LOGIN"Pa, apa Papa nggak bisa usahain, Pa? Cari di mana pun dokter terbaik di dunia ini buat Papa Elian. Aku mohon, Pa..." Saka memelas saat malam itu memasuki kediaman ayahnya. "Saka, tenangkan dirimu," ucap Antonio, suaranya berat dan tenang. "Kamu kira ini perkara mudah? Kanker stadium akhir bukan musuh di jalanan yang bisa Papa singkirkan dengan senjata atau uang. Bahkan untuk Papa sekalipun, melawan takdir dan penyakit itu bukan hal yang gampang.""Tapi pasti ada jalan kan, Pa?! Papa punya koneksi di seluruh dunia! Papa punya segalanya! Tolong, aku nggak mau kehilangan Papa Elian!" seru Saka frustrasi, air mata kemarahan dan keputusasaan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.Antonio terdiam, menatap lurus ke dalam manik mata Saka yang dipenuhi air mata. Di satu sisi, ada secuil rasa iri yang terselip di sudut hati Antonio melihat betapa hancurnya Saka demi pria lain. Namun, di sisi lain, ada rasa hangat yang menyeruak di dadanya. Antonio senang, sangat senang. Akhirnya Saka membuka ha
"Eran...""Ya, kenapa, Sayang?" sahut Eran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Tangannya masih bergerak lincah di atas keyboard, memastikan laporan keuangan bulanan Baskara Group selesai tepat waktu sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh calon mertuanya.Lana melangkah mendekat dengan ritme yang tidak seceria biasanya. Ia menarik kursi di hadapan meja kerja Eran, lalu duduk diam sambil terus memperhatikan tunangannya itu. Matanya menatap lamat-lamat garis wajah Eran yang tampak lelah namun tetap terlihat tegas."Eran, ayo kita percepat pernikahan kita. Minggu depan, ya?"Klak.Gerakan jari Eran di atas keyboard langsung terhenti seketika. Pria itu meletakkan berkas di tangannya, lalu mendongak menatap Lana dengan alis yang bertaut rapat."Minggu depan? Kamu bercanda?" Eran mengembuskan napas pendek, mengira pendengarannya sedang bermasalah akibat kurang tidur. "Kenapa mendadak begitu, Lana? Kamu tahu sendiri kan, kalau semua hal itu butuh persiapan yang matang. Baru d
"Kamu adalah napas dan hidupku. Bagaimana mungkin aku mengizinkanmu mengambil alih rasa sakit ini?" canda Elian sekilas, mencoba mencairkan suasana meski suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan. Tangan besarnya yang sedikit gemetar perlahan membelai punggung Rinjani yang masih terguncang di pelukannya. Elian menempelkan dagunya di puncak kepala sang istri, mengecupnya dengan penuh kelembutan. "Aku sudah melewati puluhan badai dalam hidupku, Rinjani. Dan aku yakin, badai yang satu ini pun pasti bisa aku lewati seperti biasa. Aku janji." Namun, Rinjani menggeleng kuat. Ia melepaskan pelukannya, mendongak menatap wajah suaminya dengan mata yang memerah dan menyiratkan keputusasaan yang begitu dalam. "Tapi ini bukan tentang musuh yang bisa kamu singkirkan, Elian!" potong Rinjani. "Ini bukan soal tender perusahaan, pengkhianatan bawahan, atau saingan bisnis yang selalu bisa kamu menangkan dengan uang dan kekuasaanmu! Tapi ini tentang... tentang tubuhmu sendiri! Ini tentang penyakit y
"Ada apa, Pa?" tanya Saka pelan. Langkahnya tertahan di dekat pintu. Firasat buruk yang sejak tadi mengintai dadanya kini semakin kuat. Elian tidak langsung menjawab. Pria itu berbalik perlahan, menatap putra sulungnya yang kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan mandiri. Ada binar kebanggaan yang luar biasa di mata Elian, sekaligus rasa perih yang teramat sangat karena menyadari waktunya untuk melihat sang putra tidak akan lama lagi.Dengan tangan yang gemetar halus, Elian membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih tebal berlogo rumah sakit internasional dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Saka."Buka dan bacalah," ujar Elian, suaranya terdengar sangat tenang—terlalu tenang untuk situasi ini. Saka melangkah mendekat, mengernyitkan dahi. Ia meraih amplop itu, membuka lipatan kertas di dalamnya, dan mulai membaca baris demi baris hasil laboratorium medis tersebut.Matanya membelalak lebar, menatap kata-kata ilmiah yang tertul
"Dok, bagaimana? Apa ada kemungkinan sembuh?" tanya Elian. Setelah menjalani rangkaian tes, dia berharap ada kemungkinan bisa bertahan lebih lama. Dokter senior di depannya menghela napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap Elian dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba. Di tangannya, lembaran hasil laboratorium dan rontgen dada memperlihatkan noda gelap yang mengerikan."Pak Elian... saya ingin memberikan kabar baik, tapi kebohongan tidak akan membantu situasi Anda," ujar dokter itu dengan nada selembut mungkin. "Hasil biopsi dan CT Scan menunjukkan bahwa Kanker Paru-Paru yang Anda derita sudah memasuki Stadium 4 (Stadium Akhir). Sel kankernya sangat agresif dan sudah bermetastasis, menyebar hingga ke area kelenjar getah bening dan mendekati dinding jantung.""Operasi sudah tidak memungkinkan lagi karena posisinya terlalu berisiko, Pak," lanjut dokter itu dengan berat hati. "Fungsi organ Anda juga terus menurun. Kita hanya bisa melakukan terapi paliatif dan kemote
Beberapa minggu kemudian. "Ma, usir aja dia! Aku nggak mau dekat-dekat! Udah tua, bau keringat, badannya gede kayak badak! Bikin mual tahu nggak?!" jerit Sonya kesal dari balik punggung ibunya, Maya, sengaja menjadikan wanita paruh baya itu sebagai tameng. Di ambang pintu, Antonio bersusah payah meredam amarahnya. Ia sudah berdiri di sana selama hampir satu jam, membujuk istri kecilnya yang mendadak minggat dari rumah selama seminggu penuh. Dan alasannya? Hanya karena satu kesalahpahaman konyol. Seminggu yang lalu, saat mereka sedang makan siang di luar, Sonya yang baru kembali dari toilet melihat Antonio sedang berbicara dengan seorang klien wanita dari perusahaan logistik barunya. Keduanya hanya berjabat tangan secara profesional sebelum berpisah. Namun, lirikan mata wanita itu yang terlalu lama dan penuh damba pada suaminya berhasil membuat darah Sonya mendidih. Cemburu buta menguasainya, dan tanpa mau mendengarkan penjelasan apa pun, Sonya langsung kabur ke rumah ibunya. "Son
"Kalian kira bisa kabur gitu saja, hah?!" raung Adrian. Wajahnya yang basah kuyup tampak benar-benar gila.Dengan satu sentakan kuat, Adrian menarik kaki Rinjani hingga wanita itu tergelincir hebat. Kepalanya membentur lantai, dan sebelum ia sempat bereaksi, Adrian sudah berada di atasn
Malam harinya, di sebuah kafe terpencil dengan lampu remang-remang dan iringan musik jazz, Boy sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berpenampilan nyentrik. Rambutnya dicat ungu pastel, mengenakan kemeja sutra motif bunga-bunga yang mencolok, dan kacamata bulat bertengger di hidungnya. Di
Rinjani hanya bisa mematung di atas kursi rodanya, menatap kosong ke arah pintu lorong rumah sakit tempat Elian baru saja digiring oleh dua petugas berpakaian sipil. Ia tidak menangis lagi—air matanya sudah kering—yang tersisa hanyalah kepasrahan yang menyesakkan dada. Ia tahu, meskipun Elian menye
"Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-l







