Mag-log inKanada, 2025
“Sky, hurry up. You’re gonna be late. Do you even know what time it is?” Wendi berteriak dari dapur. Aroma roti bakar dan omelet keju memenuhi rumah kecil mereka di Toronto. Sky Ardhanis menuruni tangga dengan satu tangan memegang kertas catatan penuh rumus sementara lengan yang lain mencangklongkan ransel hitamnya. “Just a sec! I’m double-checking the last question!” Wendy mencibir, “Kalau telat, rumus itu nggak bakal nolongin kamu.” Ia menaruh sepotong besar omelet keju buatannya di atas piring Sky yang baru saja duduk. Tak lama Reya muncul dari kamarnya sambil menguap. Wajahnya tampak lelah tapi ia sudah rapi dalam balutan blazer abu-abu. Satu tangannya menjinjing tas dan yang lain menggenggam kunci mobil. “Morning,” sapanya, masih dalam kuapan. Ia mendudukkan diri di samping Sky, meletakkan tas dan kunci mobilnya di atas meja sebelum kemudian membalik piring dan menyambut omelet dari Wendy. “Thank you,” ucapnya dengan senyum lelah. “Elo begadang lagi?” Wendy Mengomel. Reya hanya mengangkat bahu, dia masih lelah dan malas berdebat dengan Wedny pagi-pagi. Sementara itu Sky sudah duduk, menjejalkan suapan asam sambil tetap membaca catatan. Wendy menghela napas, “Sarapan yang bener, Sky!” gerutunya seraya mengambil kertas dari tangan Sky. “Wen!” Sky protes. Reya mengambil tindakan cepat, dengan garpu yang ia pegang, ia mengambil potongan omelet yang cukup besar menjejalkannya langsung ke mulut anak itu.“Chill, Sky. You’re already a genius. Grab the food before she starts going off on us,” ujarnya sambil melirik Wendy. Sky mendesah, lalu menelan omeletnya. “Fine. But if I fail, blame her cooking.” “Kurang ajar!” Wendy melempar serbet, membuat Reya tergelak. Bagi orang lain yang melihat dari luar, ini mungkin hanya momen sederhana, tapi bagi Reya ini adalah definisi rumah yang sebenarnya. Sedikit ribut, tapi hangat. “Elo pulang malem lagi nanti?” Wendy menuangkan jus jeruk untuk keduanya. Reya menggeleng. “Udah beres semua kemarin.” “And you?” Wendy beralih ke Sky. “Aku kenapa?” jawab remaja bermata coklat itu dengan mulut masih penuh omelet. “Are you gonna be home late again today?” Sky menelan omeletnya dan meneguk jus jeruk yang diangsurkan Reya. “Maybe, yeah… we still have practice for the year-end performance.” Ia melirik jam di tangannya. “Shoot, I’m late. Let’s move, Mom!” Ia meraih ransel dan berlari keluar. “Heh! Mana sopan santunmu?!” Wendy mengomel. “Thanks for the food!” teriak Sky dari halaman. Reya tertawa kecil. “That’s my boy.” “Yes. Nggak diragukan lagi,” cibir Wendy, meski matanya lembut. Beberapa detik hening, lalu Wendy bertanya lirih, “Elo udah bilang ke Sky soal tawaran pindah ke Indonesia?” Senyum Reya memudar. Ia menggeleng pelan. “Belum. Gue masih mikirin.” Sorot Wendy meredup, seolah ikut merasakan beratnya keputusan itu. Reya menghela napas. Pulang ke Indonesia berarti membuka luka yang sudah dia kubur dalam-dalam. Tapi sampai kapan Reya bisa terus lari?” “Come on, Mom!” teriakan Sky terdengar dari luar. “Yeah, I’m coming.” Reya meraih tas dan kunci mobilnya. Sebelum meninggalkan meja makan, ia menatap Wendy dengan senyum lembut, mencoba menenangkan. “Nggak usah dipikirin, Wen. Kita tunggu sampai year-end performance nya Sky dulu. Oke?” tawar Reya. Wendy menggangguk dan balas tersenyum, tapi sorot khawatirnya belum hilang. “I’m heading out. See ya,” Reya pamit. Reyasendiri yang menenangkan Wendy, tapi jauh di dalam dirinya, dialah yang paling takut. Enam belas tahun sudah berlalu, tapi bayangan masa lalu masih menempel jelas. Dan ia tahu, semakin Sky bertambah dewasa itu berarti cepat atau lambat, ia harus kembali menghadapi masa lalunya. Langit. **** Jakarta, 2025 “Untuk JMP bulan depan, semua sudah fix dan tinggal jalan. Tiket presalenya juga sudah sold out.” laporan dari divisi marketing menutup rapat mingguan Skywave Entertainment. Tepuk tangan bergema. Langit sebagai CEO duduk di ujung dengan punggung tegap. Disamping Langit ada Juan Alexander, Komisaris Utama Skywave. Di kursi-kursi berikutnya ada Sadewa Prayoga - Chief Marketing Officer, Sagara, Kepala Divisi produksi dan kreatif, duduk dengan tangan terlipat di dada dan ekspresi dingin andalannya, Orion, Kepala Divisi Talent Management, dan Kepala Divisi yang lain. “Good job, guys. Semua sudah sesuai rencana dan target. Hari ini cukup. Semua bisa balik lagi ke ruangan masing-masing. Thanks.” Langit menutup laptopnya, senyum tipis menghiasi wajah. Namun sebelum semua benar-benar bubar, Renata dari HRD mengangkat tangan. “Bang, ada titipan pesan dari tim HR.” Langit mengangkat alis. “Tentang apa?” Renata melirik Sagara yang sudah berdiri di pintu. “Anak-anak HR minta… Bang Saga jangan terlalu strict sama anak baru.” Ruangan langsung bergemuruh tawa. Juan menarik ujung kemeja flanel Sagara agar kembali duduk. “Dengerin dulu, Ga. Kasihan HR, tiap bulan ganti orang.” Sadewa bahkan sampai terbahak. “Serius, Bang. Lima kandidat kabur dalam dua bulan. Itu rekor, bro.” Sagara duduk kembali dengan enggan. “Gue butuh orang kompeten. Salah rekrut bisa hancurin tim.” Juan terkekeh. “Masalahnya di bosnya kali, bukan di kandidat?” Langit nyaris tersedak kopi. Orion ikut menggoda, “Masa cepetan elo ganti staf daripada Bang Dewa ganti pacar, Bang?” “Kenapa gue yang kena?!” protes Sadewa. Juan menambahkan, “Ya masa Langit? Dia satu aja nggak punya.” Langit memicingkan mata sambil mengacungkan jari tengah. “Fuck.” Semua meledak lagi dalam tawa Ketika tawa reda, Langit akhirnya bicara lebih serius. “Ga, gue ngerti lo picky. Tapi kalau gini caranya, HR yang rugi. Elo kasih aja mereka syarat yang detail, biar mereka bisa cari sesuai kebutuhan lo. Dan…” Langit mengangkat tangan saat Sagara siap membantah. “Begitu mereka nemu orangnya, kasih kesempatan sebulan. Baru kita evaluasi bareng-bareng.” Sagara hanya mendengus. “Terserah. Atur aja. Gue mau ke studio.” “Miara cewek ya lo di studio? Hobi banget ngedekem di sana,” Juan meledek. Sagara menatap tajam, lalu keluar. Juan masih tertawa keras. Langit ikut terkekeh. Ia sudah beridir dan tiba-tiba pintu ruang rapat didorong lagi dari luar, kepala Sagara menyembul, “Lang, tolong jemput Noah ya. Sekalian elo sama Orion ke Dojo!.” “Aman, Bang,” Juan tadi sibuk menggoda Sadewa, kini beralih melihat Langit. “Cari istri deh lo, Lang. Biar bisa punya anak sendiri. Udah umur segini masih ngurusin anak orang mulu lo.” Langit hanya tertawa dan tak menanggapi ucapan Juan itu. “Gue nanti langsung ke Dojo. Kalau ada apa-apa, telefon aja,” putusnya. Di luar langit sudah mulai redup. Sebentar lagi senja. Langit membawa langkahnya menyusuri kubik-kubik karyawan yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ia membalas anggukan sopan para karyawannya yang melihatnya lewat, tak lupa senyum khasnya yang teduh pun ia sunggingkan. Mahadewa Langit Andaru, CEO Skywave Entertainment, perusahaan di bidang musik yang sedang naik daun. Siapapun yang melihat pasti akan menganggap hidup Langit sudah sempurna. Wajah tampan, latar belakang keluarga terpandang dan karir yang cemerlang. Tapi jauh di balik itu semua, Langit menyimpan kekosongan dalam hatinya. Rasa kehilangan yang membuatnya tak pernah beranjak dari kenangan enam belas tahun lalu. Perasaan hampa itu masih nyata. Langit yang sempurna di mata orang lain, sebenarnya tak lagi utuh sejak kehilangan cinta pertamanya. Reya…Pukul 09.30 pagi.Langit baru saja tiba di ruangannya. Jasnya baru dilepas, kancing manset belum sepenuhnya terbuka. Ia masih berdiri sambil menggulung lengan kemeja ketika pintu didorong tanpa ketukan.Saga muncul dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.“Ada apa, Bang?”“Telepon Wendy. Tanyain dia lagi dimana!”Kening Langit berkerut. “Dia belum dateng?”Saga tidak menjawab pertanyaan itu. “Telepon aja.”Langit menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Kenapa nggak lo sendiri yang telepon, Bang? Kayak nggak punya nomornya aja.”
Lampu tanda record di ruang vocal akhirnya mati.Bian melepas headphone dari kepalanya, menggantungnya rapi lalu membuka pintu kada. Wendy sudah berdiri di luar, menyambutnya dengan senyum.“Capek nggak?”Bian menggeleng, senyumnya sopan seperti biasa. “Nggak, Kak.”Wendy mengangguk puas. Di luar dugaan, Bian bukan cuma punya suara bagus. Dia juga cepat menangkap instruksi Saga— bahkan yang terdengar absurd sekalipun. Kemampuannya tetap fokus di bawah tatapan intimidatif Saga sungguh pantas mendapat acungan jempol.“Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu. Jadwal berikutnya nanti gue kabarin.”“Iya, Kak. Om, saya pamit.”
Sudah jam makan siang. Reya baru selesai rapat bersama stafnya.Ia duduk di kursi nya. Menyandarkan punggung. Pandangannya jatuh ke luar jendela. Mengamati awan-awan kecil yang bergerak pelan.Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Langit di supermarket. Dan Langit sepertinya memang tidak main-main dengan kata-katanya.Tentu saja.Reya kenal Langit.Jika sudah bertekad, tidak akan ada yang bisa membuatnya mundur.Langit mengirim pesan WA setiap hari. Menanyakan hal sepele— sedang apa, sudah makan atau belum, bahkan tak jarang mengirim pesan random, menceritakan bagaimana harinya berjalan. Tak peduli Reya membalas atau tidak, pesan itu tetap dat
Sepanjang perjalanan, Reya tidak banyak bicara. Pandangannya lebih sering terlempar ke luar jendela, mengikuti lalu lalang kendaraan lain yang melintas cepat.Ibrar beberapa kali mencoba membuka obrolan, tentang pekerjaan, cerita lama, iklan di baliho, tapi Reya hanya menanggapi singkat. Separuh hati. Separuh sadar.Rasa bersalah mengendap pelan di dadanya. Mau bagaimana lagi, fokusnya sedang terpecah.Beruntung rumah Reya tidak terlalu jauh. Mobil akhirnya berhenti. Keheningan itu pun akhirnya selesai.Ibrar turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Reya turun lalu mengambil belanjaan dari bagasi.Di ruang tengah, Sky duduk bersila dengan konsol game di tangan, matanya terpaku pada layar TV.
Logika dan perasaan manusia seringnya tidak berjalan beriringan. Kita sadar sesuatu tak seharusnya dipertahankan, tapi hati tak semudah itu untuk melepaskan. Rak-rak supermarket berdiri rapi di bawah cahaya putih lampu neon. Reya mendorong troli pelan, matanya sibuk bergantian antara daftar belanja di ponsel dan derean barang-barang di depannya. Ia berhenti di depan rak minyak goreng. Botol ukuran besar ada di baris paling atas. Reya mengangkat tumitnya sedikit, bertumpu pada ujung kaki, ujung jarinya hampir menyentuh—Sret.Tangan lain lebih dulu mengambilnya. Reya menoleh. Matanya terbeliak kecil.Langit berdiri di sampingnya, senyum jahil terukir jelas.“Ternyata tinggi lo nggak nambah juga ya dari dulu,” ucapnya ringan sambil meletakkan botol minyak yang tadi ia ambil ke dalam troli Reya.Buru-buru Reya menurunkan kakinya, menegakkan badan. “Thanks,” katanya singkat. Datar. Beberapa detik berlalu dengan canggung. Reya tidak tahu harus bicara apa dan Langit juga hanya terus men
Langit dan Sky memilih sebuah restoran mie Yamin tak jauh dari Skywave. Tempatnya sederhana, khas Bandung, dengan jendela kaca lebar menghadap jalan utama yang mulai padat oleh arus pulang kantor.Lampu-lampu kendaraan berpendar memantul di kaca. Para karyawan berpakain rapi berjalan cepat di trotoar. Suara klakson bersahutan samar, bercampur aroma mie rebus dan minyak bawang yang hangat dari dapur terbuka.Mereka duduk di meja kosong dekat jendela.Seorang pelayan datang menyapa mereka dengan senyum ramah sambil memberikan buku menu. Keduanya membuka hampir bersamaan.Langit tidak butuh waktu lama. “Saya mie Yamin asin sama es jeruk.”Mata Sky melebar sedikit. Senyumnya mengembang. “Saya juga ke







