Share

Bab 07

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-06-16 11:46:50

07

Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya.  

Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah memporak-porandakan hatinya. 

"Bang W pasti mau bujuk Papa, supaya tetap gabung di PCE," celetuk Lova, yang seketika dipandangi ketiga orang tersebut. 

"Enggak," kilah Zikria. "Bang W mau nawarin bisnis di luar proyek bos," lanjutnya. 

"Proyek dari mana?" 

"RQA dan Vong." 

Lova terpegun. "Bang Rangga dan Koko Myron?" 

"Ya. Mereka punya proyek resor baru di Lombok." 

"Tumben nggak ngegaet dari kumpulan para bos?" 

"Kata Bang W, ini proyeknya pribadi, bareng adik-adiknya. Dia mau ngasih kesempatan buat perusahaan skala nasional aja, khusus buat proyek ini." 

Lova mengalihkan pandangan ke Shaka. "Papa mau ambil?" tanyanya. 

"Belum tahu. Papa mesti pikir-pikir dulu," jelas pria tua yang mengenakan t-shirt hijau. 

Sapaan salam beberapa orang terdengar seiring dengan pintu yang terbuka. Kedua Adik kembar Lova memasuki ruangan, disusul Rayna Orlanda dan Kaelene Lakeesha, para sahabat Lova. 

Tatapan sinis yang ditujukan kedua gadis itu pada Zikria, menyebabkan pria tersebut tidak nyaman. Zikria akhirnya berpamitan pada orang tua Lova, lalu dia mendekati ranjang dan menyalami pasien, yang menjabat tangannya dengan ragu-ragu. 

"Setelah kamu boleh pulang, aku mau menemuimu di rumah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," ucap Zikria dengan suara pelan. 

Lova hendak membantah, tetapi pria itu telah berbalik dan jalan cepat keluar. Lova masih memandangi pintu yang ditutup Zikria dengan pelan. Gadis itu mengeluh dalam hati, karena dia masih menyayangi pria tersebut, meskipun Zikria telah mematahkan hatinya.

Sementara itu di tempat berbeda, Asmiratih tengah berbincang dengan Zelia Hasniar, Adik Zikria, dan Deshita Lavaana, Adik bungsu Deswin, Krisda dan Trisda. 

Ketiga perempuan yang usianya tidak berbeda jauh itu, tengah mendata orang-orang yang akan diundang, dalam acara pertemuan keluarga sekaligus lamaran, pada Sabtu mendatang. 

Zikria telah menelepon bapaknya di Bogor dan meminta kedua orang tua serta keluarganya, untuk membantunya meminang Asmiratih. Shihabuddin menyambut gembira kabar itu, dan dia sangat antusias guna bersilaturahmi dengan keluarga besar Bryatta di Tangerang. 

"Lia, aku bagusnya pakai baju apa?" tanya Asmiratih. 

"Lebih baik pakai gamis plus jilbab, Mi," jawab Zelia. "Ini bukan pemaksaan supaya kamu konsisten berhijab, tapi supaya keluarga kami tenang," sambungnya. 

"Hmm, ya. Aku paham."

"Tapi, kalau kamu pakai baju yang lain, non gamis maksudku, nggak apa-apa." 

Asmiratih menggeleng. "Nanti keluarga besarmu heboh. Kata Bang Zik, itu kejadian waktu acara lamaran Cici Gwenyth dan Bang Bazil." 

"Kamu tahu? Waktu itu aku dan Kak Zayda sampai malu ke keluarga Cici, karena para Bibi dari sebelah ibunya Bang Bazil, kasak kusuk, setelah lihat Cici dan keluarganya nggak pake jilbab. Ibuku sama mamanya Kenji, langsung negur para Bibi yang akhirnya diam, dan nggak rese lagi." 

"Aku ingat itu, dan semua Kakak perempuan kita, ngambek," sela Deshita. 

"Dan semua Bibi rese itu dicuekin sama Cici Vanetta dan para istri Abang lapis 1 sampai 5. Mereka cuma mau ngobrol dengan orang tua Bang Bazil, dan keluargaku, serta orang tua Kenji," ungkap Zelia. 

"Pasti suasananya jadi canggung," cakap Asmiratih.

"Awalnya, gitu. Terus, ibunya Bang Bazil minta maaf ke keluarga Cici Gwenyth, yang untungnya nggak mempermasalahkan hal itu. Mereka justru tetap ramah, dan kumpulan Bibi rese itu jadi salting," papar Zelia. 

"Berarti nanti aku pakai gamis dan jilbab. Supaya nggak ada drama lagi." 

"Santai aja, Mi. Ibuku bilang, para gosipers itu nggak diajak, karena mereka dari keluarga sebelah. Kalau keluarga besar kami, insyaallah, nggak akan rese. Mereka sudah paham, kamu belum berhijab. Begitu juga dengan banyak senior kita." 

*** 

Hari berganti. Wirya datang mengunjungi Lova yang telah pulang ke rumahnya, Zikria tidak hadir dan posisinya digantikan Jariz, asisten kedua komisaris utama GUNZ tersebut. 

Wirya dan Shaka berbincang serius di set sofa. Kemudian Jariz menyalakan ipadnya, dan menerangkan detail rencana pembangunan resor di Lombok, di mana Jariz menjadi penanggung jawabnya. 

"Wajahmu sepertinya familiar," ujar Shaka, sesaat setelah percakapan serius itu usai. 

"Bapak mungkin kenal abangku. Jauhari," terang Jariz. 

Shaka tertegun, lalu dia mengangguk. "Ternyata begitu. Pantas saya tidak asing melihatmu." 

"Mereka kembar labu siam, Pak," kelakar Wirya. 

Shaka mengulum senyuman. "Ari sekarang dinas di mana, W?" 

"Dia masih jadi kuncen Australia. Semua bos di sana maunya berurusan dengan Ari, Mahesa, dan Zikria. Yang lainnya datang, diabaikan." 

"Zikria masih pegang area sana?" 

"Masih. Pegangan dia hampir di semua benua. Kecuali Eropa, di sana masih dikuasai Hisyam, Ardi, Qadry, Chairil, dan Riaz." 

Shaka manggut-manggut. "Didikanmu semuanya sukses." 

"Alhamdulillah. Aku beruntung, Pak. Dapat adik-adik penurut dan mau kerja keras. Awalnya aja mereka dituntun, sekarang sudah dilepas sepenuhnya." 

Wirya mengalihkan perhatian ke gadis berbaju biru yang menempati kursi seberang. "Aku berharap kamu yang pegang proyek ini, Va. Kamu sudah berpengalaman menuntaskan banyak proyek sejenis, jadi yang ini juga pasti bisa kamu kerjakan." 

"Aku masih proses pemulihan, Bang. Males mau mikir kerjaan," kilah Lova. 

"Pergi ke tempat yang tenang juga bisa memulihkan diri, dan jiwamu." 

Lova mengamati pria yang tetap terlihat santai. "Aku malah kepengen ke luar negeri. Liburan, bukan kerja." 

"Mau ke mana?" 

"Belum tahu. Pengennya, nggak terlalu jauh dari sini." 

"Jepang?" 

"Sudah pernah. Korea juga sama." 

"China?" 

"Enggak, deh. Aku nggak bisa bahasanya."

"Ehm, New Zealand? Di sana pakai bahasa Inggris." 

"Hmm, kayaknya bisa dipertimbangkan. Kalau nggak, ke Australia."

"Tentukan aja waktunya. Setelah siap berangkat, kabari aku, nanti diurus semuanya sama Gwenyth." 

"Gratis, Bang?" 

"Boleh." 

"Aku cuma bercanda." 

"Enggak apa-apa. Aku memang mau biayain liburanmu, supaya kamu bisa cepat putih secara emosional. Setelah kembali ke sini, kita bicarakan hal penting lainnya." 

"Tentang apa?" 

"Karena kamu sudah keluar dari PCE, aku mau menawarkanmu jadi anggota binaan GUNZ, alias pegang proyek besar yang digagas semua company, yang aku jadi komisaris utamanya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 93

    93Yao Scott memerhatikan para ajudan senior di sekelilingnya. Putra sulung keluarga Yao itu membatin, jika rekan-rekannya itu tidak ada yang tidak terluka. Semuanya menderita memar, bahkan ada yang luka cukup parah.Tatapan Yao Scott berhenti pada pasien di ranjang. Lelaki muda itu terlihat pucat kesi, seusai mengalami dua tusukan dalam di paha dan perutnya. Yao Scott membisikkan sesuatu pada Muyang, yang membalas dengan anggukan.Yao Scott mendekati sekelompok orang yang merupakan keluarga dan kerabat Herjuno. Yao Scott berdeham untuk menarik perhatian orang-orang tersebut, sebelum dia merunduk untuk memberi hormat, yang segera dicegah Mahesa."Aku memberi penghormatan pada kalian, sebagai ucapan terima kasih, sekaligus penyesalan terdalamku, hingga Herjuno terluka parah," tutur Yao Scott setelah menegakkan badannya."Tuan tidak perlu menghormat," sahut Mahesa dalam bahasa Inggris. "Adikku terluka, itu sudah takdirnya," lanjutnya. "Pakai bahasa Mandarin, Sa," goda Zulfi.Mahesa men

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 92

    92 "Mas, bisa tolong obatin?" tanya Aditya, seusai melepaskan jaketnya.Fachri menyambangi Ajudan Selembe dan memeriksa luka di sepanjang lengan kanan pria tersebut. "Duduk dulu, Om," ucapnya, sembari berdiri dan memberikan kursinya "Kena apa ini?" desaknya sambil mengamati luka itu."Pedang pendek Ruan Haakon," terang Aditya."Aku bersihkan dulu. Tahan, ya. Agak perih." Dokter muda itu meraih botol alkohol dan gumpalan kapas, serta kasa. "Zid, tolong ambilkan obat luka," pintanya, sebelum memulai tugasnya. Aditya meringis menahan perih saat lukanya dibersihkan. Dia mengaduh ketika Fachri menekan area paling dalam dengan kasa, supaya bagian itu bisa dibersihkan secara maksimal.Bayazid mendekat sambil membawa cairan obat tradisional Tiongkok. Setelah Fachri mundur, Bayazid mengoleskan obat itu ke tangan Aditya, dengan hati-hati. "Bang, Ruan Haakon, di mana?" tanya Mahesa, yang baru meletakkan Ruan Eadwald ke kasur tipis."Kukunci di container belakang," jelas Aditya dengan santai.

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 91

    91Suasana di sekitar area gudang Yao Company, di timur Kora Shanghai, dini hari itu sangat sunyi. Belasan petugas keamanan yang berjaga di sana, bergantian mengelilingi area sekitar dengan menggunakan motor listrik. Supaya bisa meminimalisir suara kendaraan saat bertugas.Detik bertukar menjadi menit. Ratusan pasang mata mengawasi layar besar di dalam gudang utama, yang menampilkan video dari empat penjuru area luar, sekaligus jalanan di sekitarnya. Tidak ada seorang pun yang urun suara. Mereka menghemat tenaga dan tetap diam, sambil sekali-sekali berbincang di grup pesan. Beberapa lampu kendaraan muncul dari sisi utara. Sebagian orang itu berdiri, lalu melemaskan tangan dan kaki. Sha Jun Hui memerintahkan anak buahnya untuk keluar dari pintu samping kiri. Sedangkan kelompok kedua pimpinan Yin Sueh-yn, keluar dari pintu kanan.Puluhan perempuan yang sejak tadi bersembunyi di sepanjang balkon lantai dua, mendengarkan arahan Zikria, melalui alat khusus di telinga masing-masing. Puspa

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 90

    90Asmiratih dan Ferlita, memandangi puluhan orang berjaket biru tua yang tengah bergerak memasuki kereta api cepat. Kedua perempuan tersebut berdoa setulus hati, agar rekan-rekan mereka bisa selamat dan sanggup menuntaskan tugas dengan baik.Ferlita mengajak Asmiratih kembali ke mobil. Langkah mereka diikuti kedua kru film yang merupakan sahabat Zhu Hadwin, yang bertugas menjaga keselamatan Asmiratih serta Ferlita. Kereta api beranjak meninggalkan stasiun Kota Nanxun sesuai jadwal. Satu gerbong yang diborong tim PBK, menjadikan penumpang lain bertanya-tanya tentang identitas mereka. Sepanjang perjalanan itu, Zikria tidur. Dia mencuri waktu istirahat, untuk merecharge tenaga. Guna bersiap-siap menghadapi pertempuran di titik tujuan.Setibanya di stasiun Shanghai, rombongan PBK dijemput Li Fengjun yang memang bertugas di sana. Koko tertua Li Mye Na tersebut mengajak mereka menaiki bus Hotel CJC, lalu dia menerangkan pada Zikria, tentang kesiapan anggota mereka di lokasi. Li Fengjun j

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 89

    89Lova terhenyak dan tidak langsung menyahut. Dia menduga jika Aiden mendengar berita itu dari Reksa atau Dodi, karena hanya kedua pria itu yang pernah melihat foto Rizqan. "Ehm, maksudnya, Mas Rizqan, ya?" Lova balik bertanya. "Aku nggak tahu namanya, tapi kata Dodi, dia owner hotel di Yunani. Betul?" desak Aiden.Lova mengangguk mengiakan. "Itu benar, dan dia memang pacarku." Raut wajah Aiden seketika berubah muram. "Berarti, nggak ada kesempatan buatku." "Apa?" Aiden menatap perempuan di tepi kiri itu dengan saksama. "Aku suka kamu." Lova mengerjapkan matanya, karena sangat kaget dengan pernyataan pria berkemeja hitam motif garis-garis putih tersebut. "Ehm, sorry, aku nggak tahu." Aiden menggeleng pelan. "Enggak apa-apa. Aku memang telat ngomong ke kamu." "Boleh, aku tahu? Sejak kapan Mas suka sama aku?" "Lama banget. Kayaknya setahunan." "Kenapa nggak bilang?" "Aku nggak enak sama Reksa. Dia pernah bilang lagi naksir kamu. Jadinya aku diam aja." Lova tercenung sesaat.

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 88

    88*Grup GUNZ Indonesia*Andri : @Satya, Daebak! Harzan : Baru kali ini, orang ngajuin proposal, belum dibaca isinya, tapi langsung disetujui presdir kita.Haryono : Kenapa aku endak kepikiran, gitu, ya? Benigno : Aku bingung. Antara mau muji Satya, atau W. Mereka sama-sama sarap. Kimora : Ayah Kiddos memang the best! Andara : Aku padamu, @Abang ipar. Puspa : Aku mau muji Satya aja. Keren bingits! Dahlia : @Satya, luar biasa! Namira : Tembak langsung ke Ayah W. No basa basi. Mantap! Fatma : Aku salut sama dua-duanya. Lova : Ada apa ini? Aku baru lihat chat. Divija : Bang Satya ngajuin proposal bayangan ke Ayah W. Belum dibaca, tapi langsung disetujui, @Kak Lova. Lova : MasyaAllah. Hebat banget!Dimas : Aku mau gitu juga, deh. Dilara : @Abang kesayangan. Aku ngajuin proposal pake telepati. Agnia : @Kak Dilara, tiap muncul, pasti bikin ngikik.Arista : @Abang selingkuhan. Aku ajuin proposal lewat jalur orang dalam. Alias nyodorin ke Mamados. Rinjani : @Engkoh Kekasihku. Ya

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 03

    03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang mas

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 02

    02Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady. Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang merek

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 01 - Penolakan

    01"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique. Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau." Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun sila

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 06

    06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status