LOGIN03
"Dek, jangan begini," pinta Zikria.
Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang masih menguasai hatinya..
"Aku cinta sama Abang," ucap Asmiratih dengan suara serak.
Zikria bergeming. Hatinya terbelah, antara senang dengan pengakuan Asmiratih, dan tetap teguh pada pendiriannya, yang telanjur memberi harapan pada Lova.
Zikria terbayang wajah Lova dan itu membuatnya tersadar. Dia mengurai dekapan dan memaksa menggeser kedua tangan Asmiratih, hingga tubuh mereka sedikit berjauhan.
"Aku sudah janji pada diri, untuk mencari perempuan lain yang mau menerimaku apa adanya, dan siap menikah dalam waktu dekat," ujar Zikria. "Aku sudah menerangkan itu pada Lova, dan dia mau menerimaku, tanpa syarat apa pun," lanjutnya yang mengagetkan Asmiratih.
"Jujur, aku sangat kecewa, setelah kamu menolak lamaran terakhir. Aku merenung lama, dan setelah lebih tenang, aku mengambil keputusan untuk melupakanmu, dan membuka hati buat perempuan lain."
"Aku mendatangi Bang Adit, dan menerangkan semuanya. Dia memahami keenggananku untuk menunggumu lebih lama lagi. Aku juga sudah berdiskusi dengan Bang W, dan dia menyerahkan semua keputusan padaku."
"Aku sebetulnya nggak punya niat apa pun ke Lova. Kami bertemu, dan aku mengajaknya berbincang serius. Aku menjelaskan semua keinginanku untuk segera mengakhiri masa lajang, lalu aku menawarkan pernikahan padanya."
"Lova nggak langsung mengiakan. Dia minta waktu berpikir, dan setelah 2 minggu, kami bertemu lagi. Dia menerima pinangan tidak resmiku, dan dia memintaku untuk mendatangi orang tuanya."
"Aku sudah menemui Pak Shaka. Aku menerangkan hasil pembicaraanku dan Lova, dengan menutupi bagian dirimu. Beliau memberiku kesempatan lebih dekat dengan Lova, dan itu yang tengah kulakukan sekarang," pungkas Zikria.
Asmiratih mengerjapkan matanya berulang kali. Penuturan Zikria membuat hatinya patah. Asmiratih mendengkus kuat, lalu jalan cepat memasuki toilet.
Isakan Asmiratih kembali terdengar dan itu menyebabkan Zikria merasa bersalah. Dia berpikir cepat, lalu mengirim pesan pada Wirya guna menunda janji temu, karena dia hendak menyelesaikan permasalahannya dengan Asmiratih.
Zikria menutup pintu, lalu berpindah duduk ke kursi yang tadi ditempatinya. Dia sengaja berpura-pura pergi, supaya Asmiratih mengira jika Zikria benar-benar keluar dari kamar.
Sekian menit berlalu. Pintu toilet terbuka dan Asmiratih keluar sambil menunduk. Dia kaget ketika tangan kirinya ditarik dan badannya didekatkan ke dinding. Asmiratih nyaris menjerit, sebelum mulutnya ditutupi Zikria dengan tangan kiri.
Asmiratih tetap diam sambil mengamati Zikria yang balas menatapmya lekat-lekat. Asmiratih mengerjapkan mata ketika pria itu memajukan tubuh, dan mengecup dahinya dengan lembut.
"Aku juga masih mencintaimu," bisik Zikria, seusai menjauhkan diri.
Asmiratih mendorong tangan kiri Zikria hingga menjauh dari wajahnya. "Kalau Abang masih cinta, harusnya Abang menungguku. Bukannya melamar Lova!" rajuknya.
"Pikiranku buntu, Dek. Orang tuaku sudah mendesak, karena Panji dan Zelia sudah menunggu lama. Aku nggak bisa egois menunda menikah, karena mungkin saja Panji lelah menunggu adikku, dan membatalkan pernikahan."
"Abang mestinya telepon aku. Kita diskusikan lagi. Bukannya ngambil keputusan sendiri."
"Kamunya nolak terus, aku jadi kesal!"
Asmiratih mengulurkan tangan kanannya dan mengusap pipi kiri Zikria dengan pelan. "Aku memang salah. Menunda terus. Lupa kalau Abang mesti tanggung jawab ke Zelia."
"Kita sama-sama bodoh."
"Abang, doang. Aku nggak."
Zikria mengulum senyuman. Dia hendak mengucapkan sesuatu, tetapi Asmiratih telanjur maju dan menciumi kedua pipinya. Zikria tercenung sesaat. Seumur hidup dia selalu menjaga diri untuk tidak bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Namun, kali itu Zikria kalah, dan dia balas mengecup kedua pipi Asmiratih.
Zikria sempat ragu-ragu, sebelum menyatukan bibir mereka, dan mengisap madu Asmiratih yang membalasnya dengan malu-malu. Pagutan itu berlangsung cukup lama, dan dihentikan Zikria ketika menyadari bila Asmiratih tengah kehabisan napas.
"Aku belum pernah lepas kendali kayak gini," bisik Zikria sembari menyatukan dahi mereka. "Kamu bikin akal sehatku hilang. Itu pelanggaran," kelakarnya sambil menolak tubuh.
Asmiratih menyunggingkan senyuman lebar. "Itu, karena Abang cinta berat ke aku."
"Hu um."
"Pulang dari sini, temui Lova dan batalkan pinangan Abang," bujuknya.
"Kalau aku nggak mau?"
"Aku bakal datangin dia dan berakting, kalau Abang sudah merenggut kesucianku, dan sekarang aku tengah hamil anak Abang."
Zikria menyentil pelan telinga kiri Asmiratih yang sontak cengengesan. "Dasar, aktris drama China."
"Pokoknya aku akan melakukan berbagai cara, supaya perjanjian kalian batal. Lalu kita segera menikah."
"Aku nggak yakin dia terima, Dek. Kamu tahu, kan, dia sudah naksir aku dari dulu."
"Aku nggak peduli! Aku duluan yang Abang lamar. Jadi aku lebih berhak buat jadi istri Abang."
"Hmm, aku masih belum yakin. Bisa aja kamu berubah pikiran lagi."
Asmiratih merengut. "Sekarang, ikut aku."
"Ke mana?"
"Nemuin Bang Adit. Kita nikah sekarang aja, dan dia jadi waliku."
"Ehh ... nggak bisa gitu, Dek. Nikah nggak bisa mendadak. Semuanya harus dipersiapkan dengan matang."
"Bang, untuk sekali ini saja. Berhenti jadi perfeksionis. Kalau direncanakan, bisa saja batal."
"Kita nggak bisa melangkahi orang tua. Semuanya harus seizin mereka."
Asmiratih melengos. "Abang selalu gitu. Sibuk menjaga hati orang lain. Sampai melupakan keinginan sendiri."
"Dek, aku ...."
"Mau atau nggak?"
"Aku mau, tapi ...."
"Enggak ada tapi-tapi."
"Aku belum nyiapin maharnya. Masa nikahin kamu, tapi cuma bawa badan?"
Asmiratih merogoh saku celana dan meraih kotak kecil berlapis bludru biru. Dia membuka kotak itu dan menunjukkan isinya pada Zikria.
"Kapan kamu beli ini?" tanya pria berkemeja putih pas badan, sembari mengambil cincin polos dari kotak, dan memasangkan benda itu ke jemari manis kanannya.
"Bulan lalu," jawab Asmiratih.
"Ukurannya pas."
"Kita, kan, pernah beli cincin couple. Aku ingat ukurannya."
"Hmm, ya."
"So, gimana?"
Zikria memerhatikan gadis yang masih dicintainya itu dengan intens. "Gini aja. Supaya orang tua tidak merasa dilangkahi, sekarang kita tunangan dulu. Nyampe sana, baru kita atur rencana buat lamaran resmi, dan nikahan. Okay?"
Asmiratih berpikir sejenak, lalu dia mengangguk. "Ya, aku setuju."
Keduanya saling menatap, sebelum sama-sama mengulaskan senyuman. Zikria menunduk untuk melepaskan cincin dan mengembalikan benda itu ke kotak.
Zikria mengecek arlojinya di tangan kiri. "Kita ke mal," ajaknya.
"Ngapain?" tanya Asmiratih.
"Beli antaran. Sedapatnya aja. Yang penting aku bawa seserahan, dan nggak nekat ngelamar kamu dengan tangan kosong."
"Bentar. Aku mau dandan dulu."
"Nanti aja, di mobil. Keburu mal-nya tutup."
"Bang, ini Shanghai, bukan Jakarta. Di sini mal tutupnya tengah malam. Malah ada yang open sampai subuh."
"Ehm, ya, aku lupa."
Asmiratih berpindah ke dekat meja rias guna mengambil dompet, tas, dan ponselnya. Asmiratih kaget saat Zikria memeluknya dari belakang, dan mereka saling menatap melalui pantulan cermin.
Asmiratih menurut kala Zikria memutar tubuhnya, hingga saling berhadapan. Asmiratih terpegun ketika pria itu mendekap tubuhnya dengan erat.
"Aku mencintaimu," bisik Zikria. "Selamanya, mencintaimu," lanjutnya, yang menyebabkan hati Asmiratih menghangat.
155Senin siang, ratusan orang berkumpul di ruang pertemuan terbesar di Hotel Janitra 2. Mereka mengenakan setelan jas dan blazer beraneka warna, sesuai dengan tim masing-masing. Para bos PG memakai setelan jas abu-abu gelap. Tim PC menggunakan warna krem. Tim PCD mengenakan pakaian serba biru muda. Anggota PCT memakai setelan cokelat. Kelompok PCE mengginakan setelan marun. Semua bos PCM mengenakan pakaian hijau army. Sedangkan tim PCA kompak memakai baju abu-abu gelap. Sementara tim PCU menggunakan setelan biru tua. Zufair, Zabda, dan Hana, memulai acara dengan pengucapan salam dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Arab. Ketiga MC menyebutkan nama banyak bos tua yang hadir dengan pakaian serba hitam dan merah, sesuai dresscode yang ditentukan panitia. Setelahnya, beberapa orang menaiki panggung. Mereka berbaris rapi sesuai tinggi badan, lalu dipasangi mikrofon kecil oleh panitia. Hamid yang menjadi pembicara pertama, berdeham dua kali, sebelum memguc
154Akhir pekan itu, acara akikahan diadakan di ballroom Hotel CJC pusat Kota Guangzhou. Ratusan tamu yang hadir sebagian besar adalah tim PBK dan keluarga mereka. Sisanya merupakan para bos yang cukup akrab dengan Zikria, serta artis dan kru film yang telah menjadi sahabat Asmiratih, sejak awal kariernya. Keempat Z bersaudara menjadi pusat perhatian khalayak. Baju fuchsia yang mereka kenakan, terlihat kontras dengan kulit mereka yang semuanya putih. Zeira berulang kali memeluk ketiga adiknya, yang berbaring di kasur lantai. Gadis kecil berjilbab fuchsia itu juga sering menciumi dahi para baby, dengan dipegangi sang bunda, atau Puti.Quan Cynthia memanggil Zeira untuk mendekat. Namun, bocah bermata sipit itu justru duduk di pangkuan Conary, yang cengengesan menggoda istrinya. Quan Cynthia tidak sanggup memprotes dan hanya bisa meringis, karena Zeira lebih memilih bermanja-manja ke Papa sambungnya. Shihabuddin memimpin pengajian dengan khusyuk. Dia mengedarkan mikrofon ke banyak tet
153*Grup Lapis 1-10*Haikal : MasyaAllah. TabarakAllah. Selamat atas kelahiran 3 babies, @Zikria. Risma : @Zikria. Tahniah, Brother.Nanang : Aku mau Zhani. Hamid : Zhardhan, buatku.Jingga : Zharufa, anak Ibu Jingga.Jeffrey : Kita kalah cepat sama 3 robot. Darma : Mereka licik. Terbang duluan ke China, dan maksa jadi Bapak angkat ketiga bayi. Erni : @Zikria, akikahannya, kapan? Fawwaz : Di sini, atau di sana acaranya? Rusli : Mungkin, di Sydney. Dinda : Brisbane. Ibrahim : Adelaide.Yusri : Canberra.Dita : Perth.Gumelar : Melbourne. Fuad : Sudah jelas, pasti di Chengdu.Anjani : Hangzhou.Beni : Tianjin. Daus : Suzhou. Robi : Chongqing.Fauziah : Shanghai. Herman : Shenzen.Valdi : Xi'an. Ratna : Aku lupa nama kota besar di China. Ridwan : Apalagi aku. Ingatnya cuma Macau. Frank : Acara akikahan, diadakan 2 kali, bisa nggak? Sari : Setahuku, cuma bisa sekali. Tapi kalau selamatan, 10 kali juga bisa. Jaiz : @Zikria. Selamat, ya. Salam buat Asmi dan keluarga. Haru
152Zikria mengurut pinggang belakang istrinya, yang tengah merintih kesakitan. Sedangkan Ren Liangyi mengusap peluh Asmiratih dengan handuk kecil, sembari terus menenangkan sahabatnya tersebut. Zikria berulang kali menembakkan tenaga dalam, guna membantu melancarkan pembukaan jalan lahir. Dia tidak tega melihat Asmiratih kesakitan, dan ingin penderitaan istrinya itu bisa segera berakhir.Sementara di area depan ruang bersalin, Li Fengjun, Li Mye Na, Zulfan, dan Zahiruddin, juga tengah melakukan hal yang sama dengan Zikria. Meskipun kekuatan olah napas mereka masih lemah, tetapi mereka tetap berusaha membantu agar Asmiratih bisa segera melahirkan. Ferlita dan Gidati, sibuk membalas banyak pesan yang masuk ke ketiga ponsel Asmiratih. Sedangkan Zhu Hadwin dan Xi Zhe Wen membalas pesan dari para bos, yang menanyakan kondisi Asmiratih. Cheung Xiuhuan dan seorang dokter perempuan, bergegas jalan menuju ruang bersalin. Mereka mempercepat persiapan lahiran, karena ketuban Asmiratih telah
151Minggu terakhir di bulan September, merupakan hari bahagia buat Conary Minley dan Quan Cynthia. Keduanya mengikat janji suci di depan pendeta, di ballroom Hotel GUNZ di tepi Kota Guangdong. Seusai pemberkatan, ritual adat Tiongkok dilaksanakan dengan khidmat. Selain para tetua kedua keluarga, Cheung Chyou Jaden dan Wirya juga diminta duduk berdampingan dengan istri masing-masing. Zikria dan Asmiratih yang menempati kursi ujung, sempat merasa canggung, karena mereka merupakan pasangan termuda. Namun, mereka tetap bertahan demi memenuhi permintaan Quan Cynthia, yang menganggap keduanya sebagai Koko dan Cici tertua. Pasangan pengantin baru memberikan cawan kecil ke Zikria dan Asmiratih. Lalu Conary Minley dan Quan Cynthia serentak merunduk memberi penghormatan. Zikria bangkit dan balas merunduk, sedangkan Asmiratih tetap duduk dan hanya merunduk sedikit, sembari membentuk penghormatan dengan kedua tangan. "Zei, mana, Kak?" tanya Quan Cynthia dengan bahasa Indonesia yang cukup lan
150Zikria tersenyum ketika Wirya mendorong punggungnya supaya cepat keluar dari pekarangan rumah sang bos. Zikria meringis kala Wirya langsung menutup pagar, lalu menggerak-gerakkan kedua tangan, seolah-olah tengah mengusir. Asmiratih yang sudah menunggu di mobil, cekikikan saat mendengar teriakan Wirya yang menyuruh Zikria segera melajukan mobilnya menjauh dari depan rumah. "Astagfirullah. Kita disyuh-syuh," ujar Zikria, sebelum menekan pedal gas dan mobil MPV putih itu melaju di jalan blok. "Ayah benar-benar mau menguasai Zei," sahut Asmiratih seraya mengulum senyuman. "Kemaren, waktu Abi bilang mau pelesiran, Bang W langsung bilang, nggak usah pulang cepat-cepat, biar Zei tinggal sama dia," ungkap Zikria. "Ayah, tuh, kayaknya merasa nggak nyaman kalau nggak ada anak kecil di dekatnya." "Betul. Makanya dia rajin nyulik anak siapa aja yang bisa diculik. Nggak peduli itu anak bos, tetap diangkut." "Kayak anaknya Mas Andreas. Dari baru pindah ke sini, langsung diangkut Ayah dan
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita d
07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah m
06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di







