LOGIN“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”
Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.
Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.
Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.
Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi ruang tamu masih sama: lampu chandelier hangat, sofa rapi, lantai yang dingin.
Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.
Belinda meraih pulpen, lalu menandatangani kotak yang ada namanya. Setelahnya, lembaran kertas beserta map itu ia letakkan di atas meja, begitu saja.
Gadis itu kemudian beranjak, meraih kucingnya, Mochi, yang sedari tadi meringkuk di dekat tangga. Bulu lembut yang menempel di lengan Belinda ketika ia menggendong sang kucing, entah bagaimana langsung menenangkan napasnya yang masih memburu.
Secara perlahan, Belinda melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk berkemas. Lemari dibuka, koper ditarik keluar. Kedua tangan Belinda seolah bergerak secara automatis, memasukkan pakaian seperlunya, dokumen penting, obat-obatan, dan benda-benda penting seperti foto juga buku catatan lusuh yang selama ini bisa menghangatkan hatinya.
Di sela-sela itu, ia menelepon sahabatnya, Manda Tan.
“Aku butuh dijemput. Sekarang.” Suara Belinda terdengar serak, tapi tetap tegas.
Setelah telepon itu ditutup, Belinda berdiri sejenak menatap ke luar jendela kamar. Di kejauhan, Jakarta nampak bergerak seperti biasa, dengan lampu kendaraan beruntun di jalan, suara klakson samar bersautan, dan langit yang selalu tampak seperti menyimpan debu.
Di balik lamunannya, kini segalanya terasa menjadi cukup jelas bagi Belinda. Bahwa di mata Arga, ia tak akan pernah setara dengan Cantika. Satu panggilan dari Cantika sudah cukup membuat Arga melupakan segalanya, termasuk istrinya sendiri yang baru saja jatuh terkapar di lantai rumah mereka sendiri.
Tanpa sadar Belinda tertawa kecil dan hambar, nyaris lebih menyerupai tarikan napas yang salah tempat. Betapa ia telah menghancurkan dirinya sendiri demi seorang pria yang bahkan sama sekali tak pernah benar-benar memandangnya.
Dan mungkin tak akan pernah menyadari bahwa hidup Belinda kini tengah dihitung mundur.
Kanker lambung stadium empat. Sisa tiga bulan, usianya, kata dokter.
Belinda mengusap kepala Mochi lembut, lalu menutup koper. Kali ini ia benar-benar tak ingin membuang sisa waktu hidupnya untuk pernikahan yang sedari awal tak pernah berlangsung dua arah. Ia ingin lebih fokus pada dirinya sendiri, pada kebahagiaannya sendiri, sebelum segalanya benar-benar habis.
***
Satu minggu kemudian, di sebuah apartemen di Jakarta Selatan…
“Kamu beneran makin kurus,” komentar Manda sambil meletakkan sebuah piring kosong di meja makan, tepat di depan Belinda, diikuti sebuah tarikan napas panjang. “Seminggu terakhir ini padahal tiap hari aku selalu beliin kamu makanan yang enak-enak, lho. Dari bubur ayam, sup iga, sampe seafood, tapi berat badanmu malah makin lama makin turun.”
Belinda menuangkan sepotong udang ke piringnya, kemudian mengupas udang itu dengan gerak pelan tapi tetap cekatan. “Menurutmu, badanku jadi keliatan lebih bagus begini, nggak?”
“Nggak lah!” jawab Manda cepat, lalu mendesah kesal. “Badanmu tuh keterlaluan kurusnya sekarang. Dulu kamu bisa bikin gaun malamku kelihatan jatuhnya pas. Tapi sekarang…” ia mendecak pelan. “Pokoknya kita harus cari baju baru buat acara nanti!”
Belinda meletakkan udang yang sudah dikupas itu ke mangkuk makanan kucing, lalu memanggil pelan, “Mochi!” Kucing itu langsung mendekat dengan langkah manja dan ekor tegak.
Sambil mengelus lembut kepala Mochi, Belinda bertanya lirih, “Acara apa?”
“Kamu lupa?” Manda menatapnya heran sejenak, sebelum kemudian suaranya berubah menjadi lebih bersemangat. “Kan kamu yang bilang kalau desain perhiasanmu harus masuk pasar dalam tiga bulan ke depan.”
Wajah Manda berubah mengerucut kesal, tapi bukan kesal pada sahabatnya, melainkan pada kenyataan hidup. “Aku sudah ngobrol sama beberapa perusahaan perhiasan. Mereka bisa nerima pesanan custom. Tapi kalau mau produksi massal untuk di-launching, bisa makan waktu lama. Kalau mau ngejar waktu tiga bulan, kita butuh orang yang bisa mempercepat proses dan benar-benar suka sama desain yang kamu buat.”
“Nah!” lanjut Manda tanpa menunggu jeda, “Kebetulan malam ini ada pesta. Yang datang bukan cuma pengrajin perhiasan di Jakarta aja, tapi juga desainer dari kota-kota lain. Kupikir kalau kita datang, siapa tahu nanti ada yang tertarik sama desainmu.”
Melihat keseriusan di wajah Manda, membuat rasa hangat menjalar di dalam hati Belinda. Bukan rasa hangat dari semangat yang meledak, tapi lebih seperti kelembutan yang membuat senyum di bibirnya merekah perlahan.
Belinda mengelus Mochi lagi. “Aku udah lama nggak pernah datang ke acara begitu. Tapi sepertinya emang aku nggak bisa terus-terusan di rumah.”
Ketika Belinda tersenyum lebar, Manda sempat terdiam, lalu berbicara dengan nada yang lebih hati-hati, seolah tengah menyentuh luka yang belum sepenuhnya kering.
“Kamu ingat nggak, dulu setiap kali aku ajak kamu ke pesta, kamu selalu aja nanyain siapa aja yang datang? Kamu selalu memikirkan Arga, khawatir kalau dia nggak suka, takut bikin dia tersinggung.” Senyum Manda sedikit melebar. “Tapi sekarang kamu langsung setuju tanpa tanya apa-apa sama sekali.”
Senyum di bibir Belinda kini diselimuti kesedihan. “Yah, aku masih dalam proses penyembuhan,” ujarnya pelan. “Tapi malam ini, jangan bawa-bawa soal mantan, ya?”
***
Malamnya, di ballroom Hotel Mahakam Grand, kawasan Sudirman…
Lampu-lampu gantung memantulkan kilaunya ke lantai marmer yang dingin. Di luar, Jakarta terasa seolah tak pernah benar-benar tidur; klakson yang terdengar di kejauhan dan garis lampu kendaraan yang mengalir tanpa putus.
Sebaliknya, di dalam ballroom, musik terdengar mengisi ruang dengan ritme halus, bercampur tawa dan bunyi gelas yang beradu.
Belinda masuk dengan gaun malam berwarna merah menyala. Potongan gaunnya berani; leher V yang dalam, punggung terbuka, dan belahan tinggi yang membuat langkahnya nampak panjang dan ringan.
Tubuhnya yang kini lebih ramping justru semakin ditegaskan oleh warna merah itu. Begitu ia muncul, beberapa kepala spontan menoleh, beberapa pasang mata menatap terlalu lama, dan bisik-bisik kecil mulai bergulir di antara tamu.
Manda merapat ke arah Belinda, lalu berbisik lembut. “Tuh, kan. Kubilang juga apa? Style yang berani begini memang cocok buat kamu. Dulu kamu selalu pilih dress yang anggun dan terlihat pantas, karena kamu harus tampil sebagai Nyonya Arga Mahardika. Tapi jujur saja, menurutku itu sebenarnya nggak kamu banget.”
Belinda membalas dengan senyum yang manis dan lembut. “Ingat, kok.”
Seminggu dalam proses pemulihan membuat Belinda membuat satu keputusan sederhana: ia tak akan lagi berdiri di tempat yang sama.
Tak lama kemudian, seorang pria mendekat, memperkenalkan diri singkat, lalu mengulurkan tangan. “Boleh saya ajak Anda berdansa?”
“Belinda?”Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.“Nathan?”Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mere
Belinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya d
“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi rua
Lebih dari satu jam kemudian, ada sentuhan kecil yang mengusik Belinda dengan lembut. Mochi, kucingnya, mengeong pelan sambil mendorong lengan Belinda menggunakan kepalanya.Belinda membuka mata dengan susah payah. Kemudian tangannya mengusap kepala Mochi dengan gerakan lemah dan perlahan.“Iya… iya…” gumam Belinda nyaris tak bersuara.Secara perlahan, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi, Belinda memaksakan diri untuk berdiri. Kedua kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Goyah dan tak seimbang. Dengan satu dua langkah, Belinda mulai keluar dari kamar mandi.Hingga mendadak dunia terasa jatuh.Tubuh perempuan itu ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk yang berat.Dalam pandangannya yang samar, Belinda bisa melihat sepatu kulit mewah buatan tangan yang melangkah masuk dari arah pintu. Sepatu itu berhenti di depan wajahnya.Belinda berusaha mengangkat kepalanya, tapi kelopak matanya terasa berat. Suara di atasnya terdengar dingin, mengejek, seperti pisau tajam yang tak membut
Melihat keberadaan perempuan itu di belakang Arga, membuat sesuatu di dalam diri Belinda kini terasa seolah mengeras. Bibirnya mengerucut tipis dan getir. Kemudian ia berbisik, “Sepertinya… aku memang melakukan pilihan yang benar.”Arga jelas tidak datang sendirian. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa Cantika. Seolah dengan sengaja menjadikan momen Belinda paling rapuh itu sebagai tontonan. Seolah Arga membiarkan Cantika menyaksikan Belinda dalam kondisi yang paling rendah, tanpa mempedulikan rasa malu dan sakit yang menggulung Belinda.Kalau sudah begitu, apa lagi yang tersisa untuk Belinda pertahankan?“Belinda!” bentak Arga, seolah berusaha menyadarkan lamunan sang istri.Tatapan pria itu seolah menancap pada wanita yang disebut namanya. Kedua mata yang biasanya selalu tampak teduh itu kini menyala, panas dan tajam, seolah seluruh amarahnya baru saja menemukan tempat berlabuh.“Berani sekali kamu menganggap mengakhiri kehamilan itu pilihan yang paling benar! Itu anak kita! Aku
“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan. Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahul







