LOGIN“Kamu sebenarnya sudah tahu ada yang tidak beres dengan isi sup Nenek?”Pagi itu, Jefferson baru saja tiba di rumah setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Violetta yang sedang menuangkan air ke dalam gelas langsung berhenti.Ia menoleh.“Kenapa kamu bertanya begitu?”Jefferson meletakkan tasnya di sofa.“Karena reaksimu kemarin seperti sudah tahu ada sesuatu yang aneh dengan sup itu.”Violetta kembali menuangkan air.“Aku cuma tahu kalau saat menstruasi sebaiknya tidak terlalu banyak mengkonsumsi ginseng.”Jefferson menatapnya selama beberapa detik.“Cuma itu?”“Iya.”“Kamu tidak tahu Nenek memasukkan ramuan herbal lain?”“Aku tahu ada ramuan lain, tetapi tidak tahu jenisnya.”“Kapan kamu tahu?”“Waktu mencium sup itu, aku mencium aroma lain selain ginseng. Tapi, aku tidak tahu ramuan apa yang digunakan.”Jefferson menghela napas.“Oh.”Violetta menyerahkan gelas kepadanya.“Minumlah.”Jefferson menerima gelas itu.“Semoga Nenek tidak mengulanginya lagi.”“Iya.”Pagi itu, Jove
“Jadi, Anda sengaja memberi pasien obat pemicu gairah?”Joveline menatap dokter tanpa ragu.“Bukan. Itu untuk stamina.”Jefferson yang terbaring di ranjang rumah sakit menutup wajahnya dengan satu tangan.“Nenek!”“Itu cuma ramuan herbal biasa.”Dokter menghela napas sambil memeriksa hasil pemeriksaan di tangannya.“Ramuan tersebut memang mengandung bahan herbal, tetapi ada zat yang dapat memberikan efek stimulasi berlebihan pada tubuh. Itu yang membuat tubuh Anda terasa panas.”Jefferson menurunkan tangannya.“Lalu sekarang bagaimana?”“Karena jumlah yang diminum cukup banyak, kami menyarankan dilakukan lavage lambung untuk membersihkan sisa zat yang masih berada di lambung.”Joveline langsung mendekat.“Perlu dilakukan sekarang?”“Lebih baik segera.”Jefferson menatap langit-langit. Tubuhnya terasa semakin panas dan tidak nyaman.“Nenek, tolong jangan pernah membuat sup seperti itu lagi.”Joveline langsung mengangguk.“Iya, iya. Nenek janji.”“Serius?”“Serius.”Joveline terdiam seb
“Kadang, niat baik seorang nenek bisa berubah menjadi bencana yang tidak pernah masuk rencana.”Mobil Jefferson meninggalkan halaman Hirawan Kontraktor.Dari balik kaca, Violetta sempat melihat gedung kantornya semakin jauh. Ia tidak menyadari sebuah mobil masih berada beberapa meter di belakang mereka sebelum akhirnya berbelok ke arah berbeda.Violetta menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata.Pikirannya masih dipenuhi gudang lama, Dimas, Raka, Rudiyanto, dan pesan ancaman yang baru saja diterimanya.Beberapa menit berlalu dalam keheningan.Jefferson beberapa kali melirik ke arahnya. Kening Violetta terus berkerut, seolah ada sesuatu yang sedang memenuhi pikirannya.Awalnya Jefferson mengira istrinya masih memikirkan kejadian pagi tadi.“Maaf.”Violetta yang sejak tadi memejamkan mata langsung membukanya.Ia menoleh ke arah Jefferson.“Kenapa?”“Kalau tadi pagi aku salah bicara kepada Nenek sampai membuat dia memutuskan menginap.”Violetta kembali memandang ke luar jendela.
“Sesuatu yang sengaja disembunyikan tidak selalu hilang. Kadang, jejaknya hanya menunggu seseorang cukup teliti untuk menemukannya.”Alexander masih berada di ruang kerjanya.Laptop di hadapannya menampilkan data mengenai gudang lama Hirawan Kontraktor. Lokasinya masih tercatat sebagai aset perusahaan.Tidak ada pengalihan kepemilikan. Tidak ada kontrak sewa baru. Dan berdasarkan catatan resmi, gudang tersebut sudah tidak digunakan selama dua tahun.Alexander mengernyit.“Kalau memang sudah tidak digunakan, kenapa Raka dan Dimas masih datang ke sana?”Ia membuka dokumen pemeriksaan aset tahun sebelumnya. Gudang dinyatakan kosong. Tidak ada aktivitas operasional yang tercatat.Alexander menyandarkan tubuhnya.Justru itu yang membuatnya semakin curiga.Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Violetta.Alexander: Aku sudah memeriksa status gudangnya. Secara resmi, tempat itu mas
“Kalau begitu, kita tidak bisa terus membahas ini di sini.”Alexander menatap daftar enam nama yang masih berada di tangan Violetta.“Terutama setelah mereka mengirim foto Maya.”Violetta mengangguk.“Aku juga berpikir begitu.”Maya berdiri dari kursinya.“Lalu apa yang harus saya lakukan?”“Tante tetap bekerja seperti biasa.”Violetta menatap Maya.“Jangan menunjukkan kalau ada sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, untuk sementara jangan pergi sendirian.”Maya mengangguk.Alexander berdiri.“Aku akan mulai menelusuri Raka dan Dimas.”Violetta menoleh.“Dari mana?”“Aku akan mencocokkan informasi yang kita punya dengan data yang bisa diperoleh secara legal.”Violetta mengangguk.“Jangan lakukan apa pun sebelum ada bukti yang cukup.”“Aku tahu.”Ponsel Violetta bergetar.Pesan dari sekretariat m
“Kalau kamu terus mencari tahu tentang Rudiyanto, kamu akan kehilangan lebih dari sekadar perusahaan.”Violetta masih menatap layar ponselnya.Cakra berdiri di sampingnya.“Bu?”Violetta mengunci layar.“Kita kembali ke ruangan.”“Bukankah lebih baik kita pergi dari sini?”Violetta menggeleng.“Justru itu yang mereka inginkan.”“Tapi kalau kita tiba-tiba pergi setelah menerima pesan itu, mereka akan tahu ancaman mereka berhasil.”Cakra mengangguk.“Baik, Bu.”Mereka berjalan kembali menuju ruang kerja Violetta. Sepanjang jalan, Violetta memperhatikan orang-orang di sekitar mereka.Beberapa karyawan sibuk membawa dokumen. Sebagian lainnya berbicara di depan ruang rapat.Semuanya terlihat normal.Terlalu normal.Cakra melirik ke belakang.“Tidak ada siapa-siapa.”“Aku tahu.”“Lalu kenapa kita berjalan pelan







