Share

Bab 50 - Adik?

Author: Pipin
last update publish date: 2026-01-02 11:35:15

"ELIAN! CINTA KU! MANA CINTA KU?!"

​Sebuah lengkingan nyaring memecah ketenangan halaman depan rumah Baskara. Rinjani yang baru saja ingin bersantai di teras langsung berjengit kaget. Dari arah gerbang, muncul seorang pria dengan langkah yang... sangat gemulai, mengenakan setelan sutra motif bunga-bunga yang berkibar tertiup angin.

​Begitu melihat Rinjani, sosok itu berhenti mendadak, menaruh kedua tangannya di pipi dengan ekspresi dramatis.

​"Duh, Gusti! Istrinya Elian?!" teriaknya sambil berl
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 275 - Kebenaran

    "Eran...""Ya, kenapa, Sayang?" sahut Eran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Tangannya masih bergerak lincah di atas keyboard, memastikan laporan keuangan bulanan Baskara Group selesai tepat waktu sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh calon mertuanya.Lana melangkah mendekat dengan ritme yang tidak seceria biasanya. Ia menarik kursi di hadapan meja kerja Eran, lalu duduk diam sambil terus memperhatikan tunangannya itu. Matanya menatap lamat-lamat garis wajah Eran yang tampak lelah namun tetap terlihat tegas."Eran, ayo kita percepat pernikahan kita. Minggu depan, ya?"Klak.Gerakan jari Eran di atas keyboard langsung terhenti seketika. Pria itu meletakkan berkas di tangannya, lalu mendongak menatap Lana dengan alis yang bertaut rapat."Minggu depan? Kamu bercanda?" Eran mengembuskan napas pendek, mengira pendengarannya sedang bermasalah akibat kurang tidur. "Kenapa mendadak begitu, Lana? Kamu tahu sendiri kan, kalau semua hal itu butuh persiapan yang matang. Baru d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 274 - Keinginan dan kesempatan

    "Kamu adalah napas dan hidupku. Bagaimana mungkin aku mengizinkanmu mengambil alih rasa sakit ini?" canda Elian sekilas, mencoba mencairkan suasana meski suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan. Tangan besarnya yang sedikit gemetar perlahan membelai punggung Rinjani yang masih terguncang di pelukannya. Elian menempelkan dagunya di puncak kepala sang istri, mengecupnya dengan penuh kelembutan. "Aku sudah melewati puluhan badai dalam hidupku, Rinjani. Dan aku yakin, badai yang satu ini pun pasti bisa aku lewati seperti biasa. Aku janji." Namun, Rinjani menggeleng kuat. Ia melepaskan pelukannya, mendongak menatap wajah suaminya dengan mata yang memerah dan menyiratkan keputusasaan yang begitu dalam. "Tapi ini bukan tentang musuh yang bisa kamu singkirkan, Elian!" potong Rinjani. "Ini bukan soal tender perusahaan, pengkhianatan bawahan, atau saingan bisnis yang selalu bisa kamu menangkan dengan uang dan kekuasaanmu! Tapi ini tentang... tentang tubuhmu sendiri! Ini tentang penyakit y

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 273 - Jangan Pergi

    "Ada apa, Pa?" tanya Saka pelan. Langkahnya tertahan di dekat pintu. Firasat buruk yang sejak tadi mengintai dadanya kini semakin kuat. Elian tidak langsung menjawab. Pria itu berbalik perlahan, menatap putra sulungnya yang kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan mandiri. Ada binar kebanggaan yang luar biasa di mata Elian, sekaligus rasa perih yang teramat sangat karena menyadari waktunya untuk melihat sang putra tidak akan lama lagi.Dengan tangan yang gemetar halus, Elian membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih tebal berlogo rumah sakit internasional dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Saka."Buka dan bacalah," ujar Elian, suaranya terdengar sangat tenang—terlalu tenang untuk situasi ini. Saka melangkah mendekat, mengernyitkan dahi. Ia meraih amplop itu, membuka lipatan kertas di dalamnya, dan mulai membaca baris demi baris hasil laboratorium medis tersebut.Matanya membelalak lebar, menatap kata-kata ilmiah yang tertul

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 272 - Vonis

    "Dok, bagaimana? Apa ada kemungkinan sembuh?" tanya Elian. Setelah menjalani rangkaian tes, dia berharap ada kemungkinan bisa bertahan lebih lama. Dokter senior di depannya menghela napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap Elian dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba. Di tangannya, lembaran hasil laboratorium dan rontgen dada memperlihatkan noda gelap yang mengerikan."Pak Elian... saya ingin memberikan kabar baik, tapi kebohongan tidak akan membantu situasi Anda," ujar dokter itu dengan nada selembut mungkin. "Hasil biopsi dan CT Scan menunjukkan bahwa Kanker Paru-Paru yang Anda derita sudah memasuki Stadium 4 (Stadium Akhir). Sel kankernya sangat agresif dan sudah bermetastasis, menyebar hingga ke area kelenjar getah bening dan mendekati dinding jantung.""Operasi sudah tidak memungkinkan lagi karena posisinya terlalu berisiko, Pak," lanjut dokter itu dengan berat hati. "Fungsi organ Anda juga terus menurun. Kita hanya bisa melakukan terapi paliatif dan kemote

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 271 - Ngambek

    Beberapa minggu kemudian. "Ma, usir aja dia! Aku nggak mau dekat-dekat! Udah tua, bau keringat, badannya gede kayak badak! Bikin mual tahu nggak?!" jerit Sonya kesal dari balik punggung ibunya, Maya, sengaja menjadikan wanita paruh baya itu sebagai tameng. Di ambang pintu, Antonio bersusah payah meredam amarahnya. Ia sudah berdiri di sana selama hampir satu jam, membujuk istri kecilnya yang mendadak minggat dari rumah selama seminggu penuh. Dan alasannya? Hanya karena satu kesalahpahaman konyol. Seminggu yang lalu, saat mereka sedang makan siang di luar, Sonya yang baru kembali dari toilet melihat Antonio sedang berbicara dengan seorang klien wanita dari perusahaan logistik barunya. Keduanya hanya berjabat tangan secara profesional sebelum berpisah. Namun, lirikan mata wanita itu yang terlalu lama dan penuh damba pada suaminya berhasil membuat darah Sonya mendidih. Cemburu buta menguasainya, dan tanpa mau mendengarkan penjelasan apa pun, Sonya langsung kabur ke rumah ibunya. "Son

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 270 - Udah ngga sabar?

    "Udah seminggu, Pa! Kapan sih Kak Saka balik?!"Tanya Lana sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Namanya juga mereka lagi honeymoon, Sayang. Kenapa? Kamu iri?" tanya Elian sambil menahan senyum.Lana mendengus. Sebenarnya, alasan Lana kepo bukan cuma karena kangen kakaknya, tapi karena dia butuh bahan buat menyindir tunangannya sendiri. Di handphone-nya, percakapan dengan Eran benar-benar seperti transkrip pesan robot.Lana menatap cincin di jari manisnya dengan lesu. Acara lamaran kemarin itu mimpi atau apa sih? Kok sekarang dia jadi berubah kayak mesin pengolah data?"Nggak sabar? Mau dinikahin juga?" goda Elian. "Eran lagi sibuk banget di kantor, bukan berarti dia mau gantung hubungan kalian.""Papa juga sih! Kenapa harus ngasih kerjaan sebanyak itu ke dia?!" protes Lana. "Dia jawab pesan aku seadanya banget, Pa. Aku udah ngetik panjang lebar, curhat soal drama hidup sampai ngirim foto kucing lucu, jawabannya cuma 'Ok'. Cuma dua huruf, Pa! Ok! Ok doang! Gimana aku nggak kesal?!"

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 126 - Bagaimana Kalau Tuan menjadi saingan putra sendiri?

    Abil memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan gila. ​Ponsel di dasbor terhubung ke speaker mobil, tersambung ke panggilan Maya yang baru diangkat setelah puluhan kali mencoba.​"Ngapain sih kamu nelpon terus mas? Aku kan udah bilang mau pergi!" suara Maya terdengar ketus da

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 120 - Sebuah Harapan

    "Aku akan memenjarakan pria itu, aku janji."​Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Elian sebelum ia melangkah pergi. ​Boy, yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata dan selalu punya selera humor pedas untuk mencairkan suasana, kini hanya bisa berdiri mematung. Pria kemayu

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 102 - Putus Asa

    Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku.​"Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah.​"Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 105 - Selamat Menempuh hidup baru, May!

    Suasana di masjid itu begitu kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Maya. Dekorasi bunga melati dan mawar putih premium menghiasi setiap sudut ruangan.Di kursi pesakitan—begitulah Maya menyebut kursi pengantin itu—ia duduk dengan kebaya putih yang sangat cantik, namun wajahnya tertutup kain

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status