เข้าสู่ระบบZahwa tersentak. Ia segera menyembunyikan ponselnya di balik punggung.
"E... Enggak kok, enggak ada apa-apa." Devan melangkahkan kakinya mendekati Zahwa. Ia menarik paksa tangan Zahwa, merebut ponsel dari genggamannya sebelum Zahwa sempat mengunci layar. Mata kehitaman Devan menyapu layar ponsel Zahwa, membaca rentetan pesan dari Ibnu. Hening sejenak. Devan mengembalikkan ponsel itu pada Zahwa. "Sebenarnya untuk apa Abimu meminta uang seratus juta? Apa benar untuk yayasan amal atau ada sesuatu yang disembunyikan?" "Lebih baik kamu jangan menuruti permintaan Abimu terus menerus. Aku memang punya uang, tapi suatu saat nanti belum tentu bisa terus memberi keluargamu uang." "Aku nggak minta padamu, Mas." Zahwa akhirnya berkata dengan suara bergetar. "Aku sedang mencari jalan keluar sendiri. Aku nggak pernah bermaksud melibatkanmu dalam urusan keluargaku." "Mencari jalan keluar sendiri?" Devan maju selangkah, mengurung Zahwa di antara tubuhnya dan meja ruang tengah. "Dengan cara meminjam ke teman-temanmu? Apa kamu gak ada cara lain selain mempermalukan dirimu seperti itu?" Zahwa menunduk, tak mampu membalas ucapan Devan. Devan melihat puncak kepala Zahwa dengan perasaan jengkel. Baginya, sang istri terlalu menurut pada keluarganya yang seperti parasit. Ia merogoh ponsel lalu mengetik nominal seratus juta di laman m-banking miliknya. Tak lama, notif uang masuk berbunyi di ponsel Zahwa. "Aku sudah mengirim uang seratus juta ke rekeningmu. Katakan pada Abimu, ini terakhir kalinya beliau meminta. Untuk selanjutnya, aku nggak akan mentolerir," ucap Devan dengan dingin. Lalu berbalik menuju pintu. "Aku akan mengembalikan uangnya sesegera mungkin," kata Zahwa yang membuat langkah Devan terhenti. "Jangan bercanda," Devan membalikkan badannya. "Ikuti aja apa kata suamimu, Zahwa." Devan berbalik pergi dan pintu depan kembali berdentum. Zahwa kembali terduduk di atas sofa dengan tubuh lemas. Tangannya gemetar saat ia mengirim uang ke rekening yayasan amal milik Abinya. Setelah itu, ia menatap layar ponsel dengan pandangan kabur. Begitu notifikasi "Transfer Berhasil" muncul, ia segera mengirim bukti transfer pada Ibnu kemudian melempar ponsel itu ke ujung sofa. Ia merasa beban di pundaknya terhadap Devan kini terasa berlipat. "Seratus juta," bisik Zahwa parau. "Aku harus mengembalikannya. Aku nggak boleh berhutang lebih banyak lagi padanya." Zahwa mulai menghitung dalam kepalanya. Mengandalkan sisa tabungan dan menjual beberapa barang pribadi mungkin bisa mengumpulkan setengahnya, tapi sisanya? Ia harus memikirkan cara mendapatkan uang lagi untuk membayar setengahnya. Saat ia sedang tertunduk dengan kepala di tumpuan tangan, matanya menangkap sebuah benda kecil di bawah meja. Zahwa berlutut, merogoh kolong meja itu, dan jemarinya menyentuh benda keras berbentuk persegi panjang. Itu adalah sebuah Flashdisk dengan gantungan kunci kulit berinisial D. Jantung Zahwa berdegup kencang. Ia teringat raut wajah Devan saat masuk ke rumah tadi, pria itu tampak gelisah dan terburu-buru mencari sesuatu di bawah meja. Zahwa tahu betul isi flashdisk itu adalah drive yang berisi rancangan maket proyek besar yang sempat Devan keluhkan beberapa hari lalu. "Rupanya dia mencari ini," gumamnya. Ia teringat ucapan Devan tadi, "Aku nggak pulang malam ini... ada proyek di luar kota bersama tim... dan Valerie." Zahwa segera bangkit, menyambar kerudung, dan kunci motor matic yang terparkir di belakang. Ia harus menyerahkan flashdisk itu pada Devan sebelum suaminya itu pergi ke luar kota. Sesampainya di lobi biro arsitek milik Devan, Zahwa mengedarkan pandangan ke segala arah, deretan sekat kaca dan lorong-lorong panjang itu membuatnya pening. Ini adalah kali pertama baginya masuk ke kantor Devan. Ia tidak tahu harus melangkah ke mana. "Ada yang bisa dibantu? Sedang mencari siapa?" Seorang pria muda yang mengenakan id card karyawan, memperhatikan Zahwa dengan dahi berkerut. Zahwa tersentak kecil. "Ah, iya. Saya mencari Pak Devan. Apa beliau masih ada di sini?" Karyawan itu tampak menimbang-nimbang sejenak. "Pak Devan? Beliau ada di ruangannya di lantai dua, sedang bersiap-siap untuk berangkat ke luar kota. Tapi biasanya beliau nggak menerima tamu tanpa janji temu. Apa Mbak klien beliau?" "Saya..." Zahwa menjeda kalimatnya. Ia teringat bahwa Devan mewanti-wantinya untuk tidak memberitahu statusnya pada orang-orang. "Saya hanya ingin mengantarkan barang penting milik beliau yang tertinggal. Ini sangat mendesak." "Oh, begitu. Kalau gitu, mari, saya antar ke arah lift. Mbak naik ke lantai dua, lalu belok kanan. Ruangan Pak Devan ada di ruangan paling ujung dengan pintu kayu besar. Ada papan namanya di sana." "Terima kasih banyak," ucap Zahwa sebelum melangkah menuju lift. Setibanya di lantai dua, ia langsung menyusuri lorong sesuai petunjuk, hingga matanya menangkap sebuah pintu kayu besar dengan plat kuningan bertuliskan nama lengkap Devan. langkahnya terhenti tepat di depan pintu itu yang ternyata sedikit terbuka. Suara tawa bariton dari seorang pria yang Zahwa kenali terdengar jelas dari dalam. Itu adalah suara Alex, teman baik Devan yang pernah bertemu sekali dengan Zahwa saat berkunjung ke rumah. "Udahlah, Dev. Jangan terlalu tegang. Kalau flashdisk itu benar-benar hilang, suruh aja asistenmu buat ulang sketsanya," ucap Alex, disusul suara denting gelas. "Lagian keberuntunganmu itu selalu ada di Valerie, bukan di barang-barang kecil begitu." Zahwa membeku. Ia bisa melihat bayangan mereka dari celah pintu. Devan berdiri membelakangi pintu, sementara di sofa ruangan itu, Alex duduk santai bersama Valerie yang tampak memukau dengan gaun chic berwarna krem. "Sepertinya keberuntunganku mulai terhambat setelah aku menikah." Alex tertawa lagi. "Itulah yang aku bilang dari awal. Kalau saja kamu nggak kejebak oleh drama pemerkosaan di pinggir jalan itu, mungkin sekarang kamu udah sah menikah sama Valerie." "Kita juga nggak perlu main kucing-kucingan begini sama media. Gara-gara perempuan itu, hidupmu jadi ribet, Kan?”Zahwa terperanjat pelan. Rona merah seketika merayap cepat memenuhi kedua pipinya hingga menjalar ke ujung telinga. Desir hangat dan perasaan membuncah menghantam dadanya, merasa dimanjakan oleh kecemburuan manis dari suaminya."Mas Devan... apaan sih, malu dilihat orang," bisik Zahwa seraya menepuk pelan dada Devan.Devan terkekeh rendah. Ia mendaratkan satu kecupan singkat di kening Zahwa sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya."Yuk... kita makan dulu, takutnya kamu nanti keburu pingsan karena belum makan apa-apa sejak tadi pagi.""Mas Devan... ih!"Devan terkekeh pelan, lalu mengajak Zahwa menuju ke meja prasmanan.***Empat tahun kemudian.Pagi itu berjalan seperti biasanya. Bedanya, Zahwa kini hidupnya terasa makin lengkap dan rumahnya terdengar makin semarak dengan adanya derap langkah kaki kecil yang kini meramaikan setiap sudut rumah.Di ruang tengah, Zayyan yang kini sudah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia empat tahun tampak begitu aktif. Wajahnya makin tampan, m
Pagi hari di kediaman, tepatnya di hari ketujuh Zayyan lahir, Devan dan Zahwa melaksanakan syukuran. Halaman rumah telah dihiasi dekorasi bernuansa pastel dan putih.Seluruh keluarga besar dan tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan. Irfan dan Debby menyambut para tamu dengan ramah, tak henti-hentinya menerima ucapan selamat atas kelahiran cucu pertama mereka.Lia hadir bersama Lusi sedang di samping mereka, Hilda menggandeng tangan Zio yang begitu aktif dan menggemaskan. Zio tampak penasaran melihat boks bayi tempat Zayyan terbaring mengenakan pakaian berwarna putih."Bajunya lucu banget, Mbak Zahwa," puji Hilda lalu menunduk ke arah anaknya. "Zio, lihat nih Dik Zayyan... nanti kalau udah besar bisa main bareng Zio ya."Tak lama kemudian, Kinara dan Alex datang. Mereka datang bersama Kania serta Alea yang membawakan kado besar untuk Zayyan."Selamat ya, Zahwa, Devan..." sapa Kania ramah seraya memeluk Zahwa. "Tante senang banget lihat kamu sudah sehat begini.""Terima
Setelah sesi menyusui pertama selesai, Zayyan yang sudah kenyang perlahan tertidur di dada Zahwa. Napasnya teratur dan tenang. Dengan kehati-hatian, perawat membantu memindahkan Zayyan kembali ke tempat tidur observasi sementara sebelum persiapan kepindahan sore nanti.Siang harinya, Devan akhirnya pamit untuk menuju ke kantor sebentar guna menyelesaikan urusan penandatanganan berkas yang sempat tertunda."Aku berangkat dulu ya, Sayang." Devan merengkuh tubuh Zahwa yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan. "Nanti sore aku balik sebelum Zayyan dipindahkan ke kamar.""Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut," pesan Zahwa seraya mencium tangan suaminya.Tepat pukul empat sore. Rombongan perawat masuk, mendorong sebuah boks bayi yang di dalamnya terbaring Zayyan Dewangga Sakti, terbungkus bedong kain biru langit."Selamat sore Bu Zahwa... Baby Zayyan sudah siap untuk rooming-in bersama Mama," tutur suster.Mbok Minah langsung menyambut dan menggendong Baby Zayyan. Setelah
"Makasih, Hilda. Makasih udah diingatkan," tutur Zahwa, mencoba mengukir senyum kembali di wajahnya."Sama-sama, Mbak.""Zahwa, kita jalan dulu ya, mau langsung mampir ke rumah sakit tempat Sherly dirawat untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Tante Lia."Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana," balas Zahwa.Mbok Minah pun mengantar keluarga Tante Lina sampai ke depan pintu.Malam harinya, sekitar pukul delapan, Devan kembali datang, masih mengenakan kemeja kerjanya yang bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, namun seketika kembali berbinar begitu melihat istrinya sedang duduk bersandar."Assalamu'alaikum..." "Wa'alaikumsalam..."Devan segera membasuh wajah dan mencuci tangannya di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, ia langsung mengecup dahi Zahwa."Maaf ya, Sayang... aku agak malam baliknya. Tadi ada diskusi tambahan sama tim di kantor," tutur Devan parau. "Gimana kondisimu malam ini? Ada yang kerasa sakit gak?"
Tante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu."Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. "Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti.""Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah."Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby
"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" "Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa...""Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?""Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami.""Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat
[Aku minta maaf kalau harus kirim ini, tapi foto ini mulai ramai di media sosial. Bukannya ini suamimu, si Devan?]Zahwa menatap nanar isi pesan yang dikirim oleh sahabatnya, Kinara. Ia menggeser layar ke bawah dan membaca judul dari tautan berita yang terlampir: "Arsitek Muda, Devan Buana Sakti,
"Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?" Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara."Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima."Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya
Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund
Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman







