Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berada di sisi Devan seperti sekarang sudah lebih dari cukup. Aku senang bisa mendukungnya, meski tanpa status resmi di atas kertas.""Aku nggak butuh pengakuan publik kalau nyatanya Devan hanya milikku seorang.""Dengar itu, Dev? Valerie itu malaikat," timpal Alex. "Beda jauh sama istrimu yang cuma tahu cara menghabiskan uang dan bikin malu keluarga."Zahwa memejamkan mata erat-erat. Air matanya mendesak ingin keluar. Ucapan di dalam memang benar membuatnya marah, namun dia tidak ingin menjadi pengecut. Ia akan menyerahkan flashdisk itu secara langsung sebelum pulang.Zahwa mengusap pipinya, menegakkan bahu, lalu mengetuk pintu itu dengan keras.Suara percakapan di dalam seketika senyap.Zahwa
Last Updated : 2026-05-02 Read more