Share

Bab 6: Takdir Terkadang Menggoda

Penulis: Rizki Adinda
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 12:54:45

“Belinda?”

Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.

“Nathan?”

Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.

Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.

Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mereka perlahan meredup.

Oleh karena itu, melihat Nathan di tengah pesta megah Jakarta seperti sekarang ini, terasa seperti membuka lembar lama yang Belinda kira sudah rapi tersimpan.

“Benar, ini aku,” ujar Nathan dengan senyum sopan. Pria itu mengulurkan tangan, dengan gestur hangat yang masih sama seperti dulu. “Karena sudah terlanjur bertemu di lantai dansa, mau berdansa dulu denganku?”

Belinda pun membalas senyuman itu dan menerima uluran tangan Nathan. “Tentu saja.”

Mereka pun melangkah ke lantai dansa. Musik kembali mengalun, dan pasangan-pasangan lain ikut bergabung.

Dari arah tangga, Arga terlihat turun bersama Cantika. Kedua matanya langsung menangkap pemandangan Belinda dan Nathan yang kini tengah berdansa.

“Yang itu Belinda, ya?” tanya Cantika dengan kedua mata berkedip centil. Gadis itu kemudian merapatkan tubuhnya ke Arga dan menggenggam lengan pria itu. “Itu siapa pria yang sama Belinda? Mereka keliatan akrab, ya.”

Arga menyipitkan mata, berusaha memperhatikan siapa pria itu.

Nathan.

Arga mengenali pria yang tengah berdansa dengan Belinda itu. Nama dan wajah itu pernah ia temukan ketika menelusuri masa lalu Belinda, di berkas lama yang ia baca secara diam-diam. Nathan adalah kayak tingkat Belinda ketika kuliah, seseorang yang nyaris menjadi pilihan terakhirnya.

Di lantai dansa, kedua orang itu bergerak dalam sebuah kedekatan yang mengusik pikiran Arga. Belinda terlihat berbicara dengan tatapan lembut yang tertambat pada Nathan.

Sebuah pemikiran langsung terlintas di pikiran Arga. Mungkinkah Belinda datang ke Hotel Mahakam Sudirman tanpa memberitahunya, berdandan cantik seperti itu, demi Nathan?

Padahal baru seminggu berlalu sejak mereka kehilangan anak mereka. Apakah memang secepat itu Belinda mencari sandaran baru di pelukan orang lain?

“Arga?” suara Cantika memanggil penuh keraguan. Tapi Arga tetap terdiam, sehingga perempuan itu hanya bisa menghela napas pelan.

“Mungkin sebaiknya kamu menghampiri Belinda,” ujar Cantika seraya menundukkan wajahnya. “Dia mungkin akan terluka kalau melihat kamu menari bersamaku. Bisa jadi itu sebabnya dia memilih untuk berdansa dengan pria lain. Pergilah. Jangan biarkan aku jadi alasan hubungan kalian retak.”

Arga berdecak pelan, sebelum kemudian berucap dengan nada dingin. “Aku nggak ada hubungan apa pun dengannya.”

Cantika baru saja akan menimpali ucapan itu ketika Arga melanjutkan ucapannya lagi. “Bukankah seharusnya kita menari sekarang?” Kemudian mengulurkan tangannya ke arah Cantika. “Ayo.”

Memang benar, selama tiga tahun terakhir, Arga dan Belinda selalu menyembunyikan pernikahan mereka rapat-rapat. Mereka jarang muncul bersama di acara publik. Kalaupun akhirnya hadir di pesta yang sama, mereka akan bertingkah layaknya orang asing. Jika terpaksa, mereka hanya akan sekadar saling sapa seperlunya.

Mungkin itulah sebabnya, ketika memutuskan untuk menari bersama Nathan, Belinda sudah cukup yakin bahwa di hadapan khalayak, Arga akan selalu memperlakukannya seperti seseorang yang tak dikenalnya.

Tak masalah, pikir Arga, masih ada banyak waktu untuk membicarakan segalanya begitu mereka berdua kembali ke kediaman mereka.

Dengan pikiran itu, Arga pun berbalik dan menuntun Cantika ke lantai dansa.

Dan begitu Arga dan Cantika melangkah masuk, dalam tampilan yang nampak serasi, setiap pasang mata yang menatap mereka pun memuji lembut. Tak sedikit dari para tamu yang mulai mengajak pasangan masing-masing untuk turut serta bergabung.

Melihat suasana yang semakin hangat, sang pembaca acara langsung meraih mikrofon. Dengan suara serak yang penuh semangat, ia pun berujar. “Kita bikin malam ini jadi lebih seru! Lampu sorot harus memilih dua pasangan, lalu kalian harus bertukar pasangan. Cukup selama satu menit saja, kedua pasangan tersebut harus menari dengan pasangan baru. Semuanya bersiap!”

Tepat setelah ia selesai berucap, lampu panggung mulai bergerak, berayun ke kanan dan kiri mencari sasaran.

Mungkin karena gaun merah Belinda yang terlalu mencolok, lampu tersebut berkali-kali jatuh padanya. Dengan santun, Belinda pun mengikuti aturan permainan lalu berganti pasangan menari dengan pria lain. Tak hanya satu kali, ia bahkan harus berganti pasangan sebanyak dua kali. Dan setiap kali terpilih, wajah Belinda selalu dihiasi dengan senyum sopan yang lembut.

Arga yang memperhatikan wajah Belinda dari kejauhan hanya bisa berdecak pelan.

Dahulu, Arga selalu mengira senyum selembut itu hanya diberikan untuknya seorang. Namun sekarang, Belinda bahkan memberikannya dengan mudah pada orang asing.

“Belinda sepertinya cukup populer, ya,” ujar Cantika setelah menyadari kemana arah tatapan pria yang berdansa dengannya.

Cantika kemudian merapatkan tubuhnya, dan mengubah nada suaranya menjadi agak khawatir. “Aku tuh udah lama di dunia hiburan. Tapi tetap aja rasanya canggung banget kalau harus akrab dengan aktor pria yang belum kukenal. Beda banget sama Belinda yang kelihatan gampang banget nyaman dengan semua pria.”

Gadis itu kemudian menghela napas panjang dan semakin membuat suaranya menjadi lebih manja. “Sepertinya aku harus belajar dari Belinda kalau ada kesempatan.”

Setiap ucapan Cantika membuat tatapan Arga ke Belinda menjadi semakin dingin. 

Dan tepat pada saat itu lah, dua lampu sorot mendadak berhenti. Salah satu lampu mengenai Belinda dan Nathan, sementara yang lainnya terarah ke Arga dan Cantika.

Permainan akan kembali dimulai. Dan sepersekian detik momen ketika mereka harus berganti pasangan itu, mendadak terasa sangat lama bagi Arga.

“Sepertinya teknisi lampu sorotnya memang punya dendam pribadi,” gumam Nathan pelan, tangannya terlepas dari pinggang ramping Belinda.

Belinda merespon ucapan itu dengan tawa pelan, dan berucap lirih, “Takdir memang kadang suka menggoda, kan?”

Gadis itu kemudian memutar tubuhnya, pandangannya terarah ke seberkas cahaya lain yang menyapu ruangan. Di bawah lampu sorot itu, berdiri seorang pria dengan raut dingin yang langsung membuat senyum di bibir Belinda memudar.

Arga.

Apa yang ia lakukan di sini? Mencarinya, atau sekadar kebetulan belaka?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 94: Memutus Semua Hubungan dengan Arga

    Senyum Alan langsung kaku. Ia menoleh canggung ke arah Arga dan Belinda. “Arga, aku cuma bercanda. Kenapa kamu khawatir banget?”Berbeda dengan Alan yang agak gelagapan, Tommy justru blak-blakan mendengus. “Kamu saja nggak menghargai Belinda, jadi wajar kalau ada orang lain yang mau menghargainya. Kalau kamu memang serius mau cerai, kenapa kamu terganggu kalau ada yang tertarik pada Belinda?”Lalu, menoleh ke Alan, Tommy melanjutkan. “Lagipula aku suka Alan. Memang dia baru balik ke Indonesia dan kariernya belum seberapa, tapi setidaknya urusan pribadinya tidak berantakan. Nggak kayak sebagian orang yang memperlakukan mantan yang dulu ninggalin dia layaknya emas berharga!”Ucapan Tommy membuat Arga mengerutkan dahi. “Kakek, aku sudah coba jelaskan. Kakek salah paham soal Can

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 93: Kalau Ternyata Berjodoh...

    Tak lama, pelayan datang membawa pesanannya. Tanpa banyak bicara, Belinda menunduk dan mulai makan.Arga mengamati Belinda yang sibuk makan dan tidak terlalu tertarik menghabiskan sandwich miliknya sendiri.Setelah sarapan selesai, mereka pun keluar bersama, berjalan dalam diam yang kaku. Bahkan meskipun koridor rumah sakit itu penuh dengan orang berlalu lalang, tapi Belinda dan Arga seolah tenggelam dalam kesunyian mereka sendiri.Barulah ketika mereka masuk ke lift menuju ruang rawat inap Tommy, Belinda akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Arga.“Pak Arga,” ujar Belinda, nada suaranya bercampur antara kesal dan penasaran. “Tadi kamu sampai ngotot mau sarapan bareng aku, kupikir ada hal penting yang mau dibahas…” Belinda menatap

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 92: Masih Muda, Masih Ada Waktu

    Belinda menatapnya bingung sekaligus tak percaya. Apa dia salah dengar? Bagaimana mungkin Arga bisa mengatakan hal seperti itu.Keterkejutan di mata Belinda membuat Arga mengernyit. Ia menegakkan badan, lalu berbalik dan melangkah keluar lift. “Anggap saja aku nggak ngomong apa-apa.”Arga sempat menangkap kesedihan di mata Belinda ketika keluarga itu membahas bayi. Kesedihan itu menyentuhnya, memantik simpati untuk anak yang sempat hilang dari pelukan mereka. Namun tatapan tak percaya Belinda seolah menamparnya balik, menyadarkannya bahwa ia sudah melampaui batas. Ia pasti gila kalau berusaha menghibur Belinda dengan kalimat seperti itu.Ketika pintu lift mulai menutup, Belinda tersentak dari lamunannya dan bergegas mengejar Arga. Kemudian mereka berjalan berdekatan dalam diam.

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 91: Bisa Punya Anak Lagi Nanti

    Meskipun Alan bukan bagian dari keluarga Mahardika dan Belinda baru mengenalnya sebentar, tapi reputasinya sudah bukan sesuatu yang asing bagi Belinda. Alan tumbuh bersama Arga, dan kedekatannya dengan Mega pun bukanlah hal baru.Dulu, Mega bahkan pernah mengejar Alan. Dan setiap kali Arga kewalahan dan tak sanggup mengurus masalah Mega, Alan yang turun tangan. Mega cukup mengenal Alan untuk mempercayai pria itu bisa menjaga mulut.Makanya tak ada alasan bagi Alan untuk keluar dari ruangan ini.Keterusterangan Belinda membuat Arga semakin mengerutkan dahinya. Ini adalah sisi Belinda yang tidak biasa. Dulu perempuan ini tak akan berani menahan atau membalas seperti sekarang.“Langsung saja,” ucap Tommy, melirik Arga yang tampak enggan melanjutkan, lalu terkeke

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 90: Belinda Ini Bodoh

    Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Mega tercekat.Mega berdiri kaku selama beberapa detik sebelum menyahut dengan frustasi. “Mana aku tahu! Aku bukan cenayang. Gimana bisa aku tahu tiga setengah bulan lalu sama siapa? Yang penting aku cuma mikirin kakakku!”“Oh, gitu?” Belinda membalas dengan suara dingin, lalu menoleh dengan tatapan meremehkan ke arah Arga. “Kalau kamu sebegitu sayangnya ke kakakmu, kamu pasti tahu, kan, tiga setengah bulan lalu dia ada di mana dan lagi ngapain?”Wajah Mega langsung pucat. Kata-katanya buyar di ujung lidah.“Kamu nggak tahu?” Belinda tidak melunak. Jemarinya mengencang menggenggam tangan Tommy, lalu menukas tegas. “Aku kasih tahu kalau begitu. Tiga setengah bulan lalu, Pak Arga

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 89: Cuma Perempuan Murahan

    Untuk pertama kalinya, ketenangan yang sebelumnya melekat pada Arga akhirnya retak. Pria itu menatap Belinda dengan penuh amarah, lalu berdiri dan melangkah menjauhi Belinda dengan kasar, ucapannya agak bergumam. “Nggak masuk akal!”Keheningan kembali memenuhi area depan IGD.Tak jauh dari Belinda, Alan menyaksikan semuanya dengan campuran keterkejutan dan kagum pada Belinda.Selama lima tahun ia pergi dari Indonesia, dan meskipun ia tumbuh besar mengenali Arga, tapi Alan belum pernah melihat Arga sedemikian terpojok sampai benar-benar kehilangan kata-kata.Alan sudah sering mendengar dinamika hubungan Arga dan Belinda. Kebanyakan orang yang ia kenal menggambarkan Belinda sebagai sekutu yang setia, seseorang yang selalu siap membela dan selalu punya alasan un

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status