LOGIN“Belinda?”
Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.
“Nathan?”
Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.
Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.
Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mereka perlahan meredup.
Oleh karena itu, melihat Nathan di tengah pesta megah Jakarta seperti sekarang ini, terasa seperti membuka lembar lama yang Belinda kira sudah rapi tersimpan.
“Benar, ini aku,” ujar Nathan dengan senyum sopan. Pria itu mengulurkan tangan, dengan gestur hangat yang masih sama seperti dulu. “Karena sudah terlanjur bertemu di lantai dansa, mau berdansa dulu denganku?”
Belinda pun membalas senyuman itu dan menerima uluran tangan Nathan. “Tentu saja.”
Mereka pun melangkah ke lantai dansa. Musik kembali mengalun, dan pasangan-pasangan lain ikut bergabung.
Dari arah tangga, Arga terlihat turun bersama Cantika. Kedua matanya langsung menangkap pemandangan Belinda dan Nathan yang kini tengah berdansa.
“Yang itu Belinda, ya?” tanya Cantika dengan kedua mata berkedip centil. Gadis itu kemudian merapatkan tubuhnya ke Arga dan menggenggam lengan pria itu. “Itu siapa pria yang sama Belinda? Mereka keliatan akrab, ya.”
Arga menyipitkan mata, berusaha memperhatikan siapa pria itu.
Nathan.
Arga mengenali pria yang tengah berdansa dengan Belinda itu. Nama dan wajah itu pernah ia temukan ketika menelusuri masa lalu Belinda, di berkas lama yang ia baca secara diam-diam. Nathan adalah kayak tingkat Belinda ketika kuliah, seseorang yang nyaris menjadi pilihan terakhirnya.
Di lantai dansa, kedua orang itu bergerak dalam sebuah kedekatan yang mengusik pikiran Arga. Belinda terlihat berbicara dengan tatapan lembut yang tertambat pada Nathan.
Sebuah pemikiran langsung terlintas di pikiran Arga. Mungkinkah Belinda datang ke Hotel Mahakam Sudirman tanpa memberitahunya, berdandan cantik seperti itu, demi Nathan?
Padahal baru seminggu berlalu sejak mereka kehilangan anak mereka. Apakah memang secepat itu Belinda mencari sandaran baru di pelukan orang lain?
“Arga?” suara Cantika memanggil penuh keraguan. Tapi Arga tetap terdiam, sehingga perempuan itu hanya bisa menghela napas pelan.
“Mungkin sebaiknya kamu menghampiri Belinda,” ujar Cantika seraya menundukkan wajahnya. “Dia mungkin akan terluka kalau melihat kamu menari bersamaku. Bisa jadi itu sebabnya dia memilih untuk berdansa dengan pria lain. Pergilah. Jangan biarkan aku jadi alasan hubungan kalian retak.”
Arga berdecak pelan, sebelum kemudian berucap dengan nada dingin. “Aku nggak ada hubungan apa pun dengannya.”
Cantika baru saja akan menimpali ucapan itu ketika Arga melanjutkan ucapannya lagi. “Bukankah seharusnya kita menari sekarang?” Kemudian mengulurkan tangannya ke arah Cantika. “Ayo.”
Memang benar, selama tiga tahun terakhir, Arga dan Belinda selalu menyembunyikan pernikahan mereka rapat-rapat. Mereka jarang muncul bersama di acara publik. Kalaupun akhirnya hadir di pesta yang sama, mereka akan bertingkah layaknya orang asing. Jika terpaksa, mereka hanya akan sekadar saling sapa seperlunya.
Mungkin itulah sebabnya, ketika memutuskan untuk menari bersama Nathan, Belinda sudah cukup yakin bahwa di hadapan khalayak, Arga akan selalu memperlakukannya seperti seseorang yang tak dikenalnya.
Tak masalah, pikir Arga, masih ada banyak waktu untuk membicarakan segalanya begitu mereka berdua kembali ke kediaman mereka.
Dengan pikiran itu, Arga pun berbalik dan menuntun Cantika ke lantai dansa.
Dan begitu Arga dan Cantika melangkah masuk, dalam tampilan yang nampak serasi, setiap pasang mata yang menatap mereka pun memuji lembut. Tak sedikit dari para tamu yang mulai mengajak pasangan masing-masing untuk turut serta bergabung.
Melihat suasana yang semakin hangat, sang pembaca acara langsung meraih mikrofon. Dengan suara serak yang penuh semangat, ia pun berujar. “Kita bikin malam ini jadi lebih seru! Lampu sorot harus memilih dua pasangan, lalu kalian harus bertukar pasangan. Cukup selama satu menit saja, kedua pasangan tersebut harus menari dengan pasangan baru. Semuanya bersiap!”
Tepat setelah ia selesai berucap, lampu panggung mulai bergerak, berayun ke kanan dan kiri mencari sasaran.
Mungkin karena gaun merah Belinda yang terlalu mencolok, lampu tersebut berkali-kali jatuh padanya. Dengan santun, Belinda pun mengikuti aturan permainan lalu berganti pasangan menari dengan pria lain. Tak hanya satu kali, ia bahkan harus berganti pasangan sebanyak dua kali. Dan setiap kali terpilih, wajah Belinda selalu dihiasi dengan senyum sopan yang lembut.
Arga yang memperhatikan wajah Belinda dari kejauhan hanya bisa berdecak pelan.
Dahulu, Arga selalu mengira senyum selembut itu hanya diberikan untuknya seorang. Namun sekarang, Belinda bahkan memberikannya dengan mudah pada orang asing.
“Belinda sepertinya cukup populer, ya,” ujar Cantika setelah menyadari kemana arah tatapan pria yang berdansa dengannya.
Cantika kemudian merapatkan tubuhnya, dan mengubah nada suaranya menjadi agak khawatir. “Aku tuh udah lama di dunia hiburan. Tapi tetap aja rasanya canggung banget kalau harus akrab dengan aktor pria yang belum kukenal. Beda banget sama Belinda yang kelihatan gampang banget nyaman dengan semua pria.”
Gadis itu kemudian menghela napas panjang dan semakin membuat suaranya menjadi lebih manja. “Sepertinya aku harus belajar dari Belinda kalau ada kesempatan.”
Setiap ucapan Cantika membuat tatapan Arga ke Belinda menjadi semakin dingin.
Dan tepat pada saat itu lah, dua lampu sorot mendadak berhenti. Salah satu lampu mengenai Belinda dan Nathan, sementara yang lainnya terarah ke Arga dan Cantika.
Permainan akan kembali dimulai. Dan sepersekian detik momen ketika mereka harus berganti pasangan itu, mendadak terasa sangat lama bagi Arga.
“Sepertinya teknisi lampu sorotnya memang punya dendam pribadi,” gumam Nathan pelan, tangannya terlepas dari pinggang ramping Belinda.
Belinda merespon ucapan itu dengan tawa pelan, dan berucap lirih, “Takdir memang kadang suka menggoda, kan?”
Gadis itu kemudian memutar tubuhnya, pandangannya terarah ke seberkas cahaya lain yang menyapu ruangan. Di bawah lampu sorot itu, berdiri seorang pria dengan raut dingin yang langsung membuat senyum di bibir Belinda memudar.
Arga.
Apa yang ia lakukan di sini? Mencarinya, atau sekadar kebetulan belaka?
“Belinda?”Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.“Nathan?”Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mere
Belinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya d
“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi rua
Lebih dari satu jam kemudian, ada sentuhan kecil yang mengusik Belinda dengan lembut. Mochi, kucingnya, mengeong pelan sambil mendorong lengan Belinda menggunakan kepalanya.Belinda membuka mata dengan susah payah. Kemudian tangannya mengusap kepala Mochi dengan gerakan lemah dan perlahan.“Iya… iya…” gumam Belinda nyaris tak bersuara.Secara perlahan, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi, Belinda memaksakan diri untuk berdiri. Kedua kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Goyah dan tak seimbang. Dengan satu dua langkah, Belinda mulai keluar dari kamar mandi.Hingga mendadak dunia terasa jatuh.Tubuh perempuan itu ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk yang berat.Dalam pandangannya yang samar, Belinda bisa melihat sepatu kulit mewah buatan tangan yang melangkah masuk dari arah pintu. Sepatu itu berhenti di depan wajahnya.Belinda berusaha mengangkat kepalanya, tapi kelopak matanya terasa berat. Suara di atasnya terdengar dingin, mengejek, seperti pisau tajam yang tak membut
Melihat keberadaan perempuan itu di belakang Arga, membuat sesuatu di dalam diri Belinda kini terasa seolah mengeras. Bibirnya mengerucut tipis dan getir. Kemudian ia berbisik, “Sepertinya… aku memang melakukan pilihan yang benar.”Arga jelas tidak datang sendirian. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa Cantika. Seolah dengan sengaja menjadikan momen Belinda paling rapuh itu sebagai tontonan. Seolah Arga membiarkan Cantika menyaksikan Belinda dalam kondisi yang paling rendah, tanpa mempedulikan rasa malu dan sakit yang menggulung Belinda.Kalau sudah begitu, apa lagi yang tersisa untuk Belinda pertahankan?“Belinda!” bentak Arga, seolah berusaha menyadarkan lamunan sang istri.Tatapan pria itu seolah menancap pada wanita yang disebut namanya. Kedua mata yang biasanya selalu tampak teduh itu kini menyala, panas dan tajam, seolah seluruh amarahnya baru saja menemukan tempat berlabuh.“Berani sekali kamu menganggap mengakhiri kehamilan itu pilihan yang paling benar! Itu anak kita! Aku
“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan. Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahul







