Mag-log in"Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?"
Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara. "Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima. "Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya. "Mas Devan seperti enggan menerima penolakan. Aku pun nggak tega menolaknya." Zahwa kembali teringat gurat wajah yang ditampakkan Devan tadi malam, begitu lelah dan nampak rapuh karena demam. Selama tiga bulan ini, baru kali ini Zahwa mendengar Devan meminta pertolongan padanya. Meski karena Valerie, Zahwa tetap ingin memenuhi permintaannya. "Wah, aku kalau jadi kamu akan ngamuk sih. Logika aja... suami mana yang bisa-bisanya menyuruh istrinya mencarikan kado untuk selingkuhannya? Itu namanya menyakiti secara terang-terangan. Lakimu itu perlu diruqyah, Zahwa!" Zahwa tertawa pelan namun sesaat kemudian sorot matanya kembali redup. "Jadi, apa kamu punya saran kado apa yang bagus untuk Valerie?" "Kamu beneran ingin membantu Devan membelikan kado untuk Valerie? Zahwa, sadarlah! Kamu jangan buta karena cinta." "Untuk sekarang, biarkan aku buta. Jika tiba waktunya buta ini mereda, aku mungkin akan pergi dari sisinya," bisik Zahwa, merasa dadanya begitu sesak. Ia menatap sendu ke arah jendela kamar yang menampilkan langit gelap dan tak berujung. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berakhir, ia pun tidak tahu. Ia hanya harus terus melangkah, menjalani takdir hidup yang sudah digariskan untuknya dengan ikhlas. Malamnya, Zahwa sedang berbaring di atas sofa, menggulir laman sosial media setelah seharian lelah mengurusi semua hal. Namun, gerakannya mendadak terhenti. Jantungnya berdesir saat akun Valerie kembali muncul dalam berandanya. Itu postingan baru, diunggah sekitar lima menit yang lalu. Zahwa menatap layar dengan saksama. Postingan itu menampilkan sebuah foto berlatar pencahayaan temaram. Di sana, tergeletak buket bunga lili putih, bersanding dengan sebuah botol parfum dari brand ternama. Zahwa mengembuskan napas pendek. Akhirnya ia melihat sendiri dua barang yang ia pilihkan tadi pagi sudah sampai di tangan Valerie. Kemudian ia menggulir layar ke atas, membaca caption yang ditulis Valerie di bawah foto tersebut. "Beberapa wanita terlahir untuk memohon perhatian, sementara yang lain cukup diam untuk dijadikan prioritas. Terima kasih untuk malam yang indah ini. You always know how to spoil me." Zahwa meletakkan ponselnya di atas meja, lalu memandangi langit-langit ruangan dengan sudut bibir yang terangkat. Ia merasa getir sekaligus geli. Valerie begitu bangga pamer di sosial media, menggunakan caption sedemikian rupa untuk menyindir statusnya sebagai istri yang mengemis cinta pada Devan. Valerie merasa menang karena mengira Devan begitu romantis, memikirkan kado itu untuknya. Namun, wanita itu sama sekali tidak tahu kalau dua benda itu Zahwalah yang membelikannya. Semalam Devan terbaring sakit setelah pulang dari luar kota, mana ada waktu untuk memikirkan kado apa yang bagus untuk selingkuhannya? Zahwa memejamkan matanya sejenak yang terasa perih, namun saat membuka mata, ia terkejut melihat wajah Devan berada begitu dekat di depan wajahnya. "Kamu menungguku sampai ketiduran?" Alis Devan terangkat sebelah. Zahwa terduduk sambil mengerjapkan mata, lalu melirik ke arah jam dinding dan baru menyadari jika ia ketiduran di atas sofa. "Maaf aku ketiduran." Devan berdiri tegak. "Lain kali, kamu nggak perlu menungguku pulang," tukasnya sebelum berlalu menuju kamar. Namun baru beberapa langkah, Devan menoleh ke arah Zahwa. "Oh iya, terima kasih atas kadonya. Valerie sangat menyukainya." Hati Zahwa berdenyut mengingat caption yang tertulis di postingan Valerie tadi. Ia pun hanya mengulas senyuman tipis. "Ah, begitu. Syukurlah kalau pilihanku nggak salah..." "Oh ya," Devan teringat sesuatu, ia memijat tengkuk belakangnya pelan. "Kepalaku, mendadak pusing lagi..." Devan menjeda kalimatnya. Ada semburat canggung yang terlihat samar di wajahnya. "Kalau kamu belum terlalu mengantuk... bisakah kamu memijat kepalaku lagi?" Zahwa sempat terpaku selama beberapa saat. "Mandi dulu, Mas," ucapnya kemudian. "Aku akan ambilkan minyak aromaterapi dulu." Di atas ranjang, Zahwa bersandar pada kepala tempat tidur dengan kepala Devan berada di pangkuannya. Zahwa memijat lembut kening Devan. Setiap jari Zahwa menemukan titik tegang, Devan mengembuskan napas panjang, merasa dirinya menjadi lebih rileks. Di tengah pijatan itu, Devan tiba-tiba membuka suaranya. "Zahwa," panggilnya pelan. "Ya?" sahut Zahwa tanpa menghentikan gerakan tangannya. "Lusa, keluargaku ingin kita pulang ke rumah. Mereka mengadakan acara syukuran untuk merayakan kemenangan Papa." Gerakan tangan Zahwa sempat tertahan sebelum akhirnya kembali memijat. Berita tentang kemenangan mertuanya di pemilihan gubernur memang sudah menjadi topik hangat di berbagai sosial media belakangan ini. Namun, diundang langsung ke rumah orang tuanya Devan selalu membawa debaran tersendiri bagi Zahwa. Di sana, ia harus berhadapan dengan pandangan-pandangan yang selalu menilai kelayakannya sebagai istri seorang Devan. "Jam berapa acaranya, Mas?" tanya Zahwa. "Sore, sekitar jam empat. Aku akan menjemputmu sepulang dari kantor."Zahwa terperanjat pelan. Rona merah seketika merayap cepat memenuhi kedua pipinya hingga menjalar ke ujung telinga. Desir hangat dan perasaan membuncah menghantam dadanya, merasa dimanjakan oleh kecemburuan manis dari suaminya."Mas Devan... apaan sih, malu dilihat orang," bisik Zahwa seraya menepuk pelan dada Devan.Devan terkekeh rendah. Ia mendaratkan satu kecupan singkat di kening Zahwa sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya."Yuk... kita makan dulu, takutnya kamu nanti keburu pingsan karena belum makan apa-apa sejak tadi pagi.""Mas Devan... ih!"Devan terkekeh pelan, lalu mengajak Zahwa menuju ke meja prasmanan.***Empat tahun kemudian.Pagi itu berjalan seperti biasanya. Bedanya, Zahwa kini hidupnya terasa makin lengkap dan rumahnya terdengar makin semarak dengan adanya derap langkah kaki kecil yang kini meramaikan setiap sudut rumah.Di ruang tengah, Zayyan yang kini sudah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia empat tahun tampak begitu aktif. Wajahnya makin tampan, m
Pagi hari di kediaman, tepatnya di hari ketujuh Zayyan lahir, Devan dan Zahwa melaksanakan syukuran. Halaman rumah telah dihiasi dekorasi bernuansa pastel dan putih.Seluruh keluarga besar dan tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan. Irfan dan Debby menyambut para tamu dengan ramah, tak henti-hentinya menerima ucapan selamat atas kelahiran cucu pertama mereka.Lia hadir bersama Lusi sedang di samping mereka, Hilda menggandeng tangan Zio yang begitu aktif dan menggemaskan. Zio tampak penasaran melihat boks bayi tempat Zayyan terbaring mengenakan pakaian berwarna putih."Bajunya lucu banget, Mbak Zahwa," puji Hilda lalu menunduk ke arah anaknya. "Zio, lihat nih Dik Zayyan... nanti kalau udah besar bisa main bareng Zio ya."Tak lama kemudian, Kinara dan Alex datang. Mereka datang bersama Kania serta Alea yang membawakan kado besar untuk Zayyan."Selamat ya, Zahwa, Devan..." sapa Kania ramah seraya memeluk Zahwa. "Tante senang banget lihat kamu sudah sehat begini.""Terima
Setelah sesi menyusui pertama selesai, Zayyan yang sudah kenyang perlahan tertidur di dada Zahwa. Napasnya teratur dan tenang. Dengan kehati-hatian, perawat membantu memindahkan Zayyan kembali ke tempat tidur observasi sementara sebelum persiapan kepindahan sore nanti.Siang harinya, Devan akhirnya pamit untuk menuju ke kantor sebentar guna menyelesaikan urusan penandatanganan berkas yang sempat tertunda."Aku berangkat dulu ya, Sayang." Devan merengkuh tubuh Zahwa yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan. "Nanti sore aku balik sebelum Zayyan dipindahkan ke kamar.""Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut," pesan Zahwa seraya mencium tangan suaminya.Tepat pukul empat sore. Rombongan perawat masuk, mendorong sebuah boks bayi yang di dalamnya terbaring Zayyan Dewangga Sakti, terbungkus bedong kain biru langit."Selamat sore Bu Zahwa... Baby Zayyan sudah siap untuk rooming-in bersama Mama," tutur suster.Mbok Minah langsung menyambut dan menggendong Baby Zayyan. Setelah
"Makasih, Hilda. Makasih udah diingatkan," tutur Zahwa, mencoba mengukir senyum kembali di wajahnya."Sama-sama, Mbak.""Zahwa, kita jalan dulu ya, mau langsung mampir ke rumah sakit tempat Sherly dirawat untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Tante Lia."Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana," balas Zahwa.Mbok Minah pun mengantar keluarga Tante Lina sampai ke depan pintu.Malam harinya, sekitar pukul delapan, Devan kembali datang, masih mengenakan kemeja kerjanya yang bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, namun seketika kembali berbinar begitu melihat istrinya sedang duduk bersandar."Assalamu'alaikum..." "Wa'alaikumsalam..."Devan segera membasuh wajah dan mencuci tangannya di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, ia langsung mengecup dahi Zahwa."Maaf ya, Sayang... aku agak malam baliknya. Tadi ada diskusi tambahan sama tim di kantor," tutur Devan parau. "Gimana kondisimu malam ini? Ada yang kerasa sakit gak?"
Tante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu."Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. "Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti.""Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah."Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby
"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" "Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa...""Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?""Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami.""Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat
Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund
Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu
Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad







