Mag-log in15 Juli 2008
Berbahagialah secukupnya karena roda kehidupan berputar. Hari ini kau mungkin bahagia tapi besok tidak ada yang tahu. “Kamu harus percaya sama aku, Lang! Aku nggak mungkin selingkuh.” Suara Reya bergetar, tangisnya hampir pecah. “Kalau gitu jelasin kenapa bisa ada foto ini!” Bentakan Langit menggema. Reya terpejam ketakutan. Ia meremas ujung rok seragamnya di balik meja kuat-kuat demi menahan gemetar. Susah payah ia mengatur nafas sementara rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. “Jawab, Reya!” Baru kemarin Langit menggenggam mesra tangannya. Menatapnya dengan penuh cinta dan senyum merekah. Tapi detik ini, bahkan belum genap 24 jam dari terakhir kali Langit memanggilnya dengan panggilan sayang, pria itu membentaknya dengan berapi-api. Semua manis dan bunga-bunga bermekaran yang biasanya menyelimuti mereka kini berganti dengan kobaran yang membakar setiap inci tubuh Reya detik demi detiknya. “Aku udah bilang, itu bukan apa-apa, Lang,” jawab Reya sambil menunduk, setengah terisak. “Gimana bisa ini kamu bilang bukan apa-apa?” Langit menghantam meja, membuat lembaran foto di depan Reya bergetar Lewat sudut matanya, Reya bisa melihat Langit mengacak-acak rambutnya, frustasi. Ia tak berani menatap mata itu. Sakit sekali rasanya. “Bagian mana dari foto ini yang bukan apa-apa?” Langit kembali mencengkram pinggir meja, menatap lurus ke arah Reya yang justru menunduk makin dalam. Sepertinya reaksi Reya membuat Langit makin hilang kesabaran. “Jawab, Re!” ia meledak. Suaranya menggema hingga ke lorong kelas yang kini telah sepi. Reya tahu alasan Langit marah. Siapapun akan marah jika melihat kekasih yang sudah bersamanya selama hampir tiga tahun terpotret sedang berpelukan dengan pria lain seperti dalam foto itu. Namun Reya punya alasan untuk itu. Alasan yang tidak bisa ia jabarkan pada Langit. Tubuhnya masih gemetar, tapi dengan sedikit keberanian yang tersisa, Reya akhirnya mencoba mengangkat wajahnya. Membalas tatapan Langit yang seperti menyayat-nyayatnya tanpa ampun. “Aku udah bilang alasannya sama kamu tadi,” ucapnya lirih. Langit menarik napas dalam. Reya tidak tahu bagaimana menggambarkan emosi Langit saat ini. Pria itu terlihat marah dan sedih sekaligus. Langit yang biasanya terlihat ceria dan penuh semangat, saat ini sepenuhnya tampak kacau. “Yang mana?” tanya Langit. Nadanya tidak lagi tinggi, tapi masih tetap menusuk. “Yang kamu bilang kalau kamu cuma lagi curhat aja ke cowok sialan itu? Iya?” Reya mengangguk lemah. “Brengsek.” Langit menendang meja di samping Reya, membuat gadis itu tersentak dan memekik ketakutan. Air matanya sudah tak bisa ia tahan lagi. “Kamu mau aku percaya alasan naif kayak gitu?” tanya Langit nyalang. “Kalau aku yang ada di posisi kamu sekarang, apa kamu akan percaya kalau aku juga pakai alasan yang sama?” Tidak. Siapa yang akan percaya dengan alasan samar-samar seperti itu. Foto itu jelas memperlihatkan Reya sedang memeluk pria lain dengan begitu erat. Cewek gila mana yang curhat dengan pria lain sambil memeluk seperti itu, apalagi jika dia jelas-jelas punya pacar sempurna seperti Mahadewa Langit Andaru. Tapi Raya tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Karena jika ia melakukannya, semua hanya akan semakin rumit. Namun bahkan jika alasannya terdengar tidak masuk akal, tidak bisakah Langit percaya saja. Setidaknya kali ini. Sekali saja. Meskipun apa yang ia ucapkan jelas adalah sebuah kebohongan, tidak bisakah Langit menerima nya saja? Demi semua kebersamaan mereka selama tiga tahun terakhir. Demi semua waktu bahagia yang mereka bagi bersama. Demi semua kata cinta dan sayang yang terucap sama seringnya seperti tarikan nafas mereka. “Iya. Aku akan percaya,Lang..” Reya menguatkan hatinya. “Apapun itu, asal kamu yang bilang, aku akan percaya.” Langit tercenung lalu mundur satu langkah - yang entah bagaimana membuat Reya merasa tiba-tiba muncul jurang diantara mereka. Sorot mata itu tidak lagi Reya kenali. Pria di depannya bukan lagi Langit yang selama ini menjadikannya ratu. “Jadi maksud kamu, aku yang picik karena nggak bisa percaya?” Kalimat Langit seperti pedang es yang menghunus Reya tanpa ampun. Dingin dan menyakitkan. “Oke.Fine!” tandas Langit sebelum Reya bisa mengucapkan pembelaan. “Kalau kamu memang lebih pilih cowok brengsek itu. Silahkan!” Reya menggeleng kuat. “Bukan gitu maksud aku, Lang…” Tangan Langit terangkat. “Cukup, Re!” “Selama ini aku kira aku spesial buat kamu. Tapi kayaknya aku salah.” Wajah Reya sudah benar-benar basah. Ia juga sama frustasinya melihat Langit begini. “Bukan gitu, Lang… Aku..” sekali lagi kalimatnya tak selesai karena Langit kembali mengisyaratkan dia untuk diam. “Nggak perlu ada alasan lagi. Udah cukup,”putus pria itu. “Mungkin memang benar kata Mama, kita nggak bisa sama-sama.” Selama tiga tahun ini Reya selalu bahagia bersama Langit. Tidak ada satu hari pun yang terlewati tanpa merasa terberkati karena ia bisa menjadi pacar Mahadewa Langit Andaru. Bersama Langit, Reya merasa hidupnya yang rumpang menjadi sempurna. Langit yang tak pernah memandangnya sebelah mata meski dia hanya seorang yatim piatu miskin yang tak punya prestasi apa-apa. Langit yang selalu menjadikannya prioritas utama disaat orang lain mengabaikan keberadaan Reya. Langit satu-satunya yang selalu membanggakan Reya seolah ia adalah hal paling istimewa di dunia disaat bahkan orang tua Reya saja memilih untuk membuangnya di panti asuhan. Sepertinya Reya terlena dengan semua kebahagiaan itu. Ia lupa mempersiapkan diri bahwa bahagia itu ada jatahnya. Masa-masa rodanya di atas ada jangka waktunya dan tidak akan selamanya. Reya lupa, bahwa ia bisa saja jatuh. Dan hari ini adalah saat itu, waktu dimana jatah bahagia Reya sudah habis. Rodanya berputar tiba-tiba dan Reya terperosok pada titik terendahnya. Kehilangan Langit. “Semoga kamu bahagia sama pilihanmu.” Langit nya pergi. Reya sendirian. Bahkan untuk menahan langkah pria itu saja Reya sudah tidak berani. Hari itu, diujung senja yang nyaris gelap, di tengah ruang kelas kosong yang berantakan karena amukan Langit, Reya menangis sejadi-jadinya. Merayakan kehilangan paling menyakitkan dalam hidupnya dengan isakan pilu. Dia tahu bahwa ini mungkin akan terjadi saat memilih menyembunyikan semuanya dari Langit. Tapi ini pilihannya, cepat atau lambat dia memang harus melepaskan Langit. Jika harus hancur, cukup dia saja, Langit tidak boleh. “Maaf…” bisiknya nyaris tanpa suara. Tangannya turun, mengelus perutnya yang masih rata… untuk saat ini.Pukul 09.30 pagi.Langit baru saja tiba di ruangannya. Jasnya baru dilepas, kancing manset belum sepenuhnya terbuka. Ia masih berdiri sambil menggulung lengan kemeja ketika pintu didorong tanpa ketukan.Saga muncul dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.“Ada apa, Bang?”“Telepon Wendy. Tanyain dia lagi dimana!”Kening Langit berkerut. “Dia belum dateng?”Saga tidak menjawab pertanyaan itu. “Telepon aja.”Langit menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Kenapa nggak lo sendiri yang telepon, Bang? Kayak nggak punya nomornya aja.”
Lampu tanda record di ruang vocal akhirnya mati.Bian melepas headphone dari kepalanya, menggantungnya rapi lalu membuka pintu kada. Wendy sudah berdiri di luar, menyambutnya dengan senyum.“Capek nggak?”Bian menggeleng, senyumnya sopan seperti biasa. “Nggak, Kak.”Wendy mengangguk puas. Di luar dugaan, Bian bukan cuma punya suara bagus. Dia juga cepat menangkap instruksi Saga— bahkan yang terdengar absurd sekalipun. Kemampuannya tetap fokus di bawah tatapan intimidatif Saga sungguh pantas mendapat acungan jempol.“Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu. Jadwal berikutnya nanti gue kabarin.”“Iya, Kak. Om, saya pamit.”
Sudah jam makan siang. Reya baru selesai rapat bersama stafnya.Ia duduk di kursi nya. Menyandarkan punggung. Pandangannya jatuh ke luar jendela. Mengamati awan-awan kecil yang bergerak pelan.Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Langit di supermarket. Dan Langit sepertinya memang tidak main-main dengan kata-katanya.Tentu saja.Reya kenal Langit.Jika sudah bertekad, tidak akan ada yang bisa membuatnya mundur.Langit mengirim pesan WA setiap hari. Menanyakan hal sepele— sedang apa, sudah makan atau belum, bahkan tak jarang mengirim pesan random, menceritakan bagaimana harinya berjalan. Tak peduli Reya membalas atau tidak, pesan itu tetap dat
Sepanjang perjalanan, Reya tidak banyak bicara. Pandangannya lebih sering terlempar ke luar jendela, mengikuti lalu lalang kendaraan lain yang melintas cepat.Ibrar beberapa kali mencoba membuka obrolan, tentang pekerjaan, cerita lama, iklan di baliho, tapi Reya hanya menanggapi singkat. Separuh hati. Separuh sadar.Rasa bersalah mengendap pelan di dadanya. Mau bagaimana lagi, fokusnya sedang terpecah.Beruntung rumah Reya tidak terlalu jauh. Mobil akhirnya berhenti. Keheningan itu pun akhirnya selesai.Ibrar turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Reya turun lalu mengambil belanjaan dari bagasi.Di ruang tengah, Sky duduk bersila dengan konsol game di tangan, matanya terpaku pada layar TV.
Logika dan perasaan manusia seringnya tidak berjalan beriringan. Kita sadar sesuatu tak seharusnya dipertahankan, tapi hati tak semudah itu untuk melepaskan. Rak-rak supermarket berdiri rapi di bawah cahaya putih lampu neon. Reya mendorong troli pelan, matanya sibuk bergantian antara daftar belanja di ponsel dan derean barang-barang di depannya. Ia berhenti di depan rak minyak goreng. Botol ukuran besar ada di baris paling atas. Reya mengangkat tumitnya sedikit, bertumpu pada ujung kaki, ujung jarinya hampir menyentuh—Sret.Tangan lain lebih dulu mengambilnya. Reya menoleh. Matanya terbeliak kecil.Langit berdiri di sampingnya, senyum jahil terukir jelas.“Ternyata tinggi lo nggak nambah juga ya dari dulu,” ucapnya ringan sambil meletakkan botol minyak yang tadi ia ambil ke dalam troli Reya.Buru-buru Reya menurunkan kakinya, menegakkan badan. “Thanks,” katanya singkat. Datar. Beberapa detik berlalu dengan canggung. Reya tidak tahu harus bicara apa dan Langit juga hanya terus men
Langit dan Sky memilih sebuah restoran mie Yamin tak jauh dari Skywave. Tempatnya sederhana, khas Bandung, dengan jendela kaca lebar menghadap jalan utama yang mulai padat oleh arus pulang kantor.Lampu-lampu kendaraan berpendar memantul di kaca. Para karyawan berpakain rapi berjalan cepat di trotoar. Suara klakson bersahutan samar, bercampur aroma mie rebus dan minyak bawang yang hangat dari dapur terbuka.Mereka duduk di meja kosong dekat jendela.Seorang pelayan datang menyapa mereka dengan senyum ramah sambil memberikan buku menu. Keduanya membuka hampir bersamaan.Langit tidak butuh waktu lama. “Saya mie Yamin asin sama es jeruk.”Mata Sky melebar sedikit. Senyumnya mengembang. “Saya juga ke







