Share

Bab 50 - Adik?

Author: Pipin
last update publish date: 2026-01-02 11:35:15

"ELIAN! CINTA KU! MANA CINTA KU?!"

​Sebuah lengkingan nyaring memecah ketenangan halaman depan rumah Baskara. Rinjani yang baru saja ingin bersantai di teras langsung berjengit kaget. Dari arah gerbang, muncul seorang pria dengan langkah yang... sangat gemulai, mengenakan setelan sutra motif bunga-bunga yang berkibar tertiup angin.

​Begitu melihat Rinjani, sosok itu berhenti mendadak, menaruh kedua tangannya di pipi dengan ekspresi dramatis.

​"Duh, Gusti! Istrinya Elian?!" teriaknya sambil berl
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 279 - Lilin kehidupan yang redup

    "Aku janji, Pa..." bisik Eran, menatap lurus ke dalam mata Elian dengan keyakinan penuh. Ia menggenggam tangan Lana, menuntunnya untuk duduk bersama di atas panggung pelaminan yang megah bak singgasana raja.Pesta terus berjalan. Alunan musik romantis mengudara, dansa pertama pengantin baru yang memukau, hingga sesi foto dan bersalaman dengan ratusan tamu undangan yang datang silih berganti. Tak terasa, Elian melewati semua prosesi melelahkan itu begitu saja. Luapan rasa bahagia dan haru melihat putri bungsunya telah sah menjadi seorang istri seolah menjadi obat bius alami, mengubur rasa sakit yang membakar paru-parunya untuk sementara waktu.Di sudut area VIP, Antonio melangkah mendekati Elian. Di samping pria paruh baya itu, Karin ikut tersenyum lega melihat momen sakral tersebut berlalu tanpa ada air mata kesedihan."Kamu hebat, Elian," ujar Antonio, menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan tatapan penuh rasa hormat. Sebagai sesama pria tangguh, Antonio tahu berapa besar harga yan

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 278 - Senyuman (palsu) di Pelaminan

    Alunan musik klasik bergema megah di dalam ballroom hotel bintang lima yang didekorasi bak istana dongeng. Ribuan lampu kristal berkilauan, memantulkan kemewahan yang sempurna. Di tengah karpet merah yang membentang menuju panggung pelaminan, Elian Baskara berdiri dengan gagah, mengenakan setelan tuksedo hitam terbaiknya."Selamat buat pernikahan kamu, Sayang. Lihat, cantiknya putri Papa hari ini," bisik Elian, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Lana.Tangan Elian yang terasa sedingin es menggandeng erat jemari putrinya. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat pucat, kontras dengan kemegahan di sekelilingnya. Namun, ia mati-matian memaksakan sebuah senyuman hangat di bibirnya, menyembunyikan getaran ringan yang terus menjalar di sekujur tubuhnya akibat rasa sakit yang membakar paru-parunya.Di sudut barisan depan, Saka berdiri menatap pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Pemandangan hari ini seketika melempar ingatan Saka ke

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 277 - Waktu

    Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saka duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang serasa mau pecah. Kamarnya gelap, hanya diterangi kilatan cahaya dari layar ponselnya. Setelah berjam-jam bertarung dengan nuraninya sendiri, tanpa babibu lagi, Saka langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi ibu sambungnya, Rinjani. Ia tahu, di rumah sana, wanita itu pasti sedang terjaga dalam badai air mata yang sama. Panggilan itu diangkat pada nada kedua. Suara Rinjani terdengar begitu parau dan bergetar di seberang telepon, langsung menuntut jawaban setelah Saka membeberkan rencana gilanya bersama Eran tentang obat eksperimental dari Profesor Vance. "Jadi... kemungkinan dia sembuh, itu nol? Dan ini hanya satu-satunya cara kita?" tanya Rinjani dengan suara setelah mungkin agar tidak membangun kan suaminya. "Ma, hanya ini jalan yang aku punya saat ini. Satu-satunya pilihan yang bisa aku dapat dari Papa Antonio," jawab Saka. "Dokter konvensional sudah angkat tangan, Ma. Mereka

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 276 - Secercah Harapan

    "Pa, apa Papa nggak bisa usahain, Pa? Cari di mana pun dokter terbaik di dunia ini buat Papa Elian. Aku mohon, Pa..." Saka memelas saat malam itu memasuki kediaman ayahnya. "Saka, tenangkan dirimu," ucap Antonio, suaranya berat dan tenang. "Kamu kira ini perkara mudah? Kanker stadium akhir bukan musuh di jalanan yang bisa Papa singkirkan dengan senjata atau uang. Bahkan untuk Papa sekalipun, melawan takdir dan penyakit itu bukan hal yang gampang.""Tapi pasti ada jalan kan, Pa?! Papa punya koneksi di seluruh dunia! Papa punya segalanya! Tolong, aku nggak mau kehilangan Papa Elian!" seru Saka frustrasi, air mata kemarahan dan keputusasaan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.Antonio terdiam, menatap lurus ke dalam manik mata Saka yang dipenuhi air mata. Di satu sisi, ada secuil rasa iri yang terselip di sudut hati Antonio melihat betapa hancurnya Saka demi pria lain. Namun, di sisi lain, ada rasa hangat yang menyeruak di dadanya. Antonio senang, sangat senang. Akhirnya Saka membuka ha

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 275 - Kebenaran

    "Eran...""Ya, kenapa, Sayang?" sahut Eran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Tangannya masih bergerak lincah di atas keyboard, memastikan laporan keuangan bulanan Baskara Group selesai tepat waktu sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh calon mertuanya.Lana melangkah mendekat dengan ritme yang tidak seceria biasanya. Ia menarik kursi di hadapan meja kerja Eran, lalu duduk diam sambil terus memperhatikan tunangannya itu. Matanya menatap lamat-lamat garis wajah Eran yang tampak lelah namun tetap terlihat tegas."Eran, ayo kita percepat pernikahan kita. Minggu depan, ya?"Klak.Gerakan jari Eran di atas keyboard langsung terhenti seketika. Pria itu meletakkan berkas di tangannya, lalu mendongak menatap Lana dengan alis yang bertaut rapat."Minggu depan? Kamu bercanda?" Eran mengembuskan napas pendek, mengira pendengarannya sedang bermasalah akibat kurang tidur. "Kenapa mendadak begitu, Lana? Kamu tahu sendiri kan, kalau semua hal itu butuh persiapan yang matang. Baru d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 274 - Keinginan dan kesempatan

    "Kamu adalah napas dan hidupku. Bagaimana mungkin aku mengizinkanmu mengambil alih rasa sakit ini?" canda Elian sekilas, mencoba mencairkan suasana meski suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan. Tangan besarnya yang sedikit gemetar perlahan membelai punggung Rinjani yang masih terguncang di pelukannya. Elian menempelkan dagunya di puncak kepala sang istri, mengecupnya dengan penuh kelembutan. "Aku sudah melewati puluhan badai dalam hidupku, Rinjani. Dan aku yakin, badai yang satu ini pun pasti bisa aku lewati seperti biasa. Aku janji." Namun, Rinjani menggeleng kuat. Ia melepaskan pelukannya, mendongak menatap wajah suaminya dengan mata yang memerah dan menyiratkan keputusasaan yang begitu dalam. "Tapi ini bukan tentang musuh yang bisa kamu singkirkan, Elian!" potong Rinjani. "Ini bukan soal tender perusahaan, pengkhianatan bawahan, atau saingan bisnis yang selalu bisa kamu menangkan dengan uang dan kekuasaanmu! Tapi ini tentang... tentang tubuhmu sendiri! Ini tentang penyakit y

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 40 - Puncak kegilaan Elian

    Rinjani meraih botol obat di atas nakas dengan jari-jari yang kaku karena ketakutan. Ia menuangkan air ke gelas, berusaha tidak memedulikan denting gemetar kaca yang beradu.​"Minum, Elian. Tolong... ini akan membuatmu sedikit lebih tenang," pinta Rinjani.Sudah jam sebelas mala

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 32 - Terlambat

    Satu minggu berlalu. Rumah Baskara berubah menjadi tempat yang mengerikan. Elian tidak lagi pergi ke kantor. Ia mengurung diri di rumah, menolak makan, dan hanya mau meminum obat penenangnya dalam dosis yang mengkhawatirkan.​Bi Lastri mencoba membawakan nampan makanan ke kamarnya. "Tuan, makanlah

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 33 - Pulih di tempat masing-masing

    "Mencintaiku?" Rinjani tertawa getir, suaranya pecah di antara deru angin desa yang kering. "Atau kau cuma butuh wadah untuk meluapkan segalanya lalu menghancurkannya sesukamu? Kau sudah mengatakan banyak hal, Elian, dan semua itu adalah kebohongan yang dibungkus kemewahan. Aku membencimu! Pergi da

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 23 - Aku datang

    "Aku sudah berjanji akan menjaganya pada Mama dan Papa Tuan Elian," bisik Rinjani di antara isaknya. Ia mengingat tatapan tulus kedua orang tua Elian yang memintanya untuk menjaga putra mereka."Tapi seberapa lama aku kuat, Tuan? Aku adalah wadah, tapi wadah juga punya batasnya."

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status