LOGINNapas Julia masih terasa berat setelah kepergian Steve dari butik.
Namun, sebelum ia sempat menenangkan pikirannya, ponsel di atas meja konter bergetar hebat.
Nama Sarah—asisten rumah tangga yang menjaga anak-anaknya terpampang di layar.
Julia buru-buru mengangkatnya. "Halo, Sarah?"
"Nyonya Julia!" suara Sarah terdengar panik dari seberang telepon.
"Leon dan Elea mendadak demam tinggi, Nyonya. Badan mereka panas sekali dan Leon terus menangis mual. Saya bingung harus bagaimana?"
Jantung Julia serasa berhenti berdetak seketika. Seluruh kekesalannya pada Steve menguap, digantikan oleh rasa cemas yang membakar.
"Jangan panik, Sarah. Siapkan pakaian ganti anak-anak sekarang. Saya minta sopir langsung bawa mereka ke Rumah Sakit Medika. Saya akan menyusul ke sana."
Setelah memutus panggilan, Julia mengambil tas tangannya dengan tangan gemetar.
Ia menitipkan pesan singkat pada karyawannya lalu setengah berlari menuju mobil.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, pikiran Julia berkecamuk.
Bayangan masa-masa sulit di Paris lima tahun lalu berputar kembali di kepalanya.
Kala itu, tanpa uang yang cukup dan tanpa tempat bersandar, Julia harus bertahan hidup sendirian dalam keadaan hamil tua.
Ia melahirkan dua anak kembar—Leon dan Elea di sebuah rumah sakit umum kecil dengan fasilitas seadanya.
Terbangun di tengah malam untuk menyusui dua bayi sekaligus, membagi waktu antara kuliah desain dan bekerja paruh waktu, hingga mengurus anak-anak saat mereka sakit di negeri orang; semua ia jalani sendirian tanpa kehadiran seorang suami.
Pertemuannya kembali dengan Steve hari ini semakin membulatkan tekad Julia.
Steve tidak boleh tahu keberadaan Leon dan Elea.
Julia sudah merasakan sendiri bagaimana keluarga Anderson menggunakan kekuasaan, uang, dan pengaruh mereka untuk menyingkirkannya.
Jika keluarga kaya itu tahu ada darah daging Anderson yang lahir dari wanita terbuang seperti dirinya, mereka bisa saja merebut anak-anak itu menggunakan hukum dan uang, atau bahkan membuang anak-anak itu sebagaimana mereka membuang Julia dulu.
Julia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
Setibanya di Rumah Sakit Medika, Julia langsung berlari menuju ruang instalasi gawat darurat.
Di sana, Sarah sedang mendampingi Leon dan Elea yang terbaring di atas ranjang periksa.
Seorang dokter pria melangkah menghampiri Julia begitu melihat kedatangannya.
"Dengan ibu dari Leon dan Elea?"
"Iya, Dokter. Saya ibunya," jawab Julia cepat, dengan tatapan matanya menatap cemas ke arah dua buah hatinya.
"Bagaimana kondisi anak-anak saya?"
Dokter memberikan senyum menenangkan. "Ibu tidak perlu khawatir berlebihan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ini hanya demam ringan akibat alergi cuaca dan kelelahan. Suhu tubuh mereka sudah mulai turun setelah diberikan obat penurun panas. Nanti setelah cairan infus pertama selesai, mereka sudah diperbolehkan pulang."
Julia mendesah legal alu mengelus dada. "Terima kasih banyak, Dokter."
Julia melangkah mendekati ranjang lalu mengecup dahi kedua anaknya yang kini tertidur pulas akibat pengaruh obat.
Rasa hangat menyelimuti dadanya. Anak-anak ini adalah alasan utamanya bertahan hidup, dan ia akan melindungi mereka dari siapa pun, termasuk Steve.
Ponsel Julia kembali bergetar. Kali ini panggilan dari asisten butiknya.
Demi tidak mengganggu anak-anak yang sedang istirahat, Julia melangkah keluar dari kamar rawat menuju lorong rumah sakit yang lebih sepi.
"Ya, Maya?" ucap Julia sambil menempelkan ponsel ke telinga.
"Nyonya Julia, maaf mengganggu. Dokumen pemesanan kain dari pemasok Prancis sudah masuk dan membutuhkan persetujuan Anda segera," ujar Maya di seberang telepon.
"Kirimkan salinannya ke email-ku, Maya. Begitu anak-anak selesai diurus, aku akan langsung memeriksa—"
Kalimat Julia terhenti. Suara keributan dan langkah kaki tergesa-gesa bergaung di lorong utama rumah sakit, membuyarkan fokusnya.
Beberapa perawat berlari membawa kursi roda dan brankar.
Julia menurunkan ponselnya, penasaran dengan kepanikan yang terjadi. Di ujung lorong, tak jauh dari pintu masuk area VIP, ia melihat sekelompok orang berjalan terburu-buru.
Mata Julia melebar saat mengenali sosok di pusat keramaian itu.
Steve Anderson. Pria itu tampak melangkah lebar dengan raut wajah yang jarang sekali ia perlihatkan: tegang dan penuh kekhawatiran.
Di tangannya, Steve sedang menggendong Celine yang tampak terkulai lemas dengan gaun yang sedikit berbercak darah di bagian kaki.
Di samping Steve, berjalan seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat mewah dengan perhiasan mencolok dan ekspresi wajah histeris–Nyonya Helen, ibu kandung Steve.
"Dokter! Cepat panggil dokter terbaik di rumah sakit ini!" teriak Nyonya Helen dengan suara melengking, sembari memerintah para petugas medis yang panik mendampingi mereka.
"Calon menantuku terluka!"
"Tadi kamu bilang apa, Steve?" ucap Julia lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan ruang kerja yang mendadak membeku. "Maaf?"Steve menelan ludahnya yang terasa pahit. Kehangatan dekapan pria itu perlahan melonggar, membiarkan jemari kokohnya bertengger lembut di kedua bahu Julia.Iris kelam sang CEO menatap lurus tepat ke dalam mata bening Julia yang masih berkaca-kaca.Tanpa ada sedikit pun selubung keangkuhan yang biasanya membentengi dirinya, Steve menganggukkan kepalanya pelan."Ya, Julia. Aku minta maaf," ulang Steve dengan suara bariton rendah yang bergema amat jujur.Pria tegap itu menghela napas panjang, merendahkan posisinya agar sejajar dengan tatapan sang wanita."Aku tahu selama ini aku terlalu memaksakan kehendakku. Tapi kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku akan menurunkan seluruh egoku, Julia.“Aku akan menahan segala batasanku, asalkan kamu mau memberiku izin untuk menemui dan menghabiskan waktu bersama anak-anak kapan pun aku rindu pada mereka."Julia terdiam
"Maya! Tolong antar anak-anak ke pantry. Beri mereka makan siang dulu," titah Julia pada sang asisten dengan nada suara yang tertahan kaku, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan getaran panik di hadapan para karyawannya.Maya yang sadar akan ketegangan aneh di udara bergegas mengangguk cepat."Baik, Nyonya Julia. Mari, Dek Elea, Dek Leon... ikut Kakak ke dalam ya, kita makan es krim dan camilan enak di sana."Elea dan Leon yang polos tanpa curiga langsung bersorak gembira, menyambut uluran tangan Maya lalu mengekor masuk menuju area belakang butik.Usai meminta stafnya membawa si kembar ke ruangan bermain dan memastikan pintu lobi terkunci rapi, Julia memutar tubuhnya.Ia menatap Steve dengan pandangan tajam, lalu memberi isyarat agar pria itu mengikutinya masuk ke dalam ruang kerja pribadinya.Klek.Pintu kayu jati ruang kerja itu tertutup rapat, mengunci segala kebisingan butik di luar.Julia berbalik cepat, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah kencang membentengi d
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar, menyinari paras Julia yang kini memancarkan aura keteguhan baru.Usai melewati hari-hari yang menghimpit dada dan dipenuhi ketegangan berantai bersama Steve, Julia akhirnya mengambil keputusan bulat.Wanita itu bangkit dari bangkunya, memilih untuk menimbun rapat-rapat seluruh masalah pribadi, kekacauan emosi, serta trauma masa lalu yang sempat melumpuhkan logikanya.Di depan cermin besar, Julia merapikan blazer krem mewahnya dengan gerakan mantap.Ia memoles lipstik merah tipis di bibirnya, menatap bayangannya sendiri dengan binar mata yang tajam.Hari ini, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap sangat profesional.Urusan perasaan dan dinamika rumitnya dengan Steve Anderson harus dipisahkan secara tegas dari impian besarnya.Sindiran pedas dan intrik gila dari pria arogan itu kemarin hanyalah angin lalu yang tak boleh sedikit pun merusak fokusnya menjelang peluncuran koleksi busana terbaru.Satu jam kemudian, langkah kaki Jul
Berbeda jauh dengan Julia yang panik setengah mati dan berantakan, Justin justru tetap bersikap amat tenang.Pria itu tidak menunjukkan raut terkejut atau rasa takut sedikit pun atas kehadiran sang CEO Anderson Group.Justin hanya menghembuskan napas perlahan, memperbaiki posisi duduknya, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Julia.Matanya menatap lembut wanita itu, memastikan bahwa Julia tidak makin terguncang oleh kedatangan Steve yang mendadak."Tenanglah, Julia. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun," bisik Justin amat lembut, mengusap bahu Julia sebentar sebelum berpaling menatap Steve.Tanpa memedulikan ketegangan yang membeku kaku di dalam udara ruangan tersebut, Steve mulai mengambil langkah maju.Setiap pijakan sepatu kulitnya di atas lantai kayu menyuarakan tekanan intimidasi yang teramat mencekam.Pria arogan itu bersikap seolah kedatangannya murni hanya untuk urusan profesionalisme pekerjaan, sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menyaksikan wanita yang di
"Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan isi kepalaku sendiri, Justin," bisik Julia dengan suara yang bergetar hebat.Setetes air mata yang sejak tadi membendung di pelupuk matanya akhirnya meluncur menelusuri pipinya yang pucat.Jemari wanita itu gemetar kaku saat meremas ujung meja kayu di hadapannya, menatap tumpukan kertas sketsa yang baru saja digesernya dengan pandangan berembun penuh nestapa."Pikiranku kacau... benar-benar tidak menentu," lanjut Julia, mengusap bekas air mata di pipinya dengan telapak tangan yang dingin."Bahkan tanpa sadar, jemariku melukis gaun pengantin itu. Untuk apa, Justin? Untuk siapa?! Kenapa bayangan masa lalu dan kehadiran pria itu terus-terusan menggerogoti logikaku sampai seperti ini?"Justin tidak memotong.Pria itu tetap mematok pandangannya dengan lembut, mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari bibir Julia dengan kesabaran yang amat dalam.Julia menghembuskan napasnya yang putus-putus, menundukkan kepala hingga helai rambu
Justin melangkah pelan membelah keheningan ruang tengah rumah Julia.Langkah kakinya mendekat ke arah meja kayu tempat Julia yang tampak begitu tekun menggerakkan pensilnya di atas lembaran kertas sketsa."Julia?" panggil Justin pelan dengan suara baritonnya yang hangat.Julia tersentak kecil, lalu menoleh mendongak. Senyum tipis yang tampak dipaksakan mengembang di paras cantiknya yang agak pucat."Justin? Astaga, maafkan aku," sahut Julia seraya merapikan letak duduknya. "Aku benar-benar tidak sadar kamu sudah ada di sini sejak tadi."Justin menyunggingkan senyum lembut, memaklumi. Pria itu menarik kursi kayu lalu mendudukkan dirinya tepat di samping wanita tersebut.Matanya bergulir perlahan, mengamati dengan saksama goresan pensil yang mengarsir indah di atas kertas putih di hadapan mereka.Kening Justin berkerut kaku saat mengenali siluet detail dari lukisan tersebut. "Gaun pengantin?"Gerakan tangan Julia seketika terhenti kaku di udara. Pensil sketsa di jemarinya mendadak teras







