Masuk04
Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum.
Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita di kursi kanan, yang menanggapinya dengan anggukan.
Wirya turut menerangkan keputusan Aditya pada istrinya. Vanetta nyaris bersorak, sebelum menenangkan diri dan tetap memasang raut wajah serius.
"Sekarang sudah tengah malam. Orang tua kita pasti sudah tidur," cakap Aditya sembari memandangi pasangan di kursi seberang. "Besok subuh, aku telepon Ayah buat berdiskusi dengan beliau. Kalau beliau oke, kita laksanakan keinginan kalian. Tapi kalau nggak oke, tunggu kita nyampe sana, lalu lamaran resmi langsung dilakukan, akhir pekan depan," lanjutnya.
"Ya, Bang. Aku paham," jawab Zikria.
"Kalian bikin aku kaget. Bubar nggak jelas, lalu tiba-tiba balikan dan mutusin buat tunangan."
Zikria mengulum senyuman. "Adik Abang maksa. Aku nggak bisa nolak."
Aditya memandangi adiknya yang terlihat malu-malu. "Beneran, Dek?" desaknya.
"Ehm, mirip itulah," tutur Asmiratih.
"Kamu ngancam Zikria?"
"Enggak. Aku nangis di toilet. Pas keluar, kami diskusi lagi. Lalu sepakat buat tunangan."
Aditya menyipitkan matanya. "Beneran nggak terjadi apa-apa?"
"Enggak ada, Bang."
"Aku curiga, Dit. Mereka kayaknya sudah melakukan sesuatu," sela Wirya sambil tetap menatap pasangan di depannya, dengan sorot mata penuh kecurigaan.
"Aku juga mikir, gitu, Bang," papar Aditya.
"Zik, kamu nggak apa-apain Asmi, kan?" desak Vanetta.
"Enggak, Ci," kilah Zikria.
"Dek, apa kamu lagi hamil dan itu anak cowok ini?" tanys Alodita.
Asmiratih refleks menggeleng. "Enggak, Teh. Bang Zik nggak pernah nyentuh aku," sanggahnya.
"Habisnya, kalian tiba-tiba mau nikah. Aku jadi kepo."
"Kami sudah nggak pernah ketemu sejak 4 bulan lalu. Gimana aku bisa hamil, coba?"
"Bisa saja kalian menutupi itu. Apalagi Zikria masih bolak-balik ke sini tiap bulan," timpal Wirya.
"Tuls. Manalah kami tahu. Kalian mungkin ketemu di mana, gitu, dan check in?" goda Aditya, yang menjadikan Asmiratih dan Zikria serentak melongo.
"Kalian kenal aku dari dulu. Masa nggak percaya, kalau aku bisa nahan diri?" tanya Zikria.
"Kamu maybe bisa, Zik. Tapi Asmi mungkin saja lepas kontrol," beber Aditya.
"Abang! Aku nggak kayak gitu!" protes Asmiratih.
Aditya terkekeh bersamaan dengan Wirya. Sedangkan Vanetta dan Alodita sama-sama tersenyum lebar. Asmiratih melengos setelah menyadari bila tengah dikerjai abangnya. Sementara Zikria menggeleng pelan, lalu dia menyunggingkan senyuman.
Sekian menit berlalu. Zikria, Wirya dan Vanetta, telah keluar dari kamar Aditya. Asmiratih tetap tinggal untuk melanjutkan diskusi dengan Abang dan Kakak iparnya, guna menentukan beberapa hal penting.
"Selesaikan dulu urusanmu dengan Lova, Zik," tutur Wirya, sesaat setelah mereka memasuki kamarnya di ujung lorong itu.
"Ya, Bang. Rencanaku memang begitu," terang Zikria.
"Aku rasa, dia bisa mengerti, tapi aku agak ngeri tentang penerimaan papanya."
"Semoga beliau juga bisa paham."
Wirya mengamati mantan asisten kesayangannya. "Kuatkan hatimu. Kalau Pak Shaka marah, terima aja. Tetap diam dan jangan membantah."
"Hu um."
"Dana buat pernikahan, sudah siap berapa?"
"Bukannya Abang pernah janji, mau nanggung semuanya?"
Wirya berdecak. "Aku tanggung bagian resepsi. Buat akad, mahar dan antaran, kamu usahakan sendiri."
"Yahh! Kirain dibiayain semuanya."
"Modal dikit, atuhlah."
"Tadinya aku mau bawa body aja. Plus baju sekoper."
"Ngawur!"
"Iya, deh. Aku yang biayain walimahan. Tapi, seragam keluarga dan tim kita, Abang yang tangani."
"Kan! Dasar, rampok!"
"Aku juga mau kado mobil, Bang. Harganya sama dengan mobil yang Abang belikan buat Bang Dimas."
"Ngelunjak!"
"Oh, ya, satu lagi. Habis nikah, kami honeymoon sambil umrah. Setelah itu, mau keliling Arab dan Eropa. Aku cuti 3 bulan dan gajiku di PBK, GUNZ, Zhou Company, sama ZRF, tetap dibayar penuh."
"Nu gelo!"
***
Sepanjang resepsi megah Jasver dan istrinya siang itu, Asmiratih tampak semringah. Dia yang mengisi pertunjukan dancing, menari dengan lincah dan penuh semangat.
Hal nyaris serupa dilakukan Zikria yang mengisi pertunjukan bela diri. Bersama rekan-rekan dari tim CJC dan PBK cabang China, Zikria menampilkan wushu dan parkour yang memukau penonton.
Acara itu usai tepat jam 3 sore. Semua orang keluar dari ballroom hotel, dan bergegas menuju kamar masing-masing. Asmiratih memasuki ruangan yang ditempatinya bersama ketiga perempuan lainnya. Asmiratih mandi terlebih dahulu, lalu keluar dan bersiap-siap untuk salat Zuhur yang disatukan dengan Asar.
Setelahnya, Asmiratih berias dengan teliti. Kemudian dia berganti baju dengan gaun panjang sage, dan mematut diri di depan cermin.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Hana, yang baru usai salat.
"Kencan sama Bang Zik," terang Asmiratih, lalu dia berpindah duduk di tepi kasur.
"Cie! Balikan, nih, ye!" ledek Gwenyth yang tengah mengemasi isi kopernya.
Asmiratih tersenyum. "Aku nggak bisa berpaling hati, Ci. Sulit dapat cowok sebaik dia."
"Ya, aku paham. Aku pun, begitu. Sepupunya Bang Zik sudah merampas hatiku," terang Gwenyth sambil berpindah duduk ke samping kanan juniornya.
"Sepertinya, mereka bersaudara punya pesona yang kuat banget."
"Hu um. Sejak Bang Bazil ngajak aku serius, aku benar-benar terpikat. Susah banget lepasnya. Kayak ditempelin magnet."
"Kalian kapan mau nikahnya, Ci?" tanya Ferlita, yang baru usai mandi.
"InsyaAllah, 3 bulan lagi," jelas Gwenyth. "Dia maunya cepat-cepat, tapi aku masih pegang proyek besar HWZ, yang baru selesai 2 bulan ke depan. Jadinya aku fokus ke situ dulu," lanjutnya.
"Hmm, pantas. Kata Bang W, kalau kami mau nikah, sebelum dan setelah 3 bulan dari sekarang," ungkap Asmiratih.
"Bang W mau nuntasin satu per satu nikahan asistennya. Biar dia tenang, katanya," cakap Gwenyth.
"Berarti kita running beberapa nikahan berderet," cetus Hana.
"Siapa lagi ajudan yang mau nikah, Na?" tanya Asmiratih.
"Bulan depan itu ada nikahannya Bang Azhar di minggu 1, lalu Bang Julian di minggu kedua. Terus minggu ketiganya, Bang Fabian. Terakhir, Bang Yuda," tutur Hana sambil membaca catatan di notes ponselnya.
"Bulan berikutnya, minggu pertama, Bang Nadhif. Minggu kedua, Bang Nurhan. Minggu ketiga, kosong. Minggu keempat, Kak Depika dan Mas Ardiawan," tambah Hana. "Bulan selanjutnya, acara Kak Andara di minggu kedua, lalu nikahan Cici sudah didaftarkan di minggu keempat," sambungnya.
"Berarti yang kosong, minggu sebelum nikahan Cici?" desak Asmiratih.
"Minggu pertama di bulan ketiga, nikahannya bos PC. Mas Ghaziya," tukas Hana. "Yang kosong ada 2 minggu, Kak, di minggu ketiga Desember, dan Januari," akunya.
"Jadi bingung aku. Kalau bulan kedua, aku bakal stres nyiapin semuanya dalam waktu dekat. Kalau bulan ketiga, mepet sama nikahannya Cici."
"Enggak apa-apa. Yang repot itu panitia. Kita nggak," kelakar Gwenyth.
"Enggak, deh. Nanti acara kalian jadi kurang wow, kalau mepet dengan nikahan kami," balas Asmiratih. "Aku mundur aja, acaranya di bulan keempat," akunya.
"Kak, itu sudah bulan puasa," celetuk Ferlita.
Asmiratih tercenung sesaat, lalu dia berkata, "Berarti habis lebaran. Biar persiapannya lebih matang."
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. Terutama setelah berhadapan dengan Shaka, dan istrinya, Norma, serta Lova Restisalya Hanasta Padmana. Zikria menelan ludah sembari menenangkan degup jantungnya yang menggila. Kemudian dia menerangkan maksud kedatangannya dengan hati-hati. Raut wajah Shaka yang berubah masam, menjadikan kegugupan Zikria bertambah. Namun, dia menguatkan diri guna menuntaskan penuturannya. "Saya tidak menyangka, jika kamu berniat mempermainkan putri saya!" desis Shaka. "Mohon maaf, Pak. Tapi, aku sama sekali berniat begitu," kilah Zikria. "Kalau kamu sudah punya calon istri, kenapa melamar Lova?" "Seperti yang tadi kujelaskan, Pak. Calon istriku awalnya menolak. Lalu, aku didesak keluarga untuk segera nikah
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita di kursi kanan, yang menanggapinya dengan anggukan. Wirya turut menerangkan keputusan Aditya pada istrinya. Vanetta nyaris bersorak, sebelum menenangkan diri dan tetap memasang raut wajah serius. "Sekarang sudah tengah malam. Orang tua kita pasti sudah tidur," cakap Aditya sembari memandangi pasangan di kursi seberang. "Besok subuh, aku telepon Ayah buat berdiskusi dengan beliau. Kalau beliau oke, kita laksanakan keinginan kalian. Tapi kalau nggak oke, tunggu kita nyampe sana, lalu lamaran resmi langsung dilakukan, akhir pekan depan," lanjutnya. "Ya, Bang. Aku paham," jawab Zikria."Kalian bikin aku kaget. Bubar nggak jelas, lalu tiba-tiba balikan dan mutusin buat tunangan." Zikria mengul
03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang masih menguasai hatinya.."Aku cinta sama Abang," ucap Asmiratih dengan suara serak. Zikria bergeming. Hatinya terbelah, antara senang dengan pengakuan Asmiratih, dan tetap teguh pada pendiriannya, yang telanjur memberi harapan pada Lova. Zikria terbayang wajah Lova dan itu membuatnya tersadar. Dia mengurai dekapan dan memaksa menggeser kedua tangan Asmiratih, hingga tubuh mereka sedikit berjauhan. "Aku sudah janji pada diri, untuk mencari perempuan lain yang mau menerimaku apa adanya, dan siap menikah dalam waktu dekat," ujar Zikria. "Aku sudah menerangkan itu pada Lova, dan dia mau menerimaku, tanpa syarat apa pun," lanjutnya yang mengagetkan Asmiratih. "Jujur, aku sangat kecewa, setelah
02Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady. Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang mereka, yang hendak dikirimkan ke Indonesia. Mereka keluar dari apartemen dan berpindah ke hotel CJC, guna menunggu kedatangan rombongan Indonesia. Liu Jasver Emery, Adik Vanetta, Sabtu nanti akan menikah dengan Wang Patricia, putri kedua Wang Magen, salah satu pengusaha yang cukup terkenal di Shanghai. Asmiratih dan Ferlita, berteman akrab dengan Wang Patricia, yang merupakan pemilik spa langganan kedua gadis tersebut. Sebab itu, Wang Patricia meminta kedua perempuan bersaudara itu untuk menjadi pengiring pengantinnya. Sore itu, rombongan Indonesia akhirnya tiba. Mereka diarahkan petugas hotel untuk menuju restoran terbesar di sisi kanan bangunan, di mana keluarga besar Liu, Cheung, Zheung, V
01"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique. Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau." Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun silam. "Aku sudah melamarnu 6 kali, dan ini yang terakhir," tukas Zikria. "Karena kamu menolak, maka aku nggak akan maksa," lanjutnya. "Abang nggak nanya, alasanku apa?" tanya Asmiratih. "Jawabanmu pasti sama dengan yang kemaren. Kamu belum siap nikah dan berhenti kerja," jelas Zikria."Yups, tepat banget." "Okay, it's done. Aku menyerah." Zikria berdiri. "Aku pergi," sambungnya sebelum berbalik dan jalan pelan sambil menghitung dalam hati. Tepat di hitungan ketujuh, Asmiratih memanggil. Zikria tetap bergeming dan menunggu gadis itu menyambanginya."Kunci mobilnya ketinggalan," ucap Asmiratih sembari mengulurkan benda yang dimaksud. Zikria mengerutu dalam hati. Pada awalnya dia yakin dipan







