LOGINBaskara mondar mandir di depan meja kerjanya, ia menatap laporan pembatalan kerja sama yang entah kenapa tiba tiba sekali ia dapatkan. "Kenapa? Kenapa saham perusahaan mulai merosot, bukankah skandal Raka sudah selesai," gumamnya, sambil menatap ke arah kertas yang tengah ia pegang. Jonathan berlari dengan tergopoh gopoh memasuki ruang kerja direktur itu. Ditangannya dibawa beberapa kontrak dokumen. " Tuan Baskara, dua perusahaan bagian pemasok utama baru saja membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita," ujar Jonathan dengan napas yang masih terdengar berat. Baskara langsung menoleh tajam. "Apa?" Jonathan segera meletakkan beberapa dokumen di atas meja. "Ini laporan resminya. Mereka mengatakan ada beberapa pertimbangan internal yang membuat mereka harus menghentikan kontrak kerja sama. Tapi..." Jonathan berhenti sejenak, terlihat ragu untuk melanjutkan. "Tapi apa?" tanya Baskara dengan nada tidak sabar. Jonathan menelan salivanya. "Ada kemungkinan mereka mendapat te
Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, Zevran akhirnya tiba di villa keluarga Suryani. Nerlina masih setia membantunya untuk melangkah masuk ke dalam villa mewah itu. "Kak Zevran, sudah diperbolehkan pulang?" tanya Melati, berlari menghampiri kakak pertamanya itu. Zevran hanya mengangguk, ia segera mendudukkan dirinya di sofa empuk tepat di sebelah Raka. Raka hanya mengamati tubuh kakaknya yang tengah terluka, dengan wajah jahil ya ia menepuk luka tusuk itu yang membuat sang empu berteriak. "Sialan kamu Raka!" Raka hanya tertawa melihat teriakan itu, entah kenapa melihat kakak pertamanya itu terluka dan tak berdaya membuat Raka senang untuk menggodanya. "Itu juga kan tusukan cinta dari kak Sarah," godanya. Zevran hanya melirik tajam ke adik keduanya itu, ia segera menoleh ke arah Nerlina yang tengah menjadi perawatnya belakangan ini. "Nerlina, bisa ambilan aku minum?" suaranya terdengar. Raka yang mendengar nada suara kakaknya itu merasa ingin muntah. Raka langs
Wulan melangkah memasuki ruang kunjung tahanan. Ia menatap beberapa polisi yang menyapanya, tujuannya kemari adalah bertemu dengan Sarah. Wanita yang dulu pernah menyakitinya dan membuat Zevran ikut menyakitinya dan juga membangkang kepadanya. "Saya ingin bertemu dengan Sarah," ujar Wulan kepada salah satu petugas polisi. Polisi itu hanya mengangguk, dan mengizinkan Wulan untuk duduk di kursi yang di hadapannya ada kaca yang menutupi dirinya dan Sarah nantinya. Setelah pengadilan memutuskan untuk memenjarakan Sarah selama 15 tahun. Ini hari ketiga setelah pengumuman itu. Setelah menunggu beberapa menit, terlihat seorang dengan rambut yang kusut dan wajah yang dipenuhi memar, seolah Wulan tahu bahwa gadis itu pasti telah dipukuli oleh narapidana lain. Sarah berjalan dengan pakaian berwarna Orange dan tangan yang diborgol, saat melihat Wulan datang Sarah mulai merasa kesal. Ia mengangkat telepon agar bisa berbincang dengan Wanita paruh baya di hadapannya. "Kau puas melihatku s
Untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus pergi ke mana. Kakinya terasa berat, tubuhnya yang penuh luka semakin melemah, tetapi yang paling menyakitkan bukanlah luka akibat pukulan para penculiknya. Melainkan kenyataan bahwa tempat yang selama ini ia anggap sebagai rumah ternyata tidak pernah benar-benar menerimanya. Perlahan, Haruna menurunkan tubuhnya dan duduk di depan pintu. Ia memeluk lututnya sendiri, menahan rasa sakit yang mulai kembali terasa. "Jadi selama ini..." bisiknya lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. "Selama ini aku hanya dianggap sebagai orang asing?Jika benar, kenapa mereka harus mengadopsiku." Haruna menatap tangannya yang penuh lebam. Tangannya yang dulu selalu ia gunakan untuk membantu keluarga itu, memasak, membersihkan rumah, dan melakukan apa pun yang mereka minta. Ia selalu berpikir bahwa suatu hari nanti Sari akan melihatnya sebagai anak. Namun ternyata, bagi wanita itu, dirinya hanya seseorang yang bisa dimanfaatkan. Suara langkah kaki te
Wulan yang sejak tadi menahan napas akhirnya mengembuskan nafas lega. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar kabar tersebut. "Syukurlah..." gumamnya pelan. Melati juga langsung menutup mulutnya, menahan tangis lega yang hampir keluar. Sejak melihat Zevran jatuh dalam pelukan Nerlina, pikirannya terus dipenuhi rasa takut kehilangan kakaknya. "Dok, apakah kami bisa melihatnya?" tanya Wulan cepat. Dokter mengangguk. "Bisa, tapi hanya beberapa orang. Kondisinya masih lemah, jadi jangan terlalu lama berbicara dengannya. Tuan Zevran masih perlu beristirahat." Wulan segera mengangguk. "Terima kasih, Dok." Setelah dokter pergi, Nerlina masih berdiri diam. Wajahnya terlihat ragu untuk masuk. Wulan yang menyadari itu segera mendekat. "Kamu juga ikut masuk." Nerlina langsung menatap Wulan. "Tapi, Tante..." "Zevran terluka karena dia ingin melindungimu. Aku yakin orang pertama yang ingin dia lihat saat sadar adalah kamu." Ucapan Wulan membuat Nerlina terdiam. Perlahan ia meng
Melati menatap tangan Sarah yang mengepal di hadapannya. Ada kemarahan yang begitu besar dalam tatapan wanita itu, seolah semua rasa sakit yang ia simpan selama ini telah berubah menjadi kebencian. "Jadi... sejak awal kau hanya menggunakan aku untuk memancing kak Zevran?" tanya Melati pelan. Namun, belum sempat Sarha menjawab dari arah belakang terdengar suara tendangan yang membuat pintu pabrik kosong itu terbuka lebar. Beberapa penjaga segera masuk ke dalam. Sarah yang merasa rencananya akan gagal segera menangkap Melati dan menaruh pisau itu tepat di depan leher Melati. "Diam disana kalian! Atau kalian akan melihat mayat gadis ini" teriaknya, yang membuat beberapa penjaga mulai terdiam. Wulan melangkah masuk ke dalam, kacamata hitam menghiasi wajahnya. Jas hitam yang ia kenakan bagian belakangnya terbang yang membuat orang yang melihat merasakan ketakutan dengan sikap wanita paruh baya itu. "Sarah, kau belum kapok juga ya?" suara dingin Wulan memekik telinga Sarah yang me
Wulan tidak menjawab pertanyaan sang putra keduanya itu, tanpa aba-aba justru menarik daun telinga Raka dan menyeret melewati kerumunan murid-murid lain menuju ke arah taman sekolah. Wulan segera melepaskan tangan setelah merasa puas memberikan pelajaran pada sang putra. Raka yang merasa kesakitan
Wulan menatap ke sekeliling mencoba mencerna apa yang baru saja ia alami, terlihat suasana kamar yang bernuansa putih dengan berbagai foto yang tampak familiar bagi Wulan Suryani. Hingga terdengar suara pintu kamar yang terbuka yang membuatnya sontak menoleh."Siapa itu?" ujarnya pelan ia masih bel
“Jika aku tahu membunuhmu semudah ini, akan aku lakukan dari dulu!”Wulan Suryani, wanita setengah baya itu tergeletak tak berdaya di tengah jembatan besar. Darah terus merembes dari kepalanya, membuat bau amis menusuk semakin tajam di tengah genangan air hujan.Namun, meskipun kesadaran Wulan nyar
Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah







