MasukPernahkah kamu nekat menerobos hujan?Di hari mendung, hujan turun rintik. Kamu harus pergi, dan kamu memilih tetap melangkah. Kamu pikir ini hanya gerimis—paling basah sedikit. Tapi di tengah jalan, rintik itu berubah. Makin deras. Makin dingin. Sampai akhirnya kamu basah kuyup, menggigil, dan sadar: prediksimu salah.Dulu Reya pikir, meninggalkan Langit tanpa memberi tahu tentang bayi di perutnya sama seperti keputusan menerobos hujan rintik itu. Dia yakin bisa menghadapinya. Sakit sedikit. Dia bisa tahan.Ternyata tidak.Rintik itu berubah menjadi badai. Dan yang hancur bukan hanya Reya, tapi juga Sky—bahkan mungkin Langit.Mobil Langit baru saja meninggalkan halaman. Pandangan Reya mengikutinya sampai bayangan pria itu benar-benar lenyap.Sesak.Reya memukul-mukul dadanya pelan, memaksa paru-parunya bekerja. Penyesalan seperti tak ada ujungnya. Terus menyiksa.Melihat Langit bersama Sky tadi, imajinasinya la
Langit memarkirkan mobilnya di halaman rumah Reya, tepat di samping mobil yang tadi Wendy dan Sky kendarai. Mesin dimatikan. Ia menoleh ke Sky sambil tersenyum.“Kita sampai,” katanya sambil melepas seat belt.Sky membalas senyum itu dan ikut membuka seat beltnya. Mereka turun dari mobil bersamaan.“Thank’s for the pizza. It seriously helped before I had to face my mom’s punishment,” Sky berkelakar.Langit terkekeh pelan. “You do know this punishment didn’t come out of nowhere, right?” ucapnya dengan ekspresi dibuat-buat seolah galak. Tangannya terangkat, mengacak rambut Sky dengan lembut. Senyumnya tulus.“Kamu berhak marah. Saya juga pasti marah kalau jadi kamu—”Dalam hati Langit menambahkan, mungkin saya bahkan bisa jauh lebih brutal dari kamu kalau ada di posisi itu.“Tapi kemarahan nggak bikin tindakan melukai orang lain jadi benar. Iya kan?”Sky mengangguk. “Noted, Coach. Lain kali saya akan belajar lebih
Ramon menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah Sky. Belum sempat mesin benar-benar mati, Reya sudah membuka pintu dan masuk. Gerakannya cepat, nyaris kasar. Pintu tertutup dengan bunyi yang terlalu keras untuk sebuah kebetulan.Ramon menoleh sekilas. Reya duduk tegak, menatap lurus ke depan. Wajahnya pucat, rahangnya kaku.“What’s wrong?” tanya Ramon akhirnya, pelan. “You look a mess … what happened?"Mobil mulai melaju. Jalanan siang itu ramai, tapi di dalam mobil terasa sunyi.“Apa Sky dapat masalah di sekolah?”“Iya.”Nada Reya datar. Terlalu datar.Ramon mengerutkan kening. “Masalah apa?”Reya menarik napas pendek. Tatapannya tetap lurus ke depan.“Dia mukulin temannya sampai masuk rumah sakit.”Ramon refleks menginjak rem sedikit. “What?!”Ia menoleh cepat. “Tha’s impossible. Sky would never do something like that.” “Tapi itu fakta.”Reya akhirnya menoleh. Ta
Adakalanya suatu hari, matahari terasa tepat berada di atas kepala. Panasnya menyengat, membuat isi kepala ikut mendidih. Keringat bercucuran. Tidak nyaman. Rasanya ingin marah-marah dan mengumpat pada apa saja.Lalu tiba-tiba hujan turun begitu saja.Tanpa mendung. Tanpa peringatan.Dan semua amarah itu hilang begitu saja.Itulah yang Langit rasakan.Suara Sky membuatnya luruh seketika. Emosinya mereda. Kekacauan dalam kepalanya tenang perlahan, seperti debu yang jatuh satu per satu ke dasar.Langit menoleh. Matanya bertemu dengan manik cokelat gelap Sky. Senyum anak itu tersungging tipis tapi terasa amat tulus. Langit bisa melihat jelas wajah lelah dan sudut bibir Sky yang sedikit biru. Sky masih amat muda.Sky—anak manis dan hangat itu—kenapa dia harus mendengar hinaan sekejam itu?Hanya dengan memikirkannya saja, dada Langit terasa disayat. Padahal sedetik lalu kepalanya masih penuh tanda tanya. Ia
Aroma kopi yang khas menguar di ruang makan rumah Bima. Wangi pahit itu bercampur dengan udara pagi yang sejuk dari halaman belakang. Hangat. Menenangkan. Matahari yang menyelinap lewat jendela kaca membuat suasana pagi terasa ringan, seolah hari ini akan berjalan tanpa beban.Sadewa berdiri di depan mesin penyeduh kopi. Cairan hitam pekat menetes pelan ke dalam cangkir. Ia bersenandung riang, tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama musik dari speaker kecil di sudut ruangan. Kemeja cokelatnya digulung sampai lengan, memperlihatkan pergelangan tangan yang sesekali bergerak mengikuti ketukan.Langit terkekeh pelan dari kursinya. Tangannya tersilang di dada. Lengan sweater cokelat yang ia tarik sedikit ke atas memperlihatkan jam tangan bermerek di pergelangan tangannya—kontras dengan penampilannya yang santai. Di hadapannya, cangkir kopi masih mengepulkan asap.“Morning.”Suara Irene muncul dari arah ruang tengah. Ia melangkah masuk sambil meletakkan
Malam yang panjang dan dingin akhirnya berganti pagi. Matahari bersinar cerah, tapi rumah Reya masih sama suramnya. Sky belum membuka suara. Ia juga tak keluar saat Wendy memintanya sarapan. Pintu kamar Sky baru terbuka ketika Reya mengajaknya berangkat. Sama seperti kemarin, anak itu masih menghindari tatapan Reya.Mereka berangkat cukup pagi. Wendy yang menyetir dan Reya duduk di samping. Sky di kursi belakang, headphone terpasang, mata terpejam‒ seolah sengaja menghindari percakapan apapun. Reya dan Wendy hanya bisa saling pandang, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Saat mobil Reya melewati gerbang sekolah, beberapa mobil lain sudah berjajar rapi di area parkir tamu. Sepertinya Reya dan Sky bukan yang pertama tiba. “Elo berangkat ke kantor aja, Wen. Nanti kalau rapatnya selesai gue kabarin,” ucap Reya sambil melepas seatbelt. “Nggak papa. Gue tunggu,” jawab Wendy cepat. “Gue juga udah izin nggak masuk kantor hari ini. Percuma gue ke kantor, pikiran gue pasti kesini terus.”







