Share

Bab 7: Berharap Aku Cemburu

Author: Rizki Adinda
last update Last Updated: 2026-01-20 12:04:31

Secara refleks, kedua mata Belinda berpindah kembali ke arah Nathan. Namun, saat itu Nathan terlihat sudah bersama pasangan menarinya yang baru, Cantika. Raut wajah tak senang sempat muncul di wajah pasangan baru Nathan itu.

Mendadak, ada rasa tak senang yang menyakitkan di dada Belinda.

Ketika mengarahkan pandangannya ke Arga, Belinda bisa melihat dengan jelas pandangan suaminya hanya tertuju pada Cantika.

Jelas saja mana mungkin Arga peduli pada keberadaan Belinda, kan?

Belinda masih belum bergerak dari posisinya semula. Ia terlalu ragu-ragu untuk mendekat ke arah Arga.

Kemudian sebuah sorot lampu jatuh tepat ke lantai dansa, menyilaukan mata Belinda hingga ia menyipit. Dari kejauhan, terdengar bisik-bisik samar di antara denting gelas dan alunan musik jazz yang mengalir lembut.

Dahi Belinda masih agak berkerut merasa enggan. Meskipun tetap saja akhirnya ia melangkah ke arah Arga.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, Belinda selalu berusaha berhati-hati menjaga hubungan itu tetap tersembunyi dari pihak-pihak yang tak perlu tahu. Kini, setelah menyebutkan pada Arga perihal permintaan untuk bercerai, Belinda semakin tak ingin memberikan bahan gunjingan untuk orang-orang di sekitar mereka. Bagaimanapun juga, kabar kecil di Jakarta bisa berkembang hingga berlipat ganda hanya dalam semalam saja.

Lagipula, ini hanyalah sebuah dansa. Sesuatu yang bisa ia lakukan dengan siapa saja. Ia bisa saja menganggap Arga hanyalah orang asing yang tak pernah memiliki ikatan pernikahan dengannya. 

Tak ada bedanya dengan Nathan.

Dengan pemikiran itu, Belinda pun mendekat dan menyunggingkan senyum dipaksakan. “Halo.”

Belinda menglurukan tangan dan meletakkannya perlahan di bahu Arga. Hal itu membuat tubuh Arga menegang sekejap.

Pria itu menolehkan pandangannya, menatap dingin tangan Belinda yang ada di bahunya. Bibirnya kemudian terangkat tipis. “Kenapa tiba-tiba jadi begitu formal?” 

Tangan Arga mencengkeram pinggang Belinda, menariknya mendekat tanpa ampun. “Tadi kamu terlihat akrab banget waktu menari dengan pria lain. Kenapa sekarang justru canggung dengan suamimu sendiri?” 

Ketika mereka mulai bergerak mengikuti irama, Arga menundukkan pandangannya, menatap mata sang istri yang terlihat tengah menatap wajahnya. “Tiga tahun menikah,” lanjut Arga lagi, “Dan aku sama sekali nggak tahu kalau kamu bisa berdansa.”

Belinda mendengus pelan. “Ada banyak hal tentang aku yang memang nggak pernah kamu ketahui.”

Dulu, di awal pernikahan, Belinda pernah berusaha menyenangkan Arga. Pada sebuah jamuan keluarga besar, ia mengajak suaminya berdansa, berharap dengan begitu bisa mencairkan jarak di antara mereka.

Arga menolaknya dengan dingin. Pria itu bahkan sempat mencibir, mengatakan Belinda tak tahu cara menari dan nggak perlu menyeret suaminya untuk mempermalukan diri sendiri.

Belinda sempat mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya ia bisa menari. Namun, Arga hanya berbalik dan pergi. Penolakan itu meninggalkan luka yang lama berdiam di hati Belinda.

Sejak hari itu, Belinda memilih untuk berhenti berdansa.

Ironisnya, setelah mereka tak lagi tinggal bersama, ia justru berdansa dengan Arga di sebuah pesta gemerlap Jakarta, dengan gaun mahal yang nilainya mungkin setara dengan uang muka apartemen kecil.

Senyum pahit melintas di wajah Belinda.

Bagaimanapun juga, setidaknya Belinda pernah menari dengan Arga. Sebuah keinginan lama yang akhirnya terpenuhi, meskipun datang terlambat. Karena keinginan itu, kini sudah tak lagi ada di dalam hati belinda.

“Memang,” ujar Arga, suara dinginnya memotong lamunan Belinda. “Ada banyak hal yang nggak kuketahui.”

Pria itu menatap Belinda dari atas ke bawah, kemudian berucap dengan nada suara penuh sindiran. “Aku nggak menyangka seorang perempuan yang baru seminggu yang lalu menjalani aborsi bisa memilih gaun seterbuka ini untuk sebuah pesta. Aku juga nggak menyangka perempuan yang minggu lalu tampak begitu rapuh di hadapanku, sekarang bisa berdansa dengan banyak pria di belakangku.”

Tatapan pria itu terlihat semakin dingin dan menusuk. “Bukankah kamu selalu menjunjung tinggi status sebagai Ibu Arga Mahardika? Selalu berusaha anggun dan menjaga diri?”

Arga terdiam sejenak, sebelum kemudian melanjutkan lagi ucapannya. “Jadi sekarang bagaimana? Kamu sadar cara-cara lama itu sudah nggak mempan lagi, lalu datang ke sini, berdansa dengan pria lain dan berharap aku cemburu? Kamu tuh memang selalu berlebihan.”

Belinda mengernyit setelah mendengar semua ucapan suaminya itu. “Arga, kamu sudah berapa hari nggak pulang ke rumah?”

Karena bagi Belinda, rasanya seolah Arga sama sekali tak sadar sedikit pun pada keinginan Belinda untuk bercerai.

Senyum dingin Arga kembali muncul. “Jadi gara-gara aku nggak pulang, kamu sampai datang mengejarku ke sini buat membuat keributan di pesta ini?”

Dan jawaban itu memberikan konfirmasi atas tebakan Belinda. Seminggu setelah kegugurannya, suami sahnya masih belum pulang ke rumah. Sehingga pria itu tidak tahu sama sekali istrinya sudah meninggalkan surat permohonan cerai untuknya.

Fakta itu membuat Belinda merasakan seolah ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya. Hingga ia pun mempertanyakan apa yang dulu membuatnya menjadi sangat keras kepala. Kenapa dulu ia sempat percaya ketulusan bisa menyentuh hati lelaki yang rupanya tak pernah sekalipun benar-benar memandangnya.

Tatapan Belinda yang dulu penuh cinta dan harap, kini hanya tersisa kekesalan yang sinis. Gadis yang dulu selalu menatap Arga penuh kehangatan, kini tatapannya justru terasa asing. Seolah Arga hanyalah baru yang kebetulan berdiri di hadapannya.

Dan hal itu membuat Arga mengangkat alis terkejut, dan merasa kesal. “Jawab!”

Belinda seolah tersentak dari lamunannya. Ia pun melepaskan tangannya dari genggaman Arga, kemudian tersenyum tipis. “Pak Arga, kapan Anda mau tanda tangan surat cerai dan ikut saya ke pengadilan, Pak?”

Tatapan bingung sempat muncul di mata Arga, suaranya agak tercekat. “Ngomong apa kamu?”

“Anda akan lebih paham setelah pulang ke rumah,” jawab Belinda dengan senyum yang agak memudar. “Mudah-mudahan pertemuan kita berikutnya terjadi di Pengadilan Negeri, biar bisa lebih cepat selesai.” Kemudian gadis itu menarik pergelangan tangannya secara paksa dari cengkeraman Arga, dan melangkah cepat pergi.

Kening Arga berkerut. Ia nyaris langsung mengejar Belinda untuk meminta penjelasan.

Namun mendadak, musik mendadak berganti, tanda pasangan dansa harus kembali bertukar. 

Cantika terlihat melepaskan diri dari Nathan dan bergegas menghampiri Arga. “Kamu jauh lebih enak diajak dansa, Ga!” ujarnya seraya menempel manja, cemberut menggoda. “Cowok itu kasar banget. Kakiku diinjak berkali-kali.”

Karena terseret oleh Cantika, perhatian Arga sempat teralihkan dari Belinda. Ketika ia menolehkan kepalanya lagi, Belinda sudah terlihat berjalan keluar bersama Nathan.

Nathan bahkan dengan sopan meletakkan jasnya di bahu Belinda, menutupi gaun yang terbuka dari hembusan dingin AC gedung tersebut.

Melihat hal itu, ada sesuatu yang menegang di dada Arga, sebuah perasaan aneh yang membuatnya mendadak ingin menyusul istrinya.

“Arga,” Cantika menahan tangannya, melirik cemas ke arah punggung Belinda yang menjauh. “Ada apa? Belinda bikin kamu kesal, ya?”

“Cantika,” gumam Arga, alisnya bertaut ketika ia melepaskan genggaman Cantikan perlahan. “Aku harus mengurus sesuatu. Kamu nikmati dulu pestanya.” Kemudian setelahnya ia berbalik dan berjalan cepat ke arah Belinda pergi.

“Ah!” Cantika memekik kencang kesakitan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 94: Memutus Semua Hubungan dengan Arga

    Senyum Alan langsung kaku. Ia menoleh canggung ke arah Arga dan Belinda. “Arga, aku cuma bercanda. Kenapa kamu khawatir banget?”Berbeda dengan Alan yang agak gelagapan, Tommy justru blak-blakan mendengus. “Kamu saja nggak menghargai Belinda, jadi wajar kalau ada orang lain yang mau menghargainya. Kalau kamu memang serius mau cerai, kenapa kamu terganggu kalau ada yang tertarik pada Belinda?”Lalu, menoleh ke Alan, Tommy melanjutkan. “Lagipula aku suka Alan. Memang dia baru balik ke Indonesia dan kariernya belum seberapa, tapi setidaknya urusan pribadinya tidak berantakan. Nggak kayak sebagian orang yang memperlakukan mantan yang dulu ninggalin dia layaknya emas berharga!”Ucapan Tommy membuat Arga mengerutkan dahi. “Kakek, aku sudah coba jelaskan. Kakek salah paham soal Can

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 93: Kalau Ternyata Berjodoh...

    Tak lama, pelayan datang membawa pesanannya. Tanpa banyak bicara, Belinda menunduk dan mulai makan.Arga mengamati Belinda yang sibuk makan dan tidak terlalu tertarik menghabiskan sandwich miliknya sendiri.Setelah sarapan selesai, mereka pun keluar bersama, berjalan dalam diam yang kaku. Bahkan meskipun koridor rumah sakit itu penuh dengan orang berlalu lalang, tapi Belinda dan Arga seolah tenggelam dalam kesunyian mereka sendiri.Barulah ketika mereka masuk ke lift menuju ruang rawat inap Tommy, Belinda akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Arga.“Pak Arga,” ujar Belinda, nada suaranya bercampur antara kesal dan penasaran. “Tadi kamu sampai ngotot mau sarapan bareng aku, kupikir ada hal penting yang mau dibahas…” Belinda menatap

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 92: Masih Muda, Masih Ada Waktu

    Belinda menatapnya bingung sekaligus tak percaya. Apa dia salah dengar? Bagaimana mungkin Arga bisa mengatakan hal seperti itu.Keterkejutan di mata Belinda membuat Arga mengernyit. Ia menegakkan badan, lalu berbalik dan melangkah keluar lift. “Anggap saja aku nggak ngomong apa-apa.”Arga sempat menangkap kesedihan di mata Belinda ketika keluarga itu membahas bayi. Kesedihan itu menyentuhnya, memantik simpati untuk anak yang sempat hilang dari pelukan mereka. Namun tatapan tak percaya Belinda seolah menamparnya balik, menyadarkannya bahwa ia sudah melampaui batas. Ia pasti gila kalau berusaha menghibur Belinda dengan kalimat seperti itu.Ketika pintu lift mulai menutup, Belinda tersentak dari lamunannya dan bergegas mengejar Arga. Kemudian mereka berjalan berdekatan dalam diam.

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 91: Bisa Punya Anak Lagi Nanti

    Meskipun Alan bukan bagian dari keluarga Mahardika dan Belinda baru mengenalnya sebentar, tapi reputasinya sudah bukan sesuatu yang asing bagi Belinda. Alan tumbuh bersama Arga, dan kedekatannya dengan Mega pun bukanlah hal baru.Dulu, Mega bahkan pernah mengejar Alan. Dan setiap kali Arga kewalahan dan tak sanggup mengurus masalah Mega, Alan yang turun tangan. Mega cukup mengenal Alan untuk mempercayai pria itu bisa menjaga mulut.Makanya tak ada alasan bagi Alan untuk keluar dari ruangan ini.Keterusterangan Belinda membuat Arga semakin mengerutkan dahinya. Ini adalah sisi Belinda yang tidak biasa. Dulu perempuan ini tak akan berani menahan atau membalas seperti sekarang.“Langsung saja,” ucap Tommy, melirik Arga yang tampak enggan melanjutkan, lalu terkeke

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 90: Belinda Ini Bodoh

    Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Mega tercekat.Mega berdiri kaku selama beberapa detik sebelum menyahut dengan frustasi. “Mana aku tahu! Aku bukan cenayang. Gimana bisa aku tahu tiga setengah bulan lalu sama siapa? Yang penting aku cuma mikirin kakakku!”“Oh, gitu?” Belinda membalas dengan suara dingin, lalu menoleh dengan tatapan meremehkan ke arah Arga. “Kalau kamu sebegitu sayangnya ke kakakmu, kamu pasti tahu, kan, tiga setengah bulan lalu dia ada di mana dan lagi ngapain?”Wajah Mega langsung pucat. Kata-katanya buyar di ujung lidah.“Kamu nggak tahu?” Belinda tidak melunak. Jemarinya mengencang menggenggam tangan Tommy, lalu menukas tegas. “Aku kasih tahu kalau begitu. Tiga setengah bulan lalu, Pak Arga

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 89: Cuma Perempuan Murahan

    Untuk pertama kalinya, ketenangan yang sebelumnya melekat pada Arga akhirnya retak. Pria itu menatap Belinda dengan penuh amarah, lalu berdiri dan melangkah menjauhi Belinda dengan kasar, ucapannya agak bergumam. “Nggak masuk akal!”Keheningan kembali memenuhi area depan IGD.Tak jauh dari Belinda, Alan menyaksikan semuanya dengan campuran keterkejutan dan kagum pada Belinda.Selama lima tahun ia pergi dari Indonesia, dan meskipun ia tumbuh besar mengenali Arga, tapi Alan belum pernah melihat Arga sedemikian terpojok sampai benar-benar kehilangan kata-kata.Alan sudah sering mendengar dinamika hubungan Arga dan Belinda. Kebanyakan orang yang ia kenal menggambarkan Belinda sebagai sekutu yang setia, seseorang yang selalu siap membela dan selalu punya alasan un

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status