Share

Bab 05

Penulis: Olivia Yoyet
last update Tanggal publikasi: 2026-06-01 11:41:49

05

Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.

Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. Terutama setelah berhadapan dengan Shaka, dan istrinya, Norma, serta Lova Restisalya Hanasta Padmana. Zikria menelan ludah sembari menenangkan degup jantungnya yang menggila. Kemudian dia menerangkan maksud kedatangannya dengan hati-hati. 

Raut wajah Shaka yang berubah masam, menjadikan kegugupan Zikria bertambah. Namun, dia menguatkan diri guna menuntaskan penuturannya. 

"Saya tidak menyangka, jika kamu berniat mempermainkan putri saya!" desis Shaka. 

"Mohon maaf, Pak. Tapi, aku sama sekali berniat begitu," kilah Zikria. 

"Kalau kamu sudah punya calon istri, kenapa melamar Lova?" 

"Seperti yang tadi kujelaskan, Pak. Calon istriku awalnya menolak. Lalu, aku didesak keluarga untuk segera nikah. Jadi aku mendekati Lova dan memintanya untuk jadi istri. Tapi, ternyata, Asmi berubah pikiran, dan aku ...." 

"Abang jahat!" geram Lova sambil memelototi pria yang sejak dulu disukainya. "Abang sudah memintaku, harusnya jangan balik lagi ke Asmi!" sungutnya.

"Abang pikir, aku boneka? Nggak punya perasaan dan bisa dipermainkan seenaknya?" desak Lova sembari menguatkan dirinya untuk tidak menangis. 

"Va, aku benar-benar minta maaf. Sumpah demi apa pun, aku nggak pernah berniat mempermainkanmu," bantah Zikria. "Tapi, ini soal hati. Aku ... masih menyimpan rasa buat Asmi, dan dia pun sama," akunya. 

"Lalu, perasaanku, gimana?" Lova membeliakkan matanya. "Abang egois!" sentaknya. 

"Ya, aku memang egois. Harusnya dulu aku nggak langsung memintamu buat jadi istri, dan kamu nggak akan kecewa sama aku." 

"Aku bukan kecewa lagi, Bang, tapi sakit hati!" 

"Maaf, Va. Aku jelas salah dan mohon ampun." Zikria mengatupkan kedua tangannya di depan dada. 

"Enak banget, dikata bisa beres dengan minta maaf! Abang tahu, nggak? Papa dan Mama sudah ngumumin tentang ini ke keluarga. Mau ditaruh di mana muka kami?" Lova menggebrak meja. "Jawab!" pekiknya.

"Aku bersedia menemui keluarga besar kalian dan meminta maaf pada mereka," cetus Zikria. 

Lova melengos. "Aku benar-benar sakit hati. Jangan salahkan aku, kalau kalian bakal hidup menderita!" 

Zikria terhenyak. "Tenangkan dirimu, Va. Ucapan buruk akan berbalik. Begitu juga dengan ucapan baik." 

"Jangan menasehatiku! Kamu aja munafik!"  

Zikria hendak membantah, tetapi Lova telanjur berdiri dan berpindah ke dekat pintu. Gadis berambut sebahu itu menunjuk keluar sambil menggerakkan dagunya ke kanan.

"Pergi! Dan jangan pernah ganggu aku lagi!" titah Lova. 

Zikria tertegun sesaat, lalu dia berdiri. "Sekali lagi, Pak, Bu, aku memohon maaf dengan setulus hati," ucapnya sembari memandangi pasangan tua di kursi seberang. 

Shaka dan Norma tetap diam. Keduanya justru berdiri dan jalan memasuki area dalam. Zikria sempat termangu, sebelum tangan kanannya ditarik Zulfan yang mengajaknya untuk segera keluar.

Kedua pria itu jalan ke pintu. Zikria menatap Lova yang balas mendeliknya tajam. Zikria tidak jadi mengucapkan sesuatu dan mengikuti langkah ajudannya ke teras. 

Bunyi pintu yang dibanting keras, menjadikan Zikria mengeluh dalam hati. Dia sudah mengira reaksi Lova akan seperti itu, dan Zikria akan menerima konsekuensinya.

*** 

Hari berganti. Gedung kantor belasan lantai itu dihebohkan dengan hengkangnya Lova dari PCE, alias Perusahaan Cabang Empat, kumpulan pebisnis muda Indonesia yang berjumlah 100 orang. Kantor PCE yang berada di lantai 8 gedung PBK, terlihat dikerubuti banyak anggotanya yang juga berkantor di gedung yang sama.

Lova berpamitan pada Mardi Fardhani, direktur PCE, yang juga merupakan anggota tim pengawal lapis dua PBK, yang diberi julukan Power Rangers. Lova telah menerangkan alasannya untuk keluar dari perkumpulan itu, sekaligus menarik sahamnya dari belasan proyek yang diikuti Padmana Company. 

Mardi berusaha membujuk Lova guna membatalkan niatnya. Namun, gadis berbaju kuning muda itu tetap bersikeras dengan keinginannya. 

Lova berpamitan pada rekan-rekannya sesama anggota PCE. Kemudian dia memasuki lift bersama kedua perempuan lainnya. 

Mereka keluar di lantai 3 dan langsung menyambangi Lazuardi, sang direktur utama PBK, di ruang kerjanya. 

Lova menjelaskan keinginannya untuk tidak lagi memakai jasa pengawal, sekaligus tidak memperpanjang kontrak dengan sekuriti PB, yang berada dalam 1 panji grup dengan PBK. 

Lazuardi memandangi perempuan berambut sebahu di kursi seberang. Mata Lova yang sembap membuat Lazuardi prihatin. Terutama, karena dia tahu penyebab gadis itu menangis dan memutuskan seluruh kerjasama, dengan semua hal yang berkaitan dengan Zikria. 

"Aku paham, suasana hatimu sedang tidak baik, Va," ujar Lazuardi. "Aku juga ngerti, kenapa kamu memutus semua hal yang berhubungan dengan kami," lanjutnya.

"Aku nggak punya hak buat ikut campur, tapi, aku cuma mau ngasih saran. Ini tentang keputusanmu keluar dari PCE. Ditunda dulu, Va," bujuk Lazuardi. 

"Aku sebetulnya sudah berencana tentang itu sejak lama, Bang," ungkap Lova. "Perusahaan kami hanya skala nasional dengan modal yang terbatas. Kami nggak bisa ikut ritme cepat tim PCE, dan bisa menghambat langkah teman-teman di grup 1," sambungnya. 

"Aku sebetulnya tahu alasan utamamu mundur. Zikria sudah cerita, tadi pagi." 

Lova mendengkus. "Tolong, jangan sebut dia di depanku." 

"Ehm, sorry." 

Lova berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Aku pamit, Bang," ucapnya, sembari bersalaman dengan pria bermata besar. 

"Hati-hati, Va. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan buat telepon aku," pungkas Lazuardi, sebelum menarik tangannya. 

Lova berbalik dan jalan ke pintu. Kala benda itu terbuka dan sepasang manusia muncul, Lova sontak berhenti. Ketiganya saling menatap, sebelum Asmiratih maju seraya menyunggingkan senyuman. 

"Apa kabar, Kak?" tanya Asmiratih dengan ramah. 

"Baik," jawab Lova singkat.

"Ada waktu? Kita perlu bicara." 

"Enggak ada. Aku ditunggu di kantor." 

"Sebentar saja, Kak." 

Lova menggeleng. "Permisi, aku buru-buru." 

Lova bergeser ke kiri dan melangkah melewati Asmiratih yang masih bergeming. Lova mengabaikan Zikria yang berdiri di dekat pintu, dan bergegas keluar guna menyambangi kedua rekannya yang telah menunggu di dekat lift. 

"Va, sebentar." Zikria menyejajari langkah gadis bertubuh tinggi itu. 

Lova memelototi pria yang terpaksa membuatnya berhenti melangkah. "Jangan halangi aku!" tegasnya. 

"Aku cuma mau bilang, terima kasih atas waktumu selama sebulan ini," tukas Zikria. 

"Buat apa terima kasih? Kamu cuma buang waktuku! Bohongin aku! Mainin aku! Brengsek!" umpat Lova. 

Satu tamparan mendarat keras di pipi kiri Zikria. Dia terkejut, tetapi tetap diam dan hanya memandangi perempuan di hadapan, yang masih memelototinya. 

Zikria terkesiap kala tubuh Lova mendadak oleng. Dia cepat-cepat menangkap badan Lova, sebelum gadis itu terkulai dan nyaris jatuh menghantam lantai. 

Asmiratih membantu memegangi Lova, yang hendak diangkat Zikria. Pria itu jalan secepat mungkin sambil menggendong Lova, guna memasuki ruang kerja Lazuardi dan membaringkan gadis itu ke sofa panjang. 

Lazuardi menelepon Zhao Yìchen, tabib andalan PBK, untuk segera datang. Sementara Asmiratih dan kedua rekan Lova berusaha menyadarkan gadis itu, yang tengah pingsan. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 07

    07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah memporak-porandakan hatinya. "Bang W pasti mau bujuk Papa, supaya tetap gabung di PCE," celetuk Lova, yang seketika dipandangi ketiga orang tersebut. "Enggak," kilah Zikria. "Bang W mau nawarin bisnis di luar proyek bos," lanjutnya. "Proyek dari mana?" "RQA dan Vong." Lova terpegun. "Bang Rangga dan Koko Myron?" "Ya. Mereka punya proyek resor baru di Lombok." "Tumben nggak ngegaet dari kumpulan para bos?" "Kata Bang W, ini proyeknya pribadi, bareng adik-adiknya. Dia mau ngasih kesempatan buat perusahaan skala nasional aja, khusus buat proyek ini." Lova mengalihkan pandangan ke Shaka. "Papa mau ambil?" tanyanya. "Belum tahu. Papa mesti pikir-pikir dulu," jelas pria tua yang mengenaka

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 06

    06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang dilakukan di salah satu rumah sakit swasta terkenal di Singapura, awal tahun ialu. Perempuan berhidung bangir itu melirik Zikria yang berada di samping kiri. Dia berulang kali mendengar ucapan maaf lelaki tersebut, yang ditujukan pada Lova dan keluarga Padmana. Asmiratih mengarahkan pandangan ke depan. Lambaian dedaunan yang tertiup pohon itu seakan-akan menghipnotisnya, dan membuat Asmiratih terus memandangi daun yang tertiup angin. "Dek, kita pulang," ajak Zikria yang sukses memutus lamunan gadis di sebelah kanannya. Asmiratih tidak menjawab dan hanya mengangguk. Keduanya berdiri, lalu jalan menyusuri lorong panjang rumah sakit, di mana Lova dilarikan ke sana tadi siang, dan tengah mend

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 05

    05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. Terutama setelah berhadapan dengan Shaka, dan istrinya, Norma, serta Lova Restisalya Hanasta Padmana. Zikria menelan ludah sembari menenangkan degup jantungnya yang menggila. Kemudian dia menerangkan maksud kedatangannya dengan hati-hati. Raut wajah Shaka yang berubah masam, menjadikan kegugupan Zikria bertambah. Namun, dia menguatkan diri guna menuntaskan penuturannya. "Saya tidak menyangka, jika kamu berniat mempermainkan putri saya!" desis Shaka. "Mohon maaf, Pak. Tapi, aku sama sekali berniat begitu," kilah Zikria. "Kalau kamu sudah punya calon istri, kenapa melamar Lova?" "Seperti yang tadi kujelaskan, Pak. Calon istriku awalnya menolak. Lalu, aku didesak keluarga untuk segera nikah

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 04

    04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita di kursi kanan, yang menanggapinya dengan anggukan. Wirya turut menerangkan keputusan Aditya pada istrinya. Vanetta nyaris bersorak, sebelum menenangkan diri dan tetap memasang raut wajah serius. "Sekarang sudah tengah malam. Orang tua kita pasti sudah tidur," cakap Aditya sembari memandangi pasangan di kursi seberang. "Besok subuh, aku telepon Ayah buat berdiskusi dengan beliau. Kalau beliau oke, kita laksanakan keinginan kalian. Tapi kalau nggak oke, tunggu kita nyampe sana, lalu lamaran resmi langsung dilakukan, akhir pekan depan," lanjutnya. "Ya, Bang. Aku paham," jawab Zikria."Kalian bikin aku kaget. Bubar nggak jelas, lalu tiba-tiba balikan dan mutusin buat tunangan." Zikria mengul

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 03

    03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang masih menguasai hatinya.."Aku cinta sama Abang," ucap Asmiratih dengan suara serak. Zikria bergeming. Hatinya terbelah, antara senang dengan pengakuan Asmiratih, dan tetap teguh pada pendiriannya, yang telanjur memberi harapan pada Lova. Zikria terbayang wajah Lova dan itu membuatnya tersadar. Dia mengurai dekapan dan memaksa menggeser kedua tangan Asmiratih, hingga tubuh mereka sedikit berjauhan. "Aku sudah janji pada diri, untuk mencari perempuan lain yang mau menerimaku apa adanya, dan siap menikah dalam waktu dekat," ujar Zikria. "Aku sudah menerangkan itu pada Lova, dan dia mau menerimaku, tanpa syarat apa pun," lanjutnya yang mengagetkan Asmiratih. "Jujur, aku sangat kecewa, setelah

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 02

    02Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady. Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang mereka, yang hendak dikirimkan ke Indonesia. Mereka keluar dari apartemen dan berpindah ke hotel CJC, guna menunggu kedatangan rombongan Indonesia. Liu Jasver Emery, Adik Vanetta, Sabtu nanti akan menikah dengan Wang Patricia, putri kedua Wang Magen, salah satu pengusaha yang cukup terkenal di Shanghai. Asmiratih dan Ferlita, berteman akrab dengan Wang Patricia, yang merupakan pemilik spa langganan kedua gadis tersebut. Sebab itu, Wang Patricia meminta kedua perempuan bersaudara itu untuk menjadi pengiring pengantinnya. Sore itu, rombongan Indonesia akhirnya tiba. Mereka diarahkan petugas hotel untuk menuju restoran terbesar di sisi kanan bangunan, di mana keluarga besar Liu, Cheung, Zheung, V

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status