Home / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 24 - Sebuah kenangan

Share

Bab 24 - Sebuah kenangan

Author: Pipin
last update Last Updated: 2025-12-21 16:14:01

"Maaf," kata Elian. Itu adalah kata yang sangat sulit ia ucapkan, tetapi ia harus melakukannya. "Aku datang."

Elian menunggu reaksi—kemarahan, air mata, atau setidaknya, pertanyaan mengapa ia mengabaikan pesan duka. Namun, Rinjani hanya melakukan satu hal. Rinjani tersenyum. Senyuman itu muncul di wajah Rinjani yang pucat, senyum yang sangat tulus dan lembut. Senyum yang tidak menuntut, tidak menyalahkan, tetapi penuh dengan kesedihan yang tak terkatakan. Senyum yang diciptakan untuk menyembunyikan luka yang baru saja ia rasakan.

"Tuan datang,terima kasih."

Rinjani seolah berkata,aku tahu kau mengabaikanku, aku tahu kau mengkhianatiku, tapi karena kau datang sekarang, semua kesalahanku terhapus.

Senyum pengorbanan itu menusuk Elian jauh lebih dalam daripada amarah. Rinjani menganggap kehadirannya di makam yang dingin ini sebagai 'janji' yang ditepati, menghapus hari-hari pengabaian brutal.

Elian merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia telah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 54 - Pemegang "tahta"

    Dian sedang berbaring malas di sofa beledu. Suasana tenang itu pecah saat Jessica, sahabat sosialitanya, melangkah masuk tanpa mengetuk pintu, membawa sepotong cokelat artisan mahal di tangannya.​"Dian, bangun! Tidur terus kerjaan kamu. Kamu dengar kabar nggak sih? Sepupu kamu, Elian, sekarang dimasukkan ke pusat rehabilitasi mental!" ucap Jessica dengan nada bicara yang penuh gosip.​Dian langsung terduduk tegak, matanya yang tadi mengantuk kini berkilat tajam. "Elian? Masuk pusat rehabilitasi? Wah, ini kesempatan emas buat aku!"​Dian tertawa sinis sambil merapikan rambutnya. "Ini waktunya aku masuk ke perusahaan itu dan mengambil alih kendali. Aku ini lulusan bisnis, punya pengalaman. Beda jauh sama istrinya yang kampungan itu. Aku yakin, si Rinjani itu bahkan nggak tahu apa itu spreadsheet atau laporan audit. Hahaha!"​Jessica menyesap minumannya, menatap Dian dengan ragu. "Kamu yakin? Bukannya hubungan kalian nggak begitu dekat? Walaupun Eli

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 53 -

    "Boy... aku harus apa? Bagaimana kalau Rinjani benar-benar kehilangan anak kami?" bisik Elian dengan suara parau yang bergetar hebat.​Boy hanya bisa terdiam, air matanya jatuh tak terbendung. Ia ingin menghibur, namun kenyataannya terlalu pahit untuk ditelan. Tak lama, pintu ruang tindakan terbuka. Dokter Zidan keluar dengan wajah yang menunjukkan duka mendalam.​"Janinnya... tidak bisa diselamatkan,pak Elian. Pendarahan hebat akibat tekanan mental yang ekstrem membuat dinding rahimnya meluruh," ucap Zidan dingin. "Secara fisik, Rinjani akan membaik dalam beberapa hari. Tapi secara mental? Saya tidak bisa menjamin apa pun. Luka ini akan memakan waktu sangat lama untuk sembuh."​Mendengar itu, Elian seperti kehilangan jiwanya. Ia bangkit dengan sempoyongan, dadanya terasa sesak seolah dihantam godam besar.​"Boy! Aku membunuh anakku sendiri! Aku yang membunuhnya!" teriak Elian histeris. Ia mulai memukul tembok rumah sakit dengan tangan kosong hingga buku jarinya pecah dan berdarah.​E

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 52 -

    "Rinjani, kamu terlihat lebih pucat. Apa mualmu semakin parah?" tanya Elian, suaranya parau khas orang baru bangun tidur, namun tangannya refleks menyentuh dahi Rinjani.​Rinjani memejamkan mata sejenak, menahan gejolak di perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk. Selama Elian terlelap tadi, Rinjani sudah bolak-balik ke kamar mandi, memuntahkan cairan kuning pahit sampai seluruh tubuhnya gemetar, tanpa ingin membangunkan suaminya.​"Elian, apa boleh aku mengajak Zidan ke sini saja? Aku benar-benar tidak kuat kalau harus keluar rumah," gumam Rinjani lirih.​"Aku bisa panggil dokter senior dari rumah sakit pusat, Rin. Tidak harus dia."​"Kenapa? Cemburu lagi?" Rinjani menatap Elian dengan tatapan memohon yang bercampur lelah. "Elian, please, tahan egomu kali ini saja. Aku lemas sekali. Ada Boy di rumah ini, aku tidak akan hanya berduaan dengan Zidan. Aku hanya merasa nyaman diperiksa oleh teman lamaku sendiri."​Elian tidak menjawab, namun

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 51 - Masa lalu yang tertutupi

    "Maya itu..." Boy menjeda kalimatnya, matanya menerawang ke langit-langit taman. "Gue pernah sedikit mengungkit masa lalunya ke Elian, sih. Tapi gue nggak begitu tahu detailnya. Lo tahu sendiri kan, Elian kadang suka lepas kendali kalau lagi banyak beban pikiran. Seingat gue, dia cuma cewek yang pernah Elian suka, itu aja. Mungkin lebih ke cinta pertama, tapi setelah itu Elian nggak pernah cerita apapun lagi. Gue soalnya kenal Elian itu pas sudah kuliah, sekitar sepuluh tahun lalu."​Rinjani mengangguk paham, namun rasa ingin tahunya tentang Boy justru meningkat. "Ceritakan tentang kamu dan keluarga Baskara sedikit, boleh? Gimana awalnya kamu bisa 'nyangkut' di hidup Elian?" goda Rinjani.​Boy tertawa renyah, kali ini tawanya terdengar penuh nostalgia. "Saat itu usia gue baru sembilan belas tahun, Rin. Gue baru masuk semester awal kuliah desain."​Flashback: 10 Tahun yang Lalu​Di depan gerbang besi menjulang tinggi milik kediaman utama Baskara, seoran

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 50 - Adik?

    "ELIAN! CINTA KU! MANA CINTA KU?!"​Sebuah lengkingan nyaring memecah ketenangan halaman depan rumah Baskara. Rinjani yang baru saja ingin bersantai di teras langsung berjengit kaget. Dari arah gerbang, muncul seorang pria dengan langkah yang... sangat gemulai, mengenakan setelan sutra motif bunga-bunga yang berkibar tertiup angin.​Begitu melihat Rinjani, sosok itu berhenti mendadak, menaruh kedua tangannya di pipi dengan ekspresi dramatis.​"Duh, Gusti! Istrinya Elian?!" teriaknya sambil berlari kecil ke arah Rinjani. Belum sempat Rinjani mencerna keadaan, pria itu sudah memeluknya dengan aroma parfum mawar yang sangat menyengat. "Duh, cintaku! Lo Rinjani, ya? Kenalkan, gw 'adik' kesayangannya Elian. Nama gw Boy, baru mendarat dari luar negeri demi kamu, Sayang! Elian pernah cerita nggak? Pasti pernah kan? Kita itu dekat banget, nempel kayak perangko!"​Rinjani melongo, matanya mengerjap bingung. "Adik? Elian punya adik? Benar?"​Tepat saat itu, pintu utama terbuka. Elian muncul den

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 49 - Perkara Pohon Mangga

    "Bukannya kamu harusnya dengan Dokter Agus, ya?" tanya Elian sambil menuntun Rinjani masuk ke area poli spesialis.​"Enggak, mulai hari ini, tiap bulan atau kalau ada masalah aku dengan Dokter Zidan," ucap Rinjani tenang sambil menunjukkan kartu kontrol barunya."Dokter Agus sedang mengambil cuti panjang untuk penelitian di luar negeri, jadi dia merekomendasikan rekannya."​Elian hanya bergumam, meski dalam hati ia tidak suka harus beradaptasi dengan orang baru, apalagi yang menyangkut kesehatan istri dan anaknya.​Begitu pintu ruang periksa dibuka, seorang pria muda dengan jas putih bersih dan stetoskop yang melingkar di lehernya menoleh. Ia sedang menulis sesuatu di meja kerja, namun gerakannya terhenti saat melihat siapa yang masuk.​Rinjani terpaku di ambang pintu. Matanya membulat sempurna. "Zidan?" bisiknya hampir tak terdengar.​Pria itu berdiri, wajahnya yang tadinya formal berubah menjadi penuh binar kejutan. "Rinjani? Ini benar kamu, kan? Rinjani yang dulu sering memanjat po

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status