Share

BAB 89

Penulis: Avelynne
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 19:33:21

Tenggorokanku kering kerontang.

Aku terbangun dengan napas tersengal pelan di tengah kegelapan kamar utama. Jam digital di nakas menunjukkan pukul tiga pagi.

Di sampingku, sisi kasur terasa dingin.

Arjuna tidak ada.

Aku meraba sprei yang kusut, sisa dari "perang" kami beberapa jam yang lalu. Rasa nyeri di tubuhku masih terasa, menjadi pengingat bisu akan intensitas penyatuan kami yang didorong oleh amarah dan keputusasaan.

"Mas?" panggilku lirih.

Tidak ada jawaban.

Rasa haus yang mencekik memak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 165

    Arjuna tidak membiarkanku menyelesaikan bersih-bersih.Dia keluar lagi dari kamarnya hanya selang beberapa menit setelah masuk, seolah dinding kamarnya sendiri menolaknya. Wajahnya masih gelap, rahangnya masih mengeras menahan amarah yang tidak tersalurkan pada Luna.Tanpa kata, dia berjalan cepat melintasi ruang tengah yang berantakan, mencengkeram pergelangan tanganku yang sedang memunguti kaleng bir kosong."Tinggalkan itu," perintahnya kasar. "Biarkan pelayan yang urus besok.""Tapi Mas, baunya...""Saya bilang tinggalkan!"Dia menarikku. Langkahnya lebar dan menuntut, membawaku masuk ke dalam kamar utama—benteng pertahanannya, satu-satunya tempat di mana dia merasa memegang kendali penuh.BLAM.Pintu kamar ditutup dan dikunci. Suara bising sisa pesta—atau mungkin hanya gema tawa mengejek Luna di kepalaku—terputus seketika.Hening.Namun hening ini tidak damai. Hening ini padat, sarat dengan frustrasi yang menyesakkan.Arjuna melepaskan tanganku. Dia tidak berjalan ke arah walk-in

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 164

    DUM. DUM. DUM.Getaran bass dari musik EDM yang diputar dengan volume maksimal merambat melalui lantai marmer, menembus dinding, dan menggetarkan rangka tempat tidurku.Jam digital di nakas menunjukkan pukul sebelas malam.Seharusnya aku istirahat. Dokter bilang aku harus bedrest. Dokter bilang aku tidak boleh stres.Tapi bagaimana mungkin aku bisa istirahat jika rumahku sendiri berubah menjadi diskotik liar?Aku meringkuk di balik selimut tebal, mencoba menutupi telinga dengan bantal. Namun, bukan suara musik yang paling menyiksaku.Asap.Bau tembakau murah, ganja sintetik, dan uap vape yang manis-menjijikkan bercampur menjadi satu racun udara yang mematikan.Aku terbatuk pelan, perutku mual seketika."Nggak bisa dibiarin," desisku, menyingkap selimut dengan kasar.Naluri keibuan—yang baru kutemukan hari ini—mengalahkan rasa takutku pada Luna. Aku tidak peduli jika dia membenciku. Tapi aku tidak akan membiarkan dia meracuni anakku.Aku membuka pintu kamar.Suara musik langsung mengha

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 163

    Taksi online tua itu berhenti di depan sebuah ruko berlantai dua di pinggiran Jakarta Timur.Cat temboknya yang berwarna putih sudah mulai mengelupas, dan plang nama "Klinik Kandungan Sejahtera" terlihat kusam terkena debu jalanan.Ini jauh dari standar fasilitas kesehatan yang biasa didatangi keluarga Diwangsa. Tidak ada lobi marmer, no antrean VVIP, dan tidak ada aroma lemongrass.Tapi justru itu yang kucari.Aku mengeratkan masker medis yang menutupi separuh wajahku. Menarik topi baseball hitam lebih rendah hingga menutupi mata, lalu mengenakan kacamata hitam besar.Penyamaran yang klise, tapi efektif. Di sini, tidak akan ada yang mengenaliku sebagai Nyonya Diwangsa. Di sini, aku hanyalah pasien nomor antrean 15 yang bernama samaran "Lia".Aku turun dari taksi, melangkah cepat masuk ke dalam ruang tunggu yang sempit dan ramai.Ibu-ibu hamil dengan perut buncit duduk berjejer di kursi plastik, mengipas-ngipas diri karena AC yang kurang dingin. Suara tangisan bayi dan obrolan riuh me

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 162

    Pagi di Penthouse biasanya diawali dengan aroma kopi arabica yang kuat dan menenangkan.Dulu, aku menyukainya. Aroma itu identik dengan Arjuna, dengan kemewahan, dengan awal hari yang baru.Namun pagi ini, aroma itu terasa seperti racun.Aku duduk di kursi meja makan, tubuhku kaku. Keringat dingin mulai merembes di punggungku, membasahi daster katun tipis yang kupakai.Di ujung meja, Arjuna duduk dengan postur tegak yang biasa. Dia mengenakan kemeja biru muda yang licin, dasi navy terikat sempurna.Tangannya memegang tablet, matanya bergerak cepat membaca pergerakan saham gabungan pagi ini. Dia terlihat tenang, berwibawa, dan tidak terjangkau.Di seberangku, Luna duduk sambil memegang mangkuk sereal. Dia mengenakan piyama satin pink, rambutnya masih sedikit berantakan tapi make-up tipis sudah menutupi jejak mabuknya semalam.Dia mengunyah dengan suara kriuk yang entah kenapa terdengar sangat nyaring dan mengganggu di telingaku."Mbak Alea, ini sarapannya."Suara Mbok Nah membuatku ter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 161

    Tanganku gemetar hebat, nyaris menjatuhkan benda plastik putih kecil yang kini memegang vonis masa depanku.Dua garis merah itu masih menyala terang di bawah lampu kamar mandi, seolah mengejek kepanikanku.Aku tidak boleh membiarkan benda ini ditemukan. Jika pelayan menemukannya di tempat sampah kamar mandi, beritanya akan sampai ke telinga Arjuna. Jika Arjuna menemukannya, aku akan dikurung selamanya.Dan jika Luna menemukannya...Imajinasiku langsung melompat ke skenario terburuk. Luna yang histeris.Luna yang merasa terancam. Luna yang menyadari bahwa posisinya sebagai pewaris tunggal kerajaan Diwangsa sedang ditantang oleh benih yang tumbuh di rahim musuhnya.Darah lebih kental dari sperma, katanya. Tapi bagaimana jika sperma itu tumbuh menjadi darah daging baru?"Sembunyikan... harus sembunyi..." gumamku pada diri sendiri, napasku pendek-pendek.Aku menyambar gulungan tisu toilet. Aku melilitkan tisu tebal itu berlapis-lapis ke batang test pack, membungkusnya hingga bentuk asliny

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 160

    Pintu kamar mandi masih terkunci rapat.Aku duduk di lantai dingin, memeluk lututku yang gemetar sisa pertengkaran hebat dengan Arjuna tadi.Suara pintu yang dibanting Arjuna masih terngiang di telinga, tapi kini suara itu tertutup oleh dengungan lain di kepalaku.Dengungan pening yang membuat pandanganku berputar.Aku mencoba berdiri, berpegangan pada pinggiran wastafel marmer.Aroma reed diffuser berwangi ylang-ylang dan sandalwood yang biasanya menenangkan, tiba-tiba menusuk hidungku. Baunya terasa tajam, manis, dan... menjijikkan.Rasanya seperti mencium parfum yang disemprotkan ke daging busuk."Huek!"Perutku berkontraksi hebat. Tanpa peringatan, isi lambungku mendesak naik.Aku membungkuk di atas wastafel, memuntahkan cairan bening dan sisa makan malam yang sedikit. Tenggorokanku perih terbakar asam lambung."Hah... hah..."Aku menyalakan keran air, membasuh wajah dan mulutku dengan kasar.Apa ini? Masuk angin? Stres?Atau mungkin efek samping dari ketegangan konstan menghadapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status