Share

Bab 04

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-06-01 11:35:18

04 

Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. 

Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita di kursi kanan, yang menanggapinya dengan anggukan. 

Wirya turut menerangkan keputusan Aditya pada istrinya. Vanetta nyaris bersorak, sebelum menenangkan diri dan tetap memasang raut wajah serius. 

"Sekarang sudah tengah malam. Orang tua kita pasti sudah tidur," cakap Aditya sembari memandangi pasangan di kursi seberang. "Besok subuh, aku telepon Ayah buat berdiskusi dengan beliau. Kalau beliau oke, kita laksanakan keinginan kalian. Tapi kalau nggak oke, tunggu kita nyampe sana, lalu lamaran resmi langsung dilakukan, akhir pekan depan," lanjutnya. 

"Ya, Bang. Aku paham," jawab Zikria.

"Kalian bikin aku kaget. Bubar nggak jelas, lalu tiba-tiba balikan dan mutusin buat tunangan." 

Zikria mengulum senyuman. "Adik Abang maksa. Aku nggak bisa nolak." 

Aditya memandangi adiknya yang terlihat malu-malu. "Beneran, Dek?" desaknya. 

"Ehm, mirip itulah," tutur Asmiratih.

"Kamu ngancam Zikria?" 

"Enggak. Aku nangis di toilet. Pas keluar, kami diskusi lagi. Lalu sepakat buat tunangan." 

Aditya menyipitkan matanya. "Beneran nggak terjadi apa-apa?" 

"Enggak ada, Bang." 

"Aku curiga, Dit. Mereka kayaknya sudah melakukan sesuatu," sela Wirya sambil tetap menatap pasangan di depannya, dengan sorot mata penuh kecurigaan.

"Aku juga mikir, gitu, Bang," papar Aditya. 

"Zik, kamu nggak apa-apain Asmi, kan?" desak Vanetta. 

"Enggak, Ci," kilah Zikria. 

"Dek, apa kamu lagi hamil dan itu anak cowok ini?" tanys Alodita. 

Asmiratih refleks menggeleng. "Enggak, Teh. Bang Zik nggak pernah nyentuh aku," sanggahnya. 

"Habisnya, kalian tiba-tiba mau nikah. Aku jadi kepo." 

"Kami sudah nggak pernah ketemu sejak 4 bulan lalu. Gimana aku bisa hamil, coba?" 

"Bisa saja kalian menutupi itu. Apalagi Zikria masih bolak-balik ke sini tiap bulan," timpal Wirya. 

"Tuls. Manalah kami tahu. Kalian mungkin ketemu di mana, gitu, dan check in?" goda Aditya, yang menjadikan Asmiratih dan Zikria serentak melongo. 

"Kalian kenal aku dari dulu. Masa nggak percaya, kalau aku bisa nahan diri?" tanya Zikria. 

"Kamu maybe bisa, Zik. Tapi Asmi mungkin saja lepas kontrol," beber Aditya. 

"Abang! Aku nggak kayak gitu!" protes Asmiratih. 

Aditya terkekeh bersamaan dengan Wirya. Sedangkan Vanetta dan Alodita sama-sama tersenyum lebar. Asmiratih melengos setelah menyadari bila tengah dikerjai abangnya. Sementara Zikria menggeleng pelan, lalu dia menyunggingkan senyuman. 

Sekian menit berlalu. Zikria, Wirya dan Vanetta, telah keluar dari kamar Aditya. Asmiratih tetap tinggal untuk melanjutkan diskusi dengan Abang dan Kakak iparnya, guna menentukan beberapa hal penting.

"Selesaikan dulu urusanmu dengan Lova, Zik," tutur Wirya, sesaat setelah mereka memasuki kamarnya di ujung lorong itu.

"Ya, Bang. Rencanaku memang begitu," terang Zikria. 

"Aku rasa, dia bisa mengerti, tapi aku agak ngeri tentang penerimaan papanya." 

"Semoga beliau juga bisa paham." 

Wirya mengamati mantan asisten kesayangannya. "Kuatkan hatimu. Kalau Pak Shaka marah, terima aja. Tetap diam dan jangan membantah." 

"Hu um." 

"Dana buat pernikahan, sudah siap berapa?" 

"Bukannya Abang pernah janji, mau nanggung semuanya?" 

Wirya berdecak. "Aku tanggung bagian resepsi. Buat akad, mahar dan antaran, kamu usahakan sendiri." 

"Yahh! Kirain dibiayain semuanya." 

"Modal dikit, atuhlah." 

"Tadinya aku mau bawa body aja. Plus baju sekoper."

"Ngawur!" 

"Iya, deh. Aku yang biayain walimahan. Tapi, seragam keluarga dan tim kita, Abang yang tangani." 

"Kan! Dasar, rampok!"

"Aku juga mau kado mobil, Bang. Harganya sama dengan mobil yang Abang belikan buat Bang Dimas." 

"Ngelunjak!" 

"Oh, ya, satu lagi. Habis nikah, kami honeymoon sambil umrah. Setelah itu, mau keliling Arab dan Eropa. Aku cuti 3 bulan dan gajiku di PBK, GUNZ, Zhou Company, sama ZRF, tetap dibayar penuh." 

"Nu gelo!" 

*** 

Sepanjang resepsi megah Jasver dan istrinya siang itu, Asmiratih tampak semringah. Dia yang mengisi pertunjukan dancing, menari dengan lincah dan penuh semangat. 

Hal nyaris serupa dilakukan Zikria yang mengisi pertunjukan bela diri. Bersama rekan-rekan dari tim CJC dan PBK cabang China, Zikria menampilkan wushu dan parkour yang memukau penonton. 

Acara itu usai tepat jam 3 sore. Semua orang keluar dari ballroom hotel, dan bergegas menuju kamar masing-masing. Asmiratih memasuki ruangan yang ditempatinya bersama ketiga perempuan lainnya. Asmiratih mandi terlebih dahulu, lalu keluar dan bersiap-siap untuk salat Zuhur yang disatukan dengan Asar. 

Setelahnya, Asmiratih berias dengan teliti. Kemudian dia berganti baju dengan gaun panjang sage, dan mematut diri di depan cermin. 

"Mau ke mana, Kak?" tanya Hana, yang baru usai salat. 

"Kencan sama Bang Zik," terang Asmiratih, lalu dia berpindah duduk di tepi kasur. 

"Cie! Balikan, nih, ye!" ledek Gwenyth yang tengah mengemasi isi kopernya. 

Asmiratih tersenyum. "Aku nggak bisa berpaling hati, Ci. Sulit dapat cowok sebaik dia." 

"Ya, aku paham. Aku pun, begitu. Sepupunya Bang Zik sudah merampas hatiku," terang Gwenyth sambil berpindah duduk ke samping kanan juniornya. 

"Sepertinya, mereka bersaudara punya pesona yang kuat banget." 

"Hu um. Sejak Bang Bazil ngajak aku serius, aku benar-benar terpikat. Susah banget lepasnya. Kayak ditempelin magnet." 

"Kalian kapan mau nikahnya, Ci?" tanya Ferlita, yang baru usai mandi. 

"InsyaAllah, 3 bulan lagi," jelas Gwenyth. "Dia maunya cepat-cepat, tapi aku masih pegang proyek besar HWZ, yang baru selesai 2 bulan ke depan. Jadinya aku fokus ke situ dulu," lanjutnya. 

"Hmm, pantas. Kata Bang W, kalau kami mau nikah, sebelum dan setelah 3 bulan dari sekarang," ungkap Asmiratih. 

"Bang W mau nuntasin satu per satu nikahan asistennya. Biar dia tenang, katanya," cakap Gwenyth. 

"Berarti kita running beberapa nikahan berderet," cetus Hana. 

"Siapa lagi ajudan yang mau nikah, Na?" tanya Asmiratih. 

"Bulan depan itu ada nikahannya Bang Azhar di minggu 1, lalu Bang Julian di minggu kedua. Terus minggu ketiganya, Bang Fabian. Terakhir, Bang Yuda," tutur Hana sambil membaca catatan di notes ponselnya. 

"Bulan berikutnya, minggu pertama, Bang Nadhif. Minggu kedua, Bang Nurhan. Minggu ketiga, kosong. Minggu keempat, Kak Depika dan Mas Ardiawan," tambah Hana. "Bulan selanjutnya, acara Kak Andara di minggu kedua, lalu nikahan Cici sudah didaftarkan di minggu keempat," sambungnya. 

"Berarti yang kosong, minggu sebelum nikahan Cici?" desak Asmiratih. 

"Minggu pertama di bulan ketiga, nikahannya bos PC. Mas Ghaziya," tukas Hana. "Yang kosong ada 2 minggu, Kak, di minggu ketiga Desember, dan Januari," akunya. 

"Jadi bingung aku. Kalau bulan kedua, aku bakal stres nyiapin semuanya dalam waktu dekat. Kalau bulan ketiga, mepet sama nikahannya Cici." 

"Enggak apa-apa. Yang repot itu panitia. Kita nggak," kelakar Gwenyth. 

"Enggak, deh. Nanti acara kalian jadi kurang wow, kalau mepet dengan nikahan kami," balas Asmiratih. "Aku mundur aja, acaranya di bulan keempat," akunya.

"Kak, itu sudah bulan puasa," celetuk Ferlita.

Asmiratih tercenung sesaat, lalu dia berkata, "Berarti habis lebaran. Biar persiapannya lebih matang." 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 155

    155Senin siang, ratusan orang berkumpul di ruang pertemuan terbesar di Hotel Janitra 2. Mereka mengenakan setelan jas dan blazer beraneka warna, sesuai dengan tim masing-masing. Para bos PG memakai setelan jas abu-abu gelap. Tim PC menggunakan warna krem. Tim PCD mengenakan pakaian serba biru muda. Anggota PCT memakai setelan cokelat. Kelompok PCE mengginakan setelan marun. Semua bos PCM mengenakan pakaian hijau army. Sedangkan tim PCA kompak memakai baju abu-abu gelap. Sementara tim PCU menggunakan setelan biru tua. Zufair, Zabda, dan Hana, memulai acara dengan pengucapan salam dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Arab. Ketiga MC menyebutkan nama banyak bos tua yang hadir dengan pakaian serba hitam dan merah, sesuai dresscode yang ditentukan panitia. Setelahnya, beberapa orang menaiki panggung. Mereka berbaris rapi sesuai tinggi badan, lalu dipasangi mikrofon kecil oleh panitia. Hamid yang menjadi pembicara pertama, berdeham dua kali, sebelum memguc

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 154

    154Akhir pekan itu, acara akikahan diadakan di ballroom Hotel CJC pusat Kota Guangzhou. Ratusan tamu yang hadir sebagian besar adalah tim PBK dan keluarga mereka. Sisanya merupakan para bos yang cukup akrab dengan Zikria, serta artis dan kru film yang telah menjadi sahabat Asmiratih, sejak awal kariernya. Keempat Z bersaudara menjadi pusat perhatian khalayak. Baju fuchsia yang mereka kenakan, terlihat kontras dengan kulit mereka yang semuanya putih. Zeira berulang kali memeluk ketiga adiknya, yang berbaring di kasur lantai. Gadis kecil berjilbab fuchsia itu juga sering menciumi dahi para baby, dengan dipegangi sang bunda, atau Puti.Quan Cynthia memanggil Zeira untuk mendekat. Namun, bocah bermata sipit itu justru duduk di pangkuan Conary, yang cengengesan menggoda istrinya. Quan Cynthia tidak sanggup memprotes dan hanya bisa meringis, karena Zeira lebih memilih bermanja-manja ke Papa sambungnya. Shihabuddin memimpin pengajian dengan khusyuk. Dia mengedarkan mikrofon ke banyak tet

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 153

    153*Grup Lapis 1-10*Haikal : MasyaAllah. TabarakAllah. Selamat atas kelahiran 3 babies, @Zikria. Risma : @Zikria. Tahniah, Brother.Nanang : Aku mau Zhani. Hamid : Zhardhan, buatku.Jingga : Zharufa, anak Ibu Jingga.Jeffrey : Kita kalah cepat sama 3 robot. Darma : Mereka licik. Terbang duluan ke China, dan maksa jadi Bapak angkat ketiga bayi. Erni : @Zikria, akikahannya, kapan? Fawwaz : Di sini, atau di sana acaranya? Rusli : Mungkin, di Sydney. Dinda : Brisbane. Ibrahim : Adelaide.Yusri : Canberra.Dita : Perth.Gumelar : Melbourne. Fuad : Sudah jelas, pasti di Chengdu.Anjani : Hangzhou.Beni : Tianjin. Daus : Suzhou. Robi : Chongqing.Fauziah : Shanghai. Herman : Shenzen.Valdi : Xi'an. Ratna : Aku lupa nama kota besar di China. Ridwan : Apalagi aku. Ingatnya cuma Macau. Frank : Acara akikahan, diadakan 2 kali, bisa nggak? Sari : Setahuku, cuma bisa sekali. Tapi kalau selamatan, 10 kali juga bisa. Jaiz : @Zikria. Selamat, ya. Salam buat Asmi dan keluarga. Haru

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 152

    152Zikria mengurut pinggang belakang istrinya, yang tengah merintih kesakitan. Sedangkan Ren Liangyi mengusap peluh Asmiratih dengan handuk kecil, sembari terus menenangkan sahabatnya tersebut. Zikria berulang kali menembakkan tenaga dalam, guna membantu melancarkan pembukaan jalan lahir. Dia tidak tega melihat Asmiratih kesakitan, dan ingin penderitaan istrinya itu bisa segera berakhir.Sementara di area depan ruang bersalin, Li Fengjun, Li Mye Na, Zulfan, dan Zahiruddin, juga tengah melakukan hal yang sama dengan Zikria. Meskipun kekuatan olah napas mereka masih lemah, tetapi mereka tetap berusaha membantu agar Asmiratih bisa segera melahirkan. Ferlita dan Gidati, sibuk membalas banyak pesan yang masuk ke ketiga ponsel Asmiratih. Sedangkan Zhu Hadwin dan Xi Zhe Wen membalas pesan dari para bos, yang menanyakan kondisi Asmiratih. Cheung Xiuhuan dan seorang dokter perempuan, bergegas jalan menuju ruang bersalin. Mereka mempercepat persiapan lahiran, karena ketuban Asmiratih telah

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 151

    151Minggu terakhir di bulan September, merupakan hari bahagia buat Conary Minley dan Quan Cynthia. Keduanya mengikat janji suci di depan pendeta, di ballroom Hotel GUNZ di tepi Kota Guangdong. Seusai pemberkatan, ritual adat Tiongkok dilaksanakan dengan khidmat. Selain para tetua kedua keluarga, Cheung Chyou Jaden dan Wirya juga diminta duduk berdampingan dengan istri masing-masing. Zikria dan Asmiratih yang menempati kursi ujung, sempat merasa canggung, karena mereka merupakan pasangan termuda. Namun, mereka tetap bertahan demi memenuhi permintaan Quan Cynthia, yang menganggap keduanya sebagai Koko dan Cici tertua. Pasangan pengantin baru memberikan cawan kecil ke Zikria dan Asmiratih. Lalu Conary Minley dan Quan Cynthia serentak merunduk memberi penghormatan. Zikria bangkit dan balas merunduk, sedangkan Asmiratih tetap duduk dan hanya merunduk sedikit, sembari membentuk penghormatan dengan kedua tangan. "Zei, mana, Kak?" tanya Quan Cynthia dengan bahasa Indonesia yang cukup lan

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 150

    150Zikria tersenyum ketika Wirya mendorong punggungnya supaya cepat keluar dari pekarangan rumah sang bos. Zikria meringis kala Wirya langsung menutup pagar, lalu menggerak-gerakkan kedua tangan, seolah-olah tengah mengusir. Asmiratih yang sudah menunggu di mobil, cekikikan saat mendengar teriakan Wirya yang menyuruh Zikria segera melajukan mobilnya menjauh dari depan rumah. "Astagfirullah. Kita disyuh-syuh," ujar Zikria, sebelum menekan pedal gas dan mobil MPV putih itu melaju di jalan blok. "Ayah benar-benar mau menguasai Zei," sahut Asmiratih seraya mengulum senyuman. "Kemaren, waktu Abi bilang mau pelesiran, Bang W langsung bilang, nggak usah pulang cepat-cepat, biar Zei tinggal sama dia," ungkap Zikria. "Ayah, tuh, kayaknya merasa nggak nyaman kalau nggak ada anak kecil di dekatnya." "Betul. Makanya dia rajin nyulik anak siapa aja yang bisa diculik. Nggak peduli itu anak bos, tetap diangkut." "Kayak anaknya Mas Andreas. Dari baru pindah ke sini, langsung diangkut Ayah dan

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 07

    07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah m

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 06

    06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 05

    05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 03

    03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status