malam ini. Kamu benar-benar luar biasa."​Sena melangkah mendekat. Setiap tapak kakinya membuat jantung Bidan Irma berdegup semakin kencang.​"Ini semua berkat niat baik kita untuk warga, Irma," jawab Sena lembut. Matanya yang tajam menatap wajah Bidan Irma yang tampak agak letih namun tetap memancarkan keindahan alami. "Tapi... sepertinya kamu sendiri yang sedang kurang fit malam ini. Napasmu agak berat dan aura di pelipismu tampak tegang."​Bidan Irma menghela n

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status