Share

Janji Yang Tak Pernah Usai

Penulis: Eng_
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-14 21:00:10

Malam itu, udara Jakarta tidak sedingin Toronto, tapi angin yang bertiup dari arah danau memberi sejuk yang menenangkan. Lampu-lampu taman berwarna kekuningan memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan bayangan gemerlap seperti serpihan bintang yang jatuh ke bumi.

Reya berdiri ragu di ujung dermaga kayu yang sudah agak tua, namun masih kokoh. Kayu-kayunya sedikit berdecit ketika ia melangkah, seolah ikut menyambut kembalinya seseorang yang sudah lama hilang.

Sudah enam belas tahun sejak terakhir kali ia berdiri di tempat ini. Enam belas tahun sejak ia dan Langit berjanji akan selalu datang ke sini setiap bulan di tanggal mereka jadian. Janji yang tak pernah sempat Reya tepati hingga hari ini.

Janji itu jelas sudah lama lenyap bersama kepergiannya. Langit tidak mungkin benar-benar datang setiap bulan sementara Reya sudah menghilang. Tapi bagi Reya, janji itu masih jelas terukir di hatinya. Reya hanya tak punya kesempatan. Toronto ada di ujung dunia lain, terlalu jauh.

Hari ini
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sidang Komite

    Malam yang panjang dan dingin akhirnya berganti pagi. Matahari bersinar cerah, tapi rumah Reya masih sama suramnya. Sky belum membuka suara. Ia juga tak keluar saat Wendy memintanya sarapan. Pintu kamar Sky baru terbuka ketika Reya mengajaknya berangkat. Sama seperti kemarin, anak itu masih menghindari tatapan Reya.Mereka berangkat cukup pagi. Wendy yang menyetir dan Reya duduk di samping. Sky di kursi belakang, headphone terpasang, mata terpejam‒ seolah sengaja menghindari percakapan apapun. Reya dan Wendy hanya bisa saling pandang, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Saat mobil Reya melewati gerbang sekolah, beberapa mobil lain sudah berjajar rapi di area parkir tamu. Sepertinya Reya dan Sky bukan yang pertama tiba. “Elo berangkat ke kantor aja, Wen. Nanti kalau rapatnya selesai gue kabarin,” ucap Reya sambil melepas seatbelt. “Nggak papa. Gue tunggu,” jawab Wendy cepat. “Gue juga udah izin nggak masuk kantor hari ini. Percuma gue ke kantor, pikiran gue pasti kesini terus.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Bungkam

    Sore itu Reya masih di kantornya, terpaku pada layar laptop, memeriksa beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan.Ponselnya berdering. Reya mengernyit saat melihat nama yang berkedip di layar, Mr. Alex– konselor di sekolah Sky itu. Ini sudah lewat jam pulang sekolah. Ada apa?“Ya, selamat siang, Sir,” sapa Reya begitu ponsel menempel di telinganya. Di seberang, suara Mr. Alex terdengar hati-hati. “Ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang Sky.”Deg. Perasaan Reya langsung tidak enak.“Ada apa, Sir?” tanyanya, pelan tapi tegang.“Sky memukuli temannya hingga pingsan, dan sekarang temannya sedang dibawa ke rumah sakit.”Reya bangkit dari kursinya seketika. Jantungnya bertalu. “Apa‒ tunggu! Sky … apa?” suara Reya gemetar.“Saya rasa anda harus segera ke sini.”Meski Mr. Alex jelas tidak akan melihatnya, Reya mengangguk cepat, panik. “Baik. Saya akan ke sana sekarang.”Telepon ditutup.Reya menyambar tas dan kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangan dengan tergesa. Ia ba

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Batas Kesabaran

    Sky sudah cukup tenang.Bisik-bisik itu masih beredar. Tatapan aneh pun masih mengikutinya sepanjang pagi. Bahkan di kelas, dia berkali-kali memergoki teman-temannya menoleh ke arahnya. Tapi Sky belajar mengabaikannya. Tidak apa-apa. Dia bisa menahannya. Selama Elio, Lyra, Noah, dan Bian tetap berdiri di sisinya, semua itu bukan masalah besar.Pergantian jam terakhir berbunyi. Kelas Sky harus menuju laboratorium kimia. Elio dan Bian sudah lebih dulu keluar, disusul anak-anak lain. Sky masih di dalam kelas, merapikan buku-bukunya dengan gerakan pelan.Saat ia melangkah keluar, lorong sudah hampir kosong. Dan di sanalah Xander berdiri. Bersandar di dinding, tangan terlipat di dada, dengan senyum miring yang sejak pagi jelas mencarinya. Sepertinya melihat Sky tetap tenang setelah provokasi tadi pagi membuat Xander tidak puas.“Ternyata selain nggak punya bapak,” Xander membuka suara, nyaring di lorong sepi itu, “elo juga nggak punya malu ya.”Sky tidak berhenti. Dia terus berjalan.“Eh?”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Pesan Misterius

    Reya menurunkan kaca mobil begitu Sky membuka pintu.“Good luck, Sayang. See you after school.”Sky mendekat, mencium pipi ibunya singkat. “See you, Mom.”Ia berbalik, melangkah ke arah gerbang. Pagi itu cerah, tapi langit tidak menjamin perasaan manusia di bawahnya ikut cerah, kan?Begitu Sky melewati gerbang, ia menangkap sekilas tatapan beberapa siswa. Bukan tatapan biasa. Cara mereka melihat Sky terasa aneh.Mereka menunduk cepat setelah Sky menoleh. Tapi jelas tadi mereka saling bisik di belakang tangan, menunjuk samar ke arah Sky.Apa gue cuma overthinking? Mungkin. Sky menarik napas, memilih tidak ambil pusing. Namun semakin jauh Sky masuk ke halaman, semakin banyak tatapan itu berdatangan. Sama bentuknya, sama nadanya: berbisik, melirik, dan menahan tawa kecil.Langkah Sky mulai terasa berat.Saat ini tiba di depan kelasnya, Xander sudah disana, berdiri bersandar pada dinding. Tangannya terlipat di dada, wajahnya memancarkan senyum yang menyebalkan. Senyum yang membuat Sky me

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Gadis Plaster dan Air Mineral Waktu Itu

    Setengah sepuluh pagi. Matahari Jakarta menanjak cerah, menembus sela dahan peneduh di sudut taman Maplewood International High School. Daun-daun rimbun membentuk bayangan teduh, cukup untuk Lyra dan Sky berlindung. Kedua duduk bersila beralas rumput hijau. Jauh dari keramaian. Jauh dari kemungkinan Elio melihat dan mengolok-olok Lyra yang sedang pucat karena gugup.Lyra menggenggam ponselnya. Sudah tiga kali Lyra berkali-kali menggulir layar, tapi tetap tidak berani menekan link berwarna biru itu. Hasil Ujian Tengah Semester. Jari-jarinya seperti membeku.“Gue yakin hasilnya bagus, Ra. Chill.” Sky menepuk-nepuk pundak Lyra pelan. Tapi itu jelas tidak terlalu membantu. Lyra justru menatapnya sebal. Alis gadis itu bertaut lucu dengan pipi menggembung. Jujur Sky ingin tertawa, tapi dia tidak tega. Lyra benar-benar terlihat panik.Lyra kembali menatap layar. “Tapi jawaban gue banyak yang ngasal, Sky. Banyak banget. Gimana kalau …”Ia berhenti sendiri lalu menggeleng cepat seperti mengu

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Rumah yang Tak Pernah Jadi Rumah

    Sudah hampir sebulan sejak pertandingan Sky. Sudah hampir sebulan juga Langit tidak pulang ke rumahnya. Ini rekor. Biasanya Langit akan pulang setidaknya seminggu atau dua minggu sekali. Meski pulang dalam konteks Langit ini artinya hanya sekedar tidur dan memeriksa keadaan rumahnya. Tapi kali ini Langit benar-benar tidak menyambangi rumahnya sama sekali. Rumah yang dulu Langit bangun dengan penuh ambisi dan mimpi itu, kini hanya menjadi benda asing benda asing, tempat yang bahkan tak sanggup ia dekati.Sebulan ini Langit berpindah-pindah seperti pengungsi: beberapa hari tidur di rumah Sadewa, beberapa hari lagi pindah ke rumah Orion. Entah alasan apa yang ia pakai, tapi mereka semua seperti sepakat untuk tidak menebatnya. Hari ini hari minggu. Jam menunjukkan 11.30. Dan Langit masih tidur seperti batu di kamar tamu rumah Sadewa.Hingga pintu mendadak terbuka. Sisi kiri kasur melesak lebih dalam. Seseorang baru saja naik dan tubuh Langit tiba-tiba tertindih beban berat.“Bangun, Lan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status