Share

Bab 4: Bukan Belinda yang Dulu

Penulis: Rizki Adinda
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 16:05:39

“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”

Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.

Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.

Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.

Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi ruang tamu masih sama: lampu chandelier hangat, sofa rapi, lantai yang dingin.

Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.

Belinda meraih pulpen, lalu menandatangani kotak yang ada namanya. Setelahnya, lembaran kertas beserta map itu ia letakkan di atas meja, begitu saja.

Gadis itu kemudian beranjak, meraih kucingnya, Mochi, yang sedari tadi meringkuk di dekat tangga. Bulu lembut yang menempel di lengan Belinda ketika ia menggendong sang kucing, entah bagaimana langsung menenangkan napasnya yang masih memburu.

Secara perlahan, Belinda melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk berkemas. Lemari dibuka, koper ditarik keluar. Kedua tangan Belinda seolah bergerak secara automatis, memasukkan pakaian seperlunya, dokumen penting, obat-obatan, dan benda-benda penting seperti foto juga buku catatan lusuh yang selama ini bisa menghangatkan hatinya.

Di sela-sela itu, ia menelepon sahabatnya, Manda Tan.

“Aku butuh dijemput. Sekarang.” Suara Belinda terdengar serak, tapi tetap tegas.

Setelah telepon itu ditutup, Belinda berdiri sejenak menatap ke luar jendela kamar. Di kejauhan, Jakarta nampak bergerak seperti biasa, dengan lampu kendaraan beruntun di jalan, suara klakson samar bersautan, dan langit yang selalu tampak seperti menyimpan debu.

Di balik lamunannya, kini segalanya terasa menjadi cukup jelas bagi Belinda. Bahwa di mata Arga, ia tak akan pernah setara dengan Cantika. Satu panggilan dari Cantika sudah cukup membuat Arga melupakan segalanya, termasuk istrinya sendiri yang baru saja jatuh terkapar di lantai rumah mereka sendiri.

Tanpa sadar Belinda tertawa kecil dan hambar, nyaris lebih menyerupai tarikan napas yang salah tempat. Betapa ia telah menghancurkan dirinya sendiri demi seorang pria yang bahkan sama sekali tak pernah benar-benar memandangnya.

Dan mungkin tak akan pernah menyadari bahwa hidup Belinda kini tengah dihitung mundur.

Kanker lambung stadium empat. Sisa tiga bulan, usianya, kata dokter.

Belinda mengusap kepala Mochi lembut, lalu menutup koper. Kali ini ia benar-benar tak ingin membuang sisa waktu hidupnya untuk pernikahan yang sedari awal tak pernah berlangsung dua arah. Ia ingin lebih fokus pada dirinya sendiri, pada kebahagiaannya sendiri, sebelum segalanya benar-benar habis.

***

Satu minggu kemudian, di sebuah apartemen di Jakarta Selatan…

“Kamu beneran makin kurus,” komentar Manda sambil meletakkan sebuah piring kosong di meja makan, tepat di depan Belinda, diikuti sebuah tarikan napas panjang. “Seminggu terakhir ini padahal  tiap hari aku selalu beliin kamu makanan yang enak-enak, lho. Dari bubur ayam, sup iga, sampe seafood, tapi berat badanmu malah makin lama makin turun.”

Belinda menuangkan sepotong udang ke piringnya, kemudian mengupas udang itu dengan gerak pelan tapi tetap cekatan. “Menurutmu, badanku jadi keliatan lebih bagus begini, nggak?”

“Nggak lah!” jawab Manda cepat, lalu mendesah kesal. “Badanmu tuh keterlaluan kurusnya sekarang. Dulu kamu bisa bikin gaun malamku kelihatan jatuhnya pas. Tapi sekarang…” ia mendecak pelan. “Pokoknya kita harus cari baju baru buat acara nanti!”

Belinda meletakkan udang yang sudah dikupas itu ke mangkuk makanan kucing, lalu memanggil pelan, “Mochi!” Kucing itu langsung mendekat dengan langkah manja dan ekor tegak.

Sambil mengelus lembut kepala Mochi, Belinda bertanya lirih, “Acara apa?”

“Kamu lupa?” Manda menatapnya heran sejenak, sebelum kemudian suaranya berubah menjadi lebih bersemangat. “Kan kamu yang bilang kalau desain perhiasanmu harus masuk pasar dalam tiga bulan ke depan.”

Wajah Manda berubah mengerucut kesal, tapi bukan kesal pada sahabatnya, melainkan pada kenyataan hidup. “Aku sudah ngobrol sama beberapa perusahaan perhiasan. Mereka bisa nerima pesanan custom. Tapi kalau mau produksi massal untuk di-launching, bisa makan waktu lama. Kalau mau ngejar waktu tiga bulan, kita butuh orang yang bisa mempercepat proses dan benar-benar suka sama desain yang kamu buat.”

“Nah!” lanjut Manda tanpa menunggu jeda, “Kebetulan malam ini ada pesta. Yang datang bukan cuma pengrajin perhiasan di Jakarta aja, tapi juga desainer dari kota-kota lain. Kupikir kalau kita datang, siapa tahu nanti ada yang tertarik sama desainmu.”

Melihat keseriusan di wajah Manda, membuat rasa hangat menjalar di dalam hati Belinda. Bukan rasa hangat dari semangat yang meledak, tapi lebih seperti kelembutan yang membuat senyum di bibirnya merekah perlahan.

Belinda mengelus Mochi lagi. “Aku udah lama nggak pernah datang ke acara begitu. Tapi sepertinya emang aku nggak bisa terus-terusan di rumah.”

Ketika Belinda tersenyum lebar, Manda sempat terdiam, lalu berbicara dengan nada yang lebih hati-hati, seolah tengah menyentuh luka yang belum sepenuhnya kering.

“Kamu ingat nggak, dulu setiap kali aku ajak kamu ke pesta, kamu selalu aja nanyain siapa aja yang datang? Kamu selalu memikirkan Arga, khawatir kalau dia nggak suka, takut bikin dia tersinggung.” Senyum Manda sedikit melebar. “Tapi sekarang kamu langsung setuju tanpa tanya apa-apa sama sekali.”

Senyum di bibir Belinda kini diselimuti kesedihan. “Yah, aku masih dalam proses penyembuhan,” ujarnya pelan. “Tapi malam ini, jangan bawa-bawa soal mantan, ya?”

***

Malamnya, di ballroom Hotel Mahakam Grand, kawasan Sudirman…

Lampu-lampu gantung memantulkan kilaunya ke lantai marmer yang dingin. Di luar, Jakarta terasa seolah tak pernah benar-benar tidur; klakson yang terdengar di kejauhan dan garis lampu kendaraan yang mengalir tanpa putus.

Sebaliknya, di dalam ballroom, musik terdengar mengisi ruang dengan ritme halus, bercampur tawa dan bunyi gelas yang beradu.

Belinda masuk dengan gaun malam berwarna merah menyala. Potongan gaunnya berani; leher V yang dalam, punggung terbuka, dan belahan tinggi yang membuat langkahnya nampak panjang dan ringan.

Tubuhnya yang kini lebih ramping justru semakin ditegaskan oleh warna merah itu. Begitu ia muncul, beberapa kepala spontan menoleh, beberapa pasang mata menatap terlalu lama, dan bisik-bisik kecil mulai bergulir di antara tamu.

Manda merapat ke arah Belinda, lalu berbisik lembut. “Tuh, kan. Kubilang juga apa? Style yang berani begini memang cocok buat kamu. Dulu kamu selalu pilih dress yang anggun dan terlihat pantas, karena kamu harus tampil sebagai Nyonya Arga Mahardika. Tapi jujur saja, menurutku itu sebenarnya nggak kamu banget.”

Belinda membalas dengan senyum yang manis dan lembut. “Ingat, kok.”

Seminggu dalam proses pemulihan membuat Belinda membuat satu keputusan sederhana: ia tak akan lagi berdiri di tempat yang sama.

Tak lama kemudian, seorang pria mendekat, memperkenalkan diri singkat, lalu mengulurkan tangan. “Boleh saya ajak Anda berdansa?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 94: Memutus Semua Hubungan dengan Arga

    Senyum Alan langsung kaku. Ia menoleh canggung ke arah Arga dan Belinda. “Arga, aku cuma bercanda. Kenapa kamu khawatir banget?”Berbeda dengan Alan yang agak gelagapan, Tommy justru blak-blakan mendengus. “Kamu saja nggak menghargai Belinda, jadi wajar kalau ada orang lain yang mau menghargainya. Kalau kamu memang serius mau cerai, kenapa kamu terganggu kalau ada yang tertarik pada Belinda?”Lalu, menoleh ke Alan, Tommy melanjutkan. “Lagipula aku suka Alan. Memang dia baru balik ke Indonesia dan kariernya belum seberapa, tapi setidaknya urusan pribadinya tidak berantakan. Nggak kayak sebagian orang yang memperlakukan mantan yang dulu ninggalin dia layaknya emas berharga!”Ucapan Tommy membuat Arga mengerutkan dahi. “Kakek, aku sudah coba jelaskan. Kakek salah paham soal Can

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 93: Kalau Ternyata Berjodoh...

    Tak lama, pelayan datang membawa pesanannya. Tanpa banyak bicara, Belinda menunduk dan mulai makan.Arga mengamati Belinda yang sibuk makan dan tidak terlalu tertarik menghabiskan sandwich miliknya sendiri.Setelah sarapan selesai, mereka pun keluar bersama, berjalan dalam diam yang kaku. Bahkan meskipun koridor rumah sakit itu penuh dengan orang berlalu lalang, tapi Belinda dan Arga seolah tenggelam dalam kesunyian mereka sendiri.Barulah ketika mereka masuk ke lift menuju ruang rawat inap Tommy, Belinda akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Arga.“Pak Arga,” ujar Belinda, nada suaranya bercampur antara kesal dan penasaran. “Tadi kamu sampai ngotot mau sarapan bareng aku, kupikir ada hal penting yang mau dibahas…” Belinda menatap

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 92: Masih Muda, Masih Ada Waktu

    Belinda menatapnya bingung sekaligus tak percaya. Apa dia salah dengar? Bagaimana mungkin Arga bisa mengatakan hal seperti itu.Keterkejutan di mata Belinda membuat Arga mengernyit. Ia menegakkan badan, lalu berbalik dan melangkah keluar lift. “Anggap saja aku nggak ngomong apa-apa.”Arga sempat menangkap kesedihan di mata Belinda ketika keluarga itu membahas bayi. Kesedihan itu menyentuhnya, memantik simpati untuk anak yang sempat hilang dari pelukan mereka. Namun tatapan tak percaya Belinda seolah menamparnya balik, menyadarkannya bahwa ia sudah melampaui batas. Ia pasti gila kalau berusaha menghibur Belinda dengan kalimat seperti itu.Ketika pintu lift mulai menutup, Belinda tersentak dari lamunannya dan bergegas mengejar Arga. Kemudian mereka berjalan berdekatan dalam diam.

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 91: Bisa Punya Anak Lagi Nanti

    Meskipun Alan bukan bagian dari keluarga Mahardika dan Belinda baru mengenalnya sebentar, tapi reputasinya sudah bukan sesuatu yang asing bagi Belinda. Alan tumbuh bersama Arga, dan kedekatannya dengan Mega pun bukanlah hal baru.Dulu, Mega bahkan pernah mengejar Alan. Dan setiap kali Arga kewalahan dan tak sanggup mengurus masalah Mega, Alan yang turun tangan. Mega cukup mengenal Alan untuk mempercayai pria itu bisa menjaga mulut.Makanya tak ada alasan bagi Alan untuk keluar dari ruangan ini.Keterusterangan Belinda membuat Arga semakin mengerutkan dahinya. Ini adalah sisi Belinda yang tidak biasa. Dulu perempuan ini tak akan berani menahan atau membalas seperti sekarang.“Langsung saja,” ucap Tommy, melirik Arga yang tampak enggan melanjutkan, lalu terkeke

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 90: Belinda Ini Bodoh

    Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Mega tercekat.Mega berdiri kaku selama beberapa detik sebelum menyahut dengan frustasi. “Mana aku tahu! Aku bukan cenayang. Gimana bisa aku tahu tiga setengah bulan lalu sama siapa? Yang penting aku cuma mikirin kakakku!”“Oh, gitu?” Belinda membalas dengan suara dingin, lalu menoleh dengan tatapan meremehkan ke arah Arga. “Kalau kamu sebegitu sayangnya ke kakakmu, kamu pasti tahu, kan, tiga setengah bulan lalu dia ada di mana dan lagi ngapain?”Wajah Mega langsung pucat. Kata-katanya buyar di ujung lidah.“Kamu nggak tahu?” Belinda tidak melunak. Jemarinya mengencang menggenggam tangan Tommy, lalu menukas tegas. “Aku kasih tahu kalau begitu. Tiga setengah bulan lalu, Pak Arga

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 89: Cuma Perempuan Murahan

    Untuk pertama kalinya, ketenangan yang sebelumnya melekat pada Arga akhirnya retak. Pria itu menatap Belinda dengan penuh amarah, lalu berdiri dan melangkah menjauhi Belinda dengan kasar, ucapannya agak bergumam. “Nggak masuk akal!”Keheningan kembali memenuhi area depan IGD.Tak jauh dari Belinda, Alan menyaksikan semuanya dengan campuran keterkejutan dan kagum pada Belinda.Selama lima tahun ia pergi dari Indonesia, dan meskipun ia tumbuh besar mengenali Arga, tapi Alan belum pernah melihat Arga sedemikian terpojok sampai benar-benar kehilangan kata-kata.Alan sudah sering mendengar dinamika hubungan Arga dan Belinda. Kebanyakan orang yang ia kenal menggambarkan Belinda sebagai sekutu yang setia, seseorang yang selalu siap membela dan selalu punya alasan un

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status