MasukBelinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.
Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.
Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.
Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.
Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.
Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya dengan ringan.
Andri sempat terlihat ragu sepersekian detik, lalu menjawab cepat. “Ibu Anda mengirim pesan pagi ini. Katanya Belinda masih istirahat di rumah. Semua baik-baik saja.”
Arga mendengus pelan, seolah tengah menghina sesuatu yang tak terucap. “Nggak punya hati.”
Tangan pria itu meraih ponsel dari dalam saku. Ia membuka percakapannya dengan Belinda. Pesan terakhir yang ia dapatkan dari perempuan itu sudah seminggu berlalu, isinya hanya mengingatkan agar ia mengurangi kopi saat bekerja.
Dulu, Belinda bisa mengirimkan pesan berkali-kali hanya dalam satu hari, layaknya seorang ibu cerewet yang harus mengingatkan anaknya agar tidak lupa makan. Namun sekarang, sudah satu minggu berlalu tanpa ada satu pun pesan yang terkirim.
Belinda juga sama sekali tak pernah memberikan penjelasan mengenai aborsi yang diam-diam ia lakukan.
Jika bukan karena laporan rutin dari ibunya yang menyebutkan Belinda tengah memulihkan diri di rumah keluarga, Arga mungkin akan mengira Belinda menghilang begitu saja.
Biasanya, setiap kali mereka bertengkar, Belinda akan minta maaf dalam dua atau tiga hari, kemudian segalanya akan kembali seperti semula. Namun baru kali ini, Belinda seolah benar-benar memilih untuk bertahan pada kekeraskepalaannya.
Andri menghela napas kecil sambil mengamati Arga. Ia tahu bosnya sering terlihat keras di hadapan orang lain, seolah tak peduli dan berharap Belinda yang pertama kali memohon maaf padanya. Namun di balik itu semua, Arga sendiri yang meminta ibunya untuk menjaga Belinda, dan setiap hari selalu menanyakan kondisinya. Arga juga sering terlihat mengecek ponselnya, seolah tengah menunggu sesuatu yang tidak kunjung muncul.
Andri sempat menahan diri cukup lama, sebelum akhirnya memberanikan diri. Ia menunjuk ke arah lantai dansa di bawah, kemudian dengan suara hati-hati nyaris berbisik, ia pun bertanya. “Pak Arga… perempuan yang di bawah itu, bukannya itu Bu Belinda?”
Mendengar itu, Arga berdiri dan menatap ke arah yang ditunjuk Andri.
Di bawah, di lantai dansa, di antara lautan tamu bersetelan hitam dan putih yang bergerak rapi seperti gelombang, ada satu sosok yang langsung mencuri perhatiannya. Seorang perempuan dengan gaun merah menyala tengah berdansa waltz begitu dekat dengan pria berbusana hitam. Punggung pria itu terlihat membelakangi Arga.
Dari caranya melangkah, terlihat jelas kalau perempuan itu tak hanya anggun, tapi juga menari sedikit lebih terampil dibandingkan pasangannya. Halus, nyaris tak terlihat, tapi tetap nyata bagi mata yang peka.
Arga mengernyit, lalu menoleh ke arah Andri. “Sepertinya sudah waktunya kamu ganti kacamata.”
Perempuan yang mereka amati itu jelas punya kemampuan berdansa yang matang, tidak seperti Belinda. Sepengetahuan Arga, sebagai seorang perempuan yang dahulu pernah tertukar saat bayi dan baru kembali ke keluarganya saat berusia delapan belas, membuat Belinda kehilangan begitu banyak kesempatan belajar. Salah satunya adalah belajar berdansa.
Andri pasti salah. Tidak mungkin perempuan itu adalah Belinda.
Namun, tepat di saat itu, perempuan berbaju merah itu berputar, hingga wajahnya bisa terlihat dari arah balkon.
Andri yang sempat terdiam pun kembali menunjuk ke arah perempuan itu. “Pak Arga… tapi sepertinya itu benar-benar istri Anda!”
Arga mengalihkan pandangannya lagi ke lantai dansa dengan rasa tidak sabar yang menekan. Dan begitu ia menangkap wajah perempuan itu, dadanya seperti dihantam sesuatu.
Itu Belinda.
Sorot matanya menyipit, berusaha memperhatikan Belinda dengan tajam. Amarahnya langsung naik dengan cepat. Bibir merah tegas, riasan berani selaras dengan gaun merah yang membalutnya, dan ekspresi yang jelas berusaha memikat lawan menarinya.
Sudah tiga tahun menikah, dan baru sekarang ia melihat sisi Belinda yang seperti ini. Di balik sikapnya yang selama ini selalu tampak tenang dan dewasa, ternyata ada kelincahan yang nakal dan berwarna.
Pandangan Arga turun ke jemari halus Belinda, yang kini terlihat bertumpu di bahu pria lain.
Ketika di sini ia tengah menantikan permintaan maaf dan penjelasan dari Belinda, tapi yang ia dapati justru pemandangan sang istri yang tengah menari dengan orang lain, tepat di depan matanya.
Masih dengan amarah di ubun-ubun, Arga berbalik dan melangkah menuruni tangga.
“Arga!”
Suara jernih seorang perempuan terdengar memanggilnya. Arga menghentikan langkahnya dan menoleh.
Cantika terlihat berjalan mendekat dengan senyum merekah. Kedua tangannya mengangkat ujung gaunnya agar tak terseret. Langkahnya ringan dan terlatih, layaknya seseorang yang sudah terbiasa berjalan di bawah sorot lampu kamera.
“Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini,” ujar Cantika ramah.
Arga mengangkat sebelah alirnya. “Sedang apa kamu di sini?”
“Tadi aku habis kelar syuting di Kemang. Trus dengar di jamuan malam ini bakal dipenuhi perhiasan dari butik-butik besar dan desainer papan atas. Jadi aku kepikiran buat lihat-lihat, siapa tahu ada yang cocok buat kerja sama endorsement.” Cantika melirik ke arah ballroom, ke kilau lampu gantung dan kilatan batu-batu permata di leher para tamu. “Katanya ada beberapa set yang harganya sampai miliaran rupiah. Aku jadi tertarik.”
Tepat setelah selesai berbicara, Cantika menghadap ke arah Arga lalu mengulurkan tangannya. “Mau dansa, Arga? Aku tadi sempat lihat di lantai dansa semua orang udah punya pasangan. Tapi aku belum nemu yang pas.”
Arga sempat melirik sebentar ke arah sosok bergaun merah yang masih terlihat menari di lantai dansa. Kemudian ia menatap wajah Cantika dan menjawab datar, “Baiklah, Ayo.”
Sementara itu, di lantai dansa, musik baru saja berhenti. Belinda menghentikan tariannya dengan elegan, dan mengucapkan salam perpisahan pada pasangan menarinya. Pria itu sempat nampak enggan melepaskannya, seolah masih ingin mengajak menari satu lagu lagi. Tapi Belinda sudah menggerakan tubuhnya untuk beranjak pergi.
Baru saja ia membalikkan tubuhnya, seorang pria yang mengenakan setelan jas biru tua tanpa sengaja menabrak tubuhnya.
“Belinda?”
“Belinda?”Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.“Nathan?”Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mere
Belinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya d
“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi rua
Lebih dari satu jam kemudian, ada sentuhan kecil yang mengusik Belinda dengan lembut. Mochi, kucingnya, mengeong pelan sambil mendorong lengan Belinda menggunakan kepalanya.Belinda membuka mata dengan susah payah. Kemudian tangannya mengusap kepala Mochi dengan gerakan lemah dan perlahan.“Iya… iya…” gumam Belinda nyaris tak bersuara.Secara perlahan, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi, Belinda memaksakan diri untuk berdiri. Kedua kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Goyah dan tak seimbang. Dengan satu dua langkah, Belinda mulai keluar dari kamar mandi.Hingga mendadak dunia terasa jatuh.Tubuh perempuan itu ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk yang berat.Dalam pandangannya yang samar, Belinda bisa melihat sepatu kulit mewah buatan tangan yang melangkah masuk dari arah pintu. Sepatu itu berhenti di depan wajahnya.Belinda berusaha mengangkat kepalanya, tapi kelopak matanya terasa berat. Suara di atasnya terdengar dingin, mengejek, seperti pisau tajam yang tak membut
Melihat keberadaan perempuan itu di belakang Arga, membuat sesuatu di dalam diri Belinda kini terasa seolah mengeras. Bibirnya mengerucut tipis dan getir. Kemudian ia berbisik, “Sepertinya… aku memang melakukan pilihan yang benar.”Arga jelas tidak datang sendirian. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa Cantika. Seolah dengan sengaja menjadikan momen Belinda paling rapuh itu sebagai tontonan. Seolah Arga membiarkan Cantika menyaksikan Belinda dalam kondisi yang paling rendah, tanpa mempedulikan rasa malu dan sakit yang menggulung Belinda.Kalau sudah begitu, apa lagi yang tersisa untuk Belinda pertahankan?“Belinda!” bentak Arga, seolah berusaha menyadarkan lamunan sang istri.Tatapan pria itu seolah menancap pada wanita yang disebut namanya. Kedua mata yang biasanya selalu tampak teduh itu kini menyala, panas dan tajam, seolah seluruh amarahnya baru saja menemukan tempat berlabuh.“Berani sekali kamu menganggap mengakhiri kehamilan itu pilihan yang paling benar! Itu anak kita! Aku
“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan. Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahul







