Share

Bab 69 -

Author: Pipin
last update publish date: 2026-01-09 12:55:13

​Malam harinya, di sebuah kafe terpencil dengan lampu remang-remang dan iringan musik jazz, Boy sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berpenampilan nyentrik. Rambutnya dicat ungu pastel, mengenakan kemeja sutra motif bunga-bunga yang mencolok, dan kacamata bulat bertengger di hidungnya. Di depannya terhampar laptop dengan layar penuh kode-kode yang hanya bisa dipahami olehnya. Ini adalah Leo, sahabat sekaligus ahli peretas andalan Boy.

​"Gila ya dia, Mas Boy! Baru juga bentar d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 272 - Vonis

    "Dok, bagaimana? Apa ada kemungkinan sembuh?" tanya Elian. Setelah menjalani rangkaian tes, dia berharap ada kemungkinan bisa bertahan lebih lama. Dokter senior di depannya menghela napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap Elian dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba. Di tangannya, lembaran hasil laboratorium dan rontgen dada memperlihatkan noda gelap yang mengerikan."Pak Elian... saya ingin memberikan kabar baik, tapi kebohongan tidak akan membantu situasi Anda," ujar dokter itu dengan nada selembut mungkin. "Hasil biopsi dan CT Scan menunjukkan bahwa Kanker Paru-Paru yang Anda derita sudah memasuki Stadium 4 (Stadium Akhir). Sel kankernya sangat agresif dan sudah bermetastasis, menyebar hingga ke area kelenjar getah bening dan mendekati dinding jantung.""Operasi sudah tidak memungkinkan lagi karena posisinya terlalu berisiko, Pak," lanjut dokter itu dengan berat hati. "Fungsi organ Anda juga terus menurun. Kita hanya bisa melakukan terapi paliatif dan kemote

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 271 - Ngambek

    Beberapa minggu kemudian. "Ma, usir aja dia! Aku nggak mau dekat-dekat! Udah tua, bau keringat, badannya gede kayak badak! Bikin mual tahu nggak?!" jerit Sonya kesal dari balik punggung ibunya, Maya, sengaja menjadikan wanita paruh baya itu sebagai tameng. Di ambang pintu, Antonio bersusah payah meredam amarahnya. Ia sudah berdiri di sana selama hampir satu jam, membujuk istri kecilnya yang mendadak minggat dari rumah selama seminggu penuh. Dan alasannya? Hanya karena satu kesalahpahaman konyol. Seminggu yang lalu, saat mereka sedang makan siang di luar, Sonya yang baru kembali dari toilet melihat Antonio sedang berbicara dengan seorang klien wanita dari perusahaan logistik barunya. Keduanya hanya berjabat tangan secara profesional sebelum berpisah. Namun, lirikan mata wanita itu yang terlalu lama dan penuh damba pada suaminya berhasil membuat darah Sonya mendidih. Cemburu buta menguasainya, dan tanpa mau mendengarkan penjelasan apa pun, Sonya langsung kabur ke rumah ibunya. "Son

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 270 - Udah ngga sabar?

    "Udah seminggu, Pa! Kapan sih Kak Saka balik?!"Tanya Lana sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Namanya juga mereka lagi honeymoon, Sayang. Kenapa? Kamu iri?" tanya Elian sambil menahan senyum.Lana mendengus. Sebenarnya, alasan Lana kepo bukan cuma karena kangen kakaknya, tapi karena dia butuh bahan buat menyindir tunangannya sendiri. Di handphone-nya, percakapan dengan Eran benar-benar seperti transkrip pesan robot.Lana menatap cincin di jari manisnya dengan lesu. Acara lamaran kemarin itu mimpi atau apa sih? Kok sekarang dia jadi berubah kayak mesin pengolah data?"Nggak sabar? Mau dinikahin juga?" goda Elian. "Eran lagi sibuk banget di kantor, bukan berarti dia mau gantung hubungan kalian.""Papa juga sih! Kenapa harus ngasih kerjaan sebanyak itu ke dia?!" protes Lana. "Dia jawab pesan aku seadanya banget, Pa. Aku udah ngetik panjang lebar, curhat soal drama hidup sampai ngirim foto kucing lucu, jawabannya cuma 'Ok'. Cuma dua huruf, Pa! Ok! Ok doang! Gimana aku nggak kesal?!"

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 269 - Rapat Pagi Pengantin Baru

    Di sisi lain, pagi itu Antonio meregangkan leher nya hingga terdengar bunyi kretek yang memuaskan. Kepalanya masih sedikit berdenyut—efek terlalu lama terjaga sampai jam 5 subuh demi membereskan kekacauan "kado emas" yang dibuat anak buahnya di pesta semalam. Ia melirik ke samping. Sonya, istri kecilnya yang kelelahan, masih terlelap dengan posisi yang menggemaskan. Antonio mencondongkan tubuhnya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. "Sayang, bangun... Sarapan," bisik Antonio lembut. Sonya mengerang kecil, matanya perlahan terbuka. Begitu pandangannya fokus, ia tidak langsung bangkit. Matanya malah menjelajah liar ke arah dada bidang Antonio yang dibiarkan terbuka. Bekas luka akibat baku tembak di masa lalu, deretan tato artistik yang meliuk di balik otot-otot yang terlatih keras, serta gurat kelelahan yang justru membuatnya terlihat semakin liar—semuanya membuat rasa kantuk Sonya hilang seketika. Tanpa membuang waktu, Sonya menghambur, memeluk leher Antonio da

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 268 - Malam pertama? Tantangan?

    Setelah acara usai, Saka menaiki mobil meninggalkan resepsi yang legendaris itu. Karin, yang sedari tadi berusaha tenang dengan menatap pemandangan luar jendela, akhirnya menyerah. Ia menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat. "Apa sih, Saka? Dari tadi liatinnya kayak mau menelan orang hidup-hidup. Bikin risih tahu, nggak?" Tanya nya, karna sejak tadi suaminya hampir selalu menatap nya tanpa beralih sedetikpun. Saka menyeringai, senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Ia menggeser duduknya, merapatkan jarak hingga aroma parfum Karin yang memabukkan memenuhi indra penciumannya. "Hotelnya cukup jauh, Sayang," bisik Saka dengan suara rendah yang berat, membuat bulu kuduk Karin meremang. "Kalau mau tidur sekarang, nggak apa-apa. Tapi aku sarankan pakai waktumu sebaik mungkin. Karena setelah kita sampai di sana nanti... aku benar-benar nggak yakin bisa membiarkan istri cantikku ini memejamkan mata semalaman." Karin memutar bola matanya, meski wajahnya mulai memanas hingg

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 267 - Kado diluar Nalar

    "Udah, muka kamu nggak usah ditekuk kayak setrikaan gitu. Masih mending kamu punya Arin sekarang, kan?" goda Boy, sang desainer ternama yang hari ini tampil lebih mencolok dari lampu kristal di langit-langit ballroom. Arka, yang sejak zaman SMA sudah menyukai Sonya, hanya bisa menghela napas panjang. Ia berusaha memasang senyum paling tulus yang bisa ia kerahkan, lalu melangkah menuju Arin—gadis yang kini berdiri anggun di tengah kerumunan tamu. "Ayo, kita ketemu mempelai dulu," ajak Arka pada Arin, mencoba mengalihkan rasa sesak di dadanya. Saat tiba di pelaminan, mata hangat Sonya menyambut mereka. Ia tampak mempesona, dan di sampingnya, Antonio berdiri dengan aura bos mafia yang berusaha ditutup-tutupi oleh setelan tuxedo rancangan Boy yang sangat elegan. "Selamat, Sonya," ucap Arka pelan, menatap mata wanita yang pernah mengisi masa mudanya itu. "Gue tahu, lo bakal jauh lebih bahagia setelah ini." "Aku juga harap kamu bahagia dengan pilihanmu, Arka. Makasih udah datang," jaw

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 64 - Dor!

    "Kalian kira bisa kabur gitu saja, hah?!" raung Adrian. Wajahnya yang basah kuyup tampak benar-benar gila.​Dengan satu sentakan kuat, Adrian menarik kaki Rinjani hingga wanita itu tergelincir hebat. Kepalanya membentur lantai, dan sebelum ia sempat bereaksi, Adrian sudah berada di atasn

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 65 - Ular

    Rinjani hanya bisa mematung di atas kursi rodanya, menatap kosong ke arah pintu lorong rumah sakit tempat Elian baru saja digiring oleh dua petugas berpakaian sipil. Ia tidak menangis lagi—air matanya sudah kering—yang tersisa hanyalah kepasrahan yang menyesakkan dada. Ia tahu, meskipun Elian menye

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 58 -

    "Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.​Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-l

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 60 - Tunggu aku

    "Sendirian, Nyonya Baskara? Sepertinya tidak. Apa banci itu mengekor di belakangmu, atau dia sedang mengintip dari sudut gelap?" ​Adrian melangkah keluar. Suaranya masih sama—berat, berayun santai, namun membawa getaran yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia memutar-mutar pemantik per

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status