LOGINLebih dari satu jam kemudian, ada sentuhan kecil yang mengusik Belinda dengan lembut. Mochi, kucingnya, mengeong pelan sambil mendorong lengan Belinda menggunakan kepalanya.
Belinda membuka mata dengan susah payah. Kemudian tangannya mengusap kepala Mochi dengan gerakan lemah dan perlahan.
“Iya… iya…” gumam Belinda nyaris tak bersuara.
Secara perlahan, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi, Belinda memaksakan diri untuk berdiri. Kedua kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Goyah dan tak seimbang. Dengan satu dua langkah, Belinda mulai keluar dari kamar mandi.
Hingga mendadak dunia terasa jatuh.
Tubuh perempuan itu ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk yang berat.
Dalam pandangannya yang samar, Belinda bisa melihat sepatu kulit mewah buatan tangan yang melangkah masuk dari arah pintu. Sepatu itu berhenti di depan wajahnya.
Belinda berusaha mengangkat kepalanya, tapi kelopak matanya terasa berat. Suara di atasnya terdengar dingin, mengejek, seperti pisau tajam yang tak membutuhkan tenaga besar untuk melukainya.
“Kamu sendiri yang memilih untuk menggugurkan anak itu,” ujar Arga pelan, setiap katanya terasa tajam. “Dan sekarang kamu mau main jadi korban? Sudahlah, hentikan sandiwaranya. Nggak akan ada yang percaya.”
Belinda tergeletak di lantai marmer yang dingin, punggungnya menempel pada kilap lantai yang memantulkan lampu gantung ruang tamu. Napasnya berat, dan ada rasa besi di tenggorokan akibat dara yang sempat tertahan di pangkal lidah. Belinda memaksa telapak tangannya untuk menekan lantai, secara perlahan bangkit dengan lutut gemetar.
“Tumben sudah pulang.” Kalimat itu keluar datar dari bibir Belinda. Karena bukankah seharusnya Arga masih berada di rumah sakit untuk menunggui Cantika kesayangannya?
Di sofa kulit berwarna gelap, Arga menyandarkan tubuh dengan anggun, seperti orang yang tengah menyaksikan adegan yang tak ada hubungannya dengan dirinya sama sekali. Pria itu nampak seolah memperhatikan wajah Belinda dengan tatapan jijik, lalu menghela napas tipis.
“Cantika baru mulai membangun nama lagi di Jakarta,” kata Arga santai, seakan tengah membahas jadwal rapat. “Bayangkan kalau orang-orang sampai tahu tadi dia ke dokter kandungan. Beritanya bisa melebar kemana-mana.”
Belinda menyipitkan mata, senyum di bibirnya terasa seperti meneteskan sarkasme yang nyaris tak bisa ia tahan.
“Lalu itu harus jadi urusanku?” ucap perempuan itu setelah berhasil berdiri tegak, meskipun dadanya terasa ngilu. “Sebagai istrimu yang baru keguguran, aku masih harus menjaga reputasi selingkuhanmu juga?”
Akhirnya sekarang baru jelas sudah alasan Arga pulang lebih cepat. Pria itu jelas takut Belinda akan membongkar semuanya, khawatir masa depan Cantikan ternodai sebelum benar-benar terbentuk.
“Apa hakmu ngomong ‘selingkuhan’?” Arga mendadak membentak, suaranya memantul di ruang tamu yang sunyi dan terlalu rapi itu.
Belinda menatap suaminya tanpa berkedip. Langkah kakinya membawanya bergerak mendekat hingga ke sofa di seberang pria itu.
“Kalau Cantika memang mempedulikan reputasinya, dia tentu tak akan mendekati pria yang sudah beristri. Dan kalau dia memang bisa menjaga diri dan mau aman, dia nggak akan mondar mandir ke rumah sakit umum yang ada di tengah Jakarta, tempat kamera orang bisa muncul dari mana saja.”
Wajah Arga menggelap, rahangnya mengeras.
“Kamu tahu dari awal kalau Cantika itu satu-satunya yang ada di hatiku, bahkan sebelum kamu menjadi istriku,” balas Arga ketus. “Tapi kamu tetap saja membiarkan kakekku menikahkan kita ketika aku nggak sadar. Dan bisa-bisanya kamu masih berani menyebut dia selingkuhan?”
Senyum Belinda terasa pahit, seperti menelan kopi hitam yang sudah dingin.
Yah, dulu Belinda memang salah.
Tiga tahun sebelumnya, sebuah kecelakaan mobil membuat Arga koma. Saat itu Cantika langsung pergi, kabur ke luar negeri, lenyap tanpa berpamitan. Belinda, yang saat itu mengira bahwa Cantika benar-benar meninggalkan Arga dan tak akan kembali pun menerima perintah kakek Arga agar pernikahan perjodohan mereka dipercepat. Sebagai bentuk bakti dan rasa bersalahnya, Belinda bersumpah akan merawat Arga sepanjang hidupnya.
Hampir enam bulan lamanya ia menunggu di samping ranjang Arga, ditemani dengan bunyi monitor, bau antiseptik, dan doa yang selalu ia ucapkan dalam hati berulang kali. Dengan telaten ia mengusap tangan Arga, menyeka keringat pria itu, memastikan jadwal periksa dokter dan perawat, bahkan mengurus keperluan yang seharusnya tidak menjadi bagian dari hidupnya.
Untungnya, secara perlahan Arga pun mulai sadar dan kesehatannya semakin pulih.
Namun di sisi lain, tubuh Belinda justru mulai hancur perlahan. Pola makannya berantakan, tidurnya sama sekali tak teratur dan terpotong-potong, kemudian diikuti dengan stres yang selalu melandanya setiap hari.
Diagnosis itu datang mendadak layaknya lampu merah di tengah hujan Jakarta.
Kanker lambung.
Belinda pernah naif. Mengira bahwa kesetiaannya menemani akan bisa mencairkan hati Arga. namun, yang terjadi justru sebaliknya, ia terkuras habis nyaris tanpa sisa.
Kini, sebagai istri sah, Belinda bahkan tak bisa menyebut Cantika sebagai selingkuhan tanpa disambut amarah Arga. Seolah status pernikahan mereka sama sekali tak pernah ada, bahkan meskipun sekadar formalitas di atas kertas sekalipun.
Belinda terpaksa harus memahami satu hal dengan pahit; bahwa Arga tak pernah benar-benar menghargainya. Seberapa keras pun ia merawat pria itu, sebanyak apa pun ia menahan diri, hati pria itu tak akan pernah bisa ia sentuh.
Kesadaran itu membuat dadanya terasa kosong.
Belinda menatap Arga, lalu tersenyum kecil.
“Kalau memang itu yang kamu mau, yasudah akhiri saja,” ujar gadis itu pelan.
Di kedua matanya ada keputusasaan yang tenang. Tidak dramatis yang dipenuhi tangis, tapi hanya ada rasa lelah karena terlalu lelah berjuang sendiri. Dan entah kenapa, ketenangan Belinda justru mengganggu Arga.
“Maksudmu apa?” desak sang suami.
Belinda menarik napas panjang, rasa dingin merayap dari ulu hatinya hingga ke ujung jari.
“Arga.”
Dua tahun dijodohkan diikuti dengan tiga tahun pernikahan. Dan kini, ketika ujung hubungan itu sudah ada di depan matanya, Belinda justru tak lagi menemukan air mata.
“Kita bisa bercerai,” lanjut Belinda.
“Cerai?” tanya Arga dengan nada terheran, lalu diikuti dengan tawa sinis. “Kamu lagi bermain apa, Belinda? Kamu sudah menggugurkan anak kita, sekarang minta cerai? Trus kalau aku setuju, kamu bakal bilang ke Kakek kalau aku yang maksa kamu, kan?”
Belinda menggelengkan kepalanya. “Aku nggak akan pernah mengadu ke Kakek,” jawabnya tenang. “Nggak waktu dulu, nggak juga sekarang.”
Perempuan itu kemudian berjongkok di dekat meja kopi dan membuka laci kecil di bawah permukaan kaca. Dari dalamnya, ia mengeluarkan berkas yang sudah rapi di dalam map tipis: surat gugatan cerai.
Tepat setelahnya, sebuah nada dering ponsel memecah keheningan. Arga melihat ke layar ponselnya dan ekspresi wajahnya berubah dalam sekejap.
“Cantika.”
“Belinda?”Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.“Nathan?”Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mere
Belinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya d
“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi rua
Lebih dari satu jam kemudian, ada sentuhan kecil yang mengusik Belinda dengan lembut. Mochi, kucingnya, mengeong pelan sambil mendorong lengan Belinda menggunakan kepalanya.Belinda membuka mata dengan susah payah. Kemudian tangannya mengusap kepala Mochi dengan gerakan lemah dan perlahan.“Iya… iya…” gumam Belinda nyaris tak bersuara.Secara perlahan, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi, Belinda memaksakan diri untuk berdiri. Kedua kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Goyah dan tak seimbang. Dengan satu dua langkah, Belinda mulai keluar dari kamar mandi.Hingga mendadak dunia terasa jatuh.Tubuh perempuan itu ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk yang berat.Dalam pandangannya yang samar, Belinda bisa melihat sepatu kulit mewah buatan tangan yang melangkah masuk dari arah pintu. Sepatu itu berhenti di depan wajahnya.Belinda berusaha mengangkat kepalanya, tapi kelopak matanya terasa berat. Suara di atasnya terdengar dingin, mengejek, seperti pisau tajam yang tak membut
Melihat keberadaan perempuan itu di belakang Arga, membuat sesuatu di dalam diri Belinda kini terasa seolah mengeras. Bibirnya mengerucut tipis dan getir. Kemudian ia berbisik, “Sepertinya… aku memang melakukan pilihan yang benar.”Arga jelas tidak datang sendirian. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa Cantika. Seolah dengan sengaja menjadikan momen Belinda paling rapuh itu sebagai tontonan. Seolah Arga membiarkan Cantika menyaksikan Belinda dalam kondisi yang paling rendah, tanpa mempedulikan rasa malu dan sakit yang menggulung Belinda.Kalau sudah begitu, apa lagi yang tersisa untuk Belinda pertahankan?“Belinda!” bentak Arga, seolah berusaha menyadarkan lamunan sang istri.Tatapan pria itu seolah menancap pada wanita yang disebut namanya. Kedua mata yang biasanya selalu tampak teduh itu kini menyala, panas dan tajam, seolah seluruh amarahnya baru saja menemukan tempat berlabuh.“Berani sekali kamu menganggap mengakhiri kehamilan itu pilihan yang paling benar! Itu anak kita! Aku
“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan. Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahul







