Share

Bab 5: Sisi Nakal Belinda

Author: Rizki Adinda
last update Last Updated: 2026-01-15 16:06:22

Belinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.

Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.

Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.

Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.

Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.

Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya dengan ringan.

Andri sempat terlihat ragu sepersekian detik, lalu menjawab cepat. “Ibu Anda mengirim pesan pagi ini. Katanya Belinda masih istirahat di rumah. Semua baik-baik saja.”

Arga mendengus pelan, seolah tengah menghina sesuatu yang tak terucap. “Nggak punya hati.”

Tangan pria itu meraih ponsel dari dalam saku. Ia membuka percakapannya dengan Belinda. Pesan terakhir yang ia dapatkan dari perempuan itu sudah seminggu berlalu, isinya hanya mengingatkan agar ia mengurangi kopi saat bekerja.

Dulu, Belinda bisa mengirimkan pesan berkali-kali hanya dalam satu hari, layaknya seorang ibu cerewet yang harus mengingatkan anaknya agar tidak lupa makan. Namun sekarang, sudah satu minggu berlalu tanpa ada satu pun pesan yang terkirim.

Belinda juga sama sekali tak pernah memberikan penjelasan mengenai aborsi yang diam-diam ia lakukan.

Jika bukan karena laporan rutin dari ibunya yang menyebutkan Belinda tengah memulihkan diri di rumah keluarga, Arga mungkin akan mengira Belinda menghilang begitu saja.

Biasanya, setiap kali mereka bertengkar, Belinda akan minta maaf dalam dua atau tiga hari, kemudian segalanya akan kembali seperti semula. Namun baru kali ini, Belinda seolah benar-benar memilih untuk bertahan pada kekeraskepalaannya.

Andri menghela napas kecil sambil mengamati Arga. Ia tahu bosnya sering terlihat keras di hadapan orang lain, seolah tak peduli dan berharap Belinda yang pertama kali memohon maaf padanya. Namun di balik itu semua, Arga sendiri yang meminta ibunya untuk menjaga Belinda, dan setiap hari selalu menanyakan kondisinya. Arga juga sering terlihat mengecek ponselnya, seolah tengah menunggu sesuatu yang tidak kunjung muncul.

Andri sempat menahan diri cukup lama, sebelum akhirnya memberanikan diri. Ia menunjuk ke arah lantai dansa di bawah, kemudian dengan suara hati-hati nyaris berbisik, ia pun bertanya. “Pak Arga… perempuan yang di bawah itu, bukannya itu Bu Belinda?”

Mendengar itu, Arga berdiri dan menatap ke arah yang ditunjuk Andri.

Di bawah, di lantai dansa, di antara lautan tamu bersetelan hitam dan putih yang bergerak rapi seperti gelombang, ada satu sosok yang langsung mencuri perhatiannya. Seorang perempuan dengan gaun merah menyala tengah berdansa waltz begitu dekat dengan pria berbusana hitam. Punggung pria itu terlihat membelakangi Arga.

Dari caranya melangkah, terlihat jelas kalau perempuan itu tak hanya anggun, tapi juga menari sedikit lebih terampil dibandingkan pasangannya. Halus, nyaris tak terlihat, tapi tetap nyata bagi mata yang peka.

Arga mengernyit, lalu menoleh ke arah Andri. “Sepertinya sudah waktunya kamu ganti kacamata.”

Perempuan yang mereka amati itu jelas punya kemampuan berdansa yang matang, tidak seperti Belinda. Sepengetahuan Arga, sebagai seorang perempuan yang dahulu pernah tertukar saat bayi dan baru kembali ke keluarganya saat berusia delapan belas, membuat Belinda kehilangan begitu banyak kesempatan belajar. Salah satunya adalah belajar berdansa.

Andri pasti salah. Tidak mungkin perempuan itu adalah Belinda.

Namun, tepat di saat itu, perempuan berbaju merah itu berputar, hingga wajahnya bisa terlihat dari arah balkon.

Andri yang sempat terdiam pun kembali menunjuk ke arah perempuan itu. “Pak Arga… tapi sepertinya itu benar-benar istri Anda!”

Arga mengalihkan pandangannya lagi ke lantai dansa dengan rasa tidak sabar yang menekan. Dan begitu ia menangkap wajah perempuan itu, dadanya seperti dihantam sesuatu.

Itu Belinda.

Sorot matanya menyipit, berusaha memperhatikan Belinda dengan tajam. Amarahnya langsung naik dengan cepat. Bibir merah tegas, riasan berani selaras dengan gaun merah yang membalutnya, dan ekspresi yang jelas berusaha memikat lawan menarinya.

Sudah tiga tahun menikah, dan baru sekarang ia melihat sisi Belinda yang seperti ini. Di balik sikapnya yang selama ini selalu tampak tenang dan dewasa, ternyata ada kelincahan yang nakal dan berwarna.

Pandangan Arga turun ke jemari halus Belinda, yang kini terlihat bertumpu di bahu pria lain.

Ketika di sini ia tengah menantikan permintaan maaf dan penjelasan dari Belinda, tapi yang ia dapati justru pemandangan sang istri yang tengah menari dengan orang lain, tepat di depan matanya.

Masih dengan amarah di ubun-ubun, Arga berbalik dan melangkah menuruni tangga.

“Arga!”

Suara jernih seorang perempuan terdengar memanggilnya. Arga menghentikan langkahnya dan menoleh.

Cantika terlihat berjalan mendekat dengan senyum merekah. Kedua tangannya mengangkat ujung gaunnya agar tak terseret. Langkahnya ringan dan terlatih, layaknya seseorang yang sudah terbiasa berjalan di bawah sorot lampu kamera.

“Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini,” ujar Cantika ramah.

Arga mengangkat sebelah alirnya. “Sedang apa kamu di sini?”

“Tadi aku habis kelar syuting di Kemang. Trus dengar di jamuan malam ini bakal dipenuhi perhiasan dari butik-butik besar dan desainer papan atas. Jadi aku kepikiran buat lihat-lihat, siapa tahu ada yang cocok buat kerja sama endorsement.” Cantika melirik ke arah ballroom, ke kilau lampu gantung dan kilatan batu-batu permata di leher para tamu. “Katanya ada beberapa set yang harganya sampai miliaran rupiah. Aku jadi tertarik.”

Tepat setelah selesai berbicara, Cantika menghadap ke arah Arga lalu mengulurkan tangannya. “Mau dansa, Arga? Aku tadi sempat lihat di lantai dansa semua orang udah punya pasangan. Tapi aku belum nemu yang pas.”

Arga sempat melirik sebentar ke arah sosok bergaun merah yang masih terlihat menari di lantai dansa. Kemudian ia menatap wajah Cantika dan menjawab datar, “Baiklah, Ayo.”

Sementara itu, di lantai dansa, musik baru saja berhenti. Belinda menghentikan tariannya dengan elegan, dan mengucapkan salam perpisahan pada pasangan menarinya. Pria itu sempat nampak enggan melepaskannya, seolah masih ingin mengajak menari satu lagu lagi. Tapi Belinda sudah menggerakan tubuhnya untuk beranjak pergi.

Baru saja ia membalikkan tubuhnya, seorang pria yang mengenakan setelan jas biru tua tanpa sengaja menabrak tubuhnya.

“Belinda?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 94: Memutus Semua Hubungan dengan Arga

    Senyum Alan langsung kaku. Ia menoleh canggung ke arah Arga dan Belinda. “Arga, aku cuma bercanda. Kenapa kamu khawatir banget?”Berbeda dengan Alan yang agak gelagapan, Tommy justru blak-blakan mendengus. “Kamu saja nggak menghargai Belinda, jadi wajar kalau ada orang lain yang mau menghargainya. Kalau kamu memang serius mau cerai, kenapa kamu terganggu kalau ada yang tertarik pada Belinda?”Lalu, menoleh ke Alan, Tommy melanjutkan. “Lagipula aku suka Alan. Memang dia baru balik ke Indonesia dan kariernya belum seberapa, tapi setidaknya urusan pribadinya tidak berantakan. Nggak kayak sebagian orang yang memperlakukan mantan yang dulu ninggalin dia layaknya emas berharga!”Ucapan Tommy membuat Arga mengerutkan dahi. “Kakek, aku sudah coba jelaskan. Kakek salah paham soal Can

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 93: Kalau Ternyata Berjodoh...

    Tak lama, pelayan datang membawa pesanannya. Tanpa banyak bicara, Belinda menunduk dan mulai makan.Arga mengamati Belinda yang sibuk makan dan tidak terlalu tertarik menghabiskan sandwich miliknya sendiri.Setelah sarapan selesai, mereka pun keluar bersama, berjalan dalam diam yang kaku. Bahkan meskipun koridor rumah sakit itu penuh dengan orang berlalu lalang, tapi Belinda dan Arga seolah tenggelam dalam kesunyian mereka sendiri.Barulah ketika mereka masuk ke lift menuju ruang rawat inap Tommy, Belinda akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Arga.“Pak Arga,” ujar Belinda, nada suaranya bercampur antara kesal dan penasaran. “Tadi kamu sampai ngotot mau sarapan bareng aku, kupikir ada hal penting yang mau dibahas…” Belinda menatap

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 92: Masih Muda, Masih Ada Waktu

    Belinda menatapnya bingung sekaligus tak percaya. Apa dia salah dengar? Bagaimana mungkin Arga bisa mengatakan hal seperti itu.Keterkejutan di mata Belinda membuat Arga mengernyit. Ia menegakkan badan, lalu berbalik dan melangkah keluar lift. “Anggap saja aku nggak ngomong apa-apa.”Arga sempat menangkap kesedihan di mata Belinda ketika keluarga itu membahas bayi. Kesedihan itu menyentuhnya, memantik simpati untuk anak yang sempat hilang dari pelukan mereka. Namun tatapan tak percaya Belinda seolah menamparnya balik, menyadarkannya bahwa ia sudah melampaui batas. Ia pasti gila kalau berusaha menghibur Belinda dengan kalimat seperti itu.Ketika pintu lift mulai menutup, Belinda tersentak dari lamunannya dan bergegas mengejar Arga. Kemudian mereka berjalan berdekatan dalam diam.

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 91: Bisa Punya Anak Lagi Nanti

    Meskipun Alan bukan bagian dari keluarga Mahardika dan Belinda baru mengenalnya sebentar, tapi reputasinya sudah bukan sesuatu yang asing bagi Belinda. Alan tumbuh bersama Arga, dan kedekatannya dengan Mega pun bukanlah hal baru.Dulu, Mega bahkan pernah mengejar Alan. Dan setiap kali Arga kewalahan dan tak sanggup mengurus masalah Mega, Alan yang turun tangan. Mega cukup mengenal Alan untuk mempercayai pria itu bisa menjaga mulut.Makanya tak ada alasan bagi Alan untuk keluar dari ruangan ini.Keterusterangan Belinda membuat Arga semakin mengerutkan dahinya. Ini adalah sisi Belinda yang tidak biasa. Dulu perempuan ini tak akan berani menahan atau membalas seperti sekarang.“Langsung saja,” ucap Tommy, melirik Arga yang tampak enggan melanjutkan, lalu terkeke

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 90: Belinda Ini Bodoh

    Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Mega tercekat.Mega berdiri kaku selama beberapa detik sebelum menyahut dengan frustasi. “Mana aku tahu! Aku bukan cenayang. Gimana bisa aku tahu tiga setengah bulan lalu sama siapa? Yang penting aku cuma mikirin kakakku!”“Oh, gitu?” Belinda membalas dengan suara dingin, lalu menoleh dengan tatapan meremehkan ke arah Arga. “Kalau kamu sebegitu sayangnya ke kakakmu, kamu pasti tahu, kan, tiga setengah bulan lalu dia ada di mana dan lagi ngapain?”Wajah Mega langsung pucat. Kata-katanya buyar di ujung lidah.“Kamu nggak tahu?” Belinda tidak melunak. Jemarinya mengencang menggenggam tangan Tommy, lalu menukas tegas. “Aku kasih tahu kalau begitu. Tiga setengah bulan lalu, Pak Arga

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 89: Cuma Perempuan Murahan

    Untuk pertama kalinya, ketenangan yang sebelumnya melekat pada Arga akhirnya retak. Pria itu menatap Belinda dengan penuh amarah, lalu berdiri dan melangkah menjauhi Belinda dengan kasar, ucapannya agak bergumam. “Nggak masuk akal!”Keheningan kembali memenuhi area depan IGD.Tak jauh dari Belinda, Alan menyaksikan semuanya dengan campuran keterkejutan dan kagum pada Belinda.Selama lima tahun ia pergi dari Indonesia, dan meskipun ia tumbuh besar mengenali Arga, tapi Alan belum pernah melihat Arga sedemikian terpojok sampai benar-benar kehilangan kata-kata.Alan sudah sering mendengar dinamika hubungan Arga dan Belinda. Kebanyakan orang yang ia kenal menggambarkan Belinda sebagai sekutu yang setia, seseorang yang selalu siap membela dan selalu punya alasan un

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status