LOGINWulan tidak menjawab pertanyaan sang putra keduanya itu, tanpa aba-aba justru menarik daun telinga Raka dan menyeret melewati kerumunan murid-murid lain menuju ke arah taman sekolah.
Wulan segera melepaskan tangan setelah merasa puas memberikan pelajaran pada sang putra. Raka yang merasa kesakitan dan malu menjadi bahan tontonan memegangi telinga dengan wajah merah padam. "Apa sih, Ma? Mama buat aku malu!” Raka melebarkan mata dengan suara meninggi hingga Wulan melonjak karena terkejut. Baskara yang sedari tadi di sana segera menatap putranya tak kalah tajam. Tidak pernah diduga putra yang dibesarkan penuh kasih sayang akan bertindak kasar tanpa etika. "Berbicaralah yang sopan pada Mamamu!” tegas Baskara. Raka memutar bola mata merasa enggan melihat kedua orang tua, ia segera memasukkan tangan yang memegang cincin ke dalam saku celana. "Raka! Mama tahu kamu mau mengalihkan saham yang mama kasih kepadamu atas nama Reina Maheswari, kan?" Wulan menyilangkan tangan ke arah dada dengan tatapan serius. Raka yang mendengar itu melebarkan mata seolah bertanya bagaimana sang mama bisa tahu Raka buru-buru mengubah ekspresi, bagi dirinya memberikan saham kepada Reina bukanlah suatu masalah besar. Lagi pula keluarga Wulan Suryani juga tidak kekurangan uang dan itu bentuk keseriusan Raka pada gadis pujaan hatinya. "Memangnya kenapa? Reina adalah gadis yang aku cinta dan ingin kujadikan istri. Apa salahnya memberikan sahamku." Dengan enteng Raka berbicara tanpa rasa bersalah. Mendengar itu membuat ibu dua anak lelaki itu kehabisan kata-kata, siapa yang menyangka putranya akan benar-benar bodoh? Wulan tidak bisa menahan darah yang mendidih segera mengangkat tangan dan menarik telinga Raka kembali. "Maaa!!!! Lepasin sakit!" gerutu Raka. Wulan tidak mengindahkan keluhan Raka, matanya semakin tajam menatap sang putra. "Kamu bodoh sekali, Raka! Apa kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu lakukan?" suara Wulan terdengar penuh ketegasan. Baskara yang berdiri di belakang, menatap Raka tidak kalah murka. "Raka, saham perusahaan itu bukan masalah sepele. Ini masalah masa depan keluarga kita, masalah keberlanjutan Suryani Group. Kamu tidak bisa seenaknya memberikan saham dengan jumlah besar kepada wanita yang tidak jelas asal usulnya!" Raka memegangi kupingnya, tapi kali ini wajahnya terlihat semakin kesal. "Aku nggak ngerti kenapa kalian semua selalu ikut campur tentang kehidupanku. Aku cuma mau Reina jadi kekasihku, dia juga bukan orang yang gila harta, dia baik!" Raka masih bersikukuh pada pendirian. Berpikir kedua orang tua terlalu ikut campur dan salah menilai Reina. Wulan hanya menatap datar ke sang putra dengan ekspresi yang, entahlah, tidak bisa dideskripsikan. Kecewa, sakit hati, dan marah bercampur. Ia tahu sebanyak apapun nasihat dilontarkan kepada putra keduanya itu, semua akan tetap sia-sia. Namun, wanita itu sudah bertekad tidak mau mengulang kesalahan di kehidupan yang lalu. "Baiklah, kalau dia benar benar baik." Wulan mencoba tenang, menghela napas panjang dengan mengulas senyum. Raka yang mendengar itu merasa di atas awan. Menganggap sang mama akan luluh dan mengabulkan keinginannya seperti yang selalu dilakukan biasanya. Sementara Baskara terkejut berniat memperingatkan sang istri, tetapi belum sempat mulut lelaki matang itu terbuka suara Suryani lebih dahulu lolos keluar. "Katamu gadis bernama Reina itu baik, bukan?” Wulan Suryani menjeda kalimat. “Kalau begitu mari kita lihat, apa dia akan tetap baik seperti yang kamu katakan setelah tahu semua fasilitas yang kami berikan padamu disita. Semua kartu dan kendaraan pribadi akan kami ambil kembali!” Raka mendelik siapa yang menyangka mama yang selalu memberikan apa yang dimau kini menentang? Bagaimana bisa ia hidup tanpa black card dan fasilitas dari orang tuanya? Raka menggenggam tangan sang mama mencoba memohon agar semua itu tidak terjadi. "Ma …. Aku tidak bisa hidup tanpa itu, kenapa mama egois sekali? Raka udah bilang kalau Reina itu wanita baik. Kenapa mama tidak percaya?" rengek Raka menggoyangkan goyangan tangan sang ibu. Wulan tetap berdiri tegak, menatap Raka dengan tatapan yang tidak goyah. "Egois? Tidak, Nak. Ini bukan tentang egois. Ini soal tanggung jawab dan bagaimana kamu memandang hidup ini, bagaimana kamu bisa memilah teman-teman kamu, mana yang tulus ataupun tidak." Suaranya lirih, tetapi penuh ketegasan yang tersirat. Wulan tahu betul yang dilakukan sudah benar sebagai langkah awal agar sang putra tidak terjerumus di lingkungan buruk. “Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan peduli dengan semua itu." Wulan melangkah maju, mendekati Raka yang terlihat dipenuhi emosi. "Aku ingin kamu tahu, Raka. Uang dan fasilitas bukan segalanya. Kamu harus belajar untuk mandiri untuk tahu apa yang sebenarnya penting dalam hidup." "Reina butuh itu semua, Ma. Kamu nggak ngerti apa yang aku rasakan!" Raka berkata dengan emosi yang meluap luap. Siapa sangka orang tua yang selalu memanjakannya kini justru mengatur hidupnya. Baskara yang sejak tadi hanya mengamati, akhirnya maju dan menepuk bahu Raka. "Raka, kamu harus belajar untuk menghadapi kenyataan. Kehidupan bukan tentang selalu bergantung pada orang lain atau fasilitas yang ada. Itu hanya akan membuatmu lemah, bukan membuatmu lebih kuat." Raka tidak bergeming mendengar ucapan dari kedua orang tuanya itu, ia merasa bahwa orang tuanya sudah tidak sayang dan peduli padanya. Mereka hanya peduli dengan perusahaan dan uang. "Kalian mau aku hidup seperti orang miskin?” Raka bertanya-tanya masih tidak percaya pada kejutan yang memutarbalikkan kehidupan sembilan puluh derajatnya. Melihat kedua orang tuanya terdiam dengan tatapan tegas membuat Raka menggeram marah. “Baiklah jika itu mau kalian, tapi jangan lagi atur hidupku! Aku yakin Reina pasti masih mau menerimaku meski kalian membuangku! Lihat saja nanti! Raka pergi dengan perasaan marah luar biasa meninggalkan kedua orang tuanya untuk mencari keberadaan Reina. Baskara yang ingin menghentikan kepergian sang putra, segera dihalangi oleh Wulan, "Sudah, Mas, biarkan untuk sementara, kita hanya perlu memantau dari jauh.” Baskara menatap Wulan Suryani dengan ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya ia mengangguk mencoba mengalah pada keputusan istri. "Aku harap dia akan segera sadar, Sayang. Aku tidak ingin dia menyesal nanti.” Baskara masih menatap punggung sang putra semakin menjauh dari taman. Pemuda itu melangkah mendekati Reina yang masih berdiri bersama yang lain di tengah lapangan. Raka sempat menoleh ke arah kedua orang tuanya. Tatapannya penuh kekecewaan dan amarah. Pernyataan cinta Raka yang seharusnya berjalan mulus telah gagal. Raka bergegas menarik tangan Reina mengajaknya pergi. Reina yang sempat menoleh ke arah kedua orang tua Raka mengulas senyum, tetapi ketika tidak ada balasan senyum dari Wulan Suryani maupun Baskara gadis itu langsung menunduk malu. Merasa ada sesuatu yang janggal, meski demikian Reina masih mengikuti langkah Raka. Wulan Suryani dan Baskara hanya bisa mengamati kepergian mereka sampai punggung keduanya hilang di balik sekat lorong sekolah. ‘Semoga aku tidak mengulang kesalahan yang sama di kehidupan sebelumnya.’Beberapa bulan setelah persidangan Gunawan berakhir, Wulan akhirnya mengerti satu hal. Kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang, kebahagiaan hanya berupa duduk di atas rumput bersama keluarganya, mendengar tawa anak-anaknya, dan melihat Baskara yang kini selalu berada di sisinya. "Ma, dimana sih sandwich tadi?" tanya Raka. Wulan mendengus, ia segera mengeluarkan satu kantong plastik yang berisi banyak sekali cemilan. "Ini, jangan dihabisi kasih juga yang lain," ujarnya. Raka hanya mengangguk, ia kembali berjalan ke arah Zevran dan yang lainnya berada. Seira, Nerlina dan Melati tengah asyik bercanda riang. "Eh kalian, sini dulu deh," teriak Raka yang membuat tiga gadis itu segera berjalan mendekat. Raka membuka kantong plastik yang dibawanya dengan senyum bangga. "Aku bawa banyak makanan. Tapi jangan diambil semua, harus dibagi bagi, " katanya sambil mengeluarkan beberapa bungkus sandwich dan cemilan. Melati langsung mengambil satu bungkus d
Gunawan menatap Wulan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tidak ada lagi kesombongan seperti biasanya. Tidak ada lagi senyum meremehkan yang selalu ia tunjukkan setiap kali berhasil menjatuhkan orang lain. Yang tersisa hanya seorang pria yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa semua yang ia bangun selama ini runtuh di depan matanya sendiri. "Selesai, semua selesai," gumam Gunawan. Wulan yang melihat itu segera menatap ke arah Gunawan yang mulai diajak polisi untuk pergi. "Sebentar pak, saya ingin berbincang dengan Gunawan sebentar," jelasnya. Polisi itu mengangguk, ia membiarkan Gunawan dan Wulan untuk berbincang. "Bagaimana? Apa keluarga tidak akan menolongmu?" Gunawan masih menunduk, ia benar benar salah karena membiarkan wanita seperti Wulan berkeliaran. Seharusnya ia membunuh Wulan lebih dahulu. "Bagus, bagus sekali Wulan. Kau wanita licik yang berhasil menghancurkanku begitu saja. Kau memang layak disebut ibu yang begitu menyayangi keluarganya." Gunawan t
Gunawan terdiam. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya suara napas berat dari Baskara, Zevran, dan Jonathan yang masih terdengar di antara ketegangan yang semakin meningkat. Tatapan Gunawan yang sebelumnya penuh kemenangan perlahan berubah menjadi dingin. Namun, ia masih berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahnya. "Jadi..." gumamnya pelan. "Akhirnya kau tahu juga." Bagas menatapnya tajam. Ia benar benar tidak menyangka pria yang dulu selalu ia patuhi adalah orang yang sudah menghancurkan keluarganya. "Aku ingin tahu satu hal," lanjut Gunawan sambil melangkah mendekat. "Siapa yang memberitahumu? Siapa yang cukup bodoh untuk membuka semua rahasia itu kepadamu?" Bagas yang ingin menjawab pertanyaan itu, segera ditahan oleh Wulan. Wulan berdiri di depan Gunawan dengan senyum miringnya. "Semua bukti kejahatanmu diberikan oleh putri kandungmu sendiri. Oh ya, aku harus mengatakannya." Wulan menatap ke arah Gunawan tanpa rasa takut sedikitpun. "Putri
Bagas segera menarik tangan Wulan untuk masuk lebih dalam ke ruang bawah tanah. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin Wulan merasa tempat itu berbeda dari bayangannya. Ia mengira mereka akan menemukan ruangan gelap dan kotor seperti gudang terbengkalai. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Lorong panjang itu memiliki lampu dinding berwarna hangat yang menyala sempurna. Lantainya terbuat dari marmer hitam mengkilap. Di sepanjang dinding terdapat kamera keamanan, lukisan mahal, dan beberapa pajangan antik yang terlihat bernilai tinggi. Wulan mengerutkan kening. "Ini... bukan ruang bawah tanah biasa," gumamnya. Bagas mengangguk pelan. Tatapannya tetap waspada. "Gunawan sudah bersembunyi disini cukup lama, bahkan jika bukan orang kepercayaan Gunawan. Tidak ada yang menyangka bahwa gedung tua itu dihuni oleh orang kejam." Wulan hanya mengangguk, mereka segera menyusuri lorong itu sambil mengendap endap. Bagas yang dulu merupakan orang kepercayaan dari Gunawan sudah paham
Bagas menatap Raka cukup lama. Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan pria itu. Bukan lagi kemarahan atau kebencian, melainkan rasa kehilangan yang berusaha pria itu sembunyikan. "Raka, apa kamu tidak mau menutup mata Reina? Untuk terakhir kalinya," ujar Bagas, pelan. Namun Raka tidak menoleh. Ia masih menatap tubuh Reina yang kini telah ditutupi oleh kain putih yang telah dibawa pengawal. Ia menatap Seira yang tengah me genggam tangannya. "Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi bagian dari hidupmu," lanjut Bagas. Raka mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Entah kenapa menatap mayat Reina, membuatnya kembali merasa kesal. "Dia melakukan banyak kesalahan," ucap Raka dengan suara rendah. "Dia menyakiti banyak orang." Bagas mengangguk pelan. "Tapi dia juga orang yang menyerahkan bukti untuk menghancurkan Gunawan. Dia bisa saja membawa semua itu dan melarikan diri. Dia bisa saja menyimpan dendamnya sampai akhir. Tapi dia memilih memberikannya kepada kita," uj
Bagas segera mengangguk. Ia bisa melihat amarah yang selama ini disimpan Wulan akhirnya meledak. Wanita itu bukan hanya marah karena kejadian hari ini, tetapi karena luka dari kehidupan sebelumnya yang masih membekas di hatinya. Semua penderitaan yang ia lalui akhirnya ia bisa bayarkan karena berhasil menangkap pembunuhnya di kehidupan masa lalu. "Baik, Wulan," ujar Bagas pelan. Namun sebelum Bagas sempat mengambil ponselnya, Reina tiba-tiba tertawa kecil. Tawa itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa seseorang yang sudah tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan apa pun lagi. Ia menatap dingin ke arah Wulan. "Kalian benar-benar berpikir semuanya akan selesai hanya dengan menangkapku?" ucap Reina sambil menatap mereka. Wulan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" Reina mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah dingin. "Aku memang bekerja untuk Gunawan. Aku mendekati Raka karena dia memerintahkanku. Aku membuat Raka percaya padaku, aku mencari informasi tentang keluarga kalian, d
Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah
Wulan menghembuskan napas panjang, pandangannya menatap ke arah Zevran yang sedang menatapnya penuh akan pertanyaan. "Zevran," panggil Wulan. "Apakah kamu yakin, kalau Sarah yang menyelamatkanmu waktu kecil?" Zevran mengerutkan keningnya, ia diam sejenak mencoba mencerna ucapan dari ibunya. Bayan
Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab
Raka terus berjalan sambil menggenggam tangan Reina, hingga sampailah mereka di depan kelas. Reina yang sedari tadi merasa janggal dengan sikap Raka segera melepaskan genggaman tangan itu. "Kamu kenapa Rak?apa ada yang salah?" tanyanya sambil menatap pria di hadapannya. Raka masih diam, seolah ia







