Share

Bab 3 Raka Suryani

Auteur: Namorae
last update Date de publication: 2026-03-10 14:19:23

Wulan tidak menjawab pertanyaan sang putra keduanya itu, tanpa aba-aba justru menarik daun telinga Raka dan menyeret melewati kerumunan murid-murid lain menuju ke arah taman sekolah.

Wulan segera melepaskan tangan setelah merasa puas memberikan pelajaran pada sang putra. Raka yang merasa kesakitan dan malu menjadi bahan tontonan memegangi telinga dengan wajah merah padam.

"Apa sih, Ma? Mama buat aku malu!” Raka melebarkan mata dengan suara meninggi hingga Wulan melonjak karena terkejut.

Baskara yang sedari tadi di sana segera menatap putranya tak kalah tajam. Tidak pernah diduga putra yang dibesarkan penuh kasih sayang akan bertindak kasar tanpa etika.

"Berbicaralah yang sopan pada Mamamu!” tegas Baskara.

Raka memutar bola mata merasa enggan melihat kedua orang tua, ia segera memasukkan tangan yang memegang cincin ke dalam saku celana.

"Raka! Mama tahu kamu mau mengalihkan saham yang mama kasih kepadamu atas nama Reina Maheswari, kan?" Wulan menyilangkan tangan ke arah dada dengan tatapan serius.

Raka yang mendengar itu melebarkan mata seolah bertanya bagaimana sang mama bisa tahu

Raka buru-buru mengubah ekspresi, bagi dirinya memberikan saham kepada Reina bukanlah suatu masalah besar.

Lagi pula keluarga Wulan Suryani juga tidak kekurangan uang dan itu bentuk keseriusan Raka pada gadis pujaan hatinya.

"Memangnya kenapa? Reina adalah gadis yang aku cinta dan ingin kujadikan istri. Apa salahnya memberikan sahamku." Dengan enteng Raka berbicara tanpa rasa bersalah.

Mendengar itu membuat ibu dua anak lelaki itu kehabisan kata-kata, siapa yang menyangka putranya akan benar-benar bodoh?

Wulan tidak bisa menahan darah yang mendidih segera mengangkat tangan dan menarik telinga Raka kembali.

"Maaa!!!! Lepasin sakit!" gerutu Raka.

Wulan tidak mengindahkan keluhan Raka, matanya semakin tajam menatap sang putra.

"Kamu bodoh sekali, Raka! Apa kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu lakukan?" suara Wulan terdengar penuh ketegasan.

Baskara yang berdiri di belakang, menatap Raka tidak kalah murka. "Raka, saham perusahaan itu bukan masalah sepele. Ini masalah masa depan keluarga kita, masalah keberlanjutan Suryani Group. Kamu tidak bisa seenaknya memberikan saham dengan jumlah besar kepada wanita yang tidak jelas asal usulnya!"

Raka memegangi kupingnya, tapi kali ini wajahnya terlihat semakin kesal. "Aku nggak ngerti kenapa kalian semua selalu ikut campur tentang kehidupanku. Aku cuma mau Reina jadi kekasihku, dia juga bukan orang yang gila harta, dia baik!"

Raka masih bersikukuh pada pendirian. Berpikir kedua orang tua terlalu ikut campur dan salah menilai Reina.

Wulan hanya menatap datar ke sang putra dengan ekspresi yang, entahlah, tidak bisa dideskripsikan. Kecewa, sakit hati, dan marah bercampur. Ia tahu sebanyak apapun nasihat dilontarkan kepada putra keduanya itu, semua akan tetap sia-sia. Namun, wanita itu sudah bertekad tidak mau mengulang kesalahan di kehidupan yang lalu.

"Baiklah, kalau dia benar benar baik." Wulan mencoba tenang, menghela napas panjang dengan mengulas senyum.

Raka yang mendengar itu merasa di atas awan. Menganggap sang mama akan luluh dan mengabulkan keinginannya seperti yang selalu dilakukan biasanya. Sementara Baskara terkejut berniat memperingatkan sang istri, tetapi belum sempat mulut lelaki matang itu terbuka suara Suryani lebih dahulu lolos keluar.

"Katamu gadis bernama Reina itu baik, bukan?” Wulan Suryani menjeda kalimat. “Kalau begitu mari kita lihat, apa dia akan tetap baik seperti yang kamu katakan setelah tahu semua fasilitas yang kami berikan padamu disita. Semua kartu dan kendaraan pribadi akan kami ambil kembali!”

Raka mendelik siapa yang menyangka mama yang selalu memberikan apa yang dimau kini menentang? Bagaimana bisa ia hidup tanpa black card dan fasilitas dari orang tuanya? Raka menggenggam tangan sang mama mencoba memohon agar semua itu tidak terjadi.

"Ma …. Aku tidak bisa hidup tanpa itu, kenapa mama egois sekali? Raka udah bilang kalau Reina itu wanita baik. Kenapa mama tidak percaya?" rengek Raka menggoyangkan goyangan tangan sang ibu.

Wulan tetap berdiri tegak, menatap Raka dengan tatapan yang tidak goyah.

"Egois? Tidak, Nak. Ini bukan tentang egois. Ini soal tanggung jawab dan bagaimana kamu memandang hidup ini, bagaimana kamu bisa memilah teman-teman kamu, mana yang tulus ataupun tidak." Suaranya lirih, tetapi penuh ketegasan yang tersirat.

Wulan tahu betul yang dilakukan sudah benar sebagai langkah awal agar sang putra tidak terjerumus di lingkungan buruk. “Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan peduli dengan semua itu."

Wulan melangkah maju, mendekati Raka yang terlihat dipenuhi emosi.

"Aku ingin kamu tahu, Raka. Uang dan fasilitas bukan segalanya. Kamu harus belajar untuk mandiri untuk tahu apa yang sebenarnya penting dalam hidup."

"Reina butuh itu semua, Ma. Kamu nggak ngerti apa yang aku rasakan!" Raka berkata dengan emosi yang meluap luap. Siapa sangka orang tua yang selalu memanjakannya kini justru mengatur hidupnya.

Baskara yang sejak tadi hanya mengamati, akhirnya maju dan menepuk bahu Raka. "Raka, kamu harus belajar untuk menghadapi kenyataan. Kehidupan bukan tentang selalu bergantung pada orang lain atau fasilitas yang ada. Itu hanya akan membuatmu lemah, bukan membuatmu lebih kuat."

Raka tidak bergeming mendengar ucapan dari kedua orang tuanya itu, ia merasa bahwa orang tuanya sudah tidak sayang dan peduli padanya. Mereka hanya peduli dengan perusahaan dan uang.

"Kalian mau aku hidup seperti orang miskin?”

Raka bertanya-tanya masih tidak percaya pada kejutan yang memutarbalikkan kehidupan sembilan puluh derajatnya. Melihat kedua orang tuanya terdiam dengan tatapan tegas membuat Raka menggeram marah.

“Baiklah jika itu mau kalian, tapi jangan lagi atur hidupku! Aku yakin Reina pasti masih mau menerimaku meski kalian membuangku! Lihat saja nanti! Raka pergi dengan perasaan marah luar biasa meninggalkan kedua orang tuanya untuk mencari keberadaan Reina.

Baskara yang ingin menghentikan kepergian sang putra, segera dihalangi oleh Wulan, "Sudah, Mas, biarkan untuk sementara, kita hanya perlu memantau dari jauh.”

Baskara menatap Wulan Suryani dengan ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya ia mengangguk mencoba mengalah pada keputusan istri.

"Aku harap dia akan segera sadar, Sayang. Aku tidak ingin dia menyesal nanti.” Baskara masih menatap punggung sang putra semakin menjauh dari taman.

Pemuda itu melangkah mendekati Reina yang masih berdiri bersama yang lain di tengah lapangan. Raka sempat menoleh ke arah kedua orang tuanya. Tatapannya penuh kekecewaan dan amarah.

Pernyataan cinta Raka yang seharusnya berjalan mulus telah gagal. Raka bergegas menarik tangan Reina mengajaknya pergi.

Reina yang sempat menoleh ke arah kedua orang tua Raka mengulas senyum, tetapi ketika tidak ada balasan senyum dari Wulan Suryani maupun Baskara gadis itu langsung menunduk malu. Merasa ada sesuatu yang janggal, meski demikian Reina masih mengikuti langkah Raka.

Wulan Suryani dan Baskara hanya bisa mengamati kepergian mereka sampai punggung keduanya hilang di balik sekat lorong sekolah.

‘Semoga aku tidak mengulang kesalahan yang sama di kehidupan sebelumnya.’

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 33 Misi

    Setelah beberapa hari Wulan dan kedua kakaknya menyiapkan strategi, hari ini adalah hari di mana Baskara Suryani akan pulang dari luar negeri dan hari yang sama di mana kecelakaan itu seharusnya terjadi. Wulan dan kedua kakaknya sudah menunggu di depan bandara. Mereka mengenakan pakaian hitam lengkap dengan masker hitam agar pengintai dari Rendra Suryani tidak mengetahui gerak-gerik mereka. "Bagaimana, Wulan? Apakah kamu sudah mengabari suamimu?" tanya Roni. Wulan menoleh cepat ke kanan dan kiri sebelum menjawab. "Sudah, Mas. Sebentar lagi pesawat yang ditumpangi Baskara akan mendarat." Matanya tetap awas, menatap orang-orang di sekelilingnya. "Jonathan dan yang lain sudah menunggu di mobil yang sama persis dengan yang akan ditumpangi Jason. Kita harus tetap waspada agar musuh tidak curiga," jelas Wulan. Ratna dan Roni hanya mengangguk, sementara Wulan menatap kakak iparnya dengan tatapan sedih. "Mas, apa kamu yakin mau menjadi umpan? Kalau mereka nekat membunuhmu, bagaimana?"

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 32 Apakah akan terulang?

    Belum sempat kakaknya menjawab, ponsel Wulan berdering, menampilkan nama suaminya. Wulan buru-buru mengangkatnya. "Halo," panggil Wulan lirih. "Sayang, aku harus pergi ke luar negeri hari ini juga. Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu karena perusahaan di sana sedang ada masalah internal," jelas Baskara dari balik telepon. Dari nada suaranya saja, Wulan bisa merasakan bahwa suaminya sedang tergesa-gesa. Wulan diam, tidak menjawab. Pandangannya kosong menatap ke depan, membuat Ratna dan Roni menatapnya dengan khawatir. Baskara memanggilnya lagi dari telepon, tapi Wulan tetap diam, tanpa sadar ponselnya jatuh ke lantai. 'Apakah kejadian itu akan terus terjadi? Apakah suamiku akan meninggal?' pikir Wulan, hatinya bergejolak. Ia sempat merasa lega saat suaminya berjanji tidak akan meninggalkan negeri ini, tapi kenyataan bahwa ia harus pergi tetap membuat Wulan takut, khawatir tragedi yang sama akan terulang. "Wulan..." panggil kakaknya lembut. Wulan tak menjawab. Kepalan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 31 Mimpi?

    Wulan menatap kakaknya dengan mata tajam, dadanya berdebar kencang. "Aku tidak peduli musuh keluargaku siapa. Kalau dia berani mendekati suamiku, aku tidak akan tinggal diam," ujarnya tegas, suaranya rendah tapi penuh tekad. Ratna menatap Wulan, seolah menilai keseriusan adiknya. "Baiklah, Wulan. Aku percaya dengan instingmu. Tapi kita harus merencanakan semuanya dengan hati-hati. Jangan sampai gegabah, nanti malah jadi celaka sendiri," ujarnya menenangkan. Roni yang sedang fokus dengan laptopnya segera menoleh, "Benar Wulan, jangan gegabah kita harus membuat rencana dengan baik, kami akan membantumu," jelasnya. Wulan mengangguk, kemudian membuka ponselnya. Ia segera menelpon Jonathan, memberitahukan semua informasi yang dimilikinya mulai dari foto Jason, alamat, dan gerak-gerik mencurigakan yang ia lihat di supermarket. "Dengar Jonathan! ," suara Wulan terdengar tegas. "Aku yakin pria ini tidak akan bergerak sendirian, pasti dibelakangnya ada seseorang yang menyuruhnya. Aku

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 30 Pria misterius

    Wulan menahan napas, bersembunyi di balik rak-rak supermarket sambil mengamati pria berbaju hitam itu. Pria itu tampak terburu-buru, sesekali menoleh ke sekeliling seolah memastikan tidak ada yang memperhatikannya. 'Dia sangat berhati-hati,' pikir Wulan, alisnya berkerut. 'Kalau dia cuma pegawai biasa, kenapa bersikap seperti ini?' Wulan merapat ke sudut rak, berusaha mendekat tanpa ketahuan. Pria itu menurunkan salah satu kardus ke lantai, membuka tutupnya sebentar, lalu menaruh sesuatu yang tampak mencurigakan. Setelah itu, ia berjalan ke arah pintu keluar supermarket sambil membawa kardus itu. Wulan segera mengikuti dengan hati-hati, memastikan langkahnya tak terdengar. Namun, nasib sial menghampirinya. Ia menabrak seseorang yang tiba-tiba tersenyum lebar menatapnya. "Wulan, kenapa kamu datang ke sini nggak bilang-bilang?" ujar pria yang lebih tua darinya. "Aduh, Mas Roni, kamu ngagetin aja. Udahlah, minggir dulu, saya lagi ngikutin seseorang," jawab Wulan sambil mendoro

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 29 Menang

    "Delapan ratus juta," ujar Reni dengan lantang. Ia menoleh ke arah Wulan dengan tatapan meremehkan, namun Wulan hanya memutar bola matanya tanpa terpengaruh dengan tatapan mengejek Reni. Dengan cepat, ia mengangkat tangannya, membuat beberapa orang yang hadir menatapnya dengan antusias. "Satu miliar," tegas Wulan. Pelelang dan sosialita yang hadir ternganga. Tidak ada yang menyangka Wulan akan menawar setinggi itu. Bisik-bisik dari belakang membuat Reni semakin panik. "Sialan… bagaimana bisa dia menawar sebanyak itu?" Reni menatap Sari dengan wajah panas. Reni hanya tahu Wulan adalah istri pemilik Suryani Grup, tapi ia tak pernah membayangkan bahwa Wulan bisa membeli berlian dengan harga satu miliar. Sekarang Reni kebingungan, tidak tahu bagaimana bisa menandingi Wulan. "Kamu bilang dia tidak punya banyak uang," bisik Reni kepada Sari. Sari menunduk, menggaruk ujung kukunya, takut untuk menatap Reni. "Aku… aku tidak tahu kalau Wulan punya uang sebanyak ini. Aku pikir Wul

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 28 Pelelangan

    Suara gong bergema di aula pelelangan, memecah bisik-bisik sosialita yang hadir. Seorang pria berpakaian rapi, jas hitam dan dasi merah, melangkah ke podium. Ia adalah pelelang, yang tersenyum profesional ke arah para hadirin. "Selamat siang, hadirin sekalian," ucapnya lantang. "Hari ini kita akan memulai pelelangan untuk beberapa berlian istimewa yang ada di sini. Terdapat sepuluh berlian dengan kualitas terbaik di kota ini," ujarnya sambil menunjuk deretan kotak berlian yang tersusun rapi di atas meja. Semua mata menatap kagum ke arah berlian-berlian itu. Bahkan dari kejauhan, kilau mereka tampak memukau. Tatapan hadirin tertuju pada seorang pelayan yang membawa sebuah kotak tertutup kain merah, menambah rasa penasaran semua orang. "Selain sepuluh berlian ini, ada satu berlian yang sangat istimewa dan hanya ada satu di dunia," lanjut pelelang, menunjuk ke kotak utama di belakangnya. "Peserta bisa ikut melelang berlian istimewa ini dengan syarat membeli salah satu dari sepuluh

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status