LOGINZahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.
Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie." Resepsionis tadi langsung menunduk hormat pada Alex. "Maaf Pak Alex, wanita ini mengaku sebagai peserta tes simulasi proyek hari ini. Saya sudah mencoba mengusirnya karena sepertinya dia salah alamat." Alex terdiam sejenak, menatap Zahwa dengan pandangan menyelidik. Ia adalah salah satu konsultan mitra di perusahaan ini, dan ia tahu betul betapa ketatnya seleksi yang dilakukan. "Dia? Peserta tes?" Alex tertawa hambar lalu menatap Zahwa dengan tatapan penuh cibiran. "Zahwa, kamu ini cuman lulusan kampus lokal dan selama ini hanya jadi ibu rumah tangga yang hobinya minta uang pada sua... eh, maksudku Devan. Kamu sadar nggak perusahaan apa ini?" Zahwa menegakkan punggungnya. "Aku di sini karena kapasitas edukasiku, Alex. Global Market Insights sendiri yang mengundangku setelah melihat portofolioku. Kalau kamu merasa aku nggak layak, silakan biar hasil tes yang membuktikannya, bukan penilaian subjektifmu." Alex tertegun. Ia belum pernah melihat Zahwa bicara seberani ini. Di matanya, Zahwa benar-benar seorang pecundang yang hanya bisa menundukkan kepalanya di depan Devan. "Menarik," desis Alex sambil menyeringai sinis. "Baiklah. Kamu boleh masuk. Aku ingin lihat sejauh mana peruntunganmu berjalan." Lalu Alex berbisik di dekat Zahwa. "Tapi jangan harap aku akan membantumu hanya karena kamu istri sahabatku. Justru aku akan memastikan penilaian untukmu jauh lebih ketat dari yang lain." Tes simulasi itu berlangsung selama tiga jam. Begitu hasil tes keluar, keheningan menyelimuti ruangan. Skor Zahwa terpampang di layar utama: 98/100. Angka tertinggi dari seluruh peserta hari itu. Alex yang sejak tadi berdiri di balik kaca ruang pengawas, melangkah masuk ke ruangan tes. Ia menatap lembaran hasil analisis Zahwa di tangannya, lalu beralih menatap Zahwa dengan rasa heran dan tak percaya. "Zahwa... gimana bisa?" Suara Alex tidak lagi tinggi dan meremehkan. "Kenapa selama ini kamu menyembunyikan kemampuan seperti ini? Analisis pasarmu bahkan lebih tajam dari beberapa konsultan junior yang udah bekerja setahun di sini." Zahwa merapikan tasnya dan menghela napas panjang. "Aku nggak pernah menyembunyikannya, Alex. Aku hanya belum pernah melamar kerja sejak lulus kuliah. Kamu saja yang terlalu sibuk menilaiku dari penampilan." Mendengar itu, wajah Alex memerah. Rasa malu mulai merayap di hatinya. Pandangannya terhadap Zahwa mulai berubah seratus delapan puluh derajat. "Zahwa, aku..." Alex menggantung kalimatnya, merasa kaku. "Aku akan segera memproses kontrakmu. Kau diterima." Zahwa mengangguk tipis. Namun, sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti dan menatap Alex dengan serius. "Alex, aku punya satu permintaan. Tolong, jangan bocorkan pekerjaan ini pada Mas Devan. Jangan beri tahu dia kalau aku kerja di sini atau di mana pun." Alex mengerutkan kening, benar-benar bingung. "Kenapa? Devan harus tahu kalau istrinya bukan orang sembarangan. Mungkin kalau dia tahu, sikapnya akan—" "Sikapnya nggak akan berubah, Alex," potong Zahwa cepat dengan senyum getir. "Kemarin kamu dengar sendiri, Kan? Devan nggak ingin orang-orang tahu kalau aku adalah istrinya. Dia malu punya aku." "Makanya aku memilih pekerjaan remote ini. Aku bisa kerja tanpa harus bertemu banyak orang, tanpa harus buat Devan malu. Aku hanya ingin bekerja dan menghasilkan uang dengan keringatku sendiri." Alex terdiam. Ia teringat kembali kata-katanya yang kasar di kantor kemarin, juga tawa provokatifnya saat bersama Valerie. Tiba-tiba, rasa bersalah itu mulai menghantam benaknya. "Zahwa, aku..." "Terima kasih atas kesempatannya, Pak Alex," potong Zahwa dengan sopan sebelum benar-benar berbalik pergi. Alex hanya bisa mematung melihat punggung Zahwa yang menghilang di balik pintu lift. Di tangannya, ia masih memegang hasil tes Zahwa yang luar biasa. Ia baru sadar, Devan mungkin adalah arsitek yang jenius, tapi dalam urusan cinta, pria itu telah menyia-nyiakan berlian demi sebuah kerikil yang bersinar. Zahwa melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang yang sulit disembunyikan. Keberhasilannya dalam tes hari ini memberikan sedikit rasa semangat. Namun, binar itu seketika padam saat ia melihat sepasang sepatu pria dan high heels merah yang sangat ia kenali tergeletak di koridor depan. Jantungnya mencelos. Di ruang tengah, ia mendapati Devan sudah berdiri dengan tangan bersedekap dan wajahnya mengeras. Di sampingnya, Valerie berdiri dengan jemari yang bertautan. "Baru pulang?" suara Devan terdengar dingin dan tajam. Zahwa terpaku di tempatnya. "Mas... kapan sampai?" Devan tidak menjawab, ia melangkah mendekat, lalu menunjuk ke arah lantai ruang tamu dan area dapur yang terlihat kotor. "Dari mana saja kamu? Apa begini kerjaanmu setiap aku pergi ke luar kota?" "Rumah berantakan, dapur kotor. Apa yang kamu lakukan seharian sampai mengurus rumah aja nggak becus?" Zahwa menunduk, meremas tali tasnya. Semalaman ia memang terjaga untuk belajar materi tes, membuatnya lupa membersihkan sisa makan malam dan debu di lantai. Ia benar-benar tidak menyangka Devan akan pulang hari ini. Melihat Zahwa yang hanya diam, Devan mendengus sinis. Ia melangkah maju mendekati Zahwa, tatapannya begitu mengintimidasi. "Kenapa? Kamu nggak mengira aku bisa pulang secepat ini?" cecar Devan. "Jadi, selama aku nggak ada, kamu kelayapan dan membiarkan rumah ini jadi kayak gudang?" Sebelum Zahwa sempat membela diri, Valerie menyentuh lengan Devan dengan lembut.Zahwa terperanjat pelan. Rona merah seketika merayap cepat memenuhi kedua pipinya hingga menjalar ke ujung telinga. Desir hangat dan perasaan membuncah menghantam dadanya, merasa dimanjakan oleh kecemburuan manis dari suaminya."Mas Devan... apaan sih, malu dilihat orang," bisik Zahwa seraya menepuk pelan dada Devan.Devan terkekeh rendah. Ia mendaratkan satu kecupan singkat di kening Zahwa sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya."Yuk... kita makan dulu, takutnya kamu nanti keburu pingsan karena belum makan apa-apa sejak tadi pagi.""Mas Devan... ih!"Devan terkekeh pelan, lalu mengajak Zahwa menuju ke meja prasmanan.***Empat tahun kemudian.Pagi itu berjalan seperti biasanya. Bedanya, Zahwa kini hidupnya terasa makin lengkap dan rumahnya terdengar makin semarak dengan adanya derap langkah kaki kecil yang kini meramaikan setiap sudut rumah.Di ruang tengah, Zayyan yang kini sudah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia empat tahun tampak begitu aktif. Wajahnya makin tampan, m
Pagi hari di kediaman, tepatnya di hari ketujuh Zayyan lahir, Devan dan Zahwa melaksanakan syukuran. Halaman rumah telah dihiasi dekorasi bernuansa pastel dan putih.Seluruh keluarga besar dan tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan. Irfan dan Debby menyambut para tamu dengan ramah, tak henti-hentinya menerima ucapan selamat atas kelahiran cucu pertama mereka.Lia hadir bersama Lusi sedang di samping mereka, Hilda menggandeng tangan Zio yang begitu aktif dan menggemaskan. Zio tampak penasaran melihat boks bayi tempat Zayyan terbaring mengenakan pakaian berwarna putih."Bajunya lucu banget, Mbak Zahwa," puji Hilda lalu menunduk ke arah anaknya. "Zio, lihat nih Dik Zayyan... nanti kalau udah besar bisa main bareng Zio ya."Tak lama kemudian, Kinara dan Alex datang. Mereka datang bersama Kania serta Alea yang membawakan kado besar untuk Zayyan."Selamat ya, Zahwa, Devan..." sapa Kania ramah seraya memeluk Zahwa. "Tante senang banget lihat kamu sudah sehat begini.""Terima
Setelah sesi menyusui pertama selesai, Zayyan yang sudah kenyang perlahan tertidur di dada Zahwa. Napasnya teratur dan tenang. Dengan kehati-hatian, perawat membantu memindahkan Zayyan kembali ke tempat tidur observasi sementara sebelum persiapan kepindahan sore nanti.Siang harinya, Devan akhirnya pamit untuk menuju ke kantor sebentar guna menyelesaikan urusan penandatanganan berkas yang sempat tertunda."Aku berangkat dulu ya, Sayang." Devan merengkuh tubuh Zahwa yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan. "Nanti sore aku balik sebelum Zayyan dipindahkan ke kamar.""Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut," pesan Zahwa seraya mencium tangan suaminya.Tepat pukul empat sore. Rombongan perawat masuk, mendorong sebuah boks bayi yang di dalamnya terbaring Zayyan Dewangga Sakti, terbungkus bedong kain biru langit."Selamat sore Bu Zahwa... Baby Zayyan sudah siap untuk rooming-in bersama Mama," tutur suster.Mbok Minah langsung menyambut dan menggendong Baby Zayyan. Setelah
"Makasih, Hilda. Makasih udah diingatkan," tutur Zahwa, mencoba mengukir senyum kembali di wajahnya."Sama-sama, Mbak.""Zahwa, kita jalan dulu ya, mau langsung mampir ke rumah sakit tempat Sherly dirawat untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Tante Lia."Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana," balas Zahwa.Mbok Minah pun mengantar keluarga Tante Lina sampai ke depan pintu.Malam harinya, sekitar pukul delapan, Devan kembali datang, masih mengenakan kemeja kerjanya yang bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, namun seketika kembali berbinar begitu melihat istrinya sedang duduk bersandar."Assalamu'alaikum..." "Wa'alaikumsalam..."Devan segera membasuh wajah dan mencuci tangannya di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, ia langsung mengecup dahi Zahwa."Maaf ya, Sayang... aku agak malam baliknya. Tadi ada diskusi tambahan sama tim di kantor," tutur Devan parau. "Gimana kondisimu malam ini? Ada yang kerasa sakit gak?"
Tante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu."Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. "Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti.""Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah."Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby
"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" "Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa...""Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?""Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami.""Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat
Zahwa tersentak. Ia segera menyembunyikan ponselnya di balik punggung. "E... Enggak kok, enggak ada apa-apa."Devan melangkahkan kakinya mendekati Zahwa. Ia menarik paksa tangan Zahwa, merebut ponsel dari genggamannya sebelum Zahwa sempat mengunci layar.Mata kehitaman Devan menyapu layar ponsel Z
Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu
Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad







