INICIAR SESIÓNBeberapa minggu kemudian. "Ma, usir aja dia! Aku nggak mau dekat-dekat! Udah tua, bau keringat, badannya gede kayak badak! Bikin mual tahu nggak?!" jerit Sonya kesal dari balik punggung ibunya, Maya, sengaja menjadikan wanita paruh baya itu sebagai tameng. Di ambang pintu, Antonio bersusah payah meredam amarahnya. Ia sudah berdiri di sana selama hampir satu jam, membujuk istri kecilnya yang mendadak minggat dari rumah selama seminggu penuh. Dan alasannya? Hanya karena satu kesalahpahaman konyol. Seminggu yang lalu, saat mereka sedang makan siang di luar, Sonya yang baru kembali dari toilet melihat Antonio sedang berbicara dengan seorang klien wanita dari perusahaan logistik barunya. Keduanya hanya berjabat tangan secara profesional sebelum berpisah. Namun, lirikan mata wanita itu yang terlalu lama dan penuh damba pada suaminya berhasil membuat darah Sonya mendidih. Cemburu buta menguasainya, dan tanpa mau mendengarkan penjelasan apa pun, Sonya langsung kabur ke rumah ibunya. "Son
"Udah seminggu, Pa! Kapan sih Kak Saka balik?!"Tanya Lana sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Namanya juga mereka lagi honeymoon, Sayang. Kenapa? Kamu iri?" tanya Elian sambil menahan senyum.Lana mendengus. Sebenarnya, alasan Lana kepo bukan cuma karena kangen kakaknya, tapi karena dia butuh bahan buat menyindir tunangannya sendiri. Di handphone-nya, percakapan dengan Eran benar-benar seperti transkrip pesan robot.Lana menatap cincin di jari manisnya dengan lesu. Acara lamaran kemarin itu mimpi atau apa sih? Kok sekarang dia jadi berubah kayak mesin pengolah data?"Nggak sabar? Mau dinikahin juga?" goda Elian. "Eran lagi sibuk banget di kantor, bukan berarti dia mau gantung hubungan kalian.""Papa juga sih! Kenapa harus ngasih kerjaan sebanyak itu ke dia?!" protes Lana. "Dia jawab pesan aku seadanya banget, Pa. Aku udah ngetik panjang lebar, curhat soal drama hidup sampai ngirim foto kucing lucu, jawabannya cuma 'Ok'. Cuma dua huruf, Pa! Ok! Ok doang! Gimana aku nggak kesal?!"
Di sisi lain, pagi itu Antonio meregangkan leher nya hingga terdengar bunyi kretek yang memuaskan. Kepalanya masih sedikit berdenyut—efek terlalu lama terjaga sampai jam 5 subuh demi membereskan kekacauan "kado emas" yang dibuat anak buahnya di pesta semalam. Ia melirik ke samping. Sonya, istri kecilnya yang kelelahan, masih terlelap dengan posisi yang menggemaskan. Antonio mencondongkan tubuhnya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. "Sayang, bangun... Sarapan," bisik Antonio lembut. Sonya mengerang kecil, matanya perlahan terbuka. Begitu pandangannya fokus, ia tidak langsung bangkit. Matanya malah menjelajah liar ke arah dada bidang Antonio yang dibiarkan terbuka. Bekas luka akibat baku tembak di masa lalu, deretan tato artistik yang meliuk di balik otot-otot yang terlatih keras, serta gurat kelelahan yang justru membuatnya terlihat semakin liar—semuanya membuat rasa kantuk Sonya hilang seketika. Tanpa membuang waktu, Sonya menghambur, memeluk leher Antonio da
Setelah acara usai, Saka menaiki mobil meninggalkan resepsi yang legendaris itu. Karin, yang sedari tadi berusaha tenang dengan menatap pemandangan luar jendela, akhirnya menyerah. Ia menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat. "Apa sih, Saka? Dari tadi liatinnya kayak mau menelan orang hidup-hidup. Bikin risih tahu, nggak?" Tanya nya, karna sejak tadi suaminya hampir selalu menatap nya tanpa beralih sedetikpun. Saka menyeringai, senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Ia menggeser duduknya, merapatkan jarak hingga aroma parfum Karin yang memabukkan memenuhi indra penciumannya. "Hotelnya cukup jauh, Sayang," bisik Saka dengan suara rendah yang berat, membuat bulu kuduk Karin meremang. "Kalau mau tidur sekarang, nggak apa-apa. Tapi aku sarankan pakai waktumu sebaik mungkin. Karena setelah kita sampai di sana nanti... aku benar-benar nggak yakin bisa membiarkan istri cantikku ini memejamkan mata semalaman." Karin memutar bola matanya, meski wajahnya mulai memanas hingg
"Udah, muka kamu nggak usah ditekuk kayak setrikaan gitu. Masih mending kamu punya Arin sekarang, kan?" goda Boy, sang desainer ternama yang hari ini tampil lebih mencolok dari lampu kristal di langit-langit ballroom. Arka, yang sejak zaman SMA sudah menyukai Sonya, hanya bisa menghela napas panjang. Ia berusaha memasang senyum paling tulus yang bisa ia kerahkan, lalu melangkah menuju Arin—gadis yang kini berdiri anggun di tengah kerumunan tamu. "Ayo, kita ketemu mempelai dulu," ajak Arka pada Arin, mencoba mengalihkan rasa sesak di dadanya. Saat tiba di pelaminan, mata hangat Sonya menyambut mereka. Ia tampak mempesona, dan di sampingnya, Antonio berdiri dengan aura bos mafia yang berusaha ditutup-tutupi oleh setelan tuxedo rancangan Boy yang sangat elegan. "Selamat, Sonya," ucap Arka pelan, menatap mata wanita yang pernah mengisi masa mudanya itu. "Gue tahu, lo bakal jauh lebih bahagia setelah ini." "Aku juga harap kamu bahagia dengan pilihanmu, Arka. Makasih udah datang," jaw
Setelah Lana dan Eran berpamitan dengan senyum semringah untuk merayakan pertunangan mereka berdua, suasana ruang VIP itu kembali tenang. Kini, tatapan Elian beralih sepenuhnya pada putra sulungnya yang duduk bersandar sambil memijat pelipisnya. "Lalu... bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Karin?" tanya Elian lembut, menatap Saka lekat. "Papa kan sudah bilang, Papa yang akan urus semuanya. Mulai dari gedung, dekorasi, sampai bulan madu. Tapi kamu malah membiarkan Antonio ikut campur mengurus logistik, dan melarang Papa? Apa kamu masih belum bisa menerima kehadiran Papa seutuhnya, Saka?" Mendengar pertanyaan dramatis papanya, Saka langsung menurunkan tangannya dari pelipis. Pemuda itu menghela napas panjang, menatap langit-langit seolah mencari kesabaran ekstra. "Bukan gitu, Pa. Astaga..." erang Saka dengan wajah frustrasi yang memancing tawa tertahan dari Rinjani di sebelahnya. "Papa kira aku ngijinin Papa Antonio ngebantu? Aku bohong kalau bilang ngijinin! Aku tegas-tegas n
"Sendirian, Nyonya Baskara? Sepertinya tidak. Apa banci itu mengekor di belakangmu, atau dia sedang mengintip dari sudut gelap?" Adrian melangkah keluar. Suaranya masih sama—berat, berayun santai, namun membawa getaran yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia memutar-mutar pemantik per
"Rin, lo tenang dulu ya. Gue mau kasih kabar buruk, dan ini bukan soal lipstik gue yang patah," ucap Boy. Rinjani yang sedang memeriksa tumpukan dokumen menoleh, mencoba mencairkan suasana. "Kenapa? Di studio kamu nggak ada cowok gentle yang bisa diajak kencan lagi?" goda Rinjani kecil."Adrian.
Gedung Baskara Group yang biasanya teratur bak simfoni, siang itu berubah menjadi arena pacuan kuda yang kacau. Di lantai paling atas, tepatnya di ruang rapat utama, suasana terasa begitu panas hingga pendingin ruangan seolah tak berfungsi. Dian, dengan setelan kerja Versace berwarna merah menyal
Rinjani hanya duduk di kursi utama, berusaha keras tidak terlihat gemetar saat puluhan mata menanti jawabannya atas pertanyaan teknis yang bahkan belum sempat ia pelajari. Beruntung, Maya selalu sigap membisikkan kata kunci atau menyodorkan grafik yang tepat.Setelah pintu tertutup dan







