Share

Aisle of Memories

Author: Eng_
last update Last Updated: 2026-02-15 12:51:24

Logika dan perasaan manusia seringnya tidak berjalan beriringan. Kita sadar sesuatu tak seharusnya dipertahankan, tapi hati tak semudah itu untuk melepaskan.

Rak-rak supermarket berdiri rapi di bawah cahaya putih lampu neon. Reya mendorong troli pelan, matanya sibuk bergantian antara daftar belanja di ponsel dan derean barang-barang di depannya.

Ia berhenti di depan rak minyak goreng. Botol ukuran besar ada di baris paling atas. Reya mengangkat tumitnya sedikit, bertumpu pada ujung kaki, ujun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Konsistensi

    Pukul 09.30 pagi.Langit baru saja tiba di ruangannya. Jasnya baru dilepas, kancing manset belum sepenuhnya terbuka. Ia masih berdiri sambil menggulung lengan kemeja ketika pintu didorong tanpa ketukan.Saga muncul dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.“Ada apa, Bang?”“Telepon Wendy. Tanyain dia lagi dimana!”Kening Langit berkerut. “Dia belum dateng?”Saga tidak menjawab pertanyaan itu. “Telepon aja.”Langit menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Kenapa nggak lo sendiri yang telepon, Bang? Kayak nggak punya nomornya aja.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Melewati Batas

    Lampu tanda record di ruang vocal akhirnya mati.Bian melepas headphone dari kepalanya, menggantungnya rapi lalu membuka pintu kada. Wendy sudah berdiri di luar, menyambutnya dengan senyum.“Capek nggak?”Bian menggeleng, senyumnya sopan seperti biasa. “Nggak, Kak.”Wendy mengangguk puas. Di luar dugaan, Bian bukan cuma punya suara bagus. Dia juga cepat menangkap instruksi Saga— bahkan yang terdengar absurd sekalipun. Kemampuannya tetap fokus di bawah tatapan intimidatif Saga sungguh pantas mendapat acungan jempol.“Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu. Jadwal berikutnya nanti gue kabarin.”“Iya, Kak. Om, saya pamit.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Kiriman Makan Siang

    Sudah jam makan siang. Reya baru selesai rapat bersama stafnya.Ia duduk di kursi nya. Menyandarkan punggung. Pandangannya jatuh ke luar jendela. Mengamati awan-awan kecil yang bergerak pelan.Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Langit di supermarket. Dan Langit sepertinya memang tidak main-main dengan kata-katanya.Tentu saja.Reya kenal Langit.Jika sudah bertekad, tidak akan ada yang bisa membuatnya mundur.Langit mengirim pesan WA setiap hari. Menanyakan hal sepele— sedang apa, sudah makan atau belum, bahkan tak jarang mengirim pesan random, menceritakan bagaimana harinya berjalan. Tak peduli Reya membalas atau tidak, pesan itu tetap dat

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sky's Fav Person

    Sepanjang perjalanan, Reya tidak banyak bicara. Pandangannya lebih sering terlempar ke luar jendela, mengikuti lalu lalang kendaraan lain yang melintas cepat.Ibrar beberapa kali mencoba membuka obrolan, tentang pekerjaan, cerita lama, iklan di baliho, tapi Reya hanya menanggapi singkat. Separuh hati. Separuh sadar.Rasa bersalah mengendap pelan di dadanya. Mau bagaimana lagi, fokusnya sedang terpecah.Beruntung rumah Reya tidak terlalu jauh. Mobil akhirnya berhenti. Keheningan itu pun akhirnya selesai.Ibrar turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Reya turun lalu mengambil belanjaan dari bagasi.Di ruang tengah, Sky duduk bersila dengan konsol game di tangan, matanya terpaku pada layar TV.

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Aisle of Memories

    Logika dan perasaan manusia seringnya tidak berjalan beriringan. Kita sadar sesuatu tak seharusnya dipertahankan, tapi hati tak semudah itu untuk melepaskan. Rak-rak supermarket berdiri rapi di bawah cahaya putih lampu neon. Reya mendorong troli pelan, matanya sibuk bergantian antara daftar belanja di ponsel dan derean barang-barang di depannya. Ia berhenti di depan rak minyak goreng. Botol ukuran besar ada di baris paling atas. Reya mengangkat tumitnya sedikit, bertumpu pada ujung kaki, ujung jarinya hampir menyentuh—Sret.Tangan lain lebih dulu mengambilnya. Reya menoleh. Matanya terbeliak kecil.Langit berdiri di sampingnya, senyum jahil terukir jelas.“Ternyata tinggi lo nggak nambah juga ya dari dulu,” ucapnya ringan sambil meletakkan botol minyak yang tadi ia ambil ke dalam troli Reya.Buru-buru Reya menurunkan kakinya, menegakkan badan. “Thanks,” katanya singkat. Datar. Beberapa detik berlalu dengan canggung. Reya tidak tahu harus bicara apa dan Langit juga hanya terus men

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Kandidat Favorit

    Langit dan Sky memilih sebuah restoran mie Yamin tak jauh dari Skywave. Tempatnya sederhana, khas Bandung, dengan jendela kaca lebar menghadap jalan utama yang mulai padat oleh arus pulang kantor.Lampu-lampu kendaraan berpendar memantul di kaca. Para karyawan berpakain rapi berjalan cepat di trotoar. Suara klakson bersahutan samar, bercampur aroma mie rebus dan minyak bawang yang hangat dari dapur terbuka.Mereka duduk di meja kosong dekat jendela.Seorang pelayan datang menyapa mereka dengan senyum ramah sambil memberikan buku menu. Keduanya membuka hampir bersamaan.Langit tidak butuh waktu lama. “Saya mie Yamin asin sama es jeruk.”Mata Sky melebar sedikit. Senyumnya mengembang. “Saya juga ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status