LOGIN06
Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir.
Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang dilakukan di salah satu rumah sakit swasta terkenal di Singapura, awal tahun ialu.
Perempuan berhidung bangir itu melirik Zikria yang berada di samping kiri. Dia berulang kali mendengar ucapan maaf lelaki tersebut, yang ditujukan pada Lova dan keluarga Padmana.
Asmiratih mengarahkan pandangan ke depan. Lambaian dedaunan yang tertiup pohon itu seakan-akan menghipnotisnya, dan membuat Asmiratih terus memandangi daun yang tertiup angin.
"Dek, kita pulang," ajak Zikria yang sukses memutus lamunan gadis di sebelah kanannya.
Asmiratih tidak menjawab dan hanya mengangguk. Keduanya berdiri, lalu jalan menyusuri lorong panjang rumah sakit, di mana Lova dilarikan ke sana tadi siang, dan tengah mendapatkan perawatan intensif.
Sekian menit berikutnya, pasangan tersebut telah berada di mobil SUV biru tua milik Zikria. Pria tersebut menyetir tanpa mengatakan apa pun. Begitu pula dengan Asmiratih.
Mendekati kompleks perumahan yang mereka tempati, Zikria menepikan mobil dan berhenti di depan deretan rumah toko. Zikria mematikan mesin, lalu melepaskan sabuk pengaman.
"Turun dulu, Dek. Kita makan," ujar Zikria.
"Bungkus aja, Bang," balas Asmiratih.
"Mau pesan apa?"
"Ayam bakar plus nasi uduk. 10 porsi. Sama tahu dan tempe goreng."
Zikria kembali menyalakan mesin, kemudian dia memasang rem tangan. Pria berkemeja putih itu membuka pintu, lalu turun sambil menutup lawang dengan pelan.
Selama puluhan menit selanjutnya, Asmiratih melamun. Dia merunut peristiwa dari 4 bulan lalu hingga hari itu, sembari sekali-sekali bergumam.
Kala Zikria kembali, Asmiratih mengambil dua kantung plastik bening yang diulurkan pria tersebut. Asmiratih meletakkan kantung ke dekat kaki, sebelum merapikan duduknya.
"Mau dianter ke mess, atau rumah Bang Adit?" tanya Zikria sembari mengemudi.
"Enggak ke dua-duanya," sahut Asmiratih.
"Terus, ke mana?"
"Rumah Bang W. Aku mau diskusi dengan beliau. Sekalian nginap."
"Aku juga mau ke situ. Makanya aku beli banyak tadi. Di sana always rame ajudan."
Setibanya di tempat tujuan, Zikria memarkirkan mobil di carport. Asmiratih keluar lebih dulu sambil membawa kantung plastik. Dia mendekati pintu garasi dan membukanya dengan tenang.
Sapaan salam Asmiratih dijawab banyak orang dari dalam. Dia terus melenggang memasuki ruang makan yang berhubungan langsung dengan garasi.
Zikria menyusul sambil mengucapkan salam. Dia menyambangi pasangan pemilik rumah dan menyalami mereka dengan takzim. Kemudian Zikria berpindah menyalami keempat anak Wirya dan ketiga pegawai, yang tengah berada di sofa ruang tengah.
"Sudah makan?" tanya Vanetta.
"Belum. Ini baru mau," sahut Asmiratih.
"Aku beli ayam bakar paket komplet. Kita makan sama-sama," ajak Zikria.
Sepanjang acara bersantap itu, Wirya mengamati Zikria yang tampak lesu. Wirya sudah mengetahui peristiwa yang terjadi di kantor PBK tadi siang, dan dia menduga bila hal itulah yang tengah dipikirkan Zikria.
Seusai makan, Zikria dan Asmiratih meminta waktu bicara dengan Wirya. Pria berkaus putih itu mengajak keduanya menuju ruang kerja yang berada di lantai dua.
Setelah duduk berdampingan di sofa panjang, Zikria menceritakan tentang peristiwa tadi siang hingga beberapa jam lalu, sebelum dia dan Asmiratih melamun di taman rumah sakit.
"Dia sebetulnya sakit apa?" tanya Wirya, ketika Zikria usai bercerita.
"Kata papanya, penyempitan pembuluh darah di otak," jelas Zikria.
"Sudah diobati?"
"Sudah. Januari kemarin, dia operasi kedua. Operasi pertama, pertengahan tahun lalu."
"Hmm, tadi sore aku nelepon Mardi. Dia bilang, Lova memang sempat absen di rapat PCE, dan semua proyek dialihkan ke dirops Padmana. Tapi, Mardi beneran nggak tahu kalau Lova operasi di Singapura."
"Memang dirahasiakan, Bang," tukas Zikria. "Jangankan Bang Mardi, Ibu kandungnya aja nggak tahu," lanjutnya.
Wirya mengerutkan dahi. "Kenapa dirahasiakan dari Bu Iffah?"
"Kata Bu Norma, supaya Bu Iffah nggak panik. Di sana, suaminya juga lagi sakit."
"Pak Jabir?"
"Hu um. Kena stroke, katanya."
Wirya mendengkus pelan. "Pantas saja, Lova temperamental. Dia pasti nahan sakit dari dulu."
"Tadi ada Agnia, dan dia bilang, Lova sudah sering ngeluh sakit kepala, sejak hampir 3 tahun lalu."
"Harusnya diperiksa sejak lama."
"Takut, katanya."
"Tapi, sekarang dia sudah beneran sembuh, kan?"
"Masih menunggu hasil observasi, Bang. Rencananya, awal Januari nanti dia mau kontrol lagi."
"Semoga beneran sembuh. Aku ngeri, ada yang bernasib sama dengan almarhumah Kak Iis."
Zikria manggut-manggut. "Ehm, Bang. Ini tentang proyek yang diputus sepihak sama Lova. Gimana?"
"Enggak apa-apa. Kita tetap tuntaskan sampai beres. Mengenai modalnya yang mau ditarik, lagi dihitung sama Zulfi dan Ari."
"Lalu, tentang pemutusan kontrak sekuriti. Aku jadi nggak enak hati. Tim PB pasti pusing mau nempatin mereka di mana? Hampir 100 orang itu."
"Tenang aja. Dimas dan tim-nya pasti menemukan solusi."
Zikria mendengkus pelan. "Aku nggak nyangka, bakal jadi kacau kayak gini."
"Ujian hidup, Zik. Jalani aja, sambil terus memperbaiki kualitas diri." Wirya memandangi pasangan yang sama-sama tampak kusut. "Sekarang, kalian pulang. Mandi. Salat. Lanjut tidur awal," cakapnya.
"Aku mau nginap di sini. Baju ganti sudah siap," terang Asmiratih.
"Aku juga mau nginap. Suntuk. Di rumah nggak ada teman ngobrol," imbuh Zikria.
"Hmm, Asmi tidur sama Ghazwa. Kamu isi kamar tamu yang dekat garasi, Zik," lontar Wirya. "Kalau kalian nginap bareng di lantai 1, nanti bakal jadi gosip. Walaupun kalian beda kamar," sambungnya, yang dibalas anggukan kedua juniornya.
Hai. Ketemu lagi dengan Emak OY. Kali ini, giliran Zikria yang naik panggung. Dukung terus Emak, dengan tambahkan buku ini ke rak pustaka. Baca runut, ya, supaya nggak ketinggalan info ^^
93Yao Scott memerhatikan para ajudan senior di sekelilingnya. Putra sulung keluarga Yao itu membatin, jika rekan-rekannya itu tidak ada yang tidak terluka. Semuanya menderita memar, bahkan ada yang luka cukup parah.Tatapan Yao Scott berhenti pada pasien di ranjang. Lelaki muda itu terlihat pucat kesi, seusai mengalami dua tusukan dalam di paha dan perutnya. Yao Scott membisikkan sesuatu pada Muyang, yang membalas dengan anggukan.Yao Scott mendekati sekelompok orang yang merupakan keluarga dan kerabat Herjuno. Yao Scott berdeham untuk menarik perhatian orang-orang tersebut, sebelum dia merunduk untuk memberi hormat, yang segera dicegah Mahesa."Aku memberi penghormatan pada kalian, sebagai ucapan terima kasih, sekaligus penyesalan terdalamku, hingga Herjuno terluka parah," tutur Yao Scott setelah menegakkan badannya."Tuan tidak perlu menghormat," sahut Mahesa dalam bahasa Inggris. "Adikku terluka, itu sudah takdirnya," lanjutnya. "Pakai bahasa Mandarin, Sa," goda Zulfi.Mahesa men
92 "Mas, bisa tolong obatin?" tanya Aditya, seusai melepaskan jaketnya.Fachri menyambangi Ajudan Selembe dan memeriksa luka di sepanjang lengan kanan pria tersebut. "Duduk dulu, Om," ucapnya, sembari berdiri dan memberikan kursinya "Kena apa ini?" desaknya sambil mengamati luka itu."Pedang pendek Ruan Haakon," terang Aditya."Aku bersihkan dulu. Tahan, ya. Agak perih." Dokter muda itu meraih botol alkohol dan gumpalan kapas, serta kasa. "Zid, tolong ambilkan obat luka," pintanya, sebelum memulai tugasnya. Aditya meringis menahan perih saat lukanya dibersihkan. Dia mengaduh ketika Fachri menekan area paling dalam dengan kasa, supaya bagian itu bisa dibersihkan secara maksimal.Bayazid mendekat sambil membawa cairan obat tradisional Tiongkok. Setelah Fachri mundur, Bayazid mengoleskan obat itu ke tangan Aditya, dengan hati-hati. "Bang, Ruan Haakon, di mana?" tanya Mahesa, yang baru meletakkan Ruan Eadwald ke kasur tipis."Kukunci di container belakang," jelas Aditya dengan santai.
91Suasana di sekitar area gudang Yao Company, di timur Kora Shanghai, dini hari itu sangat sunyi. Belasan petugas keamanan yang berjaga di sana, bergantian mengelilingi area sekitar dengan menggunakan motor listrik. Supaya bisa meminimalisir suara kendaraan saat bertugas.Detik bertukar menjadi menit. Ratusan pasang mata mengawasi layar besar di dalam gudang utama, yang menampilkan video dari empat penjuru area luar, sekaligus jalanan di sekitarnya. Tidak ada seorang pun yang urun suara. Mereka menghemat tenaga dan tetap diam, sambil sekali-sekali berbincang di grup pesan. Beberapa lampu kendaraan muncul dari sisi utara. Sebagian orang itu berdiri, lalu melemaskan tangan dan kaki. Sha Jun Hui memerintahkan anak buahnya untuk keluar dari pintu samping kiri. Sedangkan kelompok kedua pimpinan Yin Sueh-yn, keluar dari pintu kanan.Puluhan perempuan yang sejak tadi bersembunyi di sepanjang balkon lantai dua, mendengarkan arahan Zikria, melalui alat khusus di telinga masing-masing. Puspa
90Asmiratih dan Ferlita, memandangi puluhan orang berjaket biru tua yang tengah bergerak memasuki kereta api cepat. Kedua perempuan tersebut berdoa setulus hati, agar rekan-rekan mereka bisa selamat dan sanggup menuntaskan tugas dengan baik.Ferlita mengajak Asmiratih kembali ke mobil. Langkah mereka diikuti kedua kru film yang merupakan sahabat Zhu Hadwin, yang bertugas menjaga keselamatan Asmiratih serta Ferlita. Kereta api beranjak meninggalkan stasiun Kota Nanxun sesuai jadwal. Satu gerbong yang diborong tim PBK, menjadikan penumpang lain bertanya-tanya tentang identitas mereka. Sepanjang perjalanan itu, Zikria tidur. Dia mencuri waktu istirahat, untuk merecharge tenaga. Guna bersiap-siap menghadapi pertempuran di titik tujuan.Setibanya di stasiun Shanghai, rombongan PBK dijemput Li Fengjun yang memang bertugas di sana. Koko tertua Li Mye Na tersebut mengajak mereka menaiki bus Hotel CJC, lalu dia menerangkan pada Zikria, tentang kesiapan anggota mereka di lokasi. Li Fengjun j
89Lova terhenyak dan tidak langsung menyahut. Dia menduga jika Aiden mendengar berita itu dari Reksa atau Dodi, karena hanya kedua pria itu yang pernah melihat foto Rizqan. "Ehm, maksudnya, Mas Rizqan, ya?" Lova balik bertanya. "Aku nggak tahu namanya, tapi kata Dodi, dia owner hotel di Yunani. Betul?" desak Aiden.Lova mengangguk mengiakan. "Itu benar, dan dia memang pacarku." Raut wajah Aiden seketika berubah muram. "Berarti, nggak ada kesempatan buatku." "Apa?" Aiden menatap perempuan di tepi kiri itu dengan saksama. "Aku suka kamu." Lova mengerjapkan matanya, karena sangat kaget dengan pernyataan pria berkemeja hitam motif garis-garis putih tersebut. "Ehm, sorry, aku nggak tahu." Aiden menggeleng pelan. "Enggak apa-apa. Aku memang telat ngomong ke kamu." "Boleh, aku tahu? Sejak kapan Mas suka sama aku?" "Lama banget. Kayaknya setahunan." "Kenapa nggak bilang?" "Aku nggak enak sama Reksa. Dia pernah bilang lagi naksir kamu. Jadinya aku diam aja." Lova tercenung sesaat.
88*Grup GUNZ Indonesia*Andri : @Satya, Daebak! Harzan : Baru kali ini, orang ngajuin proposal, belum dibaca isinya, tapi langsung disetujui presdir kita.Haryono : Kenapa aku endak kepikiran, gitu, ya? Benigno : Aku bingung. Antara mau muji Satya, atau W. Mereka sama-sama sarap. Kimora : Ayah Kiddos memang the best! Andara : Aku padamu, @Abang ipar. Puspa : Aku mau muji Satya aja. Keren bingits! Dahlia : @Satya, luar biasa! Namira : Tembak langsung ke Ayah W. No basa basi. Mantap! Fatma : Aku salut sama dua-duanya. Lova : Ada apa ini? Aku baru lihat chat. Divija : Bang Satya ngajuin proposal bayangan ke Ayah W. Belum dibaca, tapi langsung disetujui, @Kak Lova. Lova : MasyaAllah. Hebat banget!Dimas : Aku mau gitu juga, deh. Dilara : @Abang kesayangan. Aku ngajuin proposal pake telepati. Agnia : @Kak Dilara, tiap muncul, pasti bikin ngikik.Arista : @Abang selingkuhan. Aku ajuin proposal lewat jalur orang dalam. Alias nyodorin ke Mamados. Rinjani : @Engkoh Kekasihku. Ya
07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah m
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita d
03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang mas







