Share

Bab 50 - Adik?

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-01-02 11:35:15

"ELIAN! CINTA KU! MANA CINTA KU?!"

​Sebuah lengkingan nyaring memecah ketenangan halaman depan rumah Baskara. Rinjani yang baru saja ingin bersantai di teras langsung berjengit kaget. Dari arah gerbang, muncul seorang pria dengan langkah yang... sangat gemulai, mengenakan setelan sutra motif bunga-bunga yang berkibar tertiup angin.

​Begitu melihat Rinjani, sosok itu berhenti mendadak, menaruh kedua tangannya di pipi dengan ekspresi dramatis.

​"Duh, Gusti! Istrinya Elian?!" teriaknya sambil berl
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 277 - Waktu

    Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saka duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang serasa mau pecah. Kamarnya gelap, hanya diterangi kilatan cahaya dari layar ponselnya. Setelah berjam-jam bertarung dengan nuraninya sendiri, tanpa babibu lagi, Saka langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi ibu sambungnya, Rinjani. Ia tahu, di rumah sana, wanita itu pasti sedang terjaga dalam badai air mata yang sama. Panggilan itu diangkat pada nada kedua. Suara Rinjani terdengar begitu parau dan bergetar di seberang telepon, langsung menuntut jawaban setelah Saka membeberkan rencana gilanya bersama Eran tentang obat eksperimental dari Profesor Vance. "Jadi... kemungkinan dia sembuh, itu nol? Dan ini hanya satu-satunya cara kita?" tanya Rinjani dengan suara setelah mungkin agar tidak membangun kan suaminya. "Ma, hanya ini jalan yang aku punya saat ini. Satu-satunya pilihan yang bisa aku dapat dari Papa Antonio," jawab Saka. "Dokter konvensional sudah angkat tangan, Ma. Mereka

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 276 - Secercah Harapan

    "Pa, apa Papa nggak bisa usahain, Pa? Cari di mana pun dokter terbaik di dunia ini buat Papa Elian. Aku mohon, Pa..." Saka memelas saat malam itu memasuki kediaman ayahnya. "Saka, tenangkan dirimu," ucap Antonio, suaranya berat dan tenang. "Kamu kira ini perkara mudah? Kanker stadium akhir bukan musuh di jalanan yang bisa Papa singkirkan dengan senjata atau uang. Bahkan untuk Papa sekalipun, melawan takdir dan penyakit itu bukan hal yang gampang.""Tapi pasti ada jalan kan, Pa?! Papa punya koneksi di seluruh dunia! Papa punya segalanya! Tolong, aku nggak mau kehilangan Papa Elian!" seru Saka frustrasi, air mata kemarahan dan keputusasaan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.Antonio terdiam, menatap lurus ke dalam manik mata Saka yang dipenuhi air mata. Di satu sisi, ada secuil rasa iri yang terselip di sudut hati Antonio melihat betapa hancurnya Saka demi pria lain. Namun, di sisi lain, ada rasa hangat yang menyeruak di dadanya. Antonio senang, sangat senang. Akhirnya Saka membuka ha

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 275 - Kebenaran

    "Eran...""Ya, kenapa, Sayang?" sahut Eran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Tangannya masih bergerak lincah di atas keyboard, memastikan laporan keuangan bulanan Baskara Group selesai tepat waktu sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh calon mertuanya.Lana melangkah mendekat dengan ritme yang tidak seceria biasanya. Ia menarik kursi di hadapan meja kerja Eran, lalu duduk diam sambil terus memperhatikan tunangannya itu. Matanya menatap lamat-lamat garis wajah Eran yang tampak lelah namun tetap terlihat tegas."Eran, ayo kita percepat pernikahan kita. Minggu depan, ya?"Klak.Gerakan jari Eran di atas keyboard langsung terhenti seketika. Pria itu meletakkan berkas di tangannya, lalu mendongak menatap Lana dengan alis yang bertaut rapat."Minggu depan? Kamu bercanda?" Eran mengembuskan napas pendek, mengira pendengarannya sedang bermasalah akibat kurang tidur. "Kenapa mendadak begitu, Lana? Kamu tahu sendiri kan, kalau semua hal itu butuh persiapan yang matang. Baru d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 274 - Keinginan dan kesempatan

    "Kamu adalah napas dan hidupku. Bagaimana mungkin aku mengizinkanmu mengambil alih rasa sakit ini?" canda Elian sekilas, mencoba mencairkan suasana meski suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan. Tangan besarnya yang sedikit gemetar perlahan membelai punggung Rinjani yang masih terguncang di pelukannya. Elian menempelkan dagunya di puncak kepala sang istri, mengecupnya dengan penuh kelembutan. "Aku sudah melewati puluhan badai dalam hidupku, Rinjani. Dan aku yakin, badai yang satu ini pun pasti bisa aku lewati seperti biasa. Aku janji." Namun, Rinjani menggeleng kuat. Ia melepaskan pelukannya, mendongak menatap wajah suaminya dengan mata yang memerah dan menyiratkan keputusasaan yang begitu dalam. "Tapi ini bukan tentang musuh yang bisa kamu singkirkan, Elian!" potong Rinjani. "Ini bukan soal tender perusahaan, pengkhianatan bawahan, atau saingan bisnis yang selalu bisa kamu menangkan dengan uang dan kekuasaanmu! Tapi ini tentang... tentang tubuhmu sendiri! Ini tentang penyakit y

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 273 - Jangan Pergi

    "Ada apa, Pa?" tanya Saka pelan. Langkahnya tertahan di dekat pintu. Firasat buruk yang sejak tadi mengintai dadanya kini semakin kuat. Elian tidak langsung menjawab. Pria itu berbalik perlahan, menatap putra sulungnya yang kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan mandiri. Ada binar kebanggaan yang luar biasa di mata Elian, sekaligus rasa perih yang teramat sangat karena menyadari waktunya untuk melihat sang putra tidak akan lama lagi.Dengan tangan yang gemetar halus, Elian membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih tebal berlogo rumah sakit internasional dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Saka."Buka dan bacalah," ujar Elian, suaranya terdengar sangat tenang—terlalu tenang untuk situasi ini. Saka melangkah mendekat, mengernyitkan dahi. Ia meraih amplop itu, membuka lipatan kertas di dalamnya, dan mulai membaca baris demi baris hasil laboratorium medis tersebut.Matanya membelalak lebar, menatap kata-kata ilmiah yang tertul

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 272 - Vonis

    "Dok, bagaimana? Apa ada kemungkinan sembuh?" tanya Elian. Setelah menjalani rangkaian tes, dia berharap ada kemungkinan bisa bertahan lebih lama. Dokter senior di depannya menghela napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap Elian dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba. Di tangannya, lembaran hasil laboratorium dan rontgen dada memperlihatkan noda gelap yang mengerikan."Pak Elian... saya ingin memberikan kabar baik, tapi kebohongan tidak akan membantu situasi Anda," ujar dokter itu dengan nada selembut mungkin. "Hasil biopsi dan CT Scan menunjukkan bahwa Kanker Paru-Paru yang Anda derita sudah memasuki Stadium 4 (Stadium Akhir). Sel kankernya sangat agresif dan sudah bermetastasis, menyebar hingga ke area kelenjar getah bening dan mendekati dinding jantung.""Operasi sudah tidak memungkinkan lagi karena posisinya terlalu berisiko, Pak," lanjut dokter itu dengan berat hati. "Fungsi organ Anda juga terus menurun. Kita hanya bisa melakukan terapi paliatif dan kemote

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 102 - Putus Asa

    Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku.​"Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah.​"Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 105 - Selamat Menempuh hidup baru, May!

    Suasana di masjid itu begitu kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Maya. Dekorasi bunga melati dan mawar putih premium menghiasi setiap sudut ruangan.Di kursi pesakitan—begitulah Maya menyebut kursi pengantin itu—ia duduk dengan kebaya putih yang sangat cantik, namun wajahnya tertutup kain

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 96 -

    ​"Duh, El! Rasanya pengen banget gue sewa tukang santet paling mumpuni se-Asia Tenggara, biar paman lo itu bisulan sebadan-badan! Kesal banget gue, masa karya seni gue dianggap kayak tumpukan koran bekas. Minimal kasih dia gatal-gatal yang nggak sembuh tujuh turunan deh, biar dia nggak sempat mik

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 100 - Uang & cinta

    Setelah jam yang terasa berdetak tanpa henti, akhirnya pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. ​"Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Maya dengan suara gemetar, matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan.​"Kami berhasil mengembalikan ritme jantungnya, tapi kea

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status