Share

Runtuh

Author: Eng_
last update Huling Na-update: 2025-09-01 22:12:35

Langit mengerang karena tidurnya terganggu. Suara ketukan pintu dan seruan dari luar pintu kamar yang memanggil namanya membangunkan Langit dari tidur yang belum benar-benar lelap. 

“Iya, sebentar,” sahutnya parau.

Dengan langkah gontai, Langit meraih pegangan pintu, menariknya tanpa minat lalu melongok ke luar kamar.

“Kenapa, mbak? Aku udah bilang kan kalau hari ini udah mulai libur,” ujarnya.

Wanita di depan Langit tersenyum sungkan. “Maaf, mas. Tapi tadi Nyonya minta saya kasih ini ke mas Langit. Katanya harus dibuka sekarang juga,” ia berujar sambil menyodorkan sebuah flashdisk berwarna hitam.

Kening Langit berkerut. Nyawa dan kesadarannya belum terkumpul penuh tapi ia tetap bisa menilai bahwa ini aneh. Pertama, apa yang ada di dalam flashdisk itu hingga ia harus membukanya sekarang juga dan yang kedua, mereka tinggal satu rumah, apapun isi flashdisk itu, bukankah akan lebih mudah jika memberitahukannya langsung pada Langit.

“Oke. Makasih, mbak,” ucapnya sambil menutup pintu.

“Oh iya, Mas!” Mbak Inah menahan pintu kamar Langit, “Nyonya bilang, kalau Mas Langit butuh, beliau ada di ruang keluarga.”

Rasanya semakin janggal. Tidak biasanya Ibu Langit bersikap seperti ini. 

Langit buru-buru membawa langkahnya menyeberangi kamar. Meraih laptopnya dan menancapkan flashdisk mencurigakan itu. Hanya ada satu file berupa video yang terpampang. Entah kenapa perasaan Langit jadi tidak enak. Firasatnya mengatakan kalau dia membuka video itu, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dan benar saja, curiosity kill the cat.

Langit menatap nanar pada video yang baru saja ia putar. Ia tidak ingin mempercayai apa yang ia lihat dan dengar dalam video itu. Terlalu menyakitkan.

Tangannya mengepal kuat sementara hatinya terbakar amarah. Ia mencabut flashdisk dengan kasar tepat setelah video sialan yang baru saja ia lihat sampai pada detik terakhirnya. Tanpa menutup laptopnya, Langit segera berlari meninggalkan kamar. Membuat langkah tergesa dan dipenuhi amarah. Kini ia tahu kenapa sang ibu sampai harus memberitahu dimana beliau berada. 

Tak..

Tanpa basa-basi Langit melemparkan benda kecil hitam itu ke atas meja, tepat di depan Nyonya Andaru - sang Ibu - yang tengah menikmati pagi dengan secangkir teh.

“Selamat pagi, Sayang,” ucap wanita itu riang seolah tidak melihat bahwa Langit datang dengan amarah yang menyala-nyala.

“Kenapa harus begini, Ma?” suaranya bergetar tapi penuh amarah. “Kenapa Mama harus ikut campur urusan aku sama Reya?!  Aku sudah nurut semua sama Mama. Aku nggak pernah ngecewain Mama. Tapi kenapa… kenapa harus begini?!”

Nyonya Andaru menghela napas, sudut bibirnya tersungging senyum kecil seolah amukan Langit hanyalah ocehan anak kecil keras kepala yang tak masuk akal. “Kamu sudah lihat sendiri ‘kan, bukan Mama yang maksa. Gadis itu yang datang sendiri ke Mama. Mama cuma ingin yang terbaik.”

“Itu bukan Reya yang aku kenal!” Langit berujar dingin. “Reya nggak mungkin jual hubungan kami demi uang.” 

Bahu nyonya Andaru terangkat, ekspresi wajahnya jelas mencemooh pernyataan “Faktanya, dia sendiri yang datang ke Mama dan ambil uang itu. Semua sudah jelas ada di video?”

“Mama ancam apa Reya?” Sergah Langit. Kepalanya berdenyut, pening. Ia masih tidak ingin percaya bahwa Reya benar-benar mengkhianatinya demi uang. Tidak. Setelah semua yang mereka lewati, tidak mungkin semuanya hanya demi uang.

“Kamu pikir Mama orang macam apa, Lang? Mama nggak mungkin melakukan hal rendahan begitu.” Nonya Andaru merapikan ujung gaunnya lalu menyandarkan punggung pada sofa mewahnya. Menatap Langit dengan sorot menantang. Seolah memaksa Langit mengakui bahwa selama ini penilaian Mamanya-lah yang benar.

“Mama sudah bilang sama kamu berkali-kali. Untuk orang seperti mereka, kita ini hanya pohon uang. Mereka melakukan segala cara untuk menipu kita dan saat kita lengah, mereka ambil apa yang mereka mau. Uang.”

“Reya bukan orang yang seperti itu!” 

Suara Langit makin tinggi tapi Nyonya Andaru tak peduli, ia tetap tenang mencecar Langit dengan omong kosong yang tidak ingin Langit dengar.

“Lalu orang seperti apa dia?” sorot mata itu kian intens. “Foto. Video. Semuanya asli. Bukankah itu sudah cukup jadi bukti?”

“Orang seperti mereka bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Bahkan jika harus menjual tubuh dan harga diri sekalipun.”

“Mama!” Suara Langit menggema. 

Pertama kali dalam hidupnya, ia membentak sang ibu. Betapapun ia kesal dan marah, Langit selalu berhasil mengendalikan diri, tapi tidak kali ini. Kalimat Ibunya melukai hati Langit terlalu dalam.

“Kamu bisa buktikan sendiri,” Nyonya Andaru balas menantang. “Kalau kamu nggak percaya, silakan cek. Lihat apakah dia masih ada di panti itu atau tidak.”

Hari yang buruk memang tidak ada di kalender. 

Baru kemarin perasaan Langit hancur berantakan karena foto Reya dengan pria lain yang bahkan tidak bisa Reya jelaskan. Lalu sekarang Langit harus menghadapi kejutan lain yang lebih menghancurkan hatinya.

Ia sudah berlari menjauh dari ruang keluarga, meninggalkan ibunya yang mungkin sedang tersenyum senang karena berhasil menggoyahkan kepercayaan Langit pada Reya. Langit menyambar ponselnya. Menekan tombol panggil dan menempelkan benda pipih itu di telinga. Wajahnya pias.

Satu kali, dua kali, tiga kali. Tidak aktif.

“Angkat, Re… tolong, angkat…” desisnya putus asa.

Ketakutan mulai menguasai tubuh Langit. Dengan tergesa ia menyambar jaket dan kunci motornya. Langit tidak peduli apapun, yang bisa ia pikirkan hanya secepat mungkin memastikan bahwa ibunya salah.

Motor yang Langit kendarai membelah jalan Jakarta yang padat, meliuk di antara kerumunan tanpa sedikitpun mengendurkan tarikan gasnya. Ratusan kali ia dimaki dan dihantam dengan klakson kemarahan, tapi Langit tak hirau. Ia hanya butuh bertemu Reya. Bahkan jika semua itu benar, Langit akan menerimanya. Jika memang bukan Langit yang Reya mau, ia akan merelakannya, asalkan Reya tidak pergi. 

Langit memarkirkan motornya asal begitu tiba di panti. Tapa permisi ia lantas menerjang pintu depan dengan wajah kacau. Jantungnya bertalu-talu ketakutan.

“Reya mana, Bu?” tanyanya kalut. “Saya mau ketemu Reya!” 

Pengurus panti hanya menatap Langit dengan iba. “Maaf, Nak. Reya sudah pergi sejak pagi tanpa pamit. Ibu juga tidak tahu Reya kemana.” 

Langit tercekat. Dunianya runtuh.

***

Apapun boleh terjadi asal buka Reya yang menghilang dari hidupnya.

Dengan panik, Langit kembali memacu motornya. Dia tidak tahu harus mulai dari mana, yang ia tahu hanyalah dia harus segera pergi mencari Reya sebelum terlambat.  

Namun kadang saat kau benar-benar butuh keberuntungan, semesta justru membawamu pada ujung yang sebaliknya. 

Pikirannya yang kacau dan pandangannya yang kabur karena air mata akhirnya membuat Langit kehilangan kendali motornya. Ia mencoba menarik rem kuat-kuat…

Cciiitttt………..

Suara gesekan ban dengan aspal terdengar nyaring. Tapi sayangnya sudah terlambat. Langit oleng, motornya menabrak pembatas jalan. Tubuhnya terlempar ke jalanan dan terguling terguling. Helmnya terpelanting lepas.

Langit terkapar. Kepalanya berdenyut. Sikunya perih dan ia bisa mencium bau anyir darah mengalir dari pelipisnya.

Apa semuanya harus berakhir begini?

 Orang-orang mulai berdatangan. Langit dibantu untuk duduk.

Tak jauh di depan Langit, motornya juga sama terkapar seperti dirinya. Celana karate yang tak sempat ia ganti sejak kemarin sore tak mampu menahan aspal panas, sobek dibagian lutut, menampakkan luka menganga hasil gesekan dengan aspal. 

“Mas, gimana, mana yang sakit?” seseorang bertanya, Langit tidak yakin yang mana, dia tidak memperhatikan, tapi pertanyaan itu membawanya kembali sadar. Saat ini tubuhnya memang luka-luka, tapi semua luka fisik yang ia alami tak seberapa dibanding luka di hatinya. 

Langit tidak mau menyerah. Masih ada kesempatan.

Dengan sisa tenaga dan tangan bergetar, ia meraih ponsel yang untungnya masih selamat di saku jaketnya. Nomor pertama yang ia tekan: Sadewa.

“Dewa… tolong. Cari Reya. Gue mohon…” suaranya hampir tidak terdengar.

Orang-orang yang berkerumun di sekitar Langit saling bersahut-sahutan membicarakan apa yang terjadi dan suara itu sepertinya tertangkap oleh Sadewa di ujung telefon.

“Elo kenapa, Lang? Elo di mana?” Sadewa bertanya panik.

“Aku nggak papa. Tapi tolong cari Reya! Tolong…” 

Tidak puas dengan jawaban Langit, Sadewa membentak, “Jawab dulu elo dimana!”

“Gue lagi sama Orion, kita susul elo sekarang juga.”

Langit tidak punya waktu. Dia harus segera mencari Reya dan dia butuh Sadewa menolongnya. Maka dengan terbata, Langit menjelaskan posisinya. Tapi setelah itu Langit tidak ingat lagi, semuanya tiba-tiba gelap. Langit pingsan.  

***

Kemarin sore, Langit merasa hidupnya kacau. Kekasih yang sudah bersama dengannya selama tiga tahun ini tiba-tiba mengkhianatinya dengan memeluk pria lain. Dengan hati terluka, ia mengucapkan kata yang tak pernah terpikir akan keluar dari mulutnya. Langit mengakhiri hubungannya dengan Reya.

Sakit di hatinya luar biasa. Dia bahkan tidak bisa memejamkan mata. Malamnya habis dengan berlatih karate. Berharap pikirannya akan teralihkan. Tapi nyatanya tidak. Semakin ia memikirkannya, Langit semakin menyesali perbuatannya.

Pagi ini dia berniat memohon pada Reya agar mau menerimanya kembali. Apapun alasan Reya tentang foto itu, Langit akan menerimanya. Dia akan menelannya dan tidak bertanya lagi.

Namun semesta bekerja dengan cara yang unik. Langit justru berakhir di sini, terduduk di kamar rumah sakit dengan perban di pelipis. Orion duduk menepuk bahunya, Sadewa berdiri di sisi lain, namun tak ada kata yang mampu menenangkan.

Langit menunduk, menggenggam ponselnya erat. Nomor Reya tetap tidak bisa dihubungi. Orion dan Sadewa sudah coba mencari ke semua tempat yang mungkin. Mereka juga bertanya pada semua teman sekelas, tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu Reya pergi kemana. Dan yang lebih menyakitkan, Ramon - pria yang memeluk Reya dalam foto itu juga ikut menghilang.

Air matanya mengalir, suara tercekik keluar di antara isakan:

“Reya… jangan pergi. Tolong jangan tinggalkan aku…”

Mahadewa Langit Andaru bukan hanya kehilangan seorang kekasih, ia baru saja kehilangan tujuan hidupnya.

  

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Konsistensi

    Pukul 09.30 pagi.Langit baru saja tiba di ruangannya. Jasnya baru dilepas, kancing manset belum sepenuhnya terbuka. Ia masih berdiri sambil menggulung lengan kemeja ketika pintu didorong tanpa ketukan.Saga muncul dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.“Ada apa, Bang?”“Telepon Wendy. Tanyain dia lagi dimana!”Kening Langit berkerut. “Dia belum dateng?”Saga tidak menjawab pertanyaan itu. “Telepon aja.”Langit menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Kenapa nggak lo sendiri yang telepon, Bang? Kayak nggak punya nomornya aja.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Melewati Batas

    Lampu tanda record di ruang vocal akhirnya mati.Bian melepas headphone dari kepalanya, menggantungnya rapi lalu membuka pintu kada. Wendy sudah berdiri di luar, menyambutnya dengan senyum.“Capek nggak?”Bian menggeleng, senyumnya sopan seperti biasa. “Nggak, Kak.”Wendy mengangguk puas. Di luar dugaan, Bian bukan cuma punya suara bagus. Dia juga cepat menangkap instruksi Saga— bahkan yang terdengar absurd sekalipun. Kemampuannya tetap fokus di bawah tatapan intimidatif Saga sungguh pantas mendapat acungan jempol.“Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu. Jadwal berikutnya nanti gue kabarin.”“Iya, Kak. Om, saya pamit.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Kiriman Makan Siang

    Sudah jam makan siang. Reya baru selesai rapat bersama stafnya.Ia duduk di kursi nya. Menyandarkan punggung. Pandangannya jatuh ke luar jendela. Mengamati awan-awan kecil yang bergerak pelan.Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Langit di supermarket. Dan Langit sepertinya memang tidak main-main dengan kata-katanya.Tentu saja.Reya kenal Langit.Jika sudah bertekad, tidak akan ada yang bisa membuatnya mundur.Langit mengirim pesan WA setiap hari. Menanyakan hal sepele— sedang apa, sudah makan atau belum, bahkan tak jarang mengirim pesan random, menceritakan bagaimana harinya berjalan. Tak peduli Reya membalas atau tidak, pesan itu tetap dat

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sky's Fav Person

    Sepanjang perjalanan, Reya tidak banyak bicara. Pandangannya lebih sering terlempar ke luar jendela, mengikuti lalu lalang kendaraan lain yang melintas cepat.Ibrar beberapa kali mencoba membuka obrolan, tentang pekerjaan, cerita lama, iklan di baliho, tapi Reya hanya menanggapi singkat. Separuh hati. Separuh sadar.Rasa bersalah mengendap pelan di dadanya. Mau bagaimana lagi, fokusnya sedang terpecah.Beruntung rumah Reya tidak terlalu jauh. Mobil akhirnya berhenti. Keheningan itu pun akhirnya selesai.Ibrar turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Reya turun lalu mengambil belanjaan dari bagasi.Di ruang tengah, Sky duduk bersila dengan konsol game di tangan, matanya terpaku pada layar TV.

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Aisle of Memories

    Logika dan perasaan manusia seringnya tidak berjalan beriringan. Kita sadar sesuatu tak seharusnya dipertahankan, tapi hati tak semudah itu untuk melepaskan. Rak-rak supermarket berdiri rapi di bawah cahaya putih lampu neon. Reya mendorong troli pelan, matanya sibuk bergantian antara daftar belanja di ponsel dan derean barang-barang di depannya. Ia berhenti di depan rak minyak goreng. Botol ukuran besar ada di baris paling atas. Reya mengangkat tumitnya sedikit, bertumpu pada ujung kaki, ujung jarinya hampir menyentuh—Sret.Tangan lain lebih dulu mengambilnya. Reya menoleh. Matanya terbeliak kecil.Langit berdiri di sampingnya, senyum jahil terukir jelas.“Ternyata tinggi lo nggak nambah juga ya dari dulu,” ucapnya ringan sambil meletakkan botol minyak yang tadi ia ambil ke dalam troli Reya.Buru-buru Reya menurunkan kakinya, menegakkan badan. “Thanks,” katanya singkat. Datar. Beberapa detik berlalu dengan canggung. Reya tidak tahu harus bicara apa dan Langit juga hanya terus men

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Kandidat Favorit

    Langit dan Sky memilih sebuah restoran mie Yamin tak jauh dari Skywave. Tempatnya sederhana, khas Bandung, dengan jendela kaca lebar menghadap jalan utama yang mulai padat oleh arus pulang kantor.Lampu-lampu kendaraan berpendar memantul di kaca. Para karyawan berpakain rapi berjalan cepat di trotoar. Suara klakson bersahutan samar, bercampur aroma mie rebus dan minyak bawang yang hangat dari dapur terbuka.Mereka duduk di meja kosong dekat jendela.Seorang pelayan datang menyapa mereka dengan senyum ramah sambil memberikan buku menu. Keduanya membuka hampir bersamaan.Langit tidak butuh waktu lama. “Saya mie Yamin asin sama es jeruk.”Mata Sky melebar sedikit. Senyumnya mengembang. “Saya juga ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status