MasukMalam harinya, di sebuah kafe terpencil dengan lampu remang-remang dan iringan musik jazz, Boy sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berpenampilan nyentrik. Rambutnya dicat ungu pastel, mengenakan kemeja sutra motif bunga-bunga yang mencolok, dan kacamata bulat bertengger di hidungnya. Di depannya terhampar laptop dengan layar penuh kode-kode yang hanya bisa dipahami olehnya. Ini adalah Leo, sahabat sekaligus ahli peretas andalan Boy.
"Gila ya dia, Mas Boy! Baru juga bentar d"Aku janji, Pa..." bisik Eran, menatap lurus ke dalam mata Elian dengan keyakinan penuh. Ia menggenggam tangan Lana, menuntunnya untuk duduk bersama di atas panggung pelaminan yang megah bak singgasana raja.Pesta terus berjalan. Alunan musik romantis mengudara, dansa pertama pengantin baru yang memukau, hingga sesi foto dan bersalaman dengan ratusan tamu undangan yang datang silih berganti. Tak terasa, Elian melewati semua prosesi melelahkan itu begitu saja. Luapan rasa bahagia dan haru melihat putri bungsunya telah sah menjadi seorang istri seolah menjadi obat bius alami, mengubur rasa sakit yang membakar paru-parunya untuk sementara waktu.Di sudut area VIP, Antonio melangkah mendekati Elian. Di samping pria paruh baya itu, Karin ikut tersenyum lega melihat momen sakral tersebut berlalu tanpa ada air mata kesedihan."Kamu hebat, Elian," ujar Antonio, menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan tatapan penuh rasa hormat. Sebagai sesama pria tangguh, Antonio tahu berapa besar harga yan
Alunan musik klasik bergema megah di dalam ballroom hotel bintang lima yang didekorasi bak istana dongeng. Ribuan lampu kristal berkilauan, memantulkan kemewahan yang sempurna. Di tengah karpet merah yang membentang menuju panggung pelaminan, Elian Baskara berdiri dengan gagah, mengenakan setelan tuksedo hitam terbaiknya."Selamat buat pernikahan kamu, Sayang. Lihat, cantiknya putri Papa hari ini," bisik Elian, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Lana.Tangan Elian yang terasa sedingin es menggandeng erat jemari putrinya. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat pucat, kontras dengan kemegahan di sekelilingnya. Namun, ia mati-matian memaksakan sebuah senyuman hangat di bibirnya, menyembunyikan getaran ringan yang terus menjalar di sekujur tubuhnya akibat rasa sakit yang membakar paru-parunya.Di sudut barisan depan, Saka berdiri menatap pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Pemandangan hari ini seketika melempar ingatan Saka ke
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saka duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang serasa mau pecah. Kamarnya gelap, hanya diterangi kilatan cahaya dari layar ponselnya. Setelah berjam-jam bertarung dengan nuraninya sendiri, tanpa babibu lagi, Saka langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi ibu sambungnya, Rinjani. Ia tahu, di rumah sana, wanita itu pasti sedang terjaga dalam badai air mata yang sama. Panggilan itu diangkat pada nada kedua. Suara Rinjani terdengar begitu parau dan bergetar di seberang telepon, langsung menuntut jawaban setelah Saka membeberkan rencana gilanya bersama Eran tentang obat eksperimental dari Profesor Vance. "Jadi... kemungkinan dia sembuh, itu nol? Dan ini hanya satu-satunya cara kita?" tanya Rinjani dengan suara setelah mungkin agar tidak membangun kan suaminya. "Ma, hanya ini jalan yang aku punya saat ini. Satu-satunya pilihan yang bisa aku dapat dari Papa Antonio," jawab Saka. "Dokter konvensional sudah angkat tangan, Ma. Mereka
"Pa, apa Papa nggak bisa usahain, Pa? Cari di mana pun dokter terbaik di dunia ini buat Papa Elian. Aku mohon, Pa..." Saka memelas saat malam itu memasuki kediaman ayahnya. "Saka, tenangkan dirimu," ucap Antonio, suaranya berat dan tenang. "Kamu kira ini perkara mudah? Kanker stadium akhir bukan musuh di jalanan yang bisa Papa singkirkan dengan senjata atau uang. Bahkan untuk Papa sekalipun, melawan takdir dan penyakit itu bukan hal yang gampang.""Tapi pasti ada jalan kan, Pa?! Papa punya koneksi di seluruh dunia! Papa punya segalanya! Tolong, aku nggak mau kehilangan Papa Elian!" seru Saka frustrasi, air mata kemarahan dan keputusasaan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.Antonio terdiam, menatap lurus ke dalam manik mata Saka yang dipenuhi air mata. Di satu sisi, ada secuil rasa iri yang terselip di sudut hati Antonio melihat betapa hancurnya Saka demi pria lain. Namun, di sisi lain, ada rasa hangat yang menyeruak di dadanya. Antonio senang, sangat senang. Akhirnya Saka membuka ha
"Eran...""Ya, kenapa, Sayang?" sahut Eran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Tangannya masih bergerak lincah di atas keyboard, memastikan laporan keuangan bulanan Baskara Group selesai tepat waktu sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh calon mertuanya.Lana melangkah mendekat dengan ritme yang tidak seceria biasanya. Ia menarik kursi di hadapan meja kerja Eran, lalu duduk diam sambil terus memperhatikan tunangannya itu. Matanya menatap lamat-lamat garis wajah Eran yang tampak lelah namun tetap terlihat tegas."Eran, ayo kita percepat pernikahan kita. Minggu depan, ya?"Klak.Gerakan jari Eran di atas keyboard langsung terhenti seketika. Pria itu meletakkan berkas di tangannya, lalu mendongak menatap Lana dengan alis yang bertaut rapat."Minggu depan? Kamu bercanda?" Eran mengembuskan napas pendek, mengira pendengarannya sedang bermasalah akibat kurang tidur. "Kenapa mendadak begitu, Lana? Kamu tahu sendiri kan, kalau semua hal itu butuh persiapan yang matang. Baru d
"Kamu adalah napas dan hidupku. Bagaimana mungkin aku mengizinkanmu mengambil alih rasa sakit ini?" canda Elian sekilas, mencoba mencairkan suasana meski suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan. Tangan besarnya yang sedikit gemetar perlahan membelai punggung Rinjani yang masih terguncang di pelukannya. Elian menempelkan dagunya di puncak kepala sang istri, mengecupnya dengan penuh kelembutan. "Aku sudah melewati puluhan badai dalam hidupku, Rinjani. Dan aku yakin, badai yang satu ini pun pasti bisa aku lewati seperti biasa. Aku janji." Namun, Rinjani menggeleng kuat. Ia melepaskan pelukannya, mendongak menatap wajah suaminya dengan mata yang memerah dan menyiratkan keputusasaan yang begitu dalam. "Tapi ini bukan tentang musuh yang bisa kamu singkirkan, Elian!" potong Rinjani. "Ini bukan soal tender perusahaan, pengkhianatan bawahan, atau saingan bisnis yang selalu bisa kamu menangkan dengan uang dan kekuasaanmu! Tapi ini tentang... tentang tubuhmu sendiri! Ini tentang penyakit y
"Jangan pikirkan Cia sekarang. Pikirkan saja bagaimana caranya kita mengganti janin yang sempat hilang itu..."Rinjani merona hebat, jantungnya berdebar kencang saat napas hangat Elian menerpa kulit lehernya. "Aku berharap bisa memberinya dalam waktu singkat," gumam Rinjani lirih, hampir seperti b
"Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.Beg
Ponsel Elian di atas nakas bergetar hebat tepat setelah ia merebahkan diri di samping Rinjani. Layarnya menyala, menampilkan nama "Darmono".Elian menghela napas, ia tahu jika pria itu menelpon di jam seperti ini, artinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh jalur hukum bi
"Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya da







