LOGIN"Aku sudah berjanji akan menjaganya pada Mama dan Papa Tuan Elian," bisik Rinjani di antara isaknya. Ia mengingat tatapan tulus kedua orang tua Elian yang memintanya untuk menjaga putra mereka.
"Tapi seberapa lama aku kuat, Tuan? Aku adalah wadah, tapi wadah juga punya batasnya."Rinjani mencium cincin itu, menahan isaknya. Ia adalah Rinjani, gadis desa yang memegang teguh janji. Ia tidak bisa lari. Ia tidak bisa menghancurkan harapan Elian, meskipun Elian menghancurkan dirinya.Pengorbanan Rinjani adalah kebodohan, tetapi kebodohan itu berakar pada kemurnian yang disalahpahami.Elian duduk di sofa. Keheningan itu terlalu lama. Rinjani sudah berada di kamar mandi selama hampir dua puluh menit. Ia tahu Rinjani pasti sedang menangis."Rinjani, keluar!" bentak Elian, tidak sabar dan merasa bersalah. Ia butuh konfrontasi. Ia butuh Rinjani menunjukkan kemarahannya.Pintu kamar mandi terbuka. Rinjani keluar. Matanya sembap, tetapi ia telah"Maya! Lo nggak usah sok kuat nyetir kalau muka lo masih planga-plongo kayak orang habis liat hantu gini. Sini kuncinya, gue yang antar lo pulang!" tegas Boy sambil merebut kunci mobil dari tangan Maya.Maya menghela napas pasrah, tapi tetap mencoba protes. "Mas Boy, emangnya nggak ada kerjaan lain apa? Mas kan sibuk.""Adalah! Kerjaannya Mas Boy yang paling utama saat ini itu pastiin orang yang gue sayang pulang dengan aman, sentosa, dan tanpa lecet sedikit pun!" Boy membukakan pintu mobil dengan gerakan teatrikal yang sangat heboh.Maya mematung di tempat. "Orang yang Mas sayang? Maksudnya... siapa?"Boy menghentikan gerakannya, menatap Maya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, nih bocah... baru gede kemarin sore apa gimana sih? Padahal umur udah mau dua puluh enam tahun, tapi kok gobloknya dipelihara, bukan kambing aja yang dipelihara!" gumam Boy gemas."Maksud gue itu jelas, Mayang Sayang...
"Sendirian, Nyonya Baskara? Sepertinya tidak. Apa banci itu mengekor di belakangmu, atau dia sedang mengintip dari sudut gelap?" Adrian melangkah keluar. Suaranya masih sama—berat, berayun santai, namun membawa getaran yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia memutar-mutar pemantik perak di jemarinya. Klik. Klak. "Aku tahu itu kamu, Adrian. Suara pecundang yang bersembunyi di balik telepon berbulan-bulan lalu itu tidak mungkin aku lupakan." Adrian menghentikan langkahnya, sedikit terkejut melihat Rinjani yang tidak langsung gemetar ketakutan. Ia menyeringai tipis, matanya menatap Rinjani dengan intensitas yang mengerikan. "Wah, ingatanmu cukup tajam untuk wanita yang baru saja kehilangan bayinya," goda Adrian tanpa belas kasihan. "Sepertinya kamu tidak pernah benar-benar bisa melakukan apa-apa tanpa perlindungan. Bahkan suamimu sendiri saja sanggup mencekikmu sampai berakhir di rumah sakit. Apa kamu kira orang asing sepertik
"Rin, lo tenang dulu ya. Gue mau kasih kabar buruk, dan ini bukan soal lipstik gue yang patah," ucap Boy. Rinjani yang sedang memeriksa tumpukan dokumen menoleh, mencoba mencairkan suasana. "Kenapa? Di studio kamu nggak ada cowok gentle yang bisa diajak kencan lagi?" goda Rinjani kecil."Adrian... tadi dia nemuin Maya di depan lift,"Rinjani tersentak, pulpen di tangannya jatuh berdering di atas meja. "Adrian? Seingatku, Elian sudah memastikan pria itu dikurung di RSJ dengan pengawasan paling ketat. Gimana bisa, Boy? Dia nggak mungkin keluar tanpa persetujuan tertulis dari Elian atau pengacara keluarga!"Boy mendengus sinis, ia menyandarkan tubuhnya di pinggir meja Rinjani sambil melipat tangan di dada."Tentu saja bisa, Sayang. Itu kalau ada orang dalam yang cukup gila buat bermain-main dengan api. Gue rasa gue tahu siapa yang buka pintu kandang buat macan lepas itu. Kita lihat saja dulu seberapa jauh 'Nenek Sihir' itu mau main-main sama rencana busuknya.""Nenek sihir? Siapa y
"Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-langit, sampai Dian melemparkan sebuah benda ke pangkuannya. Sebuah pemantik api perak yang baru."Milikmu. Bangkitlah. Buat sebuah kekacauan besar, tapi tidak perlu pakai api. Itu terlalu dramatis dan kampungan."Adrian meraih pemantik itu dengan tangan gemetar, lalu menatap Dian sekilas. "Kau... Dian, bukan? Aku pernah melihatmu beberapa kali di mansion Baskara.""Tentu saja. Aku sepupu kesayangannya,""Mau apa kau kemari? Menertawakanku?" Adrian tertawa kering, suaranya parau. "Ah, aku ingat sekarang. Kau itu bajingan yang sama denganku. Penjilat. Kau bahkan rela menjilati sampah demi mendapatkan tempat di rumah itu. Tapi sayang, keluarga Baskara tid
Rinjani hanya duduk di kursi utama, berusaha keras tidak terlihat gemetar saat puluhan mata menanti jawabannya atas pertanyaan teknis yang bahkan belum sempat ia pelajari. Beruntung, Maya selalu sigap membisikkan kata kunci atau menyodorkan grafik yang tepat.Setelah pintu tertutup dan para vendor meninggalkan ruangan, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti. Dian tidak langsung keluar. Ia merapikan dokumennya dengan gerakan yang sangat lambat, lalu berjalan mendekati kursi Rinjani."Tontonan yang sangat menghibur," ucap Dian, suaranya kini tidak lagi manis seperti saat menyapa para orang Jepang tadi. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja mahoni, mencondongkan tubuh hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Rinjani."Kamu pikir, hanya dengan belajar semalam, seminggu, atau dua minggu, kamu akan benar-benar menjadi seorang pemimpin?" Dian tertawa kecil, nada suaranya penuh penghinaan."Rinjani, lihat dirimu. Kamu kaku seperti
"Maya... gimana ini? Aku benar-benar buntu. Aku nggak punya sedikit pun skill di sini," bisik Rinjani dengan suara yang nyaris hilang. Ia menatap layar monitor yang penuh dengan tabel warna-warni dan angka-angka ribuan triliun yang terasa sedang menertawakannya.Maya, yang duduk di sofa samping meja kerja dengan laptop di pangkuannya, menutup perangkatnya perlahan. Ia berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah Rinjani. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun tak ada sedikit pun raut wajah lelah atau kesal di wajah sekretaris itu."Tarik napas dulu,Bu Rinjani," ucap Maya lembut sambil meletakkan segelas air putih hangat di samping tangan Rinjani. "Tidak ada orang yang lahir langsung bisa membaca laporan audit. Pak Elian butuh waktu bertahun-tahun untuk berada di titik ini. Ibu baru belajar beberapa jam. Jangan terlalu keras pada diri sendiri."Maya dengan sabar menarik kursi ke samping Rinjani, jemarinya yang lentik mulai menunjuk sel demi sel di layar spreadsheet. "Mar







